"Dingin"
Satu gumaman yang meluncur keluar dari bilah bibirku yang bergetar.
Kedua tanganku yang dingin ku satukan didepan dada lalu ku usap dan letakan dikedua pipiku untuk mencari kehangatan.
Kepalaku mendongak keatas menatap hujan yang terus mengguyur membasahi kota tempatku tinggal sekarang.
Aku terpaku melihat sesuatu yang membuat kedua bola mataku melebar saat sedang melihat derasnya hujan.
Tanpa pikir panjang aku berlari untuk menghampiri seseorang diatas gedung yang merentangkan kedua tangannya seakan-akan siap untuk terjun bebas dari atas sana.
Kakiku dengan cepat berlari menuju lift gedung tersebut memencet tombol agar terbuka lalu masuk dan memencet tombol kembali untuk menuju lantai teratas.
Didalam lift tersebut aku terus mengucapkan kata 'cepat' atau 'kuharap aku tidak terlambat' pada diriku sendiri seakan kata-kata tersebut adalah mantra yang perlu kurapalkan sekarang.
Ku gigit kuku jariku saat merasa lift berjalan dengan begitu lambat.
'1'
'2'
'3'
Pada hitungan yang ketiga lift berbunyi menandakan bahwa aku sudah berada ditempat tujuanku.
Pintu lift terbuka segera saja aku melesak berlari kearah sesosok pria akan akan meluncur bebas itu.
Ku tarik tubuhnya sampai kami terjatuh dengan dia yang menindih tubuhku.
"Shh" ringisan keluar dari bilah bibirku saat tubuhku terasa sakit akibat terbentur lantai gedung yang dingin juga tindihan dari pria diatas ku.
Pria itu bangkit dari atas tubuhku memandangku sesaat sebelum kembali berjalan kearah tempat yang akan ia jadikan aksi bunuh dirinya.
Aku yang melihatnya lantas bangkit lalu berlari menghampirinya tidak memperdulikan rasa sakit yang ku rasakan sekarang.
Ku peluk tubuh dinginnya dari belakang lalu aku membisikkan kata tepat pada telinganya.
"Jika anda ingin mengakhiri hidup anda lakukan saja tuan, tetapi lakukanlah setelah anda menjadi seseorang yang terkenang kehidupannya bagi orang lain agar hidupmu tidak sia-sia tuan"
Ucapanku membuatnya menoleh ke arahku, kami saling menatap, aku bisa melihat kekosongan di balik indahnya onyx hitam jelaganya yang meredup menandakan bahwa pria ini sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Aku tersenyum hangat lalu mengajaknya untuk ikut bersamaku menuju apartemen yang aku jadikan tempat untukku tinggali.
"Tuan ikutlah dengan saya anda terlihat sangat kacau saat ini."
Entah dia sadar atau tidak tetapi dia setuju dengan menganggukkan kepalanya.
.
.
.
.
.
"Tuan minumlah coklat hangatnya."
Dia mendongak menatapku yang sedang menyodorkan sebuah segelas coklat yang masih mengepulkan asap.
Tangannya terangkat terayun untuk mengambil segelas coklat hangat yang ku sodorkan.
"Terima kasih nona."
Ucapnya untuk pertama kalinya setelah kami bertemu beberapa waktu yang lalu.
Aku tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban.
Ku langkahkan kakiku untuk duduk diseberangnya lalu ku tatap dia dengan beribu kebingungan yang melanda otakku.
Aku melamun dengan pikiran yang sibuk memikirkan tentang pria di hadapanku ini seperti...
'apa yang terjadi dengannya?'
'apakah sebegitu besarnya kah masalah yang sedang ia pikul sampai dirinya nekat ingin mengakhiri hidupnya?'
Atau...
'pria ini malang sekali aku kasihan terhadapnya, aku ingin menolong tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, benar-benar menyebalkan'
Kalimat terakhir membuatku mengerutkan dahi lalu terkekeh geli mendengar suara hatiku yang random.
Mendengar suaraku pria tersebut mengalihkan atensinya dari segelas coklat dihadapannya kepadaku.
"Nona, jika saya boleh tahu siapa nama anda?"
Mendengar pria tersebut bertanya membuatku tersentak keluar dari pikiranku, kepalaku menoleh menatapnya lalu tersenyum kecil dan menjawab
"Nama saya Aileen, Aileen Aneisha, siapa nama anda tuan?"
"Nama saya Joshua Wijaya"
Kami bersalaman setelah memperkenalkan diri masing-masing.
"Nona Aileen saya mengucapkan terima kasih karena ucapan anda beberapa waktu yang lalu menyadarkan saya bahwa menyerah bukanlah pilihan yang tepat untuk menghadapi masalah, terimakasih nona" ucap joshua dengan tulus.
"Tentu bukan masalah, sudah sepatutnya manusia saling menolong bukan"
"Anda benar nona, nona mari kita mengakrabkan diri dengan tidak terlalu formal, bagaimana menurut anda?"
"Tentu dengan senang hati"
Kami berdua tersenyum lalu melanjutkan obrolan, ku lihat pria yang bernama joshua tersebut, dalam batinku aku berucap
'senang bisa membuatnya melupakan kesedihannya walau sementara'
.
.
.
.
.
Beberapa hari sudah berlalu kami berdua semakin akrab, joshua tinggal satu atap denganku tetapi dia tidur dikamar yang berbeda.
Tetapi meskipun demikian dia sama sekali belum pernah mau untuk bercerita mengenai masalah yang sedang dia hadapi sampai ingin mengakhiri hidupnya.
Aku mengerti dan tidak menuntutnya untuk bercerita mungkin saja dia masih ragu jadi kutunggu sampai dia mau bercerita padaku, itupun jika mungkin.
Saat aku bersama joshua aku seperti sudah lama mengenalnya dia seperti seseorang didalam hidupku yang begitu penting terlebih saat kulihat onyxnya yang segelap malam aku seperti pernah melihatnya tetapi aku lupa entah kapan dan dimana aku pernah bertemu dan melihatnya.
"Aileen aku ingin minta pendapat darimu" ucap joshua yang berada di hadapanku melihatku sedang memasak untuk makan siang kami berdua.
"Tentu katakan saja" jawabku sekenanya.
"Sepertinya aku tertarik untuk memulai bisnis sendiri, bagaimana menurutmu?"
Ku tatap onyx hitam jelaganya yang berbinar menunggu jawaban atas pertanyaannya, senyuman manis ku berikan padanya lalu ku jawab
"Jika itu dapat membuatmu senang lakukanlah, aku akan mendukung apapun keputusanmu"
"Benarkah, terimakasih Ai"
Joshua berucap dengan sangat ceria dia bahkan sampai melompat-lompat seperti anak kecil dengan senyum kotaknya terlihat menggemaskan.
Ku gelengkan kepalaku tidak habis pikir dengannya tetapi melihatnya yang begitu bahagia membuatku ikut bahagia.
Setelahnya kami makan siang bersama lalu mulai mendiskusikan bisnis yang akan Joshua geluti.
Malam telah tiba aku dan Joshua berencana untuk menonton film bersama dengan tema family.
Film telah dimulai kami bersama dengan tenang menonton film tersebut dengan memakan popcorn dan coklat hangat.
Film yang mengisahkan seorang anak remaja yang harus banting tulang demi menghidupi dirinya serta keluarganya yang beranggotakan ayah,ibu,dia,dan adiknya yang masih berumur 3 tahun.
Dia bekerja keras siang dan malam disaat umurnya yang masih 17 tahun yang seharusnya masih menuntut ilmu dan bersenang-senang seperti anak-anak seusianya kebanyakan.
Beban yang anak remaja itu tanggung sangat berat mengingat ayah serta ibunya yang sudah berumur juga adiknya yang masih kecil.
Sungguh malang nasib anak remaja tersebut siang malam harus bekerja demi mencari nafkah tak kenal lelah siap berkorban untuk keluarga tercintanya.
Beberapa tahun telah berlalu dan anak tersebut kini sudah sukses menjadi pengusaha terkenal yang banyak mencuri perhatian karena selain menjadi pengusaha wajahnya yang tampan membuat orang-orang tidak bisa berpaling darinya.
Tetapi sayang disaat ia sudah sukses kedua orang tuanya harus meninggal karena sudah berumur.
Menyisakan si remaja tersebut dengan adiknya.
Sang remaja terpukul atas kematian kedua orangtuanya tetapi mengingat bahwa ia masih memiliki sang adik membuatnya tak lagi bersedih dan berjanji bahwa ia pasti akan menjaga adiknya dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu film pun berakhir.
Aku yang menonton menangis merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh sang remaja rasanya menyesakkan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada ditinggalkan oleh orang tuanya sendiri bukan.
Aku menolehkan kepalaku kesamping tertegun melihat joshua yang sama sekali tidak menampakkan ekspresi apapun hanya tatapan dingin dan datar yang ia tampilkan.
Ku usap air mataku lalu aku bertanya kepadanya
"Joshua kenapa kau tidak menangis?"
Dia tampak terdiam lalu menoleh ke arahku dengan ekspresi datarnya ia menjawab
"Untuk apa menangisi cerita hidupmu sendiri, bukankah itu menyedihkan."
Untuk beberapa saat aku membeku mendengar ucapannya lidahku terasa kelu hanya untuk sekedar menjawab.
"Hidupku hancur ketika aku kehilangan sahabatku di usiaku yang masih 10 tahun, kehilangan ayahku disaat aku berumur 17 tahun lalu saat dihari ulang tahunku yang ke 23 tahun aku harus kehilangan ibuku, setelah itu aku tidak memiliki siapa-siapa lagi aku hampir menyerah rasanya ditinggal oleh orang-orang yang ku sayangi membuatku terpuruk tetapi beberapa bulan setelahnya ku renungi kembali lalu aku sadar bahwa yang kulakukan salah jadi aku mulai bangkit dan mencoba untuk berdiri lagi banting tulang untuk menghidupi diriku sendiri tetapi beberapa hari yang lalu entah kenapa aku tiba-tiba mengingat mereka dan membuatku terpuruk kembali lalu aku berkeinginan untuk mengakhiri hidupku tetapi kau datang menggagalkan rencanaku dan yeah kau tau setelahnya bukan apa yang terjadi" cerita Joshua panjang lebar dengan tampang datarnya.
Aku yang mendengarkan terdiam untuk beberapa saat pandanganku kosong entah kenapa rasanya aku seperti mengingat secercah potongan ingatanku yang pernah hilang.
Kepalaku mendadak pusing rasanya seperti berputar-putar spontan tanganku memegang kepalaku yang berdenyut keras.
Joshua yang melihatku memegang kepala bertanya dengan nada cemasnya
"Ada apa Ai?, Apa kau baik-baik saja?" Dia bertanya dengan memegang kedua bahuku.
Pandanganku mendadak buram lalu gelap menghampiriku setelahnya.
.
.
.
.
.
Ku buka kelopak mataku perlahan-lahan berusaha menyesuaikan cahaya yang memasuki penglihatan ku.
Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit kamar yang berwarna putih lalu ku edarkan pandanganku menatap sekeliling ternyata aku sedang berada di rumah sakit.
Pintu kamarku terdengar terbuka lalu ku lihat seorang dokter wanita menghampiriku dengan senyuman yang menghangatkan.
Dia memeriksaku untuk beberapa saat lalu berucap
"Nona keadaan anda sudah baik-baik saja anda bisa pulang setelah cairan infus ini habis."
"Dokter apa yang terjadi?" Tanyaku pelan dengan suara serak.
Dokter tersebut tersenyum lalu membantuku untuk duduk dan memberikanku sebuah gelas dengan air sebagai isinya.
"Minumlah terlebih dahulu nona anda pasti merasa kehausan."
Aku hanya mengangguk karena memang aku sangat haus saat ini.
Setelah minum dokter tersebut menjawab pertanyaan ku
"Kemarin malam saat hari sudah gelap seorang pria mendatangi rumah sakit ini dengan wajah panik serta membawa nona di gendongannya berteriak menyuruh para dokter untuk mengobati nona" dokter tersebut terkekeh setelah selesai bercerita.
Aku yang mendengarnya ikut terkekeh.
"Apakah aku sakit dok?"
"Tidak, nona hanya pingsan saja."
"Lalu dimana pria yang membawaku kesini dok?"
Dokter tersebut menunjuk dengan dagunya kearah sebelahku.
Ku torehkan kepalaku ternyata Joshua yang membawaku kemari aku bahkan tidak sadar jika pria matang itu ternyata berada tepat disamping ranjang pasien yang aku tempati tertidur dengan posisi duduk tangan bersedekap di dada.
Aku yang melihat caranya tertidur meringis ku yakin saat pria itu terbangun pasti tubuhnya merasa sakit akibat cara tidurnya yang salah.
"Bukankah dia sangat romantis nona"
Celetuk dokter wanita itu tiba-tiba.
Pipiku bersemu mendengarnya meskipun dokter tersebut sepertinya salah paham tetapi ucapannya membuatku berdebar lalu ku gelengkan kepalaku.
'astaga apa yang ku pikirkan.'
Aku berdehem lalu berucap dengan senyuman
"Dia bukan kekasihku dokter,tetapi sahabatku."
"Ah begitu kah sepertinya saya salah paham saya minta maaf kalau begitu."
"Tidak apa dokter aku mengerti."
"Kalau begitu saya undur diri permisi."
Dokter itupun melangkah meninggalkan kamarku yang baru kusadari jika aku berada dikamar VIP.
"Sabahat?"
Pertanyaan tersebut membuatku terlonjak kaget ku torehkan kepalaku ke asal suara ternyata Joshua sudah bangun, tetapi sejak kapan?
"Katakan padaku apa maksudmu, kau sahabatku?"
Ku gerjapkan mataku beberapa kali lalu ku jawab
"Um kau sahabatku, aku adalah sahabatmu yang meninggalkanmu waktu itu, aku minta maaf sebenarnya aku meninggalkanmu bukan tanpa alasan tetapi karena ayahku harus mengurus perusahaannya yang saat itu sedang ada masalah jadi aku, ayah, dan ibu harus pergi sebenarnya aku tidak mau tetapi mereka memaksaku untuk ikut karena jika aku ditinggal maka mereka khawatir aku akan sendirian jadi mereka membawaku lalu saat ditengah jalan kendaraan yang kami tumpangi mengalami masalah remnya blong dan berakhir kami mengalami kecelakaan, yang kutahu saat aku terbangun ingatanku terhapus setengahnya alhasil aku tidak mengingatmu tetapi kemarin tiba-tiba bayangan tentang dirimu terlintas di otakku saat kau bercerita dan aku kembali mengingat ingatanku yang hilang" ucapku panjang lebar.
Dia terlihat terpaku mendengar ucapanku lalu di detik berikutnya tubuhku hangat oleh pelukannya.
"K-kau sahabatku, aku senang sangat senang mendengarnya kumohon jangan pergi lagi hum."
Aku mengangguk dan tersenyum mendengarnya.
"Aku berjanji tidak akan pergi lagi"
.
.
.
.
.
Tahun sudah berganti beberapa tahun sudah dilewati olehku dan Joshua.
Sekarang Joshua sudah menjadi pengusaha sukses yang terkenal serta terpandang di pelosok dunia seperti yang dia harapkan.
Dia sudah sangat bekerja keras bahkan dia hampir tidak tidur atau makan saat sedang merintis usahanya tentu ia patut mendapatkannya.
Sedangkan aku hanya membatunya dengan memberi semangat, mengingatkannya jika dia lupa waktu, dan juga memberi tambahan modal untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Menikahlah denganku Aileen Aneisha."
Aku yang mendengarnya menegang terlalu terkejut untuk hanya mengucapkan satu kata saja.
Dibawah sinar bulan yang terang begitu indahnya didampingi suara air dari arah pantai dan juga semilir angin yang menyejukkan seorang Joshua Wijaya melamar ku untuk menikah dengannya.
Ku tatap wajahnya yang menunggu jawaban dariku dengan penuh harap.
Aku tersenyum lebar dan mengangguk membuat pria tersebut memelukku dengan begitu eratnya.
Beberapa hari kemudian kami menikah dan hidup bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
End.