Aku dan keluargaku bukanlah orang terpandang di sekitaran rumah, bukan keluarga yang akrab dengan tetangga juga, bahkan aku pribadi tidak mengenal siapa orang yang tinggal di sebelah rumahku. Tidak sama sekali.
Saat ini aku duduk di bangku kelas 3 SMP, sedang menghadapi ujian tryout sekolah.
Ayahku adalah seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Aku punya dua kakak yang sedang duduk di bangku perkuliahan, dan seorang adik yang masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar.
Orang bilang kalau sudah jadi PNS, maka hidupmu akan makmur dan terjamin. Haha! Itu bullshit! Tidak semua PNS seperti itu. Ayahku hanya PNS golongan 2 dengan gaji 2 jutaan.
Untuk makan saja kamu sudah susah. Walau orang-orang menganggap keluarga kami adalah keluarga yang mampu karena bisa mengkuliahkan 2 orang anak, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Ayahku bahkan tidak pernah ikut berkumpul bersama teman-temannya karena menyimpan uang bonus dan uang lembur untuk biaya kuliah kedua kakakku.
PNS itu kaya karena meminjam uang dengan menggadaikan SK nya di bank. Ayahku tidak mau seperti itu, dia tidak ingin meminjam uang, bukan karena sombong, dia takut riba.
Meminjam uang dengan bunga itu sama saja dengan riba, walau kamu berpikir tidak masalah asal meminjamnya di bank, tapi itu tetap ada bunganya bukan?
Biarlah ayahku susah-susah asal anak-anaknya bisa menempuh pendidikan yang baik dan tinggi. Banyak keringat yang jatuh pun tidak akan dia permasalahan asal bisa melihat kami bahagia.
Tapi sebaik apa pun ayah dalam pandanganku, tetap saja di pandangan orang-orang, terkhusus keluarga ibu, ayah itu adalah manusia yang buruk. Wajah sangar ayah menambah pandangan buruk orang-orang pada ayah, padahal ayah tidak lah sangar. Ayah begitu baik dan bisa menjadi tempat bercerita untukku.
Saat pulang sekolah, ayahku juga pulang dari dinasnya. Kesehatan ayah tiba-tiba menurun drastis, ayah sakit-sakitan. Awalnya aku menganggap itu bukanlah penyakit yang parah, karena ayah memang biasa sakit-sakitan.
Esoknya ayah tetap pergi bekerja, walau tau kondisi kesehatannya memburuk.
Seminggu lebih, akhirnya ayah tepar juga, izin cuti di dinas.
Aku bersiap untuk ujian try out kedua, Minggu depan. Terus belajar agar dapat memasuki sekolah negeri.
Setelah pulang sekolah, saat sedang belajar di ruang tamu yang berhadapan dengan kamar orangtuaku, aku melihat ayah terbaring lemah di atas kasur, tersenyum tipis melihatku yang sedang belajar. Firasatku saat itu tidak baik, aku tidak tau kenapa, aku hanya merasa tidak nyaman saja. Tanpa pernah aku tahu, saat itu, adalah saat terakhir di mana aku melihat ayah masih membuka mata, tanpa aku tau, saat itu adalah saat terakhir aku melihat senyuman ayah.
Malamnya, tepat di tengah malam pukul 12, kondisi ayahku kritis, dia pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit dengan ambulance.
Satu jam kemudian, aku yang saat itu sedang berada di rumah, karena hanya 2 kakak dan ibuku yang menemani ayah ke rumah sakit, mendapat kabar bahwa ayahku sudah pergi untuk selamanya, dia tak akan kembali lagi.
Aku menangis sejadi-jadinya, tadarus bersama di rumah. Sampai aku di suruh ibu untuk tidur dulu, karena pagi nanti ayah akan dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan.
Aku tidak bisa tidur, terus menangis, menutup wajahku dengan selimut. Bayangkan selimut yang tebal itu jadi basah semuanya karena air mataku. Walau aku tau, menangisi orang yang meninggal sampai diratapi itu tidak baik, aku masih belum kuat untuk menerima segalanya, jadi izinkan saja untuk aku menangis saat itu. Aku tak akan meratapi, karena setiap orang pasti akan merasakan mati. Aku ikhlas.
Sesuai prosedur pengurusan jenazah menurut agama Islam, ayahku dimandikan, dikafani, disholatkan dan dimakamkan dengan baik. Cuara cerah, tak hujan, tak terlalu panas juga. Semua tetangga yang tak terlalu kami kenal datang takziah, tetangga yang sangat dekat jaraknya dengan rumah kami? Tak perlu ditanya, tak ada yang datang. Entah memang karena mereka sibuk, tak saling kenal, atau apa aku tidak terlalu memikirkannya, juga tidak peduli.
Malamnya, kami sekeluarga dan kerabat-kerabat dekat berdoa bersama, seorang adik laki-laki ayah mendekat ke arah ibu, bertanya apa ada sesuatu di rumah ini. Aku mendengar pertanyaan berbisiknya, karena kebetulan aku duduk di sebelah ibu saat itu.
Ibu nampak heran mendengar pertanyaan pamanku itu.
"Kak, apa selama ini Kakak tidak merasakan apa-apa? Seperti ada sesuatu yang terus mengikuti Kakak setiap malam?" tanya pamanku kembali pada ibu.
Ibu tersentak kaget, mengangguk mengiyakan.
"Sepertinya ada sesuatu yang ditanam di rumah ini," tambah pamanku dengan memasang wajah serius.
"Apa itu?" tanya ibu.
Pamanku menggeleng. "Saya juga tidak tau Kak, esok pagi ajaklah anak-anak Kakak yang lebih tua untuk membantu mencarinya. Kalau dibiarkan di rumah ini terus, bisa bahaya, Kak."
Ibu mengangguk.
Aku kembali membaca Al-Qur'an setelah tadi menguping percakapan ibu dan pamanku. Ada yang ditanam di rumahku? Memangnya apa yang ditanam di sini sampai membahayakan?
Aku tidak tau sama sekali.
Paginya pamanku kembali ke rumah, membawa seorang laki-laki paruh baya yang tidak aku kenal, jelas dia bukan kerabat.
Laki-laki paruh baya itu bercakap-cakap dengan paman, ibu, dan kakak laki-laki tertuaku, apa yang mereka bicarakan aku tidak tau.
Setelah itu ibu mulai menaburkan garam di setiap sudut rumah. Aku juga tidak berani bertanya apa yang sedang dilakukan oleh ibu. Malamnya mereka menggali-gali tanah, aku memilih masuk ke kamar. Aku rasa tidak penting melihat kegilaan mereka semua. Masa ayahku baru saja meninggal kemaren dan mereka malam ini langsung menggali-gali halaman rumah? Menaburkan garam di setiap sudut rumah!? Apa mereka sedang kerasukan setan!?
Sejak saat itu, aku merasakan ada orang lain di rumah ini, orang yang tidak bisa aku lihat, aku jadi risih, ketakutan. Setiap merasakan itu, aku juga mencium aroma-aroma melati. Apa ayah di sedang melindungi saat ini?
Paman, ibu, kakak tertua dan laki-laki paruh baya itu masih menggali-gali halaman, ibu juga setiap harinya menaburkan garam di setiap sudut rumah. Aku jadi penasaran dengan apa yang mereka lakukan, diam-diam akhirnya aku mengintip.
Betapa kagetnya aku saat mereka mendapatkan sebongkah benda dalam kresek hitam di dalam tanah yang ditunjuk oleh laki-laki paruh baya yang dibawa oleh pamanku dan telah digali dengan cangkul oleh kakak tertuaku itu. Benda apa itu? Apa itu yang ditanam di rumah ini? Memangnya itu apa?
Lagi-lagi aku tidak mau bertanya. Mungkin bertanya bukan keputusan yang baik. Jadi aku memendam semua pertanyaan itu selama ini.
Setelah itu aku tidak lagi merasakan ada hawa berlebih di rumah ini, keadaannya seperti biasa, tenang.
Saat 14 hari-an ayah, aku kembali mendengar obrolan paman dengan ibu, tapi kali ini secara tidak sengaja.
Paman mengatakan pada ibu, bahwa sesuatu yang dulu ditanam di rumah inilah yang membuat kondisi ayah semakin harinya semakin memburuk. Ada orang yang sengaja menanamkan itu di rumah agar ayah sakit dan cepat meninggal, dan orang itu... adalah tetangga terdekat kami sendiri.
Aku menutup mulut. Awalnya aku tidak percaya dengan takhayul, tapi setelah apa yang aku rasakan selama ini, bagaimana mungkin aku tetap masih tidak bisa percaya!?
Apa sebenarnya dendam tetanggaku pada ayah sampai berbuat seperti itu di rumah kami!? Seberapa besar kebenciannya pada ayah sampai menghalalkan segala cara agar ayah meninggal!?
Setelah semua itu, aku memilih menutup rapat-rapat kupingku. Dari awal, tidak seharusnya aku mengetahui itu, tidak seharusnya aku menguping.
Tapi ibu memaafkan tetangga itu, tidak mengungkit-ungkit masalah ini. Yang ibu beritahu hanya kakak tertuaku yang dari awal memang sudah terlibat untuk membantu.
Karena balas dendam, tidak akan menyelesaikan apa-apa.
Aku tidak bisa menceritakan lebih jelas tentang apa yang ditanam itu, karena aku juga tidak terlalu mengerti dengan jelas.