Pulau Nias merupakan sebutan untuk pulau dan kepulauan yang terletak di sebelah barat pulau Sumatra Indonesia yang dihuni oleh mayoritas suku Nias. Suku Nias terdapat beberapa desa yang memiliki beberapa rumah penduduk yang diantaranya masih menggunakan rumah adat asli.
Di Nias Utara Memiliki 2 rumah adat yang terkenal yang di sebut ‘Omo Hada' atau ‘Omo Sebua' yang terbuat dari kayu yang sangat erat dan kokoh hingga bertahun-tahun. Ciri khas dari orang Nias merupakan hal yang sangat di pertahankan sepanjang masa dengan memiliki adat yang sangat di junjung tinggi oleh masyarakatnya. Terutama dalam segi pernikahan.
Dulu pernikahan dalam Suku Nias masih tergolong yang di jodoh-jodohkan oleh orang tua dan tidak memandang fisik laki-laki maupun perempuan. Dan ada juga sebagian dari pernikahan di Nias masih tergolong nikah paksa, karena harus menuruti keinginan dari orang tuanya.
Tidak mengenal umur tua atau mudanya diri seorang laki-laki dan perempuan yang penting kedua orang tua mempelai setuju, maka anak mereka akan dijodohkan atau di nikahkan secara adat istiadat dari Nias.
Pernikahan dalam suku Nias juga memiliki keunikan yaitu mempelai pria harus melunasi emas kawin kepada semua pihak yang mempunyai family (keluarga) dengan mempelai wanita itu. terutama kepada pihak ibunya. kemudian di dalam pesta adat tersebut, di harapkan supaya mempelai pria mengadakan satu pesta untuk seluruh warga desa tersebut.
Pada sebuah desa yang kecil, hiduplah keluarga kecil yang sederhana yang tinggal di suatu desa bernama desa Loloana'a. keluarga kecil itu tinggal dirumah adat yang masih utuh dan beratapkan ‘BULU ZAKU' atau Daun Rumbian. Pekerjaan sehari-hari mereka adalah sebagai pekerja sawah dan penyadap karet.
Pendapatan keluarga hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Keluarga kecil itu bernama Ama Bute dan Ina Bute. Mereka memiliki tiga orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anak pertama bernama Bute, anak kedua bernama Rika, dan anak ketiga bernama Siduhu. Ketiga anak-anak mereka memiliki paras yang cantik dan tampan.
Bute saat ini masih duduk dibangku kelas 8 Sekolah Menengah Pertama, di sebuah sekolah negeri yang berada di desanya. Rika masih duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar, dan Siduhu masih kelas 4 SD. Setiap hari mereka berjalan kaki menuju sekolah atau pun menaiki sepeda tua yang mereka miliki. Setelah pulang dari sekolah, mereka langsung kesawah ataupun menyadap karet untuk membantu kedua orang tua mereka.
Jam makan siang sepulang sekolah adalah waktu istirahat mereka. Syukurnya anak-anak dari pasangan suami istri ini memiliki sifat yang rajin dan menurut pada mereka. Walaupun mereka tahu, bahwa anak-anak mereka juga capek setelah dari sekolah langsung pulang untuk bekerja. Pada suatu hari, rumah Ama Bute dan Ina Bute kedatangan tamu dari desa tetangga. Mereka datang sudah sepengetahuan Ama dan Ina Bute tentunya.
Kedatangan para tamu itu memiliki niat melamar Bute, putri pertama dari Ama dan Ina Bute. sebagai menantu keluarga mereka. Tamu itu bernama Ama dan Ina Ucok. Pasangan itu merupakan keluarga yang berkecukupan dan cukup terpandang dibanding keluarga Ama dan Ina Bute.
Sehingga mereka mampu untuk menikahkan anaknya walau baru lulus sekolah menengah atas. Keluarga Ama dan Ina Ucok memiliki enam orang anak, lima laki-laki dan satu orang perempuan. Anak pertama mereka bernama Ucok, dan akan dijodohkan dengan Bute putri pertama Ama dan Ina Bute.
Ucok sudah tamat Sekolah Menengah Atas beberapa minggu yang lalu. Kedua orang tuanya berniat menikahkan Ucok walau usianya masih terbilang muda, tapi tidak menghalangi niat kedua orang tuanya ntuk menjodohkannya.
“Ya’ahowu Ama dan Ina Bute” sapa pak Ama Ucok.
“Y’ahowu le Ama dan Ina Ucok”. Jawab Ama dan Ina Bute.
“Bagaimana kabarnya?”. Ucap Ina Ucok.
“Sehat-sehat aja Bu Ina Ucok”. Jawab Ina Bute.
“Niat kami kesini tentu sudah jelas dan diketahui oleh Pak Ama dan Ina Bute, bahwa Kami ingin menanyakan bagaimana kelanjutan pembicaraan kita tempo hari yang lalu”. Tanya Ama Ucok pada Ama dan Ina Bute.
Sebelumnya mereka pernah bertemu dan membahas tentang perjodohan anak-anak mereka. Kemudian Ama Bute menjawab,
“Seperti yang pernah kita bicarakan sebelumnya pak Ama Ucok, bahwa saya akan menerima lamaran bapak untuk putri saya”. Jelasnya pada pak Ucok.
“Lalu apa saja syarat atau beban yang akan kami lunasi untuk putri bapak?”. Tanya Ama Ucok.
Kemudian Ina Ucok juga ikut bertanya. “Betul pak Ama Bute, apa saja persyaratan yang harus kami penuhi, sebelum menjelang hari H anak-anak kita.”
Ama dan Ina Bute sudah berunding sebelumnya, dan tentunya bersama-sama dengan keluarga besar mereka.
“Baiklah pak Ama Ucok, sebagai persyaratan yang akan dipenuhi oleh pihak laki-laki untuk menikahi putri saya yaitu, bapak menyiapkan 80 juta uang sebagai Bówó (Jujuran), 8 karung beras yang memiliki berat 30 kg per karung, dan 20 ekor babi pernikahan dan beberapa bola Afo (Sekapur sirih), yang dibutuhkan pada saat menjelang hari H”. itulah persyaratan yang telah kami putuskan.
Tak lama setelah itu kedua belah pihak itu sudah memutuskan dan setuju akan persyaratan yang akan dilunasi. Mereka kemudian menentukan tanggal tunangan atau lebih tepatnya dilakukan sebelum pesta pernikahan pertanda bahwa gadis itu sudah dipinang.
Lalu bagaimana dengan kedua calon pengantin? Disaat situasi keduanya yang berbeda usia sekitar 7 tahun. Apalagi Bute sekarang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama.
Ina Bute kemudian mendatangi putrinya yang sedari tadi berada didalam kamar. Lalu ia menceritakan apa yang sudah diputuskan oleh kedua belah pihak. Lalu bagaimana respon dari Bute? Tentu saja, Bute merasa sedih. Kedua orang tuanya tidak menanyakan lagi apakah anaknya siap atau tidak.
“Nak, ibu dan bapak sudah memutuskan untuk menerima lamaran dari pak Ama Ucok untukmu. Pertunanganmu akan dilaksanakan dua hari lagi. Ibu harap kamu dapat menerima keputusan keluarga kita. mulai besok, kamu tidak perlu kesekolah lagi, karena kamu akan segera menikah.” Jelas bu Ina Bute kepada putrinya yang cantik itu.
Dengan wajah yang sedih, Bute menatap ibunya kemudian berkata,
“Ibu, apakah ini tidak terlalu cepat untukku? Aku masih muda bu. Mengapa aku harus dijodohkan dengan orang yang tidak aku sukai. Aku masih ingin bersekolah seperti teman-temanku yang lain. aku ingin mewujudkan cita-citaku menjadi seorang guru. Lalu mengapa aku harus menikah secepat ini bu?”.
Banyak pertanyaan yang dilontarkan Bute kepada ibunya. Namun, ibunya hanya diam sejenak mendengar pertanyaan dari anaknya itu. Lalu dia menjawab.
“Nak, sudah lazimnyas di Nias kita ini bahwa perjodohan sudah sewajarnya dilakukan para orang tua untuk kebaikan anaknya. Keluarga yang akan menjadi mertuamu adalah orang yang berkecukupan dan terpandang dikampungnya. Ibu hanya ingin kamu terlepas dari susahnya perekonomian kita ini. Biarlah adik-adikmu yang akan menjadi tanggungan ibu dan bapak selanjutnya.” Jelas bu Ina Bute.
Dipulau Nias, pendidikan perempuan tidak terlalu diprioritaskan zaman dulu. Perempuan cukup hanya belajar sampai di sekolah dasar saja. Bahkan tak sampai tamat di sekolah dasar, sudah dinikahkan dikarenakan perekonomian mereka yang sangat rendah.
Para orang tua tidak menanyakan pada anak-anak mereka, apakah anak-anak mereka itu menyetujui perjodohan mereka atau tidak. Bukan hanya itu saja, para calon pengantin tidak boleh dipertemukan sebelum hari H mereka. hanya para orang tua saja yang diperkenankan melihat pengantin wanita di kamarnya.
Pak Ama dan Ina Bute dirinya juga sudah merasakan hal yang sama sewaktu menikah. Ina Bute dulu, baru berumur 14 tahun dan sudah dijodohkan dengan Ama Bute. saat mereka baru duduk di bangku kelas IX Sekolah Menengah Pertama. Saat sudah lulus mereka dinikahkan. Diusia yang masih muda, Ina Bute melahirkan anak pertama di umur 15 tahun. Menjadi ibu diusia yang muda tentunya sangat berat untuknya.
Namun, ibu mertuanya selalu memberikan arahan kepadanya, tentang apa yang harus dia perbuat dalam mengurus anaknya. Pekerjaannya bukan hanya mengurus anak saja, melainkan harus kesawah dan menyadap karet.
Terkadang anaknya yang belum lama lahir itu, dia bawa disawah dan di tinggalkan di ayunan kelambu di gubuk sawah mereka. Bute yang sudah tidak bersekolah lagi setelah ibunya memberitahu kapan waktu dia akan tunangan dengan orang yang dijodohkan dengannya.
Dia tidak pernah bertemu dengan lelaki yang akan menjadi suaminya itu. Saat melihat teman-temannya berangkat kesekolah dengan mendayuh sepeda mereka, dia bersembunyi di balik pintu. Seharusnya sekarang dia juga sudah berangkat kesekolah seperti para anak-anak itu dan juga bersama dengan adik-adiknya.
Namun, hari ini para keluarga calon mempelai laki-laki datang kerumah mereka melaksanakan tunangan. Segala persiapan sudah di sediakan oleh Ama Bute danIna Bute, dan juga dengan bantuan keluarga mereka. Para tamu dari pihak laki-laki sudah tiba dirumah pihak perempuan. Para tamu itu berkisar sebanyak dua puluh lima orang ataupun lebih dikarenakan ada beberapa anak-anak kecil yang ikut.
Mereka disambut baik oleh keluarga besar pihak perempuan. Pada acara tunangan ini, kedua calon pengantin tidak melakukan acara tukar cincin, melainkan satu cincin di serahkan bersamaan dengan sejumlah mahar yang mereka tinggal sebagian pada pihak perempuan. Kemudian, Ina Bute yang akan memberitahukan bentuk cincin itu kepada pihak keluarga setelah pihak laki-laki pulang nanti.
Acara demi acara yang dilaksanakan pada hari itu berjalan dengan lancar tanpa kekurangan suatu apapun. Para ibu-ibu dari pihak laki-laki meminta izin kepada pihak perempuan untuk melihat calon menantu mereka di dalam kamar. Tentu saja mereka mengizinkan. Saat sampai dikamar mereka memeluk dan menciumi Bute, seperti ciuman para wanita dengan ciuman pipi kanan dan pipi kiri.
Situasi Bute pada saat itu sedikit canggung dan malu-malu dengan para ibu-ibu yang akan menjadi keluarganya juga.
“Wah dia cocok dengan Ucok”.
“Bu Ina Ucok tidak salah pilih..”
“Menantu kita masih muda sekali..”
Itulah beberapa ucapan dari ibu-ibu yang sedang berada didalam kamarnya.
Para orang tua sudah menentukan tanggal pernikahan mereka. Namun, sebelum pesta pernikahan pihak laki-laki harus melunasi segala persyaratan yang sudah ditentukan sebelumnya, sepeti sisa mahar, beras dan babi. Tanggal pernikahan ditentukan berdasarkan besarnya bulan atau baiknya tanggal pada hari itu. Agar rejeki para calon pengantin selalu baik. Pada malam harinya, semua keluarga besar pak Ama Bute berkumpul dirumah, membicarakan keperluan mereka pada saat hari H pernikahan.
Para saudara-saudarinya baik laki-laki maupun perempuan turut mengambil bagian pekerjaan. Para laki-laki bertugas mengelola babi yang akan di serahkan oleh pihak laki-laki, dan perempuan bagian yang berada didapur memasak beras, sayur-mayur dan beberapa olahan daging babi seperti organ dalam babi yang tidak terlalu dibutuhkan dalam penyusunan simbi babi (Kepala Babi) sebagai jamuan para tamu, saudara-saudara, keluarga besar baik dari pihak laki-laki maupun perempuan.
Ina Bute menyerahkan kembali sejumlah uang dan juga cincin tunangan yang sudah diberikan pihak laki-laki tadi kepada mereka. Ama Bute menyerahkan sebagian uang ditangan Ina Bute untuk membeli kebutuhan Bute. Tentunya ada beberapa barang yang harus dibeli dari mahar yang diberikan, seperti kalung emas, cincin, gelang, anting, koper, kasur, baju pengantin dan baju adat.
Uang yang diberikan hanya dua puluh juta saja, dan sisanya untuk kebutuhan yang lain. Uang selebihnya itu akan diberikan kepada beberapa pihak seperti saudara-saudara Ama Bute dan juga dari pihak paman saudara dari Ina Bute. Semua akan diterima sesuai dengan porsi masing-masing.
Saat ini, Ina Bute dan kedua putrinya sedang duduk di gubuk sawah mereka, Ama Bute dan Siduhu sudah pergi memetik kelapa yang ada dikebun mereka. Ama Bute dan Ina Bute memiliki ternak babi yang digunakan untuk keperluan pesta nanti yang akan dilaksanakan satu bulan kedepan. Ina Bute sedang berbicara dan menasehati kedua putrinya.
“Nak, disaat kamu nanti sudah menjadi menantu dan istri dari suamimu, maka kamu harus merubah segala sikap, dan tingkah lakumu semasa gadismu. Kamu harus menjadi wanita yang mandiri dan tidak bergantung pada siapapun itu.” Katanya pada Bute yang sedari tadi diam mendengarkan.
Lalu Bute kemudian menjawab,
“Bagaimana aku bisa menjadi seperti yang ibu harapkan. Bahkan aku masih orang baru dikeluarga itu nanti. Lagi pula aku tidak menyukai mereka, aku lebih baik bersama dengan ibu dan bapak serta adik-adikku saja.”
“Kamu tidak boleh berbicara seperti itu nak. Bagaimana pun mereka yang akan menjadi keluargamu seutuhnya. Memang kami juga tetap menjadi keluarga kandungmu, tetapi merekalah yang akan berada disekitarmu sepanjang hidupmu. Meskipun kamu masih belum menyukai mereka, kamu harus menerima kenyataannya bahwa mereka akan menjadi keluargamu.” Jelas Ina Bute. “kamu harus memenuhi tanggung jawabmu sebagai menantu dan istri yang baik kelak. Ibu tidak ingin kamu menjadi seperti ibu nak, yang hanya bisa mengandalkan bapakmu membantu ibu. Sehingga para ipar-ipar ibu semena-mena menyindir ibu”.
“Lalu mengapa ibu harus menikahkan aku diusiaku yang masih muda ini ibu? Jika memang ibu tidak ingin aku seperti ibu”. Tanya Bute dengan sedih.
Ina Bute mulai menangis didepan putrinya. “nak, jika saja perekonomian kita tidak seperti ini, ibu pun tidak menginginkan kamu menikah secepat ini. Namun, apalah daya perempuan yang selalu tidak dianggap penting ucapannya, makanya kami menerima perjodohan ini dikarenakan kakek dan nenekmu yang menyarankan kamu untuk di jodohkan dengan keluarga yang mampu itu. Ibu Ina Ucok akan menjadi ibu mertuamu dan kamu harus menyayangi dan menghormatinya seperti kamu menyayangi ibu kandungmu sendiri”.
“Lalu apakah aku akan bernasib sama seperti kakak? Aku tidak menikah muda bu, aku ingin bersekolah lebih tinggi lagi.” Kali ini Rika bertanya pada ibunya.
Ina Bute hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan putrinya itu. “ibu masih belum bisa menjawab pertanyaanmu itu nak. Tapi apabila Tuhan merestui permintaanmu itu maka kamu akan mendapatkannya. Ibu hanya berharap nasib anak-anak ibu selalu baik”.
Tak lama kemudian saat mereka sedang berbincang-bincang, Ama Bute datang bersama Siduhu dengan membawa dua karung kelapa yang sudah di kupas kulitnya. Kemudian mereka pulang kerumah karena hari sudah mulai gelap. Itulah perjalanan kehidupan mereka yang tiap hari dilalui dengan kerja keras.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu setelah penentuan tanggal pernikahan, kini Bute sudah tidak diperbolehkan keluar rumah. Dikarenakan tiga hari lagi pesta pernikahannya dilaksanakan. Saat ini para sauadara-saudari Ama Bute sudah berkumpul dirumah untuk membuat tenda biru di teras rumah mereka, sebagai tempat para tamu nantinya.
Bute hanya diam menyaksikan saja segala sesuatu yang sedang dilakukan. Dia sudah pasrah dengan perjodohan dirinya dengan Ucok. Dia berharap semoga saja pernikahannya ini diberkati oleh Tuhan.
Hari ini adalah satu hari sebelum hari H pernikahan Bute dan Ucok. Pada hari ini juga, kedua puluh ekor babi yang menjadi persyaratan yang diminta pak Ama Bute akan diserahkan. Namun, sebelum itu acara yang dilakukan adalah menasehati pengantin wanita serta membuatnya menangis dengan mendengarkan lagu yang akan dinyanyikan dengan suara merdu para ibunya. Sangat tabu bila seorang wanita tidak menangis apabila mendengar nyanyian itu. Para orang-orang akan mengira bahwa wanita itu tidak menangis karena dia sangat ingin cepat-cepat menikah.
Bute kemudian dibawa di tempat berkumpulnya para ibu-ibu yang sudah duduk dilantai beralaskan tikar. Kepala Bute ditutup dengan kain berwarna putih atau brokat yang berwarna putih. Dia di hadapkan dengan tunangannya Ucok yang didampingi oleh satu orang temannya laki-laki, karena sebagian tamu berada di bawah tenda yang telah dibuat.
Ucok ikut mendengarkan nasihat dari para ibu-ibu dan juga nenek-nenek mereka yang sudah hadir disana. Para ibu-ibu bergantian menyanyikan lagu ditelinga Bute dengan posisi mereka ikut memasukkan kepala mereka dibalik kain putih yang ada di kepala Bute. Berikut ini adalah nyanyian yang mereka lantumkan.
NGENU-NGENU NIOWALU
(RENUNGAN HATI MEMPELAI PEREMPUAN)
Huuuuu ina, hana izumaigõ ndra’odo khõmi ina…
Wa mi ohe ndrao ba gotalua zatua mbanua, ina…
Huuuuu…. ina, hadia zalagu sino ufalua ina…
Wamifabali ndrao yomo khemi andre, ina…
Wami bezi garamba famofanõgu, ina…
Wa mi tema mbawi sebua awõ mbõwõ soya, ina…
Huuuuu….. ina, hiza dania na no mofanõdo ina…
Haniha dania ngoningonimõ wõ ina…
Sangai idanõ na mofokhõ’õ ina…
So lului halõwõ naso domeda ina…
Huuuu ina, hiza mbanua nirugigu dania he, ina…
Ba no to’õlõ ira ba wo mbambaya halõwõra, ina…
Alai dania na niha nihede-hede’õ ndra’o, ina…
Me ambõ-ambõ fangi’ilagu wõ, ina…
Huuuuu ina, alai dania na fangeherai ninagu ndra’o…
Na fangeherai mbanuada, ina…
Melõ nekhe-nekhe dangagu wõ ina…
Melõ si faguru ndra’o balala wohalõwõ wõ ina…
Huuu…ina…huhu..huu…
Tangis Bute semakin deras, mendengar nyanyian yang begitu merdu dilantumkan ditelinganya. Dia mengingat kembali disaat-saat sedang bersama ibunya. Apalagi di usianya yang masih muda ini, dia harus menjadi wanita mandiri yang serba bisa dalam melakukan pekerjaan.
Masa remajanya harus dia korbankan karena perjodohan yang di alaminya. Dia harus bisa menata kehidupan keluarganya kelak supaya kejadian ini tidak terjadi dikehidupan anaknya kelak bila mempuyai anak. Banyak nasihat yang sudah didengarkan oleh Bute yang tentunya akan di simpan dan ingat seumur hidupnya.
Setelah bagian perempuan sudah selesai dilanjutkan dengan bagian laki-laki. Pihak laki-laki menyerahkan babi-babi yang berukuran besar kepada pihak perempuan. Kemudian suara pukulan gong, gendang dan faritia (Canang). begitu indah didengarkan dan sebagai petanda bahwa akan dilaksanakan pesta pernikahan.
Semua orang mulai dari sanak saudara dan keluarga besar mereka sangat berbahagia saat ini. Tetapi tidak dengan Bute. Dia terus-terusan menangis dikamarnya. Namun, apalah dayanya dia besok sudah akan pergi meninggalkan rumahnya dan menetap dikediaman suaminya.
Keesokan harinya, pesta pernikahan Bute dan Ucok pun dilaksanakan. Tidak ada kata mewah dalam pernikahan itu. Pada saat ini Bute hanya mengenakan baju pengantin dengan model kartini dan rok wiron, memakai bedak tabor biasa dan lipstick merah yang senada dengan warna bajunya. Tidak ada sound system atau pembesar suara. Dikarenakan pada masa ini semua hal tersebut memang tidak tersedia.
Acara demi acara berlangsung dengan baik, para tamu disambut dengan baik. Dimulai dari fangowai (Penghormatan), fame’e afo (Pemberian sekapur sirih), hingga fanika gera-era mbõwõ (Pemberian nasehat oleh tokoh adat kepada kedua mempelai). semuanya terlaksana dengan baik. Hingga pada akhirnya pengantin perempuan diserahkan pada pihak laki-laki.
Dengan penuh tangis dari keluarga Ama dan Ina Bute, serta Rika dan Siduhu, dan terutama Bute yang sedari tadi tak berhenti menangis. Mereka berpelukan bersama sebelum dia benar-benar pergi dari rumah. Setelah acara pamit-pamitan dan berdoa dari keluarga besar selesai, kemudian Bute diantar keluar. Dia tidak berjalan menuju kursi yang sudah disediakan, melainkan sang paman saudara dari ibunya lah yang menggendongnya sampai kekursi. Setelah di dudukkan dikursi, dia di peluk oleh para ibu-ibu dari pihak saudara dan keluarga laki-laki.
Ucok kemudian menyalami seluruh anggota keluarga istrinya untuk berpamitan. Bukan hanya bersalaman biasa saja, melainkan dia sudah menyiapkan amplop berisi beberapa lembar uang. Dan itu memang sudah kewajiban dari mempelai pria. Sebelum pulang, kemudian nama Bute diganti menjadi nama pengganti menjadi Tawuyu Nangi. Sudah tidak lazim apa bila nama gadis wanita yang sudah menikah di sebut, makanya nama penggantilah yang digunakan. Tradisi ini juga sudah turun-temurun dan kewajiban dalam suku Nias.
Bute kemudian ditandu oleh beberapa orang menuju rumah laki-laki, sekaligus yang akan menjadi tempat tinggalnya seumur hidup. Dia ditandu menggunakan kursi yang sudah diikat bersama dengan bambu-bambu berukuran besar. Dia ditandu oleh ipar-iparnya kemudian berganti-gantian dengan bapak-bapak karna mengingat jarak tempuh mereka lumayan jauh. Barang-barang yang lain seperti kasur, koper, tas pengantin wanita dibawah oleh anak-anak gadis dan ipar-iparnya.
Tak terasa perjalanan jauh yang mereka tempuh sudah terlewati dengan penuh keceriaan. Dengan bunyi faritia (Canang) kecil mengiringi perjalanan mereka, yang di bunyikan dengan cara di pukul oleh dua orang anak-anak laki-laki, sehingga akhirnya mereka sampai dirumah mempelai pria.
Bute dituntun masuk kedalam rumah dengan disambut oleh kedua mertuanya dan suaminya didepan pintu. Dia dibawa masuk kedalam rumah dan duduk dilantai beralaskan tikar. Kemudian seorang anak lelaki yang masih bayi atau balita di serahkan lah dipangkuannya. Tentunya Ucok yang menyerahkannya.
“Ini anak kita”, Ucap Ucok sembari menyerahkan anak lelaki itu. Bute hanya diam saja dan menerima anak lelaki itu dengan perasaan yang sedikit canggung.
Singkat cerita, segala acara mengenai pesta Bute dan Ucok, mulai dari Fame’e roti (Pemberian Roti), Mamuli nukha (Ketemu keluarga mempelai Wanita), Setelah satu sampai tiga minggu acara pernikahan. Kini keduanya sudah menjalani kehidupan sehari-hari layaknya kehidupan suami istri pada umumnya.
Bute dan Ucok sudah berpisah rumah dari pak Pak Ama dan Ina Ucok. Mereka mulai bekerja untuk melunasi hutang-piutang dari pernikahan mereka. Walau kedua mertuanya itu berkecukupan tetap saja biaya yang kurang itu dipinjam dan merekalah yang harus melunasinya.
Ucok dan Bute bekerja disawah, menyadap karet dan juga beternak babi. Setiap hari mereka selalu berusaha keras untuk melunasi utang piutang mereka yang sudah menumpuk pada sanak saudara mereka.
Inilah resiko pernikahan mereka yang dilakukan atas dasar pemaksaan untuk dijodohkan. Mereka menanggung beban yang cukup berat.
Hingga pada akhirnya Bute dan Ucok mempunyai anak setelah menikah lebih dari satu tahun lamanya.
25 tahun kemudian….
Ucok sekarang berumur 44 tahun dan Bute sudah berumur 37 tahun. Umur mereka masih terbilang muda, namun anak-anak mereka ada yang sudah menyelesaikan kuliah strata satu di salah satu Universitas yang ada dipulau Nias.
Anak mereka yang pertama, bernama Nidar yang berumur 23 tahun, anak kedua bernama Stefanus yang berumur 21 tahun dan anak ketiga bernama Yanto berumur 17 tahun yang masih duduk dibangku SMA.
Berkat kerja keras dari Bute dan Ucok mereka berhasil menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi dari pendidikan mereka dulu.
Petuah orang zaman dulu di Nias mengatakan bahwa, kalau bapakmu hanya lulusan SD setidaknya anaknya harus lukusan SMP. Artinya Pendidikan anak harus lebih tinggi dibanding pendidikan orang tuanya. Orang tua zaman dulu, harus menyekolahkan anaknya karena tidak ada lagi kehidupan di Tanõ Niha (Pulau Nias) kecuali dengan pendidikan.
Perjalanan kehidupan mereka sampai ketahap ini memang tidak mudah. Mengingat semua utang piutang yang harus mereka lunasi setelah menikah selama delapan tahun lamanya baru lunas semua.
Sehingga mereka mulai menata segala kebutuhan hidup mereka dan memenuhi impian anak-anak mereka. Mereka tidak ingin anak-anak mereka memiliki nasib yang sama seperti zaman mereka dulu. Mereka tidak memaksakan kehendak untuk menjodohkan anak-anak mereka kepada orang yang tidak mereka sukai.
Pada akhirnya, perjodohan pada zaman dahulu mulai terkikis dan tidak dipaksa sama sekali. Mungkin ini terjadi karena seiring perkembangan zaman dan pengetahuan, mereka mulai berpikir bahwa menjodohkan anak secara paksa bukanlah cara yang baik.
Sehingga pada saat ini, putri mereka yang pertama akan segera menikah. Nidar menikah dengan pacarnya sendiri dan sudah direstui oleh orang tua dari kedua pihak masing-masing.
Segala persyaratan yang di mintai oleh keluarga perempuan sesuai dengan kesanggupan oleh pihak laki-laki. Cukup tidak cukup mereka akan berusaha mencukupinya untuk memenuhi segala kebutuhan yang akan digunakan. Mereka tidak ingin anak-anak mereka kelak menanggung resiko yang sama seperti mereka dulunya.
Acara pertunangan Nidar dan calon suaminya yang bernama Soziduhu berbeda dengan pertunangan mereka dulu. Pertunangan mereka saat ini dilakukan didepan para orang tua dan seluruh keluarga besar mereka.
Adanya pelaminan khusus acara pertunangan yang sudah di siapkan oleh pihak salon tertata rapi di bagian depan rumah. Acara tukar cincin pun dilaksanakan disana dan disaksikan oleh semua orang. Tak ketinggalan juga sang fotografer mengabadikan momen kebahagiaan itu. Semua orang juga bergembira saat itu, mereka sangat bahagia dengan acara pertunangan itu.
Sebelum mencapai hari H, kedua mempelai yang tak lain Nidar dan Soziduhu melakukan foto prawedding. Jika di ingat-ingat pada zaman dulu, pengantin laki-laki maupun perempuan tidak diperbolehkan untuk bertemu selain pada saat menjelang hari H nya saja.
Seiiring dengan perkembangan zaman, tentunya para generasi mulai berpikir dan bernalar jernih. Selama ini mereka terlalu berlarut-larut dalam aturan adat istiadat yang sangat ketat. Namun Sebenarnya semua itu baik, hanya saja kurang cocok untuk zaman yang serba modern sekarang.
Sampai pada waktunya hari H pernikahan, tak kalah mewahnya. Pelaminan yang di dekor dengan sangat indah, dengan perpaduan warna yang sangat cantik menambah kesan kemewahan pernikahan itu. Segala sesuatu yang dilaksanakan sangat-sangat tersusun dan terlaksana dengan baik. Tangis haru bahagia dari kedua pihak mempelai tak tertahankan.
Ucok dan Bute sudah berusaha mencapai titik terbaik mereka dengan tidak membiarkan anak-anak mereka menjalani kehidupan yang sudah mereka lalui dulu.
Mereka berhasil menyekolahkan anak-anak mereka dengan hasil kerja keras mereka sendiri dan tentunya tak henti-hentinya berdoa dan bersyukur atas segala berkat kasih Tuhan dalam kehidupan mereka.