karamnya cinta ini, tenggelamkan ku pada duka yang terdalam. walau parau perih di lagu lain, di melodi ini aku bersyukur pernah terjadi.
————————————————————
pada malam itu kutatap indah matamu yang kian meneteskan air mata. perpisahan yang pernah kita lalui saat itu adalah memori yang tak akan pernah ku lupa. saat bersamamu aku selalu menyadari bahwa aku tak membutuhkan mimpi indah, karna dihidupku ada kamu.
aku mulai meneteskan air mata pada lembaran lembaran kertas yang berisikan cinta kita, disana semua kisah kita tertulis dengan indahnya.
semua itu dimulai saat aku menginjak ke jenjang SMA. aku menjalani hidup dengan harapan ingin menjadi seorang atlet. namun sebelum menjadi seseorang yang aku inginkan, aku adalah ziya mu. aku adalah lentera bagimu yang berjuang bersamamu dalam kegelapan.
nada nada suaramu yang selalu kunikmati lebih dari seribu malam, indah bak mutiara dari palung mariana. kamu memanglah seorang penyanyi bagi semua orang, tapi bagiku kamu hanyalah sahen ku dengan nada nada yang indah, dan aku adalah melodimu.
seorang manusia yang sedang memimpikan mimpinya sedang berlayar setinggi-tingginya. disini tempatku berlabuh, jalan yang sudah kutempuh dari dulu, satu satunya yang ku tau aku cuma bisa jadi aku.
angan angan yang dulu mimpi belaka, telah kita gapai yang tak disangka. aku bagaikan pelangi yang muncul tanpa hujan, tak terhingga kebahagiaanku saat aku benar benar menjadi seorang atlet. dan kamu saat itu menyanyikan melodi melodi yang membuat pikiranku melayang seakan dunia ini benar benar berpihak padaku.
malam demi malam hari hariku semakin membaik sampai suatu ketika kau dan aku mulai merelakan waktu yang ada untuk bersama demi sebuah mimpi. namun anak tangga yang jumlahnya terus bertambah, mendaki entah mau kemana? mimpi terus dikejar seakan satwa langka.
telah lama sendiri dalam langkah sepi, mobil baru mengkilap tanpa penumpang di kiri. di malam malam yang dulu selalu kau buat keramaian menjadi sunyi sepi, kita selalu menjalani hubungan yang renggang. mengejar mimpi sampai lupa bersama.
berlama lama ku akhirnya menemukan kembali taman yang luas dan seekor kucing kita beri nama ayis. tempat temu pertama kita dan kami bertemu kembali disana. aku kembali menatapnya dengan tatapan rindu yang sudah lama kupendam. dia memelukku dan meneteskan air mata tanpa alasan. mungkin dia sangat merindukanku, itu pikirku. kita berdiam diri menikmati pelukan itu dan akhirnya dia mulai angkat bicara. "hei, let's break up?" lututku lemas saat mendengar kata kata itu darinya. sebelum aku mengatakan sesuatu, dia akhirnya menyambungkan kalimatnya "mampukah kita bertahan saat kita jauh?" dengan tangisku yang mulai menjadi jadi, aku menjawabnya "celakanya, hanya kau yang ku tunggu selama ini, sahen".
tak ku sangka taman ini yang menjadi saksi temu kita juga akan menjadi saksi perpisahan kita. "kau tau karir ini tak ada artinya, kuseksesan itu dipinjamkan sementara" mulutku bergerak mengucapkan kalimat yang berguna menyinggungnya. kata maaf yang terucap dari mulutnya itu membuatku tidak bisa melakukan apapun selain mengatakan apa yang harusnya aku katakan sejak lama. "sebenarnya beberapa minggu lalu ibuku telah menjodohkanku dengan seseorang, namun aku telah menolaknya karna aku yakin aku hanya akan bersanding denganmu".
dengan air mata yang mengalir bagai arus sebuah sungai, ia berbicara kembali "kata kata kosong yang kerap kujual kali ini menuntut tumbal. kau harus menerima perjodohan itu, bukankah kau selalu sendiri ketika bersamaku? maaf aku tidak bisa menemanimu seperti janjiku". perhari ini kita semua mati rasa atas berbagai lirik berisi semesta.
komitmen lama mati, hubungan yang menyepi. begitulah malam kelam yang kami lewati, dia menghilang memberikan sunyi, nada yang terdengar tak lagi berarti. aku akhirnya bersanding dengan pria selain dia, sungguh ku tak ingin hatiku menjadi milik yang lainnya. walau nyatanya meski aku harus menunggu sampai ku tak mampu menunggumu lagi, aku akan tetap menunggumu.
dehidrasi, mata air yang semu. akhirnya aku sampai pada lembaran terakhir dari buku yang tercetak tentang kisah kita, surat darimu yang selalu kukenang.
ㅤㅤㅤ"hai, ziya. kabarmu pasti baik setelah melihat surat dariku, bukan? sahenmu ini berterimakasih karna kau telah mencintaiku tanpa syarat, dan rela menunggu sangat lama. maaf karna membiarkanmu sendirian. kau harus tegar tanpaku walaupun perih, berjalanlah lagi sejauh mungkin hingga suatu saat nanti kita pasti bertemu, namun bila nanti ku tak kembali, kenanglah aku sepanjang hidupmu".
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ23, november 2019ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤsahen.
dia menjadikan pesan ini sebagai pesan terakhirnya, ia meninggalkanku dan meninggalkan dunia ini. bodohnya aku yang selalu menuntut waktu darinya, sementara dia berjuang melawan penyakit yang menjadi alasan perpisahan kita.
tinggallah kenangan berakhir lewat bunga yang kupersembahkan untuk sosok terindah. walau kau tak terlihat lagi, namun cintamu abadi dalam setiap nadi ku. biarlah kusimpan kenangan ini sampai nanti aku kan ada disana bersamamu dalam kedamaian, merekam gambar dirimu yang terabadikan bertahun silam.