Pada hari aku keluar dari rumah sakit, adik kembarku mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Di dalam ponselnya, hanya tersisa satu pesan terakhir, "Tolong selamatkan aku."
Dia telah dirundung di sekolah, dipaksa minum air toilet, bahkan jari tangannya ditusuk dengan penjepit buku. Dia berada dalam keadaan terluka parah akibat teror dari para pengganggu.
Sebulan kemudian, aku memasuki sekolah dengan wajah yang identik dengan adikku.
Para pengganggu terlihat senang.
Aku juga sangat senang.
Sebab, aku memiliki kepribadian yang antisosial sejak lahir.
Satu-satunya benang merah yang mengikatkan antara aku dan manusia lainnya, hanyalah adikku.
1
Adik perempuanku sedang dirawat di rumah sakit.
Dia berbaring di atas ranjang. Tubuhnya dipenuhi dengan selang, seperti boneka porselen yang rapuh.
Seminggu yang lalu, dia melompat dari atas gedung sekolah.
Jika bukan kebetulan jatuh di atas atap garasi, dia pasti sudah menjadi mayat yang dingin.
Orang tua angkat kami menerima uang sejumlah dua ratus juta untuk menutupi kejadian ini dan menandatangani surat pengunduran diri dari sekolah.
Aku menghabiskan sebagian besar waktu dalam beberapa tahun terakhir ini di rumah sakit. Mereka tidak memiliki ikatan emosional denganku.
Aku tahu, mereka takut padaku.
Mereka menguasai rumah orang tuaku dan mengabaikan adikku, tetapi takut pada diriku yang harus menjalani perawatan di rumah sakit sepanjang tahun.
Ketika aku diizinkan mengunjungi adikku lagi, dia sudah dipindahkan ke kamar pasien biasa.
Di ruang pasien untuk tiga orang yang berisik, adikku terbaring sendiri di tempat tidur yang berada di dekat jendela.
Dia sangat kurus dan wajahnya tampak sangat pucat.
Aku membawa keranjang buah dan meletakkannya di samping tempat tidurnya, seperti yang dilakukan keluarga lain ketika datang menjenguknya.
Aku tahu dia tidak bisa makan, juga tak mengerti mengapa orang lain melakukannya.
Aku hanya meniru mereka.
Aku berusaha sebaik mungkin untuk membuat adikku terlihat memiliki keluarga yang normal.
2
Saat suster membersihkan adikku, aku tidak pergi.
Wanita itu melepas pakaian pasien adikku. Di balik kain bergaris yang longgar, tampaklah bekas luka yang mengerikan.
Aku mendorong suster itu dan memegang bekas luka itu dengan jari-jariku.
Luka bakar.
Luka tusukan.
Luka-luka bekas sayatan.
Luka-luka ini telah ada selama bertahun-tahun dan bertumpuk-tumpuk.
Aku sangat familier dengan bekas-bekas ini. Semua itu seharusnya ada pada diriku.
Namun, adikku berbeda dariku.
Dia adalah gadis yang seperti binatang kecil.
Penakut, tetapi baik hati.
"Mengerikan. Gadis yang baik-baik sepertinya malah hancur seperti itu."
Aku melihat ke arah suster. "Apakah mungkin dia melakukannya sendiri?"
Suster membelalakkan matanya. "Nak, apakah kamu akan melukai dirimu sendiri seperti ini?"
Aku bisa.
Namun, aku tidak menjawab.
Kemudian, aku mengangkat selimutnya dan langsung menurunkan celana adikku.
Di kaki adikku, selain bekas luka bakar, ada juga tulisan tergores dengan pisau, yaitu "Jalang" dan "Pelacur" ....
3
Kamar adikku masih bertabur penghargaan di SD. Meja belajarnya sangat bersih. Hanya ada satu buku dan beberapa pulpen di dalam laci.
Aku membuka buku tersebut, tetapi isinya kosong dan hanya ada satu ponsel di dalamnya.
Aku memasukkan kode dan melihat pesan terakhir yang dikirim oleh adikku sebelum melompat dari gedung.
"Tolong selamatkan aku!" Dengan penerimanya, "Kakak yang paling kucintai di dunia."
Dia memilih untuk mengirimkan permohonan pertolongan kepada seseorang yang sudah tak mungkin datang menolongnya di saat-saat terakhir sebelum dia menyerah pada hidupnya.
Di ponsel itu, selain pesan tersebut, ada juga rekaman suara.
Dalam jeritan dan ratapan putus asa adikku yang penuh dengan penderitaan, terdengar cacian dan tawa pengejek dari orang yang menyiksanya.
"Ajukanlah pendaftaran sekolah untukku," ucapku kepada ayah angkat yang terkejut. "Maakin cepat akan makin baik."
4
Setengah bulan kemudian, aku kembali memasuki sekolah yang sudah kutinggalkan bertahun-tahun.
Setelah menyelesaikan prosedur administrasi, wali kelas mengantarku ke kelas.
Dia menempatkanku di satu-satunya kursi kosong yang ada di tengah-tengah kelas.
Murid laki-laki menatapku dengan mata setengah tertutup. Pandangannya tampak menjilati tubuhku dari atas ke bawah seperti hewan merayap.
"Selamat datang, teman ... baru!" katanya riang.
Taylor.
Aku membaca nama di buku pelajarannya di dalam hati, lalu berkata, "Aku ingat kamu."
Senyum pria itu tampak janggal. "Aku juga ingat kamu. Maukah kamu pulang bersamaku setelah sekolah?"
Aku kembali ke kursiku. Di atas meja kayu, terlihat goresan bertuliskan "bodoh" dan "gila".
Di sampingku, berdiri seorang gadis dengan wajah yang cantik. Dia berkata dengan lembut kepadaku, "Namaku Eileen Sonia."
Taylor Smith.
Eileen Sonia.
Aku mendapatkan jawaban yang aku inginkan dan aku tersenyum, "Halo, Eileen, kamu cantik sekali!"
Wajah yang sangat cantik seharusnya dipajang dalam etalase.
5
Setelah pulang sekolah, Taylor mengajakku untuk pulang bersama.
Aku berdiri di luar mobil dan menegaskan bahwa aku tidak biasa naik mobil.
Keesokan harinya, rumor bahwa aku dan Taylor pulang bersama pun menyebar dengan cepat.
Dari laci meja, aku mengambil seekor burung camar yang hampir membusuk.
"Aduh, siapa yang memasukkan burung mati ke dalam laci Camila? "
Itu adalah teman Eileen.
Kemudian, setelah pulang sekolah, aku mengikuti seseorang masuk ke gang dan memasukkan burung mati itu ke dalam mulutnya.
"Fanny, apakah terasa lebih menjijikkan setelah dicicipi?" tanyaku.
Aku melihat tatapan ketakutan di matanya, lalu tersenyum dengan tulus, "Apa lagi yang mau kamu makan besok? Itu terserah padamu."
6
Begitu temannya izin tidak masuk, tidak ada hal aneh lagi di mejaku.
Eileen berinisiatif mencariku untuk mengajakku berbicara. Dengan cara halus, dia menanyakan situasi keluargaku.
Tubuhku tidak sehat dan tidak memiliki orang tua ataupun teman.
Aku menghadirkan beberapa poin yang ingin didengar olehnya dalam percakapan kami.
Dia menjaga citra dirinya sebagai orang yang ramah dan perhatian, lalu dengan sukarela berkata bahwa dia ingin berteman denganku.
Aku pun tersenyum. "Boleh, aku sangat suka berteman."
Sepulang sekolah, Eileen membawaku ke basis rahasia yang mereka persiapkan.
Ketika saya masuk, seorang anak laki-laki langsung mengendalikanku dari belakang.
Eileen melingkarkan tangannya. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menamparku dengan keras.
"Kamu pikir kamu siapa? Sama seperti saudaramu, kamu hanya mengandalkan wajah ini untuk bertingkah seenaknya. Kamu hanya layak menjadi seorang sundal!"
Pada saat itu, seorang gadis lain ikut masuk.
Dia berpakaian rapi, lalu memandangku dengan angkuh dan sikap dingin.
"Anjing kesayanganku sudah mati. Sekarang, giliranmu menjadi anjing."
Anak laki-laki itu menekan bagian belakang tulang punggungku. Eileen mendekatiku. Dengan bantuan perekat, dia menutup mulut dan hidungku.
Mereka tidak merasakan sedikit pun rasa takut. Bagaimanapun, kami baru berumur 15 tahun sehingga tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun.
Rasa kehabisan napas makin kuat, perasaan menggelegak dalam darah, dan ujung jari-jariku mulai mati rasa.
Ternyata, bahkan tindakan seperti ini pun tidak akan mendapat hukuman ....
7
Hari itu, aku pulang larut malam.
Keesokan harinya, aku terlambat datang ke sekolah. Wali kelas memanggilku untuk berbicara di luar ruangan.
Dia mengatakan bahwa aku bisa bersekolah di sini sudah merupakan pengecualian. Mereka tidak akan memberikan perlakuan khusus lagi.
Kemudian, aku membuka kerah baju dan menunjukkan luka bakar yang dihasilkan dari puntung rokok di tulang selangkaku.
"Apakah ini dianggap perlakuan khusus?"
Dia jelas panik, lalu menarik bajuku dan mengatakan bahwa pihak sekolah pasti akan mengurusnya.
Namun, hasil dari penanganan tersebut hanyalah mengumumkan bahwa merokok di dalam sekolah tidak diizinkan.
Karena tindakan "melaporkan" aku, gadis itu muncul kembali di hadapanku.
Regina Tanoto adalah teman sekelasku yang mahir bernyanyi dan menari serta berasal dari keluarga yang kaya. Dia adalah "pelajar berbakat" yang dianggap baik oleh guru. Dia juga merupakan salah satu di antara mereka yang menindasku dengan memasukkan puntung rokok ke tenggorokanku.
Aku diseret ke dalam bilik toilet.
Ini belum waktunya ....
Tunggu sebentar lagi ....
Aku menarik napas secara gila-gilaan dan menggigit bibir bawahku untuk menahan amarah.
Entah berapa lama telah berlalu, pintu pun terbuka.
Seorang anak laki-laki yang asing bersandar di kusen pintu dan menatapku.
"Jangan takut." Dia memegang lenganku untuk membantuku bangkit. "Aku kebetulan mendengar suara di luar .... kamu .... bagaimana kamu terjebak di dalam sini?"
8
Setelah keluar, aku kembali ke kelas dan duduk.
Aku mengusap jari-jariku di sepanjang bekas itu. Alur yang bergerigi di tengah-tengah telapak tanganku terasa gemetar.
Darah pun mengalir. Sensasi terbakar menumpuk menjadi rasa sakit tumpul yang bergelombang untuk menantang sarafku yang sudah bersemangat.
Sudah hampir ....
Tidak lama lagi ....
Pada saat yang sama, seorang anak laki-laki masuk dengan membawa sebotol minuman hangat.
"Kamu gemetar sejak tadi ... apakah kamu perlu pergi ke UKS?"
Aku mendongak, melihat wajah tampan dan indahnya melawan cahaya.
"Kamu bukan teman sekelas di kelas ini."
Dia agak menundukkan kepalanya. "Aku adalah Viga Korales dari kelas sebelah."
Aku menyilangkan tanganku di bawah dagu. "Aku suka mendengarkan kamu berbicara. Bisakah kamu mengobrol sebentar denganku?"
Setelah berpikir sejenak, dia pun tersenyum: "Baik."
9
Bel sekolah berbunyi. Teman sekelas dari pelajaran olahraga masuk seperti kerumunan ikan.
Ketika mereka melihat Viga di sana, mereka semua terkejut.
Namun, yang paling terkejut adalah Eileen. Sebagai dalang yang mengurungku di toilet, dia mungkin tidak pernah menyangka bahwa orang yang menyelamatkanku adalah Viga dari kelas sebelah.
Kemudian, interaksiku dengan Viga menjadi makin sering.
Dia dengan sukarela membantuku dalam belajar. Sebagai gantinya, aku memberinya segelas jus segar setiap harinya.
Namun, perlakuan intimidasi dari Regina dan yang lainnya tidak pernah berkurang.
Bagi korban penindasan, semua itu tak akan berakhir.
Para penguasa kekerasan selalu tidur dengan nyenyak.
Hingga suatu hari, hujan pun turun.
Hujan deras menyebabkan pandangan orang menjadi buram dan juga membersihkan tanah hingga bersih.
Aku kehujanan di malam itu. Keesokan harinya, saat datang ke sekolah, aku sedikit demam.
Beberapa murid di kelas pun ikut tidak masuk, termasuk Taylor.
Besoknya, lusa ....
Hingga laporan kehilangan dari rumah Taylor disampaikan, kelas menyadari bahwa dia sebenarnya tidak sakit.
Dia menghilang. Bersamanya, Regina dari kelas tetangga juga menghilang.
10
Jika hidup dari mereka yang diintimidasi itu terasa seperti neraka, mungkin Viga adalah sinar yang menembus kegelapan.
Ketika suasana di kelas menjadi gelisah karena masalah Taylor, dia khawatir bahwa aku akan merasa takut. Viga secara aktif menawarkan untuk mengantarkanku pulang.
Aku menolak.
Bagaimanapun, rumahku juga tidak begitu aman.
Aku pulang ke rumah dan menemukan seutas ikat kepala yang tergantung di sudut yang penuh debu dengan hiasan lonceng.
Keesokan harinya, polisi datang lagi untuk menanyai siswa tentang petunjuk.
Polisi yang menanyakanku adalah seorang pria paruh baya yang agak tegas.
"Aku sudah memeriksa informasi. Kamu sebelumnya selalu berobat di rumah sakit dan tidak pernah menerima pendidikan formal. Proses belajar Sekolah Sarina sama sekali tidak cocok denganmu."
"Adikmu bunuh diri di sekolah. Kamu tahu jelas keadaan tempat itu, tapi kenapa kamu masih ke sana?"
Aku mengepalkan tangan dengan gugup, tetapi masih berjuang untuk bertanya kepada pria tinggi yang dengan tegas berada di depanku.
"Jadi, Pak Polisi, apakah itu kesalahanku?"
Di ruang konferensi komersial, seorang polisi di pintu memberiku satu kantong susu panas.
"Nak, jangan takut. Kepala kami memang seperti itu." Dia mengelus-elus kepalaku. "Paman Polisi adalah orang yang baik."
Susu panas itu membuat telapak tanganku terasa hangat. Aku menunduk tanpa memberikan jawaban.
11
Saat aku kembali ke koridor, aku bertemu dengan Viga.
"Beberapa hari lagi, kami akan mengadakan pendakian gunung. Apa kamu mau ikut?" tanya Viga sambil tersenyum.
Wajahku memerah. Aku menggosok-gosok kantong susu di tangan. Aku tidak menolaknya, tetapi juga tidak menyetujuinya.
Viga juga melihatnya, lalu tertawa. "Itu bisa meledak. Kalau kamu tidak suka minum, berikan saja kepadaku."
Aku berlari ke kelas dan memberikan termos itu padanya. "Minumlah ini. Pagi ini ... aku sudah minum terlalu banyak."
Dia tertawa dan mengambil termos itu, lalu meminumnya dengan beberapa tegukan. Kemudian, Viga berkata, "Baiklah, sudah diputuskan. Minggu depan saat waktunya tiba, aku akan menjemputmu."
Sebelum pelajaran dimulai, aku dengan terburu-buru
memberikan ikat rambut yang aku temukan di rumah kepada Viga.
"Aku menemukannya di rumah. Apa kamu mengenal ini?"
Ekspresi Viga seketika berubah. "Di rumahmu?"
Setelah pulang sekolah, garis polisi telah ditarik di pintu depan rumah.
Polisi mengonfirmasi bahwa ikat rambut yang ditemukan di rumahku memang milik Regina pada hari itu.
Sementara itu, uji coba luminol dilakukan di tempat penemuan barang bukti.
Orang tuaku yang tidak pulang beberapa hari menjadi tersangka utama.
12
Di mana orang tua angkatku?
Mungkin, mereka sedang kabur dengan membawa sebagian tubuh Regina. Mereka sudah kehilangan akal karena kecanduan narkoba. Bagaimana mungkin mereka menyangka bahwa ketika mereka sadar, bisa ada seorang gadis yang dimutilasi di samping mereka?
Bagaimana dengan jasadnya?
Dua pecandu narkoba yang tersesat dan seorang siswa SMP "yang baik dan polos".
Makanan di perut Regina belum sepenuhnya tercerna dengan aroma darah yang teroksidasi masih menempel di bibirnya.
Bagaimana mereka tidak bisa takut?
Di rumah sakit, adikku masih tetap dalam keadaan koma.
Dokter mengatakan bahwa pasien memiliki keinginan bertahan hidup yang lemah dan meminta aku untuk bersiap-siap secara mental.
Aku tidak mengatakan apa pun, tetapi hanya menggoyangkan ikat kepala yang tergantung di telinganya.
Sekali, dua kali, tiga kali ....
Bunyi dentingan lonceng yang jelas terdengar. Monitor detak jantung adikku sontak memberikan respons.
Aku membungkuk, lalu mendekatkan telinga ke telinga adikku. "Pada hari itu, dia juga memakai ikat rambut ini, 'kan? Tapi, dia tidak akan pernah punya kesempatan untuk mengenakannya lagi."
13
Regina yang hilang mulai terungkap sedikit demi sedikit, sementara kehilangan Taylor masih belum jelas.
Hujan yang turun hari itu terlalu deras sehingga tidak ada rekaman CCTV, saksi mata, ataupun jejak lalu lintas yang meninggalkan jejak sedikit pun.
Namun, dua hari kemudian, dia tiba-tiba muncul di luar pintu rumahnya sendiri.
Polisi datang untuk menanyakan apa yang terjadi hari itu, tetapi dia terlihat ketakutan dan pembicaraannya tidak masuk akal.
Informasi berguna yang terkumpul adalah bahwa pada malam hujan itu, dia diculik ke dalam sebuah van, lalu ditahan selama beberapa hari dan kemudian dilepaskan.
Aku melempar tas sekolah dengan sembarangan di atas sofa, kemudian memasak mi instan untuk diriku sendiri sebelum pergi ke ruang bawah tanah.
Berbeda dengan lantai pertama yang sederhana, ruang bawah tanah didekorasi dengan sangat rapi.
Aku menempatkan ikat kepala dengan lonceng di saku yang ada di depan botol kaca itu.
Aku berbalik, lalu akhirnya melihat seorang pria yang diam berlutut di sudut.
"Bagaimana rasanya menjadi manusia lagi, Taylor?"
14
Setelah menyadari bahwa aku akhirnya memperhatikannya, Taylor pun berani mengangkat kepalanya:
"Aku tidak mengatakan apa-apa saat polisi bertanya padaku hari ini!"
Dia menatapku. Matanya tampak berkilau dengan kegembiraan dan kehausan.
Aku tersenyum, tetapi segera menamparnya.
Aku memiringkan kepala, lalu melihat ke arah anak lelaki yang baru saja berlagak itu.
Meskipun aku masih memegang bukti bahwa dia telah membunuh Regina ....
Namun, dibandingkan dengan ancaman yang terbuka, aku lebih tertarik untuk menghancurkan kepribadian seseorang.
Misalnya sekarang. Dia akan secara sukarela kembali ke rumah yang ditinggalkan oleh orang tua kandungku.
Dia akan tunduk dan memohon kepadaku.
"Aku sudah menyelesaikan masalah mayat Regina untukmu. Kasus ini juga sudah ada kambing hitam lain."
"Kamu sudah bebas, Taylor."
Aku menendang bahu pria itu dengan kaki, tetapi dia gemetar dan dengan penuh obsesi dan menggesekkan pipinya pada sol sepatuku.
"Aku tidak ingin bebas. Aku akan selalu menjadi anjing tuan ...."
Aku tertawa, lalu mengangkat dagunya dengan acuh tak acuh, "Meskipun kamu bukan anjing terbaikku, kamu pasti bisa menjadi yang paling patuh, 'kan?"
15
Hujan deras, di rumah berhantu.
Pada malam hujan itu, Taylor mengajak Regina yang sudah dia sukai lama itu untuk berpetualang.
Aku membawa mereka ke ruang bawah tanah.
Kekejaman Regina membuatku merasa sangat senang.
Gadis itu selalu sombong dan bersikap tenang. Dalam permainan konyol di mana hanya salah satu dari mereka yang bisa bertahan hidup, Regina langsung memilih dirinya sendiri tanpa berpikir panjang.
Mereka telah menderita dalam gelap, kelaparan, dan ketakutan untuk waktu yang sangat lama.
Di hadapan pisau yang mereka hadapi, yang pertama kali mereka pikirkan sebagai mangsa adalah rekannya yang tak bersenjata.
Pada saat inilah, keseimbangan terbalik. Mereka bukan lagi para pengganggu yang tak terkalahkan.
Taylor sudah menyerah. Dia basah kuyup oleh keringatnya dan tubuhnya gemetar seperti saringan.
Saat itulah, aku membuka penutup kepalanya.
Aku diam-diam meletakkan pisau tajam di tangannya.
Di hadapannya, Regina masih mengenakan penutup kepalanya sambil sembarangan menikam.
Teriakan wanita itu teredam di dalam penutup hitam itu. Pisau pendek berulang kali menembus tubuhnya.
Gadis itu bergerak ganas sejenak, tetapi akhirnya seperti ikan di atas papan pemotongan. Aku memutuskan saraf tulang belakangnya dengan kuat.
Taylor gemetar dan merangkul kaki kecilku.
"Terima kasih ... terima kasih ...."
Rasa hormat yang tumbuh dalam ketakutan yang lemah.
Perasaan cinta yang terdistorsi yang timbul setelah melarikan diri dari kematian.
Bersedia takluk secara sukarela adalah yang paling efektif.
16
Setelah beristirahat selama dua hari, Taylor kembali masuk sekolah.
Dia tetap duduk di barisan belakang kelas. Tatapannya yang ke arahku terlihat lega sekaligus hangat.
Eileen bersama wali kelas menuduhku mencuri barangnya.
Aku mendengarkan pria paruh baya di depanku itu menyebutku pencuri, sampah, dan kotoran masyarakat dengan tekad yang bulat.
Aku dihukum berdiri sepanjang sore itu. Ketika aku pulang malam itu, Taylor sudah menunggu di sana.
"Aku akan menghukum mereka untukmu, bagaimana?"
Aku mencubit wajahnya dengan tanganku dan mengangkatnya sedikit. "Seekor anjing yang baik hanya akan bertindak sesuai permintaan tuannya, mengerti?"
Sebelum pulang pada hari Jumat, Viga dan aku sepakat untuk mendaki gunung.
Kami berangkat sangat awal hari itu. Saat mencapai setengah jalan gunung, dia membawaku ke pemandian air panas.
Kemudian, satu tangannya berhenti di atas kepalaku.
Melihat bahwa aku tidak menolak, tangan itu perlahan turun ke pipi, dagu, leherku .....
Sebelum mencapai tempat yang lebih dalam, aku meraih pergelangan tangannya dengan cepat.
Viga menundukkan kepalanya. "Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin."
Wajahku memerah karena kegugupan, tetapi kata-kata yang hendak kukatakan berhenti karena malu.
Namun, Viga mengernyit terlebih dahulu. "Ada darah menetes di kakimu."
Aku terkejut, lalu segera menundukkan kepala dengan malu dan berlari masuk ke dalam kamar.
17
Setelah berhenti di tengah jalan, Viga tidak lagi muncul dalam beberapa hari.
Situasiku menjadi makin sulit.
Eileen menyuruh orang membuang tas sekolahku, tetapi mengumpulkan isinya dan menumpuknya di meja belajarku.
Di tengah buku pelajaran, ada sebuah kantong plastik kotak yang berbentuk seperti kartu yang memicu obrolan panas di seluruh kelas.
Itu adalah pengemasan permen kondom berwarna perak.
Aku dikucilkan.
Setelah pulang sekolah, aku mengambil tas sekolahku dari tong sampah.
Viga muncul tanpa suara.
Dia membantu menyusun barang-barangku dan melihat barang yang seharusnya tidak ada di sana.
"Viga, aku benar-benar tidak melakukan apa pun! Percayalah padaku .... " Aku menahan air mataku, lalu memohon dengan sengsara pada satu-satunya penyelamatku di hadapanku.
Aku menggigit bibir. "Aku bisa membuktikannya! Aku .... "
Akhirnya, Viga tersenyum sedikit dan memegang pipiku. "Jangan takut, serahkan semuanya padaku.
18
Keesokan siangnya, Viga diam-diam memberikan sebuah kartu kamar padaku.
Ketika aku mengeluarkan kartu kamar itu, pandangan Taylor sudah berubah. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tatapanku yang kejam menghentikannya.
"Aku tidak akan membiarkan anjing yang tak berguna di sampingku."
Taylor memandangku dengan sungguh-sungguh. Dia berulang kali meyakinkanku bahwa dia pasti yang paling berguna.
Aku tersenyum, tetapi ekspresiku tetap acuh tak acuh. "Baiklah, tunjukkan padaku."
Dengan ragu-ragu, aku berdiri di depan pintu dan menunggu Viga datang dan menggenggam tanganku.
"Jangan takut, aku akan sangat lembut."
Aku berterima kasih dengan suara rendah, lalu memberikan segelas jus kepadanya.
"Minumlah, jus ini baru saja aku peras sebelum pergi. Ini bagus untuk kesehatan."
Viga mengambil botol itu dan langsung meminumnya.
"Aku mau mandi dulu. Kamu tinggal di sini dan tunggu dengan baik-baik," ucapku sambil berjalan ke kamar mandi. Suara air mulai terdengar. Aku melihat sekeliling dan akhirnya pandanganku jatuh pada meja kayu yang menghadap ke ranjang dua orang.
Namun, Viga tidak dalam kondisi yang baik. Dia berusaha untuk tetap terjaga, tetapi akhirnya terkulai lemas di atas tempat tidur dan terlelap.
Setelah memeriksa matanya dan memastikan bahwa dia benar-benar tertidur, aku mengeluarkan kartu akses ke kamar dan keluar.
Di lobi, aku berpapasan dengan Taylor.
Namun, dia tidak sendirian. Dia telah mengatur pertemuan dengan wali kelas atas nama orang tuanya.
Ada anggur enak di ruangan VIP di lantai pertama. Namun, orang yang memesannya tidak datang karena suatu alasan. Makanan dan anggur sudah disajikan.
Pria paruh baya yang gila anggur ini tidak tahan untuk minum sendiri setengah botol penuh. Dia masuk ke kamar yang telah disiapkan sebelumnya, dalam keadaan setengah sadar dan setengah terjaga.
19
Setelah hari itu, Viga mengajukan cuti selama seminggu dan tidak pernah muncul lagi.
Sepertinya, Taylor sangat membencinya. Dia menyuntikkan empat butir obat ke dalam minuman dalam pertemuan tersebut. Itu cukup untuk menjadikan seseorang seperti binatang yang dikendalikan oleh nafsu belaka.
Setelah itu, aku mengambil kamera tersembunyi yang sudah disimpan oleh Viga sebelumnya.
Di dalamnya, selain video pemerkosaan yang dialami olehnya sendiri, ternyata juga ada beberapa hal yang lebih menjijikkan.
Seperti bagaimana adik perempuanku terjerumus ke dalam kehancuran setelah terus-menerus diancam melalui video setelah kali pertama dia diperkosa.
Aku memotong video Viga dan kepala kelas menjadi video terpisah, kemudian memperbesarnya.
Ini adalah tindakan kekerasan satu arah, penuh dengan paksaan, kekerasan, darah, dan rasa sakit.
Hari Senin berikutnya, aku menerima pesan dari Viga.
Dia mengajakku untuk bertemu.
Aku dengan senang hati menerimanya. Tempatnya diganti dengan hotel yang lebih tersembunyi. Setelah membuka pintu, Viga duduk di dalam bayangan tanpa berkata apa-apa.
Ketika aku mendekatinya, tiba-tiba dia menyerbu dan merobek pakaianku.
"Jalang! Berengsek! Dia sudah menghancurkanku ...."
Dia tidak baik-baik saja.
Setelah pergi, aku membuang jus segar dalam gelas tersebut.
Lantaran obat-obatan sudah mulai bekerja secara terakumulasi selama beberapa waktu, hal-hal ini tidak lagi diperlukan.
20
Di minggu yang baru, wali kelas datang mengajar.
Dia terlihat sangat buruk kondisinya. Matanya pucat dan dia tidak lagi memiliki semangat saat mengajar.
Pelajaran dilakukan dengan cara yang membosankan hingga membuat semua orang mengantuk sehingga tak seorang pun memperhatikan bagaimana Viga masuk dan membuka pintu.
Ketika semua orang tersadar, Viga telah menusuk perlahan orang yang berdiri di depan papan tulis.
Darah tampak menyembur.
Polisi yang menangani kasus ini adalah sosok yang sudah kukenal.
"Pak Seto." Sambil melihat pria itu mendekatiku, aku sengaja memberi salam, "Terima kasih telah menangkap pembunuhnya."
Kepala Seto berbicara dengan pandangan dingin, "Apakah dia benar-benar pembunuhnya?"
"Kami semua melihatnya," jawabku yang berpura-pura polos. "Kami melihat Viga membunuh wali kelas."
Pada hari Viga ditangkap karena pembunuhan yang disengaja, sebuah rekaman video ditampilkan di layar besar kantin.
Video itu menampilkan Viga sebagai pembunuh yang telah membunuh wali kelas kami baru-baru ini.
Sekolah menyediakan bimbingan psikologi bagi kelas kami.
Aku keluar dari ruang tunggu dan berpapasan dengan Eileen.
Dia menatapku dengan benci.
Seolah-olah dia sudah yakin bahwa Taylor merasa muak padanya karena aku.
Psikoterapi Eileen tidak berjalan lancar.
Entah siapa yang memberi tahu tentang ini, hanya dalam sehari, rumor "Eileen sebenarnya adalah orang gila" telah menyebar di kelas.
Setelah pulang sekolah, dia memanggilku ke atap sekolah.
Aku berdiri di tepi atap dan melihat Taylor muncul tanpa suara dari belakangnya.
21
Dua hari kemudian, keluarga Eileen melaporkan dia hilang.
Sekolah mencarinya selama seminggu dan akhirnya menemukan jasad perempuan itu dalam keadaan membengkak di kolam penampungan air di atap sekolah.
Mereka telah meminum air mayat tersebut selama seminggu, tetapi tidak menyadarinya.
Eileen sendiri yang pergi ke atap dari titik buta pengawasan kamera CCTV. Sebelumnya, dia berbohong kepada keluarganya bahwa dia akan tinggal di rumah teman sekelasnya pada akhir pekan.
Tindakan yang begitu terencana ini dapat dengan mudah dikaitkan dengan rumor "gila" yang beredar beberapa waktu yang lalu.
Suasana hatiku sangat baik, bahkan itu berlanjut ketika aku mengunjungi adik perempuanku.
Adik perempuanku masih tidak bereaksi. Dia berbaring di tempat tidur, tampak kurus hingga seperti setumpuk tulang kering.
Aku menaruh bunga di sebelahnya, lalu membuka satu per satu kelopaknya, mematahkannya, dan memasukkannya ke dalam vas bunga.
Regina.
Orang tua angkat.
Viga.
Wali kelas.
Eileen.
Dan ....
Taylor.
Aku memasukkan bunga kamboja terakhir ke dalam vas, lalu menghampiri telinga adikku dan berkata, "Kakak sudah bermain sepuasnya. Kamu bisa istirahat sekarang."
22
Prosedur keluar dari sekolah segera disetujui. Begitu mengetahuinya, Taylor hampir gila dan berlari ke atap untuk mengancamku dengan bunuh diri.
Aku bertemu dengannya untuk terakhir kalinya.
Taylor berlutut di tanah. Sembari setengah memeluk pinggangku, dia pun menangis tersedu-sedu.
Dia berkata bahwa dia bisa memberikan uang untuk biaya pendidikanku, bahkan pindah sekolah, atau bahkan langsung pergi ke luar negeri.
Aku mengelus rambutnya. Kali ini, suaraku berubah menjadi lembut, "Kamu sudah tidak memiliki masa depan lagi. Polisi sedang dalam perjalanan kemari."
"Mereka menemukan bahwa kamu yang menyebabkan Eileen tenggelam di tandon air sekolah."
"Kamu dan aku, kita tidak punya masa depan lagi."
Pada saat itu, pintu di atap dibuka dari luar.
Pak Seto masuk dengan membawa pistol.
Pistol itu pun melepas tembakan.