“Iya, halo?”
“Terima kasih.”
Seorang wanita paruh baya tengah mengepak beberapa barang. Memasukkan ini itu ke dalam ransel berukuran tidak terlalu besar tapi juga tidak dapat dikatakan berukuran kecil. Setelah dikira semua barang selesai, segera ia bersiap-siap ala kadarnya. Dengan setelan bernuansa putih ia berangkat meninggalkan rumah. Belum lagi sampai di pekarangan rumah, hujan turun mendadak membuatnya menghentikan langkahnya. Ia mendongak beberapa kali memastikan sampai kapan hujan akan turun. Mega masih terlihat gelap jadi besar kemungkinan hujan akan bertahan cukup lama. Ini hampir tengah malam jika tidak segera berangkat niscaya dia akan dicap sebagai orang yang tidak kompeten. Tidak ada jas hujan ataupun payung yang dapat membantunya melewati guyuran air. Terpaksa ia menerjang hujan tanpa mantel ataupun payung.
Demi pekerjaan ia tidak mengapa jika harus basah-basahan tengah malam toh nanti juga akan berbuah hasil. Ia berlari kecil melewati beberapa jalan yang sebentar-sebentar berbelok. Sesekali kaki bersepatu itu menginjak kubangan air di jalan. Sampailah ia di tepi jalan raya setelah beberapa kali melewati gang-gang kecil yang sepi. Akhirnya ia dapat melihat keramaian kota di tengah malam juga. Ia harus menyeberang untuk sampai ke tujuan. Klien yang di dapat bertempat tinggal di seberang sana. Ia mulai melangkahkan kaki sembari menoleh ke kiri-kanan. Sudah hampir mencapai ujung jalan. Namun tiba-tiba dari arah kanan bunyi klakson mengagetkannya hingga hampir membuatnya jatuh.
Dan untungnya hal itu tidak terjadi. Seorang kakek tua tiba-tiba muncul dan membantunya yang hampir jatuh, “Lain kali kalau bawa kendaraan perhatikan jalan, mas.” Ucapnya menasihati setelah kendaraan itu berhenti. Tidak bertahan lama, kendaraan itu kembali berjalan kali tidak seperti sebelumnya. Ia mengendarai dengan laju yang tidak biasa.
“Ada apa dengannya? Hah, sudahlah mau bagaimanapun orang sepertinya tidak akan menggubris perkataanku.”
Ia tidak lagi menatap kendaraan yang semakin menjauh. Ia memalingkan wajah mengingat kakek tua yang membantunya. Tidak ada. Kakek tua itu sudah tidak ada. Ke mana perginya, mengapa orang tua sekarang jalannya tidak biasa pikirnya masih mencari-cari keberadaan sang kakek. Ia menemukan kakek tua itu telah menyeberang bahkan ia hampir saja lenyap di jalan gelap itu. Kakek tua tersenyum seraya menganggukkan kepala. Wanita itu kembali berlari kecil dengan hujan yang telah memandikannya hingga basah kuyup. Mungkin ia akan jatuh sakit esoknya.
Akhirannya ia sampai di tempat tengah malam meskipun tidak persis tengah malam karena sekarang sudah lebih beberapa menit. Wanita paruh baya itu berhenti tepat di pekarangan rumah kliennya. Untung saja pekarangan rumah kliennya memiliki atap. Ia mengambil napas dan menghembuskannya beberapa kali sampai napasnya benar-benar teratur. Setelah ngos-ngosan karena ia telah selesai berolahraga tengah malam di bawah guyuran air hujan.
“Permisi?” ucapnya sembari mengetuk pintu menunggu seseorang untuk membukakan pintu. Selang beberapa waktu terlihat laki-laki remaja membuka pintu. Ia menatap wanita dengan tubuh yang basah kuyup untuk beberapa saat sebelum mempersilakannya masuk. Wanita itu masuk ke dalam rumah dengan keadaan basah kuyup. Ini sudah menjadi risikonya.
“Maaf apa bisa langsung saja?”
Laki-laki itu kembali menoleh menatap wanita paruh baya di depannya, “Apa tidak ingin istirahat sebentar, Anda terlihat kacau dengan penampilan basah kuyup Anda dan lagi di luar sudah tahu hujan mengapa tidak memakai mantel atau payung saja. Anda bahkan terlihat seperti anak kecil yang menyukai hujan.”
Wanita itu menatap penampilannya. Dan dia mengakui bahwasanya penampilannya memang cukup kacau. Tapi untuk kalimat akhir laki-laki itu ia tidak menyetujuinya. Jelas-jelas ia memang tidak memiliki mantel ataupun payung. Bermodalkan nekat adalah dasar wanita itu. Tapi untuk dirinya yang dibilang seperti anak kecil penyuka hujan itu salah. Wanita itu tidak benar-benar menyukai hujan. Karenanya pekerjaannya selalu terhambat. Dan hujan juga merupakan salah satu risiko yang ia ambil sebagai seorang yang berprofesi sebagai perias.
Laki-laki itu datang dengan secangkir teh dan kue, “Ini hangatkan tubuh Anda. Maaf saya tidak memiliki beberapa pakaian yang bisa saya pinjamkan.” Wanita itu hanya mengangguk paham. Setelah tubuhnya sudah merasa cukup hangat, ia memutuskan untuk segera memulai pekerjaannya. Wanita paruh baya itu dibawa ke suatu ruangan tempat ia akan merias. Di sana sudah ada seorang gadis yang terlihat masih sedikit kecil dari laki-laki di hadapannya. Adik. Pikir wanita paruh baya itu.
“Periasmu sudah datang, aku akan kembali setelah kau selesai dirias. Mengerti!” ucap laki-laki yang ia pikir itu adalah kakaknya. Gadis itu sangat patuh, ia hanya mengangguk tanpa berbicara lebih. Benar-benar terlihat seperti kakak beradik yang akur. Setelah laki-laki itu pergi meninggalkannya dan gadis kecil sebagai kliennya, ia langsung memulai pekerjaannya tanpa perlu banyak bertanya.
“Sudah selesai.” Ucap wanita paruh baya itu mengakhiri kegiatannya. Gadis kecil itu juga terkesima dengan riasan wajahnya, ‘Tatanan perias ini sangat profesional seperti perias yang telah menjadi master saja.’ Batin gadis kecil mengangguk menatap dirinya di depan cermin. Ia keluar ruangan bersama wanita paruh baya yang berjalan di belakangnya. Gadis kecil itu menemukan kakaknya sedang berada di depan televisi menunggunya. Gadis itu memperlihatkan hasil riasan wanita itu.
“Cukup bagus. Kau terlihat lebih baik dari sebelumnya, aku suka.” Ucap laki-laki itu ketika menatap riasan gadis kecil itu.
“Dan yah, ini upahmu. Kau boleh pergi sekarang.” Wanita paruh baya itu hanya tersenyum kemudian berbalik meninggalkan rumah itu. Sebelum ia benar-benar keluar dari rumah itu, laki-laki tadi memanggilnya untuk terakhir kalinya, “Oh ya, saya tahu Anda mengira saya dan gadis kecil saya ini kakak beradik, bukan? Baik akan saya perjelas agar Anda tidak salah menilai kami. Kami bukan kakak beradik, tapi gadis kecil ini adalah istriku. Itu sudah cukupkan.” Laki-laki itu meninggalkan wanita paruh baya yang masih berdiri mematung menatap pekarangan rumah. Ia masih tak menyangka kliennya yang satu ini memang berbeda. Dan lagi dia bisa membaca pikiran wanita paruh baya yang telah menganggap kliennya ini adalah kakak beradik yang faktanya mereka merupakan suami istri.
“Zaman memang sudah berubah. Perputaran roda juga semakin cepat, astaga!” ucapnya kemudian meninggalkan rumah itu.
Menjelang pagi laki-laki itu menerima telepon. Ia mendapatkan informasi jika seorang perias yang kemungkinan besar akan menuju ke rumahnya di temukan meninggal dunia di tepi jalan dengan bersimbah darah. Dugaan saat ini wanita paruh baya tersebut adalah korban tabrak lari dan diperkirakan ia meregang nyawa tepat waktu tengah malam.
Namun laki-laki itu menyangkal hal itu. Ia mengatakan memang ia memesan perias hampir tengah malam, tetapi perias yang ia minta itu sudah datang sekitar tengah malam lebih sedikit. Dan juga laki-laki itu mengatakan jika istrinya juga sudah selesai di rias. Mana mungkin perias itu meninggal bahkan sebelum ke rumahnya pikir laki-laki itu.
Pihak polisi yang mendapat informasi itu juga merasa aneh dan terkejut. Tapi jasad yang mereka temukan memang begitu adanya. Lantas perias malam yang ke rumah laki-laki itu siapa?
-TAMAT-