Di sebuah desa terpencil di kota kecil Rangkasbitung, terdapat sebuah kisah lama yang sering diceritakan nenek moyang terdahulu kepada cucunya secara turun temurun.
Sila dan Ila adalah dua gadis desa yang bersahabat. Keseharian mereka bermain di ladang sembari membantu para orang tua bercocok tanam.
Persahabatan yang terjalin di antara keduanya, seringkali membuat iri orang lain. Beberapa kali salah satu dari mereka dihasut, namun saling percaya antara keduanya sangatlah erat.
Saat masa memanen tiba, mereka dengan senang hati akan membantu para penduduk untuk memetik padi hasil panen di ladang bersama gadis lainnya yang ada di desa itu.
Di masa panen inilah, para gadis akan berkumpul dan tidur bersama dalam sebuah gubuk yang disiapkan oleh para penduduk.
Gubuk di mana terdapat sebuah lesung panjang dan besar juga beberapa kayu yang mereka gunakan untuk menumbuk padi yang telah mengering.
Dalam sebuah gubuk, terdapat sekitar lima orang gadis. Setiap malam mereka akan menumbuk padi-padi yang telah mengering, kemudian mengayaknya sehingga menghasilkan beras yang siap untuk dimasak oleh para orang tua.
Sila dan Ila selalu berada di tempat yang sama. Mereka tidak terpisahkan. Di mana ada Sila di sana ada Ila.
Malam ini mereka menumbuk padi bersama empat orang lainnya. Gadis-gadis lain berada di gubuk yang lain bersama kelompoknya.
"Heui Ila dengekeun yeuh nyah, mun aing tinggal Dunya samemeh maneh ulah ngabatur jeung sasaha geh." Celetuk Sila tiba-tiba.
Yang artinya, (hei Ila dengarkan aku bicara, jika aku meninggalkan dunia sebelum kamu, kamu jangan pernah berteman dengan siapapun).
Ila mengernyit, ia tak mengerti apa yang diucapkan Sila. "Naon artina eta?"
(apa artinya itu?)
Tanya Ila dengan dahi yang berkerut. Sila menyeringai licik. Baginya adalah Ila satu-satunya sahabatnya dan hanya dia yang boleh bersahabat dengannya. Ila tidak boleh berteman dengan yang lain selain dirinya.
"Eta artina, aing bakal datang ngabobongkongan sia!"
(itu artinya, aku akan datang menghantui kamu)
Ila bergidik ngeri mendengar jawaban Sila. Menurutnya Sila berlebihan. Mereka bahkan boleh berteman dengan siapapun. Tidak satu pun yang boleh mengklaim kebebasan seroang menjadi miliknya.
"Ulah ngomong kitu ih, sieun."
(Jangan ngomong kaya gitu ih, takut)
Ucap Ila, dengan raut wajah yang berubah menjadi takut. Ia menyudahi acara menumbuk padi malam itu. Sila terkekeh kemudian melangkah masuk mengikuti Ila.
Seminggu sudah para gadis di desa itu, bahu membahu menumbuk padi hasil panen para penduduk.
Sila jatuh sakit, Ila dengan setia selalu bertandang ke rumahnya dan menjenguknya. Karena penyakit langka yang dideritanya, Sila tidak dapat disembuhkan. Tubuhnya semakin kurus. Hingga menyisakan tulang saja yang dibungkus kulit.
Ila menjadi sedih, satu-satunya sahabatnya menderita sakit. Ia tidak tega melihat perjuangan Sila melawan penyakit yang kian hari kian menggerogoti tubuhnya.
Pada akhirnya, kematianlah yang menjadi obat satu-satunya untuk Sila. Ia menghembuskan nafas terakhir dengan mata yang mengancam pada Ila.
Ila menangis tersedu, ia tak pernah berpikir bahwa Sila akan pergi secepat itu. Baru saja kemarin dia membahasnya, sekarang benar-benar terjadi.
Malam itu, Ila dan ke empat gadis lainnya seperti biasa menumbuk padi yang telah mengering. Musim panen masih berlanjut. Malam itu, adalah malam ke tujuh kematian Sila.
Malam kian beranjak, ke empat gadis yang menemani Ila pamit untuk tidur di dalam gubuk. Mereka sudah merasakan kantuk menyerang mata mereka.
Ila yang belum mengantuk, melanjutkan menumbuk padi seorang diri. Ia melirik pada gubuk lainya, masih terdapat beberapa gadis yang sedang menumbuk seperti dirinya.
Itulah yang membuatnya berani menumbuk padi sendirian di gubuknya. Malam semakin larut, keanehan mulai terasa.
Hembusan angin malam itu, tak sama seperti angin-angin di malam sebelumnya. Sudah hampir seminggu ini, Ila selalu menumbuk sendiri karena rasa kantuknya akan datang saat menjelang tengah malam.
Ia akan masuk ke dalam gubuk setelah para gadis di gubuk lain masuk ke dalam gubuk merek. Tapi malam itu, terasa berbeda.
Ia melirik ke arah gadis yang masih menumbuk padi di depan gubuk mereka. Para gadis itu terlihat berbeda. Yang biasanya ia akan melihat keceriaan dari tawa mereka, malam itu semua gadis di gubuk lain tidak memiliki ekspresi apapun.
Keringat dingin mulai mengucur di bagian wajahnya, rasa takut tiba-tiba menyergap. Ia teringat pada ucapan Sila yang akan menghantui dirinya.
"Sila balik nyah, ulah ngabobongkongan aing."
(Sila pulanglah, jangan menghantui aku)
Ucapnya lirih, pandangannya mengedar luas pada kegelapan malam tanpa batas. Satu sosok berkain putih menghampirinya. Berdiri tanpa suara sepatah katapun.
Semakin deras keringat yang mengucur dari tubuh Ila. Ia sangat ketakutan. Namun, tak dapat lari begitu saja.
Sila berdiri di hadapannya dengan kapas yang menutupi wajahnya. Ada sebuah mitos yang beredar di desa itu, bahwa yang namanya bobongkong atau hantu cara berbicara mereka akan seperti bayi yang baru saja belajar berbicara.
Ila memberanikan diri untuk tetap berdiri di tempatnya. Ia menepis rasa takut dalam dirinya. Ia juga menghilangkan pemikiran buruk tentang ucapan Sila sebelum dia sakit dan meninggal.
Sila masih menatapnya, dengan tatapan dingin dan wajah yang pucat tentunya. Dan Kapas-kapas yang menempel di bagian lubang di wajahnya.
Ila melirik kapas yang menonjol di bagian hidung Sila. Ia mencoba tersenyum pada sahabatnya itu. Ila bertanya,
"Sila, Sila, eta naon nu putih-putih di dinya?"
(Sila, Sila, itu apa yang berwarna putih di situ?)
Tanya Ila dengan tangan yang menunjuk pada bagian lubang hidung yang tertutupi kapas.
Untuk beberapa saat, Sila tak menjawab. Hanya menatap Ila dengan dingin.
"Pan apuk pamele mbok baletong tea."
(pan kapuk pamere embok bareto tea. (Ini kan kapuk yang dikasih embok waktu dulu)).
Jawabnya memberikan seringai menyeramkan, yang menampilkan sederet giginya yang sudah menghitam.
Ila meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia semakin merasa takut. Malam yang mencekam untuk seorang Ila. Pada akhirnya,
"Sila, balik nya. Ila mah ndek hees."
(Sila, pulang ya. Ila mau tidur).
Ucap Ila sembari mengangkat tangannya menutup mulutnya yang terbuka karena menguap. Tanpa menunggu jawaban Sila, Ila masuk ke dalam gubuk.
Ia berjalan cepat dan menyelinap di tengah-tengah empat gadis yang lain. Mereka semua telah terlelap.
Ila memaksakan matanya untuk terpejam. Ia harus segera tertidur. Benar-benar tertidur. Bukan pura-pura tidur.
Untuk beberapa saat, tidak ada apapun yang terjadi. Namun Ila belum juga bisa membuat matanya benar-benar terpejam. Ia belum bisa tertidur pulas seperti yang lainnya.
Braaakkk
Tiba-tiba pintu gubuk itu terbuka dengan kasar. Lebar, hingga membuat angin dapat dengan bebas masuk ke dalam gubuk tersebut.
Sila menerobos masuk ke dalam. Mata pucat dan dinginnya mengedar mencari sosok sahabat yang dirindukannya.
Ia melihat ke lima gadis yang berbaris dengan mata yang terpejam. Ila ada di tengah-tengah mereka.
Sila melayang mendekati ke lima gadis itu. Ia mendatangi satu per satu dari mereka. Memastikan apakah ada di antara mereka yang sedang berpura-pura tertidur.
"Ieu peuyeum."
(Ieu peureum. (Ini merem))
Ucapnya pada gadis pertama yang didatanginya. Sila melayang lagi, ia membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya berhadapan dengan wajah gadis kedua yang didatanginya.
"Ieu peuyeum."
(Ieu peureum. (Ini merem)).
Sila mengangkat kembali tubuhnya dan melayang pada gadis ke tiga. Ia kembali membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah gadis ke tiga.
Lama ia menatap gadis itu, seringai muncul di bibirnya. Itu Ila. Gadis yang sedang berpura-pura tertidur. Bau busuk menyeruak memenuhi rongga hidung Ila.
Tangan Sila terangkat dengan kuku-kukunya yang tajam dan runcing,
"Ieu peupeuyeuman."
(Ieu peupeureuman. (Ini pura-pura merem))
Ucapnya dengan geraman. Jari telunjuknya mencuat dari sela-sela jari yang dikepalkan. Sila mencukil ke dua bola mata Ila.
Ila menjerit dan meronta-ronta. Merasakan sakit dari bola mata yang dipaksa keluar dari tempatnya. Darah mengucur deras dari pelupuk matanya.
Namun, jeritan Ila tak ada satupun yang mendengarnya. Semuanya tetap terlelap dalam tidur mereka.
Ila mencengkram kedua tangan Sila yang menarik bola matanya keluar. Jeritan memilukan terdengar dari mulutnya. Namun Sila tidak mendengarnya. Ia terus saja menarik bola mata Ila keluar dari tempatnya.
Hingga selepas. Sila menggenggam kedua bola mata Ila. Ia menyeringai. Akhirnya sahabatnya akan ikut menemaninya di kegelapan dan kesunyian.
Ila menggelepar di lantai gubuk yang terbuat dari bambu yang penduduk desa itu menyebutnya dengan amben.
Kakinya menghentak-hentak lantai bambu itu dengan kuat. Semakin lama semakin keras, lalu melemah dan hening. Ila terkapar dengan mata yang kosong dan darah yang keluar dari dalamnya.