Takashi tertunduk lesu, menatap daun pintu yang hendak ia buka. Ia mengenakan mantel dari kulit berwarna cokelat tua, di tangan kanannya tergenggam sebuah kalung emas putih berbandul daun semanggi. Sementara di tangan lainnya ia memegang sebuah koper—er, wadah alat musik yang lumayan besar sementara koper lainnya ia letakkan di dekat pintu.
Tangannya meraih daun pintu berwarna keperakan dan hendak memutarnya. Namun otaknya tak kunjung memberikan perintah. Ia terpaku di depan pintu apartemen orang yang dicintainya. Yang akan ditinggalkannya.
Ia melirik jam tangannya—jam tangan pemberian Hanabi atas perayaan satu tahun mereka bersama—dan waktu menunjukkan pukul enam pagi. Ia tahu ini terlalu pagi, dan dia yakin Hanabi masih terlelap di balik pintu yang menjadi penghalang antara Hanabi dan dirinya sebelum ia pergi jauh.
Sebetulnya mudah saja, tinggal tekan bel, Hanabi akan bangun dan membukakan pintu, bicara bahwa dia akan pergi ke Paris untuk kuliah, lalu menenangkan Hanabi yang sedang menangis tersedu dan pura-pura harus pergi dengan alasan pesawatnya akan segera berangkat padahal tidak. Ia hanya tak ingin membuat Hanabi semakin menderita karena ia berlama-lama di sisinya.
Mudah, bukan?
Tidak.
Itu sulit baginya, bodoh.
Takeshi benci saat-saat seperti ini, saat-saat yang mengharuskan ia untuk membangunkan kekasihnya dan mengucapkan dua kata yang ia yakin akan membuat Hanabi terluka. Selamat tinggal.
Takeshi tahu, jika sekarang ia tidak memberitahunya, maka Hanabi akan mengamuk, meminta penjelasan mengapa ia tidak mengatakan hal ini sebelumnya padanya. Maka dia akan memilih pilihan kedua untuk menghindari amukan gadisnya itu ; memberitahunya.
Tapi toh sama saja, keduanya berakhir dengan membuat Hanabi terluka. Ya, kan?
Apa yang harus ia lakukan? Taksi sudah menunggu di depan kompleks apartemen dan ia tak punya waktu banyak. Padahal tekadnya sudah bulat, ia memutuskan untuk menerima tawaran beasiswa untuk bersekolah di salah satu universitas musik ternama di Paris. Ia benar-benar tak bisa menolak tawaran itu. Impiannya adalah menjadi violinist terhebat. Dan impiannya semakin dekat jika ia bersekolah di sana.
Tepat sebelum Takeshi barbalik untuk pergi, pintu terbuka.
"Taka?" Hanabi yang sedang menjinjing kantung sampah segera mempersilakan Takeshi masuk ke dalam rumah. Takeshi mengikuti Hanabi, tetapi Hanabi permisi sebentar untuk membuang sampah ke luar. Setelah itu Hanabi duduk berhadapan dengan Takeshi. Sebenarnya tak usah disuruh juga, Takeshi pasti langsung masuk dan duduk di mana saja ia mau. Karena apartemen mereka sebelahan, terkadang Takeshi berkunjung kemari untuk membuat sarapan untuk Hanabi—yang payah dalam hal masak-memasak.
Tapi tidak untuk kali ini. Sekarang ia akan memberitahu kenyataan yang di sisinya sendiri merupakan kabar baik, tetapi untuk sisi Hanabi, ini mungkin kabar teburuk yang pernah ia dengar. Begitu pikir Takeshi.
"Hana…" Takeshi memulai duluan tanpa membiarkan tuan rumahnya berkata satu kalimat pun. "aku…"
"Jadi, kau akan pergi ke Paris sekarang?" Takeshi tercekat. Keningnya berkerut, mengapa Hanabi tahu bahwa ia akan pergi?
Hanabi senyum tipis, tangannya ia letakkan di atas paha. "Kemarin Miyamura memberitahuku.." jawab Hanabi seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Takeshi.
"Aku…" Takeshi kembali menunduk, "maafkan aku."
Hanabi tersenyum lagi, "Mengapa kau harus minta maaf? Seharusnya kau senang, bisa kuliah di tempat yang kau impikan. Kau hebat, Taka!"
"Tapi, bagaimana deng—"
"Aku baik-baik saja!" kata Hanabi setengah berteriak. Senyum masih terpasang di wajahnya, namun nadanya terdengar serak, seakan memaksakan untuk berkata. "Aku… sungguh, tak apa."
"Untuk berapa lama kau akan di sana?"
"Sekitar… tiga tahun."
Hening.
"Hana, ikutlah denganku."
Hanabi sedikit maju dan menggenggam sebelah tangan Takeshi.
"Terima kasih, tapi aku di sini saja," Hanabi menghela nafas panjang, "aah! Kau ini, tak memberitahuku! Awas lho, jika nanti kau pulang, belikan aku oleh-oleh yang banyak, ya!" Hanabi langsung menepuk pelan punggung tangan Takeshi dan nyengir kuda, "Pergilah. Hati-hati di sana…"
"Hana…"
Hening.
Meski Hanabi terlihat riang seperti biasanya, tetapi Takeshi yakin bahwa senyum yang tersirat di wajahnya sekarang ialah senyum yang hanya ia buat-buat. Akhirnya ia dapat merasakan bagaimana disenyumi orang dengan senyum palsu—yang sering ia lakukan dulu. Takeshi sudah hampir beberapa tahun bertetangga dengan Hanabi, dan ia sangat mengetahui dan mengerti kekasih—er, sahabatnya itu. Ia tahu kapan saatnya Hanabi sedang PMS—yang ditandai dengan mengomelnya sepanjang hari sampai Takeshi sakit kuping—, atau bahkan saat ia sedih, senang, marah, ataupun sedang berbohong, ia mengetahuinya.
Hanabi mengangguk dalam-dalam, "Aku baik-baik saja! Aku ini kuat, lagipula aku tak boleh terus bergantung padamu yang tetanggaku ini, kan?" katanya sambil mengepalkan kedua tangannya di udara. "Terima kasih sering mengundangku makan malam di rumahmu. Terima kasih untuk satu tahun ini. Terima kasih atas segalanya. Dan… terima kasih untuk malam itu."
Pikiran Takeshi kembali melayang pada malam-malam dimana ia dan Hanabi sering tidur bersama yang pada awalnya hanya ketiduran biasa tetapi paginya mereka sudah saling rangkulan. Wajah Takeshi sedikit memerah, tapi ia laki-laki, tak boleh bersikap memalukan di hadapan orang yang dicintainya!
Hanabi langsung berdiri dan memukul pahanya keras. "Nah, ayo! Pesawatmu berangkat sebentar lagi, kan?" Hanabi mendorong Takeshi yang sudah berdiri, menyeretnya ke depan pintu dan membantunya mengangkat koper-kopernya.
Tidak, tidak. Bukan hal ini yang Takeshi harapkan. Ia kira Hanabi akan menangis-nangis ketika mendengar bahwa ia akan pergi jauh, dan akan menahannya supaya tak meninggalkannya, menggenggam tangannya erat seakan ia tak akan pernah membiarkan ia pergi.
"Hana, tapi aku sungguh tak bisa meninggalkanmu!" kata Takeshi. Tetapi Hanabi tidak menggubrisnya, "Aah, sudahlah, lupakan sajalah aku. Kejarlah impianmu menjadi violinist terhebat. Aku… aku…" Hanabi berusaha mencari kata-kata, namun tak ditemukannya satu katapun dalam pikirannya. Ia hanya menunduk memandang teras luar, dan ia merasa dagunya diangkat oleh tangan berkulit pucat yang dingin.
"Apa benar tak apa? Kalau begitu… mengapa kau menangis?" mereka terdiam di depan pintu. Hanabi sendiri kaget, rupanya ia sendiri tak sadar bahwa air matanya sedari tadi telah berjatuhan.
"A-aaah, i-ini…" Hanabi sibuk menyeka air matanya.
Takeshi yang sedari tadi menahan diri langsung merengkuhnya. Erat.
"Hei? Ta-taka! Ini di luar!"
Takeshi pura-pura tak mendengar perkataan Hanabi, yang ia lakukan hanyalah memeluk Hanabi semakin erat.
"Hana, katakanlah, 'jangan pergi' padaku. Maka aku tak akan pergi."
Tangis Hanabi semakin menjadi, "Aku… mana bisa aku berkata seperti itu!"
"Mana bisa aku berkata seperti itu, Taka." kata Hanabi tersedu dalam pelukan Takeshi. "Mana bisa aku menghalangi impian orang yang aku cintai?" kini matanya lurus menatap Takeshi. Pandangan mereka terkunci satu sama lain. Mata hitam Takeshi bertemu dengan mata emerald yang basah.
Takeshi melepaskan pelukannya. Ia mengambil kalung perak dari saku mantelnya, "Ambillah ini."
Hanabi menerima kalung itu, "Eh? Ini kan…" Hanabi memperhatikan bandul kalung itu. Daun semanggi berkelopak empat. "Ini kan kalung keberuntunganmu?"
"Ya," Takeshi mengambil kalung itu dan memutar tubuh Hanabi seraya memakaikan kalung itu di lehernya. "Dan sekarang kalung ini milikmu…" bisik Takeshi di telinga Hanabi. Hanabi dapat merasakan hangat nafasnya, ia berbalik dan melingkarkan lengannya di leher Takeshi. Takeshi pun meletakkan tangannya di sekitar pinggang Hanabi, menunduk dan mencium bibir Hanabi.
Hanabi masih sedikit kaget atas ketiba-tibaan ini, tetapi toh ia menutup matanya dan membalas ciuman Takeshi.
Baru beberapa detik, mereka sudah saling melepaskan diri dari ciuman singkat itu. Yang mungkin—memang untuk terakhir kalinya.
Hanabi menunduk dalam-dalam, ia masih dalam rengkuhan Takeshi.
"Maaf…"
Hanabi menggeleng, "Tidak, tidak. Kau tidak salah, Taka. Pergilah, kejarlah impianmu. Aku di sini mendoakanmu."
Dengan kekuatan terakhirnya, Takeshi memberikan Hanabi sesirat senyum termanis yang baru ia berikan.
"Terima kasih…"
Air mata Hanabi menetes lagi. Rupanya ini yang dinamakan perpisahan. Sungguh menyakitkan. Kini ia mengerti bagaimana perasaan temannya ketika ditinggal kekasihnya sampai ia tak mau makan berhari-hari. Tapi Hanabi beruntung, bukanlah pukulan yang membuat ia pingsan—seperti apa yang dilakukan temannya-, melainkan pelukan dan kecupan hangat dari bibir Takeshi.
Rupanya langit pun ikut meneteskan air mata, titik titik hujan berjatuhan dan mulai gerimis seakan turut berduka cita. Hujan.
"Jadi…" Takeshi melepaskan pelukannya, "kalung itu kuberikan agar keberuntungan selalu bersamamu. Jagalah baik-baik…"
Hanabi tak mampu membendung air matanya lagi. "Ah, Hana… Sudahlah, jangan menangis. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan jika kau sedang menangis…" kata Takeshi sambil mengelus rambut pirang Hanabi.
"Taka. Terima kasih."
Takeshi membungkuk rendah, "Selamat Tinggal…" dan berjalan menjauh ke depan pintu gerbang. Hujan semakin deras, ia mempercepat langkahnya. Tanpa menoleh sedikitpun, ia membuka pintu belakang taksi. Namun gerakannya terhenti ketika Hanabi meneriakkan namanya.
"Taka!" Hanabi berlari kecil setengah jalan, "Aku akan menunggumu! Berjanjilah padaku! Ketika kau pulang dari sana kau harus sudah lancar memainkan Ave Maria! Lalu kita berduet di panggung bersama-sama!"
Takeshi nyengir dan mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju. Ia pun masuk ke dalam taksi dan melesat begitu saja meninggalkan Hanabi di tengah hujan.
Hanabi menggenggam bandul kalung yang ia kenakan. "Sampai jumpa, Taka. Aku akan selalu menunggumu."
F I N