Rasa yang Tertinggal
Cerpen By Republik Septy
Aku masih di sini,
Bersama kepingan rasa yang tertinggal di sudut hati
Terbelenggu rasa yang enggan pergi
Terpenjara dalam sepi
Terantai rindu dan emosi
Wahai hati ....
Rasa ini telah mati
Terbawa bersamanya yang telah pergi
Meninggalkan sejuta kerinduan yang terbalut dalam sepi
🍂🍂
“Ngelamun terus ....” Suara emak menyadarkanku dalam lamunan panjang. Aku mendongak, menatap wanita bertubuh gemuk itu dengan bibir yang maju beberapa senti. Kebiasaan emak setiap hari yang selalu mengagetkan ku ketika diriku melamun.
“Emak kenapa sih? Suka banget gangguin hobi Dinda?” protesku seraya membenarkan posisi duduk. Emak pun ikut duduk di sebelahku, aku sedang berada di depan rumah. Di bawah pohon mangga yang rimbun, sangat nyaman untuk sekedar bersantai ria menghilangkan penat.
“Hobi kok melamun? Mana ada hobi begitu. Hobi itu membaca, menulis, nyanyi atau lari sana.”
“Ish emak. ‘Kan biar beda dari yang lain.” Aku bersungut-sungut.
“Jangan melamun terus! Ngapain masih mikirin orang yang nggak mikirin kamu? Dia aja udah bahagia bersama keluarganya. Lah kamu malah diam di tempat. Lihat tuh si Dela, anaknya udah dua! Lah kamu boro-boro punya anak, jodoh aja belum kelihatan hilalnya.” Emak mulai mengomel seperti biasanya. Setiap kali melihatku melamun, emak mulai mengeluarkan kata-kata mutiara yang akan merembet kemana-mana. Aku hanya bisa menghela napas seraya berusaha tidak terlalu mendengarkan. Aku lelah di tanya “Kapan kawin?” seperti tidak ada pertanyaan lain saja.
“Kamu tuh maunya suami seperti apa, sih? Setiap laki-laki yang emak jodohkan pasti kamu tolak. Kemarin, si Akbar juga di tolak. Padahal dia itu anaknya baik, ganteng, mapan pula. Emak sampai bingung mau nyariin yang kayak gimana lagi.” Rutuk emak dengan dada yang terlihat naik turun.
“Ya nggak usah capek-capek nyariin Mak. Ntar kalo udah waktunya, pasti bakal muncul sendiri itu jodoh. ‘Kan udah di bilang kalau jodoh, maut dan rejeki itu udah ada yang ngatur. Selow Mak, selow.” Aku hanya tertawa ringan, seringan kapas yang melayang di udara saat tertiup angin.
“Kamu itu udah umur 30tahun! Kamu mau jadi perawan tua? Kamu nggak kasihan sama emak? Teman-teman emak udah pada gendong cucu. Lah emak belum juga terima menantu!” Lagi-lagi emak mengomel perihal menantu.
“Mak, sayang nggak sama Dinda?” tanyaku seraya menatap emak dengan tatapan sendu. Wanita yang telah melahirkanku itu menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.
“Ya jelaslah sayang. Kenapa kok masih nanya sih? Dasar anak aneh.” Aku meraih lengan emak, meletakkan kepala di bahu emak yang lebar.
“Mak, boleh nggak ... Kalau Dinda ....” ragu tuk ku ucapkan, takut di sembur emak pakai kuah.
“Apa sih, Din? Ngomong kok setengah-setengah?!”
“Ummm ... Boleh nggak kalau Dinda nggak usah kawin aja seumur hidup?”
“Apa?” emak tiba-tiba berdiri, membuatku terkejut bukan main dan hampir terjungkal. Aku mengelus dada yang jantungnya hampir lompat karena aksi Mak yang tiba-tiba.
“Emak bisa nggak sih kalau mau berdiri ngomong dulu? ‘Kan Dinda lagi senderan. Ya elah emak, bisa mati cepat kalau kayak gini ceritanya.”
“Emak yang bisa mati cepat kalau begini terus. Lagian kamu kok minta yang aneh-aneh? Mana ada orang yang nggak kawin seumur hidup? Gimana emak mau gendong cucu kalau kamu nggak kawin?” Duh, bener ‘kan. Di sembur emak pakai kuah. Aku mengusap muka ku yang terkena semburan emak seraya menatapnya kesal.
“Emak bisa nggak sih kalau ngomong jangan pakai kuah? Basah nih!” protesku.
“Biarin! Lagian punya anak kok aneh minta ampun. Anak orang baru umur 17tahun aja udah nikah, lah kamu malah minta nggak mau nikah. Ya Allah, kenapa anak aku beda sama anak orang ya.” Emak mengelus dadanya, mendaratkan bokong di sebelahku. Aku pun merasa bersalah melihat wajah emak yang terlihat sedih. Tapi bagaimana lagi? Hatiku sudah mati. Tak ada lagi rasa untuk orang lain. Semua cinta itu sudah habis untuk satu orang. Dan rasa itu tertinggal di sudut hati yang paling dalam. Tak kan hilang, tak ‘kan pernah lekang. Akan abadi dan terpatri indah di sana. Pria itu bernama Jibril. Ia merupakan kekasihku beberapa tahun lalu. Hubungan kami harus kandas karena terhalang restu orang tua. Mas Jibril lebih menuruti keinginan orang tuanya yang menjodohkannya dengan anak juragan tanah desa sebelah. Aku yang notabenenya hanyalah anak dari seorang janda biasa tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa pasrah melihat orang yang ku cintai melenggang ke pelaminan bersama wanita pilihan orang tuanya.
“Kamu itu sampai kapan sih, Din harus memikirkan Jibril? Dia itu sudah punya anak dan istri! Bahkan kini istrinya sudah hamil lagi dan sebentar lagi akan melahirkan! Sampai kapan kamu berharap sama dia? Si Jibril sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Jangan sampai cinta kamu membutakan hati kamu juga. Jangan sampai kamu jadi pelakor! Amit-amit punya anak pelakor! Emak masukin karung kamu, terus emak buang ke sungai kalau kamu kayak gitu.”
“Astaghfirullah emak .... Amit-amit cabang bayi! Nggak ada niat Dinda buat jadi pelakor, Mak. Nggak ada bakat! Secinta-cintanya Dinda sama Mas Jibril, nggak mungkin Dinda mau merebut laki orang. Dinda juga punya hati, Mak. Dinda juga perempuan, nggak mungkin tega nyakitin hati istrinya.”
“Ya bagus kalau gitu. Jangan sampai kamu jadi pelakor! Kalau itu Sampai terjadi, kamu emak masukin karung dan Mak buang ke sungai! Ingat itu!” ancam emak seraya menunjuk wajahku dengan jari telunjuk. Matanya melotot menatapku. Seram juga ternyata.
“Ya Allah Mak. Nggak mungkin lah.” Kataku.
“Ya Awas aja! Dan satu lagi! Jangan sampai kamu nggak kawin! Kamu harus tetap kawin dan kasih emak cucu!” kata emak seraya berdiri. Wanita itu pergi meninggalkan ku sendiri. Lagi-lagi aku menghela napas panjang dan berat. Mengapa beban yang ku pikul sangat berat? Rasanya sangat terekan ketika emak menodongku dengan pertanyaan kapan kawin. Dan masalah Pelakor, aku tidak akan mungkin tega menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Pernah suatu hari Mas Jibril menemuiku. Ia mengatakan bahwa dirinya juga masih sangat mencintaiku. Ia mengajakku untuk tetap berhubungan dengannya di belakang sang istri. Tapi dengan tegas aku menolak. Secinta-cintanya aku pada pria itu, aku tidak akan pernah menjadi orang ketiga. Bagaimana jika aku berada di posisi istrinya? Pasti akan sangat sakit, bukan? Biarlah ku simpan cinta ini rapat-rapat.
🍂🍂
Hari ini seperti biasa, aku pergi mengajar di Sekolah Dasar tempat aku tinggal. Hari ini adalah penerimaan murid baru, karena tahun ajaran baru banyak murid yang mulai masuk. Kebetulan aku menjadi wali kelas satu, sehingga akulah yang akan menyambut mereka. Saat aku mengabsen deretan nama murid yang tertera, mataku terhenti di satu nama murid perempuan yang membuat aku penasaran “Dinda Lusiana Jibril” Mengapa nama ini tidak asing bagiku? Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat di mana aku pernah mendengar nama ini? Mengapa nama itu tidak asing bagiku. Dan ketika aku melihat gadis kecil itu, wajahnya sangat tidak asing bagiku. Mengingatkanku, pada seseorang yang selalu ku rindukan.
Deg ....
Jantungku seolah berhenti. Seorang pria menghampiri gadis kecil itu, lalu menatapku dengan tatapan yang tak ku mengerti apa artinya. Tatapan yang masih sama seperti beberapa tahun lalu. Yang menyimpan sejuta kerinduan serta tatapan yang seringkali memabukkan.
Aku mengerjap beberapa kali, mencoba untuk tetap sadar agar tak terlalu lama menatap cinta lama yang tak pernah hilang itu. Di luar dugaanku, Mas Jibril berjalan mendekatiku. Tersenyum penuh kerinduan yang hampir saja menenggelamkanku dalam tatapan yang bisa saja membuatku gila.
“Selamat pagi, Bu Dinda. Kita bertemu lagi di waktu dan keadaan yang berbeda.” Ia mengulurkan tangan, aku menatap tangan itu cukup lama. Hingga tiba-tiba gadis mungil yang berada di sebelah Mas Jibril mengagetkan ku.
“Bu guru nggak mau salaman sama Papa, ya?” tanya gadis itu dengan polos. Aku tergagap, tersenyum malu. Ku ulurkan tangan menyambut tangan Mas Jibril yang tergantung cukup lama.
“I-iya. Nggak nyangka ya, ki-kita harus di pertemukan kembali dalam situasi seperti ini.” Sial! Kenapa aku sangat gugup? Rasanya ingin sekali aku berlari ke lubang semut untuk menutupi wajahku yang pastinya sudah memerah karena malu. Ingat Dinda, dia itu sudah menjadi suami orang!Oh Tuhan ... Kenapa takdir seolah mempermainkanku? Kemarin kami di pertemukan dalam cinta yang sama meski ujungnya tidak di takdirkan untuk bersama. Dan sekarang, mengapa kami di pertemukan sebagai guru dan wali murid? Takdir macam apa ini ya Tuhan? Mengapa seolah diriku di permainkan oleh takdir?
Tapi terimakasih, setidaknya aku di ajarkan bagaimana untuk mengikhlaskan sesuatu yang tidak bisa ku miliki. Meski raganya tak dapat ku miliki, tapi rasa itu tertinggal di sana. Di relung hati terdalam.
Jambi, 20 Mei 2023