Di sebuah jalan desa yang sepi, terlihat Manto sedang mengendap-ngendap mendekati seekor kucing liar berwarna hitam.
Manto mencoba menangkap kucing itu, tapi kucing itu terlalu gesit. Manto terus berusaha menangkapnya tapi selalu gagal dan gagal lagi.
Ningsih melihat kejadian itu. Sebagai seorang pecinta kucing, dia sangat terganggu dengan perbuatan Manto yang sepertinya berniat jahat kepada kucing liar itu. Tapi Ningsih tidak berani menegur Manto.
Manto adalah seorang pria berusia 30 tahunan yang bekerja serabutan. Dia tinggal di sebuah rumah yang terpencil, jauh dari keramaian desa. Sifatnya sangat tertutup dan sering melakukan hal-hal yang aneh, seperti berbicara atau tertawa sendiri.
Esoknya, Manto sudah berdiri di depan pagar rumah Ningsih. Ningsih sedang mengendong si Bel Bel, kucing belang tiga kesayangannya.
Ningsih melihat Manto meneteskan air liur sambil berkata, "Daging ..." ke arahnya yang sedang mengendong Bel Bel.
Menyadari prilaku aneh Manto, Ningsih segera membawa masuk Bel Bel ke dalam rumahnya, lalu mengunci pintu rumahnya.
"Ada apa, Ning?" tanya ibunya yang heran melihat Ningsih seperti orang ketakutan.
"Itu, Bu, si Manto tadi lihatin Bel Bel sambil bilang, 'daging' gitu. Serem deh! Kemarin juga Ning lihat dia mau nangkap kucing liar. Jangan-jangan dia mau makan kucing, hiiii ..." Ningsih bergidik ngeri.
"Huss ... jangan su'udzon begitu. Walaupun Manto itu terlihat aneh, tapi dia tidak pernah menganggu warga sini, apalagi melakukan tindakan kriminal," ujar ibunya Ningsih.
Ningsih tidak ingin berdebat dengan ibunya. Dia memilih mengalah dan menerima pendapat ibunya itu.
Hari berikutnya, Ningsih yang baru pulang dari sekolah mendapati Manto sedang berdiri di halaman rumahnya sambil menggendong Bel Bel.
"Kembalikan Bel Bel atau aku akan berteriak maling!" hardik Ningsih.
Manto menyerahkan kucing yang digendongnya ke arah Ningsih sambil berkata, "Daging ..."
"Pergi!!!" hardik Sinta. Dia sangat ketakutan dengan Manto.
Manto berlalu pergi sambil berkata, 'daging' berulang kali.
Di hari yang ketiga, Ningsih kembali mendapati lagi Manto sedang mengendong Bel Bel. Seperti kemarin, Ningsih mengancam akan berteriak kalau Manto tidak menyerahkan Bel Bel.
Kali ini Manto tidak mau menyerahkan Bel Bel. Dia malah berlari membawa Bel Bel. Tanpa pikir panjang, Ningsih mengejar Manto sampai ke rumahnya yang terletak di pinggir desa. Rumah itu sangat terpencil dan jalannya juga sangat sepi, tidak ada orang yang berlalu lalang.
Ningsih sangat takut Manto akan memakan Bel Bel. Dia segera ke rumah Manto untuk menyelamatkan Bel Bel.
Di halaman rumah Manto, tampak Bel Bel sedang memakan sepotong daging ayam dengan lahap.
"Daging ..." kata Manto saat melihat Ningsih datang.
"Oh, jadi Mas Manto mau kasih makan kucing saya pakai daging ayam ya? Bilang dong dari kemarin! Terima kasih ya! Sekarang, kucingnya saya bawa pulang ya!"
Ningsih berjongkok hendak mengambil Bel Bel yang sudah selesai makan.
Bukkkkkk!!!
Ningsih merasakan sebuah benda keras menghantam kepalanya. Dia pun pingsan seketika.
***
Ningsih terbangun di sebuah dipan dengan tubuh terikat serta mulut yang tersumpal. Dia tidak bisa berteriak karenanya.
Manto terlihat sedang merebus sesuatu di atas kompor. Baunya sangat enak, seperti bau sup.
Ningsih meneteskan air matanya. Manto pasti sedang merebus sup kucing, lebih tepatnya sup Bel Bel, kucing kesayangannya.
Tiba-tiba seekor kucing masuk dan mengeong dengan keras ke arah tubuh Ningsih. Dia adalah Bel Bel, kucing kesayangannya.
Manto mengendong Bel Bel dan membuangnya ke luar rumah lewat jendela. Dia lalu menutup rapat-rapat jendela serta pintu rumahnya.
Ningsih melihat Manto mengambil sesuatu di atas meja, lalu berjalan mendekatinya.
"Hmmmppp .... Uhmppppp ..." Ningsih tidak bisa berteriak.
"Daging ..." kata Manto sambil menyayat daging Ningsih hidup-hidup.
***
Tamat
***