Tetes-tetes air dari awan kelabu mulai membasahi tanah sedikit demi sedikit. Langitpun sudah meredup, beberapa jam lagi mentari akan tenggelam di ufuk Barat. Burung-burung berseliweran di langit yang damai, damai dengan suara gemericik hujan gerimis yang kian membesar. Wangi tanah yang dibasahi air dengan alami.
Sang Gadis menghentikan langkahnya, "Hujan." ia mengambil payung kuning cerah bermotif kelinci pink dari dalam tas ranselnya dan mulai membuka payung itu.
Ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Salahkan dirinya sendiri karena tertidur saat pelajaran fisika. Membuatnya berdiri di lorong dengan papan yang menggantung di lehernya yang jika orang membacanya akan menertawainya. Belum lagi hanya satu kaki yang menopang badannya. Beruntung dia memiliki tubuh mungil, tidak seperti seseorang di sebelahnya yang kehilangan keseimbangan sampai menumpahkan air di ember.
Itu pula yang membuat sang Gadis pulang telat gara-gara membantu si Kepala Jeruk-begitu ia memanggilnya-.
Sang Gadis berhenti tepat di tempat bertuliskan Halte Bis besar-besar. Ia menadahkan wajahnya pada papan yang berisikan jadwal keberangkatan bis. Rupanya ia terlambat 5 menit.
Ia duduk di bangkunya yang untung saja tidak basah. 'Sial. Coba saja aku tidak menunggu si Kepala Jeruk.'
Bletak!
"Hei!", sang Gadis berbalik, melihat wajah orang yang telah memukul kepalanya menggunakan tas sekolah. Si Kepala Jeruk.
"Dasar cebol." Sandi duduk di sebelah sang Gadis, bahu dan rambutnya basah. "Kenapa kau tidak menungguku, hah! Kau lihat, kan? Aku sampai basah begini!"
Rupanya sang Gadis tak menanggapi. Ia malah melipat kedua lengannya di atas dada, "Hoahmm.." dan menguap.
"Hei Linda!"
Linda menoleh pada Sandi, "Yaa, maaf! Kukira tadi kau sudah pulang duluan! Makanya aku jalan duluan! Lagipula, kita tidak janji pulang bareng, kan.."
"Bodoh." kata itu kembali terucap oleh bibir dingin Sandi. "Kita 'kan tinggal bersama, apa salahnya, sih pulang bersama?" kalimat ini membuat wajahnya sedikit memerah. "Tadi pagi kau 'kan tau sendiri, payung dibawa Sendi dan Jihan!"
"Hei Sandi."
"Apa."
"Kau ini kekanakan sekali."
Bletak!
"Sakit!" Linda bangkit, berkacak pinggang. "Pulang saja sendiri, sana! Bis terakhir sudah pergi!"
"He-hei.."
"Aku sudah menunggumu di gerbang tapi kau tak kunjung datang!"
"Ha?"
"Berhentilah membuatku menunggumu berduaan dengan Fitri!"
Hening. Linda ngos-ngosan. Puas telah meluapkan semua itu. Sementara Sandi terbengong-bengong.
'Sudah cukup.' Linda kembali duduk. 'Sudah cukup kau membuatku menunggu. Menunggu kau dan Fitri berduaan di kelas. Cukup.'
Tanpa sepatah katapun, Linda membuka payungnya dan bersiap meninggalkan si Kepala Jeruk yang diam-diam disukainya. Rupanya setelah tinggal di bawah atap yang sama selama berbulan-bulan mampu menumbuhkan rasa suka pada Sandi. Meski Linda tau ia adalah Dewa kematian paling bodoh yang berani sekali jatuh cinta pada manusia. Yah, seorang Dewa kematian bisa jatuh cinta juga, kan?
"Mau kemana?" tangan besar menarik pergelangan tangan Linda yang kecil.
"Pulang." Linda melepas kasar pergelangan tangannya dan berlalu begitu saja.
"Ya sudah! Memang siapa yang mau dilindungi oleh payung bergambar kelinci seperti itu! Kuning lagi! Week!"
"SANDI!"
Dhuakk!
"Gyaaah! Sakit, cebol!" ucap Sandi.
"Kepala jeruk! Berhentilah memanggilku dengan sebutan 'cebol'!" Bentak Linda.
"Uuuuurrggghhhh!"
Dhuaak! Dzig! Debum! BANG!
"Ahaha, kalian ini, seperti suami istri saja, Hihihi.." Ucap Fitri.
"Eh?"
"Fi-Fitri.. Ha-halo.." biasa.. Topeng manusia Linda dipakai lag dan ia bersikap manis!
"San, kau kenapa?" kata Fitri sambil mencondongkan badannya. "Ah, Sandi! Terimakasih ya tadi kau telah menolongku saat aku terpeleset di kelas!"
'Eh?'
"Begitulah.."
Hening.
"Ah, hujannya sudah berhenti.." kata Fitri memecah suasana. "Bisnya datang! Sandi, Linda, ayo!"
"Duluan saja, kami mau kencan dulu! Daah!" Ucap Sandi sambil merangkul Linda dan menyeretnya pulang.
"San!"
"Lalu, kenapa kita ada di sini!"
"Diamlah, Cebol."
Linda memilih diam. Sandi menyeretnya sampai ke pinggiran sungai, ah, untungnya sungai itu bersih, tidak berbau, dan yaah, tempat yang bagus untuk, kencan?
Sandi berbaring di sebelah Linda.
"Lihatlah.."
Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu melengkung di langit senja.
"… (takjub)"
"Bagaimana? Indah, kan?" untuk pertama kalinya di hari ini, kedutan di dahi Sandi menghilang. Digantikan dengan cengiran kudanya yang ditujukan kepada satu-satunya gadis tercebol di kelasnya.
"Hmph. Kh-khukhukhu…! Bwahaha! Terima kasih!"
*┈┈┈┈*┈┈┈┈*┈┈┈┈
"Huatsyu!"
"Huatchi!"
"Ayah, kenapa Ka Sandi dan Ka Linda flu barengan?"
"Katanya, main sore-sore di sungai, pake baju basah, flu deh."
"AH. 38,1 C."
"Heh Cebol, aku menang kalau begitu!"
"Apa maksudmu!"
"Nih! 38,8!"
"Bodoh!"
"Huatsyu!"
"Huatchi!"
҉The End ҉ ★
Nt :Sekian story gaje ku yang tiba-tiba muncul di otak
gσσd-nιght~⋆˚.•✩‧₊⋆