"Hari jadiku yang pertama sekaligus hari
terakhirku bersamanya hari yang sangat menyedihkan bagiku"
Pagi ini aku kira adalah hari yang
sangat menyenangkan tetapi keyakinan ku
berubah saat dia menghubungiku. Hari ini
adalah hari jadiku dengannya yang ke
Dua tahun. Awalnya aku ingin
memberikan kejutan untuknya dengan
menyiapkan makan malam yang romantis di
sebuah restoran. Aku benar-benar sudah
mempersiapkan dinner ku dengannya dari
jauh-jauh hari. Tiap pulang sekolah, aku
mencari-cari tempat makan malam yang
cocok untukku dengannya. Akhirnya seorang temanku merekomendasikan sebuah tempat yang menurutku benar-benar romantis.
Dan hari ini lah waktunya aku dinner. Akan tetapi
semuanya berantakan. Hari ini menjadi
hari yang sangat menyebalkan untukku dan menyakitkan untuk aku terima.
Aku benar-benar benci hari ini. Aku
berharap ini mimpi dan tidak benar-benar
terjadi. Sungguh, aku tidak mau kejadian
ini terjadi hari ini ! ini seperti mimpi
buruk di siang bolong. Entah apa yang ada
difikiranku saat dia mengatakan itu
padaku. Marah, kesal, sedih, semua jadi
satu. Rasanya kemarahanku dan
kekesalanku sudah mencapai titik puncak.
Semua yang awalnya baik-baik saja, kini
menjadi hacur berantakan. Ya Tuhan,
kenapa ini terjadi padaku, apa salahku ??? aku benar-
benar mencintai dan menyayanginya. Tapi
mengapa dia memutuskan hubungan ini di
saat hari jadi kita yang pertama? Kenapa,
kemarin aku dengan dia baik-baik saja.
Tak ada masalah yang membuat kita
bertengkar hebat.
Baru saja kemarin dia mengatakan
kalau dia sangat menyangiku. Tetapi apa
yang dia ungkapkan kemarin seperti tak
ada artinya. Aku benar-benar tidak
terima dia memutuskan hubungan ini
tanpa alasan yang jelas. Hari ini aku
mengajaknya untuk membicarakan hal ini
di taman dekat kampus ku. Dia pun tak
menolaknya. Hari ini sepertinya tak ada
gairah untukku pergi keluar rumah. Tetapi
demi mendapatkan alasan yang tepat
mengenai keputusannya, akhirnya aku
segera bersiap-siap untuk pergi ke
kampus. Dengan pakaian yang asal kuambil
dari lemari, rambut yang ku sisir asal,
dan wajah yang tak ber make up sama
sekali. Sangat-sangat tak ada gairah
untuk berpenampilan rapih seperti biasa.
Sampai-sampai aku pun tak sadar kalau
sepatu yang aku kenakan berbeda model
dan warna. Ketika aku keluar dari kamar,
semua orang yang berada diruang tengah
pun memperhatikanku yang berbeda dari
sebelumnya. Sampai-sampai adikku yang
masih berumur 5thn mengatakan kalau
aku mirip badut yang berada di film
kartun kesukaannya.
Aku pun tak menanggapi apa yang
mereka katakan tentangku hari ini.
Mamahku pun menghampiriku dan
mengatakan “kamu lagi sakit sandra?”.
Dalam hati aku menjawab “iya sakit hati,
karna di putusin orang yang aku sayang”.
Melihatku hanya terdiam dan tak
menjawab pertanyaannya, mamahku pun
menarik tanganku dan menyuruhku duduk
di sofa. Papahku yang hari ini libur
bekerja, berniat untuk mengantarku pergi
kekampus. Melihat kondisi ku yang tak
seperti biasanya, mamah dan papahku
khawatir jika membiarkanku pergi
kekampus sendirian. Papahku bertanya
“kamu kenapa sih sandra? sakit ? kalau
sakit mending ga usah ke kampus”.
Dengan lesunya, aku menjawab “Gak kok
Pah. Sandra gak apa-apa”.
Mamahku beranjak dari sofa dan
masuk kedalam kamarku. Keluar dari
kamar, ternyata mamahku membawa kaca
mata dan sisir. Mungkin karna rambutku
yang sangat berantakan hingga akhirnya
mamahku merapihkan rambutku layaknya
seperti anak SD yang hendak berangkat
sekolah. Ada sedikit perasaan malu pada
diriku sendiri dan adikku. Karena sudah
sebesar ini aku tidak bisa merawat diri
hanya karna diputusin oleh pacarku.
Akupun mengambil sisir itu dan
merapihkan rambutku sendiri. Karena
saking tidak fokusnya, aku sampai lupa
membawa kaca mataku. Kaca mata adalah
barang mutlak yang harus aku bawa.
Karena tanpa kaca mata aku tidak bisa
beraktifitas dengan baik. Aku langsung
memeluk mamahku yang sangat perhatian
pada ku. Setelah semuanya rapih, aku
langsung berpamitan untuk pergi ke
kampus. Aku pergi ke kampus
menggunakan sepeda motor kesayanganku
yang di berikan Oma saat ulang tahunku
yang ke 17.
Beberapa saat kemudian, aku
sampai di kampus. Tanpa berlama-lama
aku langsung pergi ke taman untuk
menemui raka. Ya, raka lah nama orang
yang aku sayangi yang sudah mengisi hidup ku. Dia yang sudah
menemani hari-hariku selama dua tahun ini.Tetapi dia juga yang membuat hariku saat ini menjadi hancur berantakan. Dari
sudut kanan taman, aku sudah melihat raka dari kejauhan. Aku tidak tau, apa aku sanggup untuk berbicara pada seseorang yang akan berhenti menyayangiku. Aku
berharap ini mimpi. Langkah demi langkah
aku berjalan menghampiri raka. Dan
akhirnya, Raka melihatku yang saat itu
langsung duduk disampingnya. Aku tak
berani menatapnya. Pandanganku hanya
lurus kedepan. Aku sadar saat ini raka
sedang menatapku. Tetapi sedikitpun aku
tak berani menoleh kearahnya.
Waktu sudah berjalan 20 menit. Dan
selama 20 menit tak ada pembicaraan
diantara kita. Dengan gugupnya dan
dengan perasaan terpaksa, aku pun
memulainya “raka”. Dengan suaranya yang
lembut, Raka pun menoleh kearahku dan
menjawab “iya”. Tanpa membuang-buang
waktu, aku langsung masuk kedalam inti
pembicaraan “kenapa kamu tiba-tiba
mutusin aku? Apa alasannya apa ada salah ku, kalau ada bilang ?”. dengan
tenangnya, raka menjawab
“sebelumnya aku minta maaf sandra. Aku
benar-benar sangat terpaksa melakukan
hal ini. Ini bukan kemauanku. Tetapi ini
demi kebaikan kita. Kita berbeda
kebudayaan Mey. Sejak awal aku bertemu
kamu, aku berharap aku tidak akan
menyukaimu. Tetapi semuanya berbalik.
Aku bukan hanya menyukaimu. Tetapi aku
sudah menyayangimu”. Mata ku sudah
berkaca-kaca mendengar semua ucapan
dari raka. Aku masih belum menemui
jawaban mengapa dia memutuskan
hubungan ini setelah setahun pacaran.
Aku pun bertanya lagi “jadi apa
alasannya?”. Sambil menghela nafas, raka
kembali menjelaskan alasannya dia
memutuskan hubungannya denganku
“keluargaku belum bisa menerima adat
istiadatmu yang merupakan keturunan
Tiongkok.
Menurut keluarga besarku, hubungan
yang didasarkan dari perbedaan
kebudayaan, tidak akan berjalan baik dan rukun.
Jadi daripada aku memaksakan ke
egoisanku untuk mempertahankan
hubungan yang tidak di restui oleh orang
tua, lebih baik aku memutuskannya
sekarang sebelum semuanya terlambat dan
perasaanku berubah menjadi cinta”. Kali
ini air mataku sudah benar-benar jatuh
membasahi pipiku. Aku tak menyangka
kebudayaanlah yang telah menjadi
penyebabnya. Aku tak menjawab apapun.
Aku masih terdiam dalam perasaanku yang
tercampur aduk. Aku tertunduk sambil
menahan air mata ku yang semakin lama
semakin deras membasaki pipiku. Tiba-
tiba Raka mengangkat wajahku yang sejak
tadi tertunduk. Raka menghadapkan
wajahku dengannya. Tetapi aku tetap
tidak kuasa melihat mata seseorang yang
aku sayangi. Boy menghapus air mataku
dengan tangannya yang lembut. Tetapi
aku menahan tangannya. aku mengatakan
padanya
“jangan, jangan di hapus. Biarkan
air mata ini meringankan kesedihanku.
Saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Yang bisa aku lakukan hanya menangis.
Kerena dengan inilah bebanku bisa sedikit berkurang. Aku tidak akan memintamu
untuk kembali padaku. Karena aku tidak
mau, kamu kembali padaku hanya karna
kasihan melihatku yang masih sangat
menyayangimu. Mungkin aku butuh waktu
untuk menyembuhkan lukaku. Tetapi aku
yakin, suatu saat aku pasti bisa bangkit
dari kesedihan yang aku rasakan saat ini.
Aku hanya ingin berterima kasih padamu
karena telah menjadi bagian dari hidupku
selama setahun ini. Kamu telah
menuliskan bait-bait keindahan dalam
hatiku. Meski menghapus itu semua tidak
semudah menghapus tulisan dalam kertas.
Tetapi aku yakin dengan bersih aku akan
menghapus namamu dalam hatiku”.
Mendengar semua yang dikatakan oleh
Mey, raka tidak bisa menjawab apa-apa
lagi. Raka hanya memberikan secarik kertas
untuk Sandra. Sandra pun membuka kertas itu.
Dan ternyata kertas itu berisi gambar
mereka saat mereka bertemu pertama kali
ditaman ini. Raka pun mengatakan “kamu
ingat ketika pertama kali kita bertemu.
Kita bertemu tepat hari ini dan ditempat
ini pula. Dan sejak kita sedang berkenalan
di bangku yang saat ini kita duduki
bersama, ada seorang pelukis cilik yang
menggambar sketsa wajah kita di depan
pohon itu. Tanpa kamu ketahui, aku
meminta gambar itu pada pelukis cilik itu.
Dia pun memberikannya denga syarat aku
memberikan jaket yang aku pakai saat
itu. Dan asal kamu tau, itu adalah jaket
kesayanganku. Jaket yang di berikan
mendiang nenekku seminggu sebelum dia
wafat. Tetapi aku berani memberikannya
hanya untuk mendapatkan gambar itu.
Dan aku pernah berjanji pada diriku
sendiri, kalau aku akan memberikan
gambar itu untukmu pada saat hari jadi
kita yang ke 1 tahun. Anggaplah ini
kenang-kenangan dariku. Tolong di
simpan. Dan aku harap jangan pernah
kamu membuangnya”. Sandra mengamati
setiap coretan pensil yang terlukis dalam
sketsa wajahnya dan raka. Tetapi
seketika, aku mengembalikan gambar itu
pada raka. Raka pun memohon padaku untuk
tidak mengembalikannya lagi. Raka berkata
“aku tau, kamu pasti saat ini membeci ku
karena keputusanku saat ini. Tetapi aku
mohon, simpan gambar ini sebagai
kenangan-kenangan dariku. Sebenci
apapun kamu, aku mohon jangan pernah
membuang kertas itu. Jangan pernah
merobeknya dan jangan pernah
merusaknya”. Aku merasa ucapan raka
saat itu benar-benar sangat tulus. Dan
akhirnya, aku memutuskan untuk
menerimanya dan berjanji akan terus
menjaga gambar itu. Ketika aku hendak
pergi dari taman itu, raka menarik
tanganku dan langsung memelukku. Entah
apa yang aku rasakan, tak ada lagi rasa
benci dalam hatiku saat Raka memelukku
dengan eratnya. Aku merasa kalau raka
benar-benar mencintaiku dan tidak mau
kehilanganku. Aku merasakan sesuatu
yang berbeda saat raka memelukku.
Hatiku berkata ada sesuatu yang
sedang ditutupi dari raka. Entah mengapa,
aku begitu yakin. Sesuatu itu yang
membuat raka memutuskan hubungannya
denganku. Tetapi ya sudahlah, mungkin
aku dengan Raka tidak di takdirkan untuk
bersama. Setelah beberapa saat kemudian,
Raka melepaskan pelukannya padaku. Dan
aku merasakan sesuatu yang ganjil lagi
saat dia melepaskan pelukannya. Aku
merasakan,kalau ini akan menjadi pelukan
yang terakhir. Ya, ini akan menjadi
pelukan yang terakhir. Ya Tuhan, apa
yang sedang aku fikirkan. Mungkin ini
karena aku terlalu mencintainya sehingga
aku memikirkan apa yang tidak harus aku
fikirkan. Mungkin ini hanya perasaanku
saja. Saat aku perhatikan wajahnya, raka
sangat berbeda. Dia terlihat pucat. Tetapi
aku tidak akan bertanya padanya. Aku pun
langsung berpamitan pada raka karena
satu jam lagi kelasku akan dimulai. Raka
pun mengatakan sebelum aku pergi “aku
pamit”. Dan aku hanya menjawabnya
singkat “iya”. Kami berdua pun pulang
berbeda arah. Aku pergi memasuki
kampus. Dan Raka pergi menuju mobilnya.
Di dalam mobilnya, ternyata raka
tidak meyetir mobil sendiri seperti biasa.
Dia diantar oleh supirnya. Ketika
memasuki mobilnya, tiba-tiba kepalanya
terasa pusing dan pandangannya seperti
kabur. Dia tidak dapat melihat dengan
jelas. Supir yang sedang bersamanya pun
bingung harus bagaimana. Akhirnya
supirnya membawa Raka ke rumahnya.
Setelah sampai dirumahnya, supirnya
langsung memanggil asisten rumah tangga
yang lainnya untuk membantunya
memopong raka masuk kedalam kamarnya.
Mamahnya Raka yang saat itu sedang
berada diruang tamupun langsung panik
melihat kondisi anaknya yang kembali
ngedrop. Mamahnya pun menyuruh
supirnya untuk membawa masuk raka
kedalam kamarnya. Lalu mamahnya raka
langsung menelepon dokter yang biasa
menangani raka. Beberapa jam kemudian,
dokterpun sampai dirumah Raka . Dokter
langsung memeriksa keadaan raka.
Sungguh sangat mengejutkan, raka yang
selama ini mengidap sakit Kanker Otak
memasuki stadium akhir. Ini benar-benar
sangat cepat dari perkiraan dokter
sebelumnya.
Kondisi fisik raka yang memang lemah
juga sangat mempengaruhi tingkat
perkembangan penyakit raka. Dokter
meyarankan agar keluarga membawa raka
ke rumaah sakit. Karena peralatan
dirumah sakit jauh lebih lengkap. Tanpa
berlama-lama raka langsung di bawa
kerumah sakit menggunakan ambulance.
Raka yang juga mempunyai penyakit
jantung, saat itu dadanya juga mulai
agak sesak. Dan pernafasan raka di bantu
oleh tabung oksigen dan berbagai alat
medis yang menempel di dadanya. Namun
saat perjalanan menuju rumah sakit,
kondisi raka semakin menurun. Dadanya
semakin tak kuat untuk membantunya
bernafas. Dia terus-terusan memanggil-
manggil nama Sandra. Air mata mamahnya
Raka tak kuat menahan kesedihannya
melihat anaknya yang sedang melawan
penyakitnya. Sepanjang perjalanan raka
hanya menyebut nama Sandra. Dokter pun
menyarankan untuk membawa Sandra
kerumah sakit. Siapa tau dengan adanya
Sandra, kondisi raka akan kembali membaik.
Tetapi mamahnya Boy tidak tau siapa itu
Sandra. Lalu supir yang tadi menemani raka,
teringat akan sosok gadis yang tadi
berbicara pada raka. Supirnya itu yang
juga ikut di dalam ambulance mengatakan
pada mamahnya raka “maaf bu, mungkin
yang di maksud tuan Raka itu adalah gadis
yang tadi dia temui di taman”. Mamahnya
Raka pun menjawab “ya sudah, setelah
sampai dirumah sakit, kamu antar saya
menemui gadis itu”. Supirpun hanya
mengangguk. Tak lama kemudian, mereka
pun sampai dirumah sakit. Raka langsung di
bawa pihak rumah sakit keruang ICU.
Kondisinya sudah benar-benar kritis.
Mamahnya dan supirnya langsung pergi
menuju taman yang dimaksud supir. Lalu
tak lama kemudian, mereka berdua sampai
ditaman itu. Dengn perasaan yang sedang
panic, mamahnya raka sibuk mencari gadis
yang dimaksud supirnya nya itu. Lalu
mamahnya Raka berkata “mana gadis
itu?”. Supirnya pun menjawab “mungkin
gadis yang ditemui oleh tuan Raka itu
kuliah di kampus itu bu”. Akhirnya mereka
berdua pun menunggu Sandra di taman itu.
Hemm, sepertinya dosen tidak dating
hari ini. Seharusnya kelas dimulai sejak
15 menit yang lalu. Di dalam kelas, aku
terus memikirkan tingkah laku raka yang
berubah drastis. Aku tidak habis fikir,
kemarin kita masih bercanda-canda. Tak
ada masalah yang membuat kita
bertengkar. Bahkan aku rasa, dia kemarin
sangat-sangat romantic dibandingkan
hari-hari sebelumnya. Tetapi mengapa
hari ini dia memutuskan hubungan tanpa
alasan yang masuk akal. Apa yang
sebenarnya terjadi? Banyak pertanyaan
yang sebenarnya ingin aku tanyakan
padanya. Tetapi aku tidak kuasa berlama-
lama berhadapan dengannya. Tuhan, aku
masih sangat menyayanginya. Dia orang
yang selama ini memberikan warna yang
indah dalam hidupku. Aku mecintainya dan
tak mau kehilangannya. Aku harap ini
benar-benar mimpi. Jika ini mimpi, aku
ingin cepat-cepat bangun dari mimpi
buruk ini. Aku masih teringat sebulan
yang lalu saat hari ulang tahunku. Dia
menyiapkan kejutan untukku. Dan bagiku
itu adalah perayaan ulang tahun yang
terindah selama aku hidup.
Ada pesta kembang api, dinner
romantis, dan kalung itu. Dan aku masih
ingat ketika kita pergi ke sebuah pantai
daerah bandung, malam harinya aku dan
dia sama-sama berjanji untuk tetap
setia, dan menjaga hubungan ini sebaik-
baiknya. Dia juga pernah mengatakan
untuk saling terbuka satu sama lain. Bila
ada masalah harus di bicarakan berdua
agar tidak ada kesalahpahaman antara
kita. Tetapi apa yang dia ucapkan, dia
ingkari sendiri. Tanpa ada pembicaraan
apapun, dia langsung memutuskan
hubungan ini. Ketika aku sedang
memikirikan raka, tiba-tiba teman
kampusku dating dan mengatakan kalau
dosen hari ini tidak dating. Dan tanpa
berlama-lama, aku pun langsung keluar
kelas dan memutuskan untuk pulang.
Sebelum pulang, terlebih dahulu, aku pergi
ke kantin kampus untuk membeli minuman.
Tak sengaja aku lihat foto itu ketika aku
henak membayar minuman itu. Yaa, foto
yang mungkin membuatku tambah sakit
hati. Fotoku bersama raka yang
terpampang di dalam dompetku. Entah
mengapa kakiku menjadi lemas dan tak
kuasa untuk berdiri. Aku pun duduk
sebentar di kantin. Aku memperhatikan
foto itu dalam-dalam. Aku perhatikan
setiap lekuk wajah raka dalam foto itu.
Aku merasa sangat aneh. Aku merasa saat
ini raka sedang memanggil-manggil
namaku. Aku merasa raka saat ini sedang
membutuhkanku. Ah tetapi mana mungkin,
baru tadi pagi aku bertemu dengannya.
Dia tidak terlihat sedang membutuhkanku.
Mungkin ini hanya perasaanku saja.
Sudah sekitar 10 menit aku terduduk di
kantin. Aku rasa, aku sudah bisa berdiri
dengan kuat. Dan aku keluar dari kantin
dan memutuskan untuk pulang kerumah.
Ketika aku keluar dari kampus, sepertinya
ada seseorang yang memanggil-manggil
namaku. Aku berhenti sejenak, dan
menoleh kesegala arah untuk melihat
panggilan itu. Dan ternyata benar, ada
seorang laki-laki dan perempuan yang
memanggilku di taman samping kampus ku.
Akupun menghampirinya. Wanita itu
bertanya padaku “nama kamu Sandra ya?”.
Aku heran, mengapa wanita itu kenal
dengan ku. Lalu laki-laki yang berada
disamping wanita itu mengatakan “nah ini
bu yang tadi ngobrol sama Tuan Raka di
taman ini. Saya masih ingat dengan
wajahnya yang oriental”. Ah laki-laki itu
menyebut nama raka. Sebenarnya wanita
ini dan laki-laki disebelahnya itu siapa?
Mengapa dia mengenal raka dan aku ?.
wanita itu mungkin tau, kalau aku sedang
bingung memikirkan mereka yang tiba-
tiba saja mengenaliku. Lalu wanita itu
menyuruhku duduk dan menjelaskan
semuanya “saya ini mamahnya Raka”. Aku
pun kaget, ternyata saat ini aku sedang
berbicara dengan mamahnya Raka. Ada
sedikit perasaan takut dalam dirikiku. Apa
dia menemuiku untuk menyuruhku
menjauhi Raka karena perbedaan Budaya
itu. Lalu aku pun menjawabnya “ada apa
ya tante menemui saya?”.
Mamahnya rakapun menjawab dengan
mata yang berkaca-kaca “apa kamu
pacarnya raka”. Aduh aku bingung harus
menjawab apa. Sambil menghela nafas,
aku berkata yang sebenarnya “saya
memang pernah berpacaran dengan raka.
Tetapi tadi pagi tiba-tiba raka
memutuskan hubungan ini”. Hal yang
benar-benar tak ku sangka, mamahnya
Raka langsung memelukku. Aku tak
mengerti sebenarnya apa yang terjadi.
Aku pun kembali bertanya “sebenarnya
ada apa ya tante?”. Mamahnya raka
melepaskan pelukannya padaku dan
berkata “kamu harus ikut tante sekarang
kerumah sakit”. Apa? Rumah sakit? Siapa
yang sakit? Itulah pertanyaan yang ada
dalam fikiranku. Ketika aku hendak
menjawab, tiba-tiba mamahnya raka
langsung menarik tanganku dan
membawaku masuk kedalam taxi. Aku
hanya bisa terdiam dan sebenarnya
banyak pertanyaan yang masih ada dalam
otakku. Tetapi aku lebih memilih diam dan
tidak bertanya apapun. Aku yakin pasti
nanti ada jawabannya. Di dalam taxi,
mamahnya raka terus memegang tanganku
dengan erat dengan sesekali dia
menghapus air matanya. Tiba-tiba aku
langsung berfikir “ada apa dengan raka?
Apa dia yang sakit? Apa kecelakaan? Oh
Tuhan semoga ini salah”. Setelah sampai
rumah sakit, aku langsung dibawa oleh
mamanya Raka ke lantai 4 dan langkah
kakinya membawaku kedepan ruang ICU.
Aku pun melihat seseorang yang berada
dalam ruang ICU itu lewat jendela kecil
yang berada di dekat pintu. Ya Allah, itu
Raka Dia yang ada didalam ruang ICU itu.
Kakiku langsung lemas dan tak kuat untuk
berdiri. Air mataku mulai jatuh membasahi
pipiku. Sebenarnya apa yang terjadi pada
Raka? Mengapa dia terbaring didalam ruang
ICU ?. mamahnya pun mengangkatku
yang saat itu sedang terduduk lemas di
depan pintu ruang ICU.
Perlahan-lahan mamahnya mulai
menjelaskannya tentang apa yang
sebenarnya terjadi “Mey, selama ini raka
sakit. Dia sakit Kanker Otak sejak 15
Bulan yang lalu (1,5 tahun). Kondisi
fisiknya yang lemah membuat
kesehatannya semakin menurun. Tetapi
sejak setahun belakangan ini, kondisinya
mulai membaik. Dan tante yakin ini semua
karena kamu. Kamu yang membuat raka
kuat menjalani sakit yang di deritanya.
Sejak dia di vonis dokter terkena kanker
otak, dia selalu murung dan tidak pernah
tersenyum.
Tetapi sejak setahun belakangan ini,
dia kembali menjadi raka yang dulu. Raka
yang ceria dan penuh semangat. Bahkan
dia rutin menjalani kemoterapi yang
sebelumnya tidak mau dia jalani. Dan
tante juga yakin, kalau dia melakukan
hanya untuk kamu. Alasan dia untuk
sembuh dan tetap hidup adalah kamu sandra.
Maaf kalau baru kali tante mengenal
kamu. Karena memang, raka tidak pernah
menceritakan sosok kamu kepada tante”.
Ya Allah, kini baru terjawab semua
pertanyaan ku. Inilah yang membuat raka
memutuskan hubunganku dengannya.
alasan perbedaan kebudayaan dan
terganjalnya restu orang tua itu
hanyalah kebohongan untuk menutupi
alasan yang sebenarnya. Tetapi mengapa
dia tidak mau terbuka tentang
penyakitnya padaku? Harusnya jika dia
menganggapku sebagai pacarnya, dia
pasti menceritakannya.
Ketika aku sedang berbicara pada
mamahnya , tiba-tiba dokter keluar
dari ruang ICU dan menyuruh semua orang
terdekat raka untuk masuk ke dalam ruang
ICU. Perasaanku semakin takut. Aku
takut kehilangannya. Aku, mamahnya,
dan papahnya yang baru saja
datangpun langsung masuk kedalam ruang
ICU dengan menggunakan baju khusus.
Semuanya menangis didalam sana
termasuk aku.
Dokter mengatakan kalau Raka yang
juga mempunyai penyakit jantungpun
sudah benar-benar dalam keadaan kritis.
Harapannya untuk hidup sangatlah
sedikit.
Berilah keselamatan untuknya. Semakin
lama semakin menurun kondisi kesehatan
Raka Dan sampai akhirnya, detak jantung
yang terbantu melalui alat medispun
terhenti. Raka telah meninggal dunia di
hari jadiku dengannya yang pertama.
Aku benar-benar tak menyangka ini
juga akan menjadi hari terakhirku
bersamanya. Semua orang yang berada
diruang ICU ,menangis. Aku benar-benar
tak menyangka, pertemuanku tadi pagi
dengannya dan pelukannya pagi itu adalah
ucapan selamat tinggal untuk selama-
lamanya. Dalam hati aku mengatakan
sambil meneteskan air mata dan
memegang tangan jenazah raka “raka,
selamanya kamu akan tetap berada di
hatiku. Meskipun ragamu kini sudah tiada,
tetapi kenanganmu akan selalu abadi
dalam hati dan fikiranku. Bagiku, kamu
tidak akan pernah pergi. Kamu selalu ada
didalam hatiku aku mencintaimu Raka
Tamat