Hipotesisku, setiap manusia di bumi pernah bertemu dengan pikiran buruknya di jam dua pagi. Ketika banyak orang yang sudah terlelap, tapi satu-dua manusia justru tengah terjebak dengan isi kepalanya yang berisik.
Semua orang tahu seberapa kokoh bahunya. Kalau Marvel punya banyak Superhero, aku punya satu Super-human yang sering mengeja kalimatnya dalam hening. Hanya satu, tapi eksistensinya besar sekali.
Ada beberapa komposisi hening yang tidak menyenangkan, tapi dengan dia, mengeja sunyi tetap menguar rasa nyaman. Seperti sedang makan satu mangkuk bubur hangat yang dibuat Ibu di rumah; tidak banyak yang bersuara, tapi semua orang sepakat bahwa suasana itu menghangatkan.
Dia suka duduk di depan komputer sampai tengah malam. Menghabiskan waktu dengan main game dengan kacamata yang tersekat di tulang hidung.
"Soalnya bikin seneng," ceritanya setiap kali ditanya mengenai kesukaannya. "Kalau dunia lagi berisik, aku suka main game dengan volume suara penuh. Supaya suara berisiknya kalah dengan suara game di komputer, supaya aku bisa istirahat sebentar dari suara kepalaku
Mungkin, setiap orang punya caranya sendiri ketika tengah malam terjaga dengan pikiran tercekat yang penuh penuh caci makian. Untuk mengeja seorang diri, untuk memenuhi janji agar bertahan satu kali lagi, untuk menguatkan diri kembali bangkit esok pagi.
Kak, sesekali, kamu bisa membagi isi pikiranmu yang kusut kepadaku. Kita jahit benang kusutnya dengan teh hangat yang asapnya masih menguar. Aku janji akan bersedia mendengarkannya sampai tuntas. []