"Apa pacaran di usia muda adalah tradisi di keluargamu?"
"Tidak sama sekali. Itu karena guru mereka membimbing mereka dengan baik."
Aku menjawab tanpa berpikir panjang dan seluruh kantor terdiam.
Aku hanya bisa terdiam.
Tidak, tidak. Pak Guru, tolong dengarkan penjelasanku!
1
Seandainya aku tahu kalau hari ini aku akan bertemu dengan Ethan Sanjaya, aku pasti tidak akan bergegas ke sekolah dengan wajah polos dan tubuh berbau sate bakar.
Hal yang paling canggung bukanlah bertemu dengan mantan, tetapi bertemu dengan mantan yang terlihat lebih bersih dan tampan dari sebelumnya, sementara aku … tanpa riasan apa pun.
Ethan berkata padaku dengan suara dingin.
"Aku adalah guru wali kelasnya, Ethan."
Meskipun kami putus beberapa tahun yang lalu, aku seharusnya tidak sulit untuk mengenalinya, 'kan?
Kami berpacaran selama tahun terakhir di bangku SMA.
Dia adalah siswa terbaik, sementara aku adalah siswa yang biasa-biasa saja. Pada saat itu, dia berhasil menaikkan nilaiku secara signifikan dan pada akhirnya kami berdua masuk universitas di kota yang sama.
Setelah dia mulai kuliah, dia sibuk dengan eksperimen dosennya dan mengikuti beberapa kompetisi. Jadi, waktu yang kami habiskan bersama makin sedikit.
Di usia itu, kami sama-sama keras kepala. Bagi kami, putus adalah keputusan yang mudah.
Ethan menyerahkan rapor kedua anak itu kepadaku.
"Sekarang mereka berada di tahun terakhir SMA. Hanya ada sisa beberapa bulan sampai ujian masuk perguruan tinggi. Kondisi mental mereka sangat penting. Aku sudah membicarakannya dengan mereka. Mereka harus fokus belajar sebelum ujian. Jangan biarkan hal ini memengaruhi nilai mereka. Hari ini, saya mengundang Anda ke sini dengan harapan agar orang tua dapat bekerja sama dan memberikan bimbingan yang tepat."
Ethan mengantarku ke pintu.
Setiap langkah itu terasa menyiksa.
Ketika aku sampai di pintu masuk, saat aku mengira bahwa akhirnya aku bisa lepas dari Ethan, pria itu tiba-tiba berbicara dengan suara rendah.
"Aku tidak mengajarinya untuk mengejar orang lain secara proaktif."
Pikiranku menjadi kosong dan aku berseru.
"Pak Ethan, sejujurnya, dulu memang aku yang aktif mengejarmu. Tapi, aku juga yang mencampakkanmu."
2
Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, aku menyesalinya.
Dia bukan pacarku lagi. Dia wali kelas adik laki-lakiku!
...
Setelah keluar dari gerbang sekolah, aku masuk ke mobil yang kuparkir di pinggir jalan.
Sahabatku Feline menatapku. "Apa kamu dimarahi oleh wali kelas itu?"
Aku merosot lemah di kursi penumpang, merasa putus asa. "Tidak, tapi seribu kali lebih buruk dari itu. Guru wali kelasnya adalah Ethan."
Melihat aku benar-benar sedih, Feline menahan keinginannya untuk bergosip dan mengubah topik :
"Ngomong-ngomong, Suhendra dan Lisa akan menikah Sabtu ini. Apakah kamu akan pergi?"
Lisa memiliki hubungan yang baik dengan Ethan, jadi dia mungkin akan mengundangnya juga.
"Kita semua sudah dewasa sekarang. Tidak perlu mengungkit masa lalu. Lagi pula, dia adalah wali kelas adik lelakiku sekarang. Aku tidak bisa menghindarinya selamanya, 'kan?"
"Ayo, jalan!"
3
Pada hari Sabtu, aku berganti pakaian dan merias wajah, menuju ke tempat pernikahan.
Semua orang mengira Ethan dan aku akan menjadi pasangan yang pertama menikah.
Saat itu, ketika Ethan dan aku masih bersama, hubungan kami penuh gairah dan kami adalah pasangan terkenal di seluruh sekolah.
Tidak ada yang bisa meramalkan bahwa hubungan kami akan berakhir dengan akhir seperti ini.
Feline mengirim pesan WhatsApp : [Katakan dengan jujur, apakah kamu menyesal putus dengan pria sehebat itu? Mengapa kamu tidak mencoba memenangkan hatinya kembali?]
Aku mengetik satu baris dan membalas Feline, sambil membual.
[Jujur saja, akulah yang mencampakkan dia dulu. Jika dia ingin aku kembali padanya, dia yang harus mengejarku.]
Feline: "6."
Feline: "Ambisimu tinggi juga. Teruslah bermimpi kalau begitu."
4
Seseorang memanggil namaku, itu Claire.
Dia dulu naksir Ethan, dan setelah mengetahui bahwa aku bersama Ethan, dia mencoba menjebak aku beberapa kali, baik secara langsung atau diam-diam.
Dia tersenyum dan bertanya, "Jika kamu tidak keberatan aku ingin bertanya padamu, apa kamu masih lajang sekarang?"
Aku tersenyum, "Terima kasih, tapi kamu tidak perlu khawatir akan diriku. Aku memiliki standar yang tinggi."
Setelah beberapa saat, matanya berkedip, "Begitu. Jadi, selama bertahun-tahun ini, apakah kamu tidak menjalin hubungan sama sekali?"
"Aku sudah punya dua atau tiga hubungan pertemanan," kataku.
Untuk memecah kesunyian, aku tersenyum dan berkata, "Kamu tahu, kamu harus mencoba berkencan lebih banyak untuk mengetahui apakah seseorang itu adalah orang yang tepat."
"Entahlah," Ethan meletakkan cangkir tehnya, jari-jarinya yang ramping terlihat seperti batu giok, suaranya terdengar dingin, "Aku hanya pernah memiliki satu hubungan saja."
5
Ethan menatapku, "Yoshua tiba-tiba sakit perut di kelas. Dokter sekolah mengatakan itu mungkin radang usus buntu akut. Dia sudah dibawa ke Rumah Sakit Royal."
Hatiku tiba-tiba mencelos.
...
Saat kami sampai di rumah sakit, Yoshua sudah dibawa ke ruang operasi.
Pria paruh baya yang membawanya ke sini adalah dokter sekolah, dan wanita muda lainnya sepertinya adalah gurunya.
Dia menjelaskan, "Yoshua mengalami sakit perut yang parah selama kelas matematika. Dokter Wongso mengatakan ini adalah situasi yang mendesak, jadi kami segera membawanya ke sini. Dia sudah berada di dalam, tetapi dia akan segera keluar."
Ethan berhenti, suaranya terdengar pelan, dia seperti menyampaikan rasa kepastian yang tak bisa dijelaskan.
"Jangan khawatir, radang usus buntu akut adalah operasi kecil. Semuanya akan baik-baik saja."
Segera setelah kata-kata ini diucapkan, kedua orang di depan aku menunjukkan keterkejutan di wajah mereka, terutama guru perempuan itu, tatapannya tertuju padaku selama beberapa detik.
Satu jam kemudian, operasi Yoshua berhasil diselesaikan, dan dia dibawa ke bangsal.
Aku pergi untuk menangani prosedur rawat inapnya, menelepon orang tuaku untuk meyakinkan mereka bahwa Yoshua hanya perlu istirahat selama beberapa hari dan tidak ada hal yang serius.
Setelah semuanya beres, aku kembali ke bangsal dan melihat Ethan berbicara dengan Yoshua di samping tempat tidurnya.
...
Hari ini benar-benar penuh kejadian yang mengejutkan.
Aku melangkah keluar dari bangsal, berniat mencari udara segar, jika tidak, kejadian emosional ini mungkin bisa membuatku terkena tekanan darah tinggi.
Kemudian, aku mendengar langkah kaki mendekat, dan aku menyadari bahwa Ethan juga berada di sini.
Dia sedang merokok.
Tepat ketika aku hendak berbicara dan bertanya kepadanya kapan waktu yang tepat bagi aku untuk pergi ke sekolah untuk membantu Yoshua mengemasi barang-barangnya, dia tiba-tiba berjalan ke arahku.
"Samantha."
Dia memanggil namaku dengan suara rendah, itu adalah pertama kalinya dia memanggilku dengan namaku sejak kami bertemu kembali, tanpa membisikkan nama lengkapku.
"Kenapa kamu menangis?"
6
Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak menangis, tetapi ketika aku merasakan napasnya begitu dekat di depanku, aku mengubah kata-kataku.
"Bukankah kamu sudah berhenti merokok?"
"Hmm." Ethan terdiam sesaat, suaranya tenang. "Aku sudah mencobanya, tapi aku tidak bisa berhenti."
Keheningan diantara kami membuat kami berdua canggung. Aku tahu kami berdiri terlalu dekat, tapi aku tidak mundur, begitu pula dengan dia.
Nafas kami terjalin.
Tiba-tiba terdengar suara wanita dari luar.
"Kamu ada di sini? Kita harus pergi. Rapat penelitian akan segera dimulai."
Suasana tenang itu sirna. Aku tersentak kembali ke kenyataan dan dengan cepat melepas mantelku, dan menyerahkannya. "Terima kasih, Pak Ethan."