Aku dan Fiyan adalah sahabat dari kecil. Kini usia kami 19, Fiyan 5 bulan lebih tua dariku. Selama itu kami berteman, aku sudah banyak memendap perasaanku. Aku tidak ingin kita jauh.
Ketika Fiyan bilang ingin lebih banyak tahu tentang temanku, aku enteng saja memberikan informasi, walaupun ada sedikit rasa sakit.
Malam itu rencananya Fiyan akan menembak temanku yang namanya Yenni. Aku melihat dia masuk ke kamarku. "Eh Ris! Lo nangis ya?" Tanyanya yang melihat mataku yang sembab dan hidungku yang merah.
"Engga kok!" Jawabku sambil menyeka air mata dan mencoba tersenyum. "Eh Lo gimana? Udah siap mau nembak Yenni?"
"Ya gimana mau siap. Lo aja sedih gitu."
"Udah ah! Lo ga usah mikirin gue! Kalo Lo beneran cinta sama Yenni Lo tembak aja. Nanti malah keduluan yang lain lho!" Ucapku dengan nada tabah.
"Ga ah! Besok aja" Fiyan menyentuh dahiku. "Eh Lo panas banget!"
"Gapapa kok!" Ucapku.
Semalaman Fiyan menungguku di kamar itu. Kami ini sudah seperti saudara, terlebih setelah kedua orang tua kami yang telah tiada karena kecelakaan pesawat.
"Lo udah mendingan," ucap Fiyan lembut sambil mengambil kompres dari dahiku. "Gimana kalo kita jalan-jalan?"
Mobil kami berjalan menyusuri jalanan kota yang kala itu tidak padat. Kemudian berbelok ke arah sisi pantai yang sepi. Kami memanjat sebuah tebing yang ada disisinya. Tebing dengan tinggi 20 meter menjulang. Kami berhasil sampai di puncaknya. Angin berhembus kencang membelah rambut dan sangat menyegarkan tubuhku.
Saat kami tengah menikmati pemandangan lautan itu tiba-tiba seseorang wanita muncul memanggil nama Fiyan. Kami menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah Yenni.
"Fiyan Lo undang dia kesini?" Tanya ku agak kecewa.
"Ya gue mau nembak didepan sahabat gue Ris! Lagian kalo ada Lo itu gue jadi enak mau ngomong." Jelas Fiyan.
Saat Fiyan tengah membelakangi aku untuk mengucapkan kata-kata romantis dari bibirnya kepada Yenni, tiba-tiba saja kepalaku pusing kembali, kakiku tak sengaja tergelincir ke sisi tebing. "Melfianoo!" Teriakku sambil memegangi batu kasar yang menjorok dari tebing itu. Kini di bawahku menjulang 20 meter. Mungkin jika aku jatuh aku akan membentur batuan karang yang ada di pantai itu.
Wajah Fiyan terlihat sangat marah dan khawatir. Tanganku dipengangi olehnya. Sekuat tenaga ia menarik ku ke atas. "Lo ga apa-apa?" Ucap Fiyan khawatir.
Aku memeluk Fiyan dengan erat begitupun Fiyan. Tangan kami panuh luka goresan karena batu tebing yang kasar.
Fiyan menceritakan semuanya yang terjadi padanya. Ternyata Yenni sudah memiliki pacar, dan menolak Fiyan dengan kasar.
"Maafin gue ya!" Katanya. "Kalo aja gue ga ada niatan buat nembak dia disini. Lo pasti gaakan jatuh, karena gue akan ngawasin Lo."