"Vyera! Sekarang uda giliran kamu, semangat yaa" Sahabat ku Isabella, memberi semangat.
"Thanks" Aku membalas singkat, sembari mengambil mic dan naik ke atas panggung.
Aku benar benar gugup. Semua mata menuju kearah ku, namun jika aku diam saja akan terlihat memalukan bukan? Jadi aku memutuskan untuk mengambil aksi, mulai memainkan piano ku dengan anggun dan tenang.
Aku menyanyikan sebuah lagu beriringan dengan piano yang kumainkan. Setiap suara yang terbentuk dari chord piano itu menggema ke seluruh ruangan ini, nadanya yang serasi membuat semua orang bersorak dan bertepuk tangan.
"Mari beri tepuk tangannya untuk penampilan yang begitu luar biasa dari Vyera" Aku membungkuk sopan sambil tersenyum, berterima kasih atas tepuk tangannya.
Aku turun dari panggung kemudian menuju ke belakang panggung untuk melihat sahabat ku yang sedang bersiap-siap untuk pertunjukan selanjutnya.
"Berikan mic nya" dengus kesal gadis berambut pirang nan indah itu. merebut mic tersebut sebelum ku berikan.
"Hei what's wrong with u, Bell" Aku terkaget.
"Nothing, cuma kesal saja" jawabnya sambil melotot ke arah ku. Sudah ketebak, lagi lagi dia cemburu kepada ku padahal aku kan sahabatnya. Aku bahkan tidak memiliki niat untuk bersaing dengan nya, sama sekali tidak.
"Huft.. semangat ya!" Aku mencoba mencairkan suasana hatinya meskipun aku tau itu percuma. Dia hanya mengangguk dan meninggalkan ku.
Aku duduk di meja rias yang di sediakan di belakang panggung. Aku melihat ke cermin, menyadari betapa indahnya warna mata ku, berwarna biru seperti permata safir.
"Vy? Apa yang kamu lakukan disini? Kamu gamau liat Isabella dan Reinych tampil? Ayo keluar, kami sudah menyiapkan kursi penonton untuk mu" Salah satu teman ku menghampiri ku dan mengajak ku untuk duduk di kursi penonton.
"Hm? Isabella dan Rein ya" Aku menghela napas, lalu bangun dari tempat duduk ku. Melihat sahabat ku dan orang yang ku sukai menampilkan pertunjukan bersama bukanlah hal yang menyenangkan, orang orang pasti akan bersorak dan berkata mereka terlihat serasi.
Aku harus memaklumi nya karena kenyataan bahwa mereka berdua adalah childhood friend.
"Baiklah Ayo" Mereka berdua memang sudah membicarakan ini dengan ku, aku hanya bisa mengiyakan dan menelan mentah mentah kecemburuan ini.
Aku duduk di kursi penonton. Melihat sahabat ku disana sedang bernyanyi di iringi oleh petikan gitar dari orang yang ku cintai, menggunakan dress dan jas dengan warna yang cocok. semua bertepuk tangan untuk mereka.
"Eh tadi pas kamu tampil aku ada foto in lho, sesuai perintah. You look sounreal" Vivian menyodorkan kameranya, sambil memuji ku untuk mencairkan suasana hati yang terbilang cukup kacau.
"Thanks Vivian" Aku hanya membalas singkat sambil melihat foto foto yang diambil oleh Vivian. Foto ku yang sedang memainkan piano dengan dress putih simple dan elegan sembari meengkspresikan kesedihan dari lirik lagu yang ku nyanyikan terlihat selaras dan indah.
Aku kembali fokus ke acaranya, melihat dua orang yang ku anggap spesial saling menatap dengan senyuman yang penuh kegembiraan. Aku yang sedang memegang kamera reflek mengambil foto mereka berdua.
****
Selesai Acara aku keluar dari gedung untuk mencari angin dan menjernihkan pikiran. Jujur saja aku masi memikirkan pertunjukan Isabella dan Rein tadi.
Angin malam yang sejuk menyentuh kulit ku dengan lembut, tiba-tiba Vivian memanggilku.
"Vy! Ayo masuk, kami ingin mengambil foto, tidak akan lengkap tanpa mu" Aku menghela napas, kali ini aku tidak menghela napas karena lelah maupun kecewa, tapi karena kesal. Ada saja gangguan disaat aku sedang menikmati kesendirian.
"Baiklah, aku akan kesana" Bagaimana pun juga aku bukan tipe orang yang bisa menolak permintaan orang lain meskipun itu bukan kemauan ku.
Sesampainya di dalam, aku melihat teman teman seangkatan ku sedang berfoto foto, ada yang berfoto dengan sahabat nya, ada yang berfoto dengan pasangannya, mereka terlihat bersenang-senang.
"Vy fotoin dong, kamu kan lagi pegang kamera" Isabella menepuk pundak ku, yang sedang celingak celinguk melihat kerumunan orang orang.
"Ah iya bersiaplah aku akan memotret" Aku langsung menyiapkan kameranya.
"Eh tunggu dulu, Rein ayo sini" Bagaimana bisa Isabella menyuruh ku memotret dirinya dengan Rein, tentu saja dia sengaja. Dia yang paling mengetahui perasaan ku.
Aku tersenyum canggung, mengambil foto mereka berdua yang sedang bergandengan seperti sepasang kekasih.
"Wah bagus Vy, kamu cocok juga ya jadi fotografer" Ntah itu pujian atau apapun tapi aku malas menanggapi nya.
"Haduh..uda cantik, pinter, multitalenta lagi. Vy bener bener kaya tokoh utama dalam film, dia punya semuanya. Coba aja aku kaya Vy" Isabella juga memuji ku dengan berlebihan membuat ku kesal mendengarnya.
"Kamu juga cantik kok, Bell" Yang punya semuanya itu kau, bukan aku. Kau punya Rein, kau selalu mendapatkan perhatian darinya. itu yang sejujurnya ingin ku katakan, namun kutahan. Membiarkan hati ku bertengkar dengan pikiran.
"Iya kamu juga cantik, Bella" Rein menimpali. Sambil merangkul bahunya.
Mereka memang bersahabat, tapi apakah wajar jika sahabat lawan jenis seperti ini? Apalagi Isabella tau tentang perasaan ku yang sebenarnya, dan bagaimana dengan Rein. Dia berkata juga memiliki perasaan yang sama, tapi mengapa seolah olah itu semua tidak pernah ada.
"Kalian terlihat bersenang-senang ya" Aku tersenyum mencoba menguatkan diri ku sebisa mungkin. Memalukan jika harus menangis didepan banyak orang, Lebih baik kutahan saja.
"Vy.. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu, berdua saja. Bell tunggu sebentar ya" Rein menarik lengan ku, mengajak ku keluar untuk berbincang, perasaan ku semakin memburuk aku sudah menebak nebak topiknya, Isabella yang tadinya berbinar binar tiba-tiba langsung merengut.
"Nanti saja setelah sesi foto fotonya selesai" Ujar ku.
"Ah ya baiklah" Rein mengiyakan, kemudian aku langsung menjauh mereka, mencari Vivian diantara kerumunan kerumunan orang.
Sesuai rencana tadi, selesai sesi berfoto Rein mengajak ku keluar untuk berbicara.
"Vy, kita udahan saja ya, ini bukan karena aku tidak menyukaimu lagi, tapi..." Aku langsung memotong kata katanya, Aku tidak kaget maupun kesal. Perasaan kesal, marah, dan kecewa itu sudah terluapkan sejak tadi.
"Udahan apanya? Dari awal kita ga pernah memulai, pfft...you just waste my time" Kalau dari awal dia jujur soal perasaan nya, aku mungkin ga bakal sebenci ini.
"Vy? Why u being like this? Aku minta maaf kalau kamu marah, tapi perasaan kan tidak bisa dipaksakan, aku sudah tidak memiliki perasaan yang sama" Ia memegang kedua bahu ku, reaksinya yang terlihat begitu dramatis membuat ku muak. Bertanya mengapa padahal seharusnya dia yang paling tahu penyebab nya.
"Don't touch me! Dari awal kamu memang gapunya perasaan apapun, ga ada gunanya kalian berdua bermain di belakang ku begitu, itu hanya membuat kalian terlihat rendahan" Aku menepis tangannya, aku tidak boleh menanggapi persoalan ini dengan emosional, aku mencoba mengontrol diriku sebisa mungkin.
"Vy.. Kenapa kamu berubah begini? what's wrong with you!?" Ternyata dari awal aku benar benar salah pilih, rasa ingin memaki ini kutahan sekuat kuatnya, memaki nya sama saja membuat ku terlihat rendahan seperti mereka.
"If you think I'm just an innocent girl, big wrong for you. Yang berubah hanya perasaan ku, selebihnya kau yang tidak mengenal ku" Aku benar benar lega, seandainya saja aku bisa menampar wajahnya yang memasang ekspresi kebingungan dan tak bersalah itu. Bahkan tatapan matanya tidak menunjukkan rasa menyesal sedikit pun.
"Vy aku benar-benar minta maaf, aku menyukai Isabella, sekali lagi maafkan aku. Aku akan menyatakan perasaan ku kepada nya malam ini, aku harap kamu mengerti dan mengikhlaskan nya"
"I don't care anymore" Aku meninggal kan nya begitu saja, kembali masuk ke gedung itu.
Dan tak lama kemudian Rein juga ikut masuk, dia meminta salah satu teman ku yang sedang asik bernyanyi untuk meminta waktu sebentar, tentu saja ini akan sesuai tebakan ku.
"Baik teman teman, mohon waktu nya sebentar untuk teman kita yang ingin menyampaikan sesuatu" Sontak semua mata menuju ke arah Rein yang berdiri diatas panggung dengan sebuah bucket bunga mawar merah.
"Ekhem... Maaf mengganggu kalian semua, aku mohon waktu nya sbentar karena aku ingin menyampaikan sesuatu untuk seseorang yang paling spesial dalam hidup ku, yaitu Isabella... I just want to say that I love you without any doubt and I want you to be with me for the rest of my life... So would you be my partner lover, Bell?" Rein turun dari panggung, berjalan kearah Isabella sembari menyerah kan bucket bunga mawar itu.
"Yess! I will be your lover for the rest of my life" Semua berseru bertepuk tangan. Begitulah, tidak mungkin Rein di tolak, dari awal kan memang ini yang direncanakan.
Begitu romantis bukan, sang pemeran utama pria menyatakan cinta nya di depan semua orang dan pemeran utama wanita menerima nya, lalu mereka berdua berdansa dengan penuh kebahagiaan, begitu pun orang orang disekitar nya yang memuji keselarasan mereka, melupakan bahwa ada pemeran pendukung yang harus mengorbankan perasaan.
"Vy? Bagaimana bisa?" Vivian salah satu teman dekat ku yang mengetahui hubungan ku dan Rein heran, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ntahlah Vi, Bukankah tidak ada yang bisa ku jelaskan kepada mu, kamu sudah melihat nya sendiri kan? Maka dari itu ayo berdansa! " Jangan egois, jangan menangis, dari awal kan sudah tahu kalau peran ku cuma sekedar pendukung, menjadi batu pijakan dari hubungan mereka berdua, jadi aku tidak bisa meresa paling tersakiti.
"Kalian berdua, lihat lah kemari" Aku sudah mengikhlaskan segalanya, sebagai teman yang baik, bukankah bagus jika aku mengambil momen bahagia bagi teman ku?
"V-vy, kamu..." Aku tidak ingin mendengar kan kata maaf dari pihak mana pun, untuk apa minta maaf jika sudah sampai sini, lebih baik diam saja.
"Tersenyumlah, aku akan mengambil foto kalian berdua" Mereka berdua menatap ku dengan perasaan bersalah, kemudian saling bertatapan dan tersenyum.
"Terima kasih" Ucap Rein, aku tidak merespon, memutuskan menjauh dari mereka berdua.
Yang kuingin kan bukan permintaan maaf atau segalanya, aku hanya ingin diri ku merasa lega dan mengikhlaskannya, rasanya begitu sakit sampai napas ku terbata bata, menyesakkan. Aku tidak benci mereka berdua, aku benci diri ku sendiri yang jatuh hati pada orang yang salah.
***
"Bell, kamu sudah siap?" Hari ini adalah hari paling bahagia bagi sahabat ku, dia akan mengikrarkan janji seumur hidup bersama pria yang dia cintai, dan aku disini sebagai bridesmaid nya. Jangan berharap peran ku akan berubah, pemeran pendukung akan tetap menjadi pendukung.
"Aku sudah siap" Aku mengulurkan tangan menggiring nya ke depan pintu aula pernikahan, yang disana ada begitu banyak orang yang akan menyaksikan dua pengantin mengikrarkan janji seumur hidup mereka.
"Pengantin wanita dipersilahkan masuk" Semua orang mengalihkan perhatian ke arah Isabella.
Aku mengambil tempat duduk di tempat yang sudah di sediakan. berdampingan dengan Groomsmen nya.
"You are the most beautiful bridesmaid i've ever seen" Puji seseorang di sebelah ku.
"Thanks Mr Dion" Mengetahui orang itu adalah Dion, aku hanya berterimakasih dengan sopan dan tidak menanggapi lebih jauh.
Aku bersikap sewajarnya, sudah 1 tahun sejak prom night yang penuh dengan kesialan itu bukan? Sekarang mereka sudah seutuhnya saling memiliki dan melengkapi, tidak lagi tersisa kesedihan dihati ku semuanya sudah tesapu bagaikan debu oleh hembusan angin.
"Kalian berdua, tersenyumlah" Lebih baik aku mengabadikan momen ini.
"Vy! Kau ini, aku seperti mengalami dejavu" Candanya, kemudian tersenyum dan berpose bahagia, begitu pun dengan Rein, menggenggam lengan Isabella erat-erat.
"Sekali lagi aku mengucapkan terimakasih kepada mu, Vy" Bagaimana pun juga aku tidak ingin berlama lama berhadapan dengan mereka, aku hanya membalas dengan anggukan, Kemudian menjauh.
"Pengantin nya kalah cantik dari bridesmaid nya nih. Rambut hitam rembulan mu terlihat serasi dengan Gaun Navy itu! Aku sampai terkaget melihat mu tadi" Vivian menghujani ku dengan pujiannya.
"Ada ada saja kau ini" Sejujurnya aku sedang tersipu tapi aku lebih memilih untuk menutupi nya.
"Vy... Bagaimana perasaan mu?" Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan Vivian, lalu aku tersenyum.
"Hei tenanglah, itu semua begitu singkat sampai aku tidak bisa mengingat nya lagi" Vivian memeluk ku, terlihat puas dengan jawaban itu.
"Vy, sepertinya ada yang menunggu mu tuh" Ia segera melepaskan pelukannya, dan membalikkan badan ku.
"Halo Nona Vy, apa anda berkenan untuk menjadi pendamping saya?" Dion mengulurkan tangannya dengan hormat seperti pangeran di film film kerajaan. Tapi dia benar-benar terlihat seperti pangeran dengan Rambut hitam dan warna mata yang seperti permata ruby itu, dipadu dengan jas hitam membuat nya terlihat semakin gagah, perpaduan yang sempurna.
"Suatu kehormatan bagi saya, Mr. Dion" Aku menjawab nya dengan bahasa formal hanya untuk bergurau, sama seperti yang dia lakukan.
"Sampai nanti Vi, nikmati waktu mu bersama Ren, hihi" Vivian belum sempat memberi tahuku tentang hubungan percintaan nya, tapi aku sudah bisa menebak dari ekspresi nya yang tak percaya, seperti 'Bagaimana dia bisa tau'.
"Vy, kamu sadar kan bahwa kita memang menjadi pemeran pendukung di setiap cerita orang. Tapi itu tidak berlaku dicerita kita sendiri. Kita tetap menjadi pemeran utama dicerita kita, dan aku harap cerita itu adalah cerita kau dan aku. May i be your lover, Vy?" Dion satu tahun lebih dewasa dari ku. Dia merupakan senior ku di universitas dan dia juga pernah menyatakan perasaan nya kepada ku, tapi aku dengan entengnya menolak Dion demi si brengsek itu, ah bisa bisanya dulu aku buta, padahal Dion 10x lebih tampan!.
"What can i get if i let you be my lover, Mr. Dion?" Sebenarnya tidak ada alasan untuk ku menolak nya, Dion juga merupakan tipe ideal ku, tampan, dewasa, tegas, dan dia juga terkenal karena kecerdasan nya.
"My loyalty and sincerity, your highness" Jawabnya dengan penuh kepercayaan diri.
"Mr. Dion, i don't need your words. I need your prove" Apa aku berlebihan? Aku takut dia menyerah karena aku terlalu jual mahal.
"I will prove it. Anything for you, my Lady"
"Well...there is no reason for me to refuse you, Mr. Dion" Aku terlalu gengsi untuk mengucapkan sweet words, mungkin ini sudah lebih baik.
"Thank you for your kindness, your highness. I'm not going to waste it" Ia membungkuk sopan, kemudian tersenyum lega, aku tertawa dengan kebiasaan lucunya yang menggunakan bahasa formal begitu.
"Why are you laughing your highness, there is something funny around me huh?" Ia mendekat kan dirinya dengan ku, membuat ku reflek mundur beberapa langkah ke belakang.
Matanya bertemu dengan mataku, kami saling bertatapan. Tidak lebih dari 5cm jarak ku dan Dion sekarang, membuat ku merasa canggung dan malu.
"Dion, stop it. I'm just glad to be with you" Aku memalingkan wajahku ke arah lain, menghentikan eye contact dengannya.
Aku menerima Dion bukan karena ketampanan nya, tidak pula karena aku ingin menjadikannya pelampiasan. Aku menerimanya setelah mempertimbangkan segala usaha yang dia lakukan untuk ku, aku menghargai nya.
Dan aku harap ini benar benar jalan cerita yang dimana aku menjadi pemeran utama nya.
"let's be happy together, it's our story turn" Ia menggenggam jemari ku, bergabung dengan Vivian dan Ren, juga tamu tamu lainnya.
Dion benar, kita akan menjadi pemeran utama di cerita masing masing, dan menjadi pemeran pendukung di setiap cerita orang lain. Tidak ada alasan untuk membenci nya, maka yang bisa kita lakukan tidak lebih dari menerima dan mengikhlaskan. Dan memulai cerita kita sendiri. Because, i believe in soulmate.
***