Diujung malam menuju pagi yang dingin ini, heningnya ruangan tanpa ada sinar matahari, aku terdiam diruangan itu. Keheningan itu diselimuti harumnya dupa lavender, di iringi suara detak jam dinding dan tetesan air kran yang tidak ditutup rapat. Aku yang terdiam memikirkan sesuatu yang entah dari mana datangnya, hingga pikiran ini yang berujung kepada ia (Tuhan) pemilik semesta.
Namaku Kay, aku tinggal disebuah rumah yang sederhana dan hanya aku sendiri didalamnya. Saat ini aku sering kali memikirkan tentang ia (Tuhan), karena aku merasa sangat jauh darinya.
“Apa ia membenciku? Apa ia mau memaafkan kesalahanku?” Ucapku didalam hati.
Beberapa pertanyaan yang terlintas diatas kepalaku dan aku sangat ingin melaksanakan panggilannya setiap waktu yang sudah terurai.
Jiwaku hanya sebatang kayu api yang dihempas angin, dibuang dengan arogan, dipatahkan tangan dan aku akan selalu mengingat itu. Aku terus menyusuri keindahan yang ia (Tuhan) ciptakan dan akan selalu aku sematkan didalam kepalaku karena keindahan itu yang membuatku selalu teringat padanya. Aku sangat rindu pada catatannya yang tertulis dilangit malam dan ia (Tuhan) turunkan disuatu tempat yang sangat ingin aku berkunjung kesana.
“Kapan aku bisa berkunjung kesana dan meminta ampun padanya?” Ucapku didalam hati.
Pertanyaan itu tidak ada yang bisa menjawab kecuali diriku sendiri yang berusaha mewujudkannya.
Aku memutar lantunannya dan mulai memejamkan mata, merasakan seluruh sensasi dan kenikmatan damainya lantunan itu yang mengalir dalam sel darahku, kenikmatan itu membantuku untuk pergi ke dimensi lain. Sedikit bintang malam yang sebentar lagi akan menghilang dan sorotan cahaya matahari itu menyilaukan mataku yang sedang terpejam, aku terbangun dari dimensi itu dan segera untuk melakukan panggilan yang sudah terurai waktu. Diujung pertemuanku dengan ia (Tuhan), aku selalu menyebut namanya dan nama kekasihnya berulang - ulang, hingga aku bisa kembali ke dimensi itu dengan sendirinya.
Di telaga, di alas, dan di istananya ia (Tuhan) abadi disitu.