"Kenapa? Begini saja sudah menangis?"
Aku melihat primadona yang sedang berlutut sambil menangis tersedu-sedu, lalu menempelkan ujung rokok ke bahunya. Dia menjerit kesakitan.
Aku tertawa sambil mengambil pisau cukur untuk mencukur rambutnya.
"Tenang saja, aku akan memperlakukanmu sebagaimana kamu memperlakukanku dulu."
1
Namaku Ava, aku adalah seorang murid SMA 1.
Ketika aku masih kecil, aku menderita penyakit serius yang menyebabkanku tidak bisa kehilangan berat badan karena asupan hormon yang berlebihan.
Dengan tinggi badan 168 sentimeter dan berat badan 168 kilogram, aku selalu diasingkan dan diejek oleh teman-teman sekelas dari kecil hingga beranjak dewasa.
Kerbau, beruang, gendut .... Sejak kecil, aku dijuluki dengan kata-kata itu.
Aku pernah mencoba menurunkan berat badan, baik dengan berolahraga atau berdiet, tetapi tidak ada perubahan.
Jadi, aku perlahan terdiam dan berhenti berusaha menurunkan berat badan, lalu fokus pada studiku seperti yang orang tua aku katakan.
Sayangnya, nilai akademisku juga biasa-biasa saja.
Bagaimanapun, siapa pun yang bukunya sering dirobek, selalu mendapati peniti di tempat duduknya, selalu muncul pisau lipat dalam tas sekolahnya, tidak mungkin mendapatkan nilai bagus.
Tapi, aku tidak punya tempat untuk menumpahkan keluhanku.
Tidak ada yang akan percaya bahwa Aurora, primadona kelas yang paling cantik dan baik hati akan menindasku.
2
Semuanya berawal dari sebuah lelucon.
Karena ukuran dan penampilanku yang khas, aku selalu diejek oleh anak laki-laki di kelasku.
Dan hari itu, seseorang menulis surat cinta atas namaku, kemudian meletakkannya di meja Lucas, lelaki tertampan di sekolah.
Aku berdiri dengan panik. "Bukan aku yang menulisnya."
Lucas adalah laki-laki tertampan di SMA kami, dengan tinggi badan 180 sentimeter dan menduduki peringkat tiga besar. Semua gadis pernah diam-diam membicarakan Lucas dan berkhayal menjadi pacarnya.
Tentu saja Lucas tidak mungkin menyukaiku.
Dia membuang surat cinta itu ke tong sampah sambil berkata kepadaku, "Ava, aku merasa jijik disukai olehmu."
Aku berdiri di sana dengan kaku seolah membeku.
Air mata dengan tak tertahankan keluar dari mataku.
"Bukan aku yang menulisnya," jelasku dengan gagap.
Namun, tidak ada yang peduli.
3
Saat pertama kali ditindas oleh Aurora, dia memperingatkanku untuk tidak memberi tahu siapa pun. Akan tetapi, aku tetap memberi tahu orang tuaku dengan harapan mereka bisa membantuku.
Tapi mereka menatapku seolah aku gila.
Karena Aurora adalah peringkat pertama di kelas. Pada setiap rapat antar guru dan orang tua, orang pertama yang dipuji guru adalah Aurora.
Bagaimana mungkin Aurora menindasku?
Mereka tidak percaya, jadi aku hanya bisa mengatakan bahwa aku terluka akibat bertengkar dengan teman.
Setidaknya dengan begitu, aku tidak terlihat begitu mengenaskan.
Aku diomeli orang tua karena aku tidak hanya berkelahi, tetapi juga berbohong.
Setelahnya, ketika Aurora memukuliku lagi sekalipun, aku tidak lagi memberi tahu siapa pun. Semua luka ada di balik bajuku. Aku tidak mengatakannya maka tidak ada yang akan menyadarinya.
4
Pada hari kedua, aku diantar ke UKS karena tiba-tiba pingsan.
Saat aku terbangun, dokter UKS memberi tahu wali kelas tentang kondisiku.
Dokter UKS itu tiba-tiba menyela, "Nak, dari mana lukamu berasal? Kalau ada yang menindasmu, kamu harus segera memberi tahu Pak Wanto."
Jantungku berdebar, aku bahkan bisa merasakan darahku berdesir. Lalu aku berkata, "Pak Wanto, semua luka ini akibat dipukul orang."
Pak Wanto mengernyit, lalu bertanya dengan nada serius, "Siapa pelakunya?"
Jantungku berdebar kian cepat dan hampir meledak. "Aurora."
Sebenarnya suaraku sangat kecil, tapi aku mengatakannya. Aku benar-benar mengatakannya.
Akankah dia percaya? Akankah dia menyelamatkanku dari neraka?
Aku menatap Pak Wanto dengan penuh harap.
Pak Wanto tidak menyahut. Dia membuka pintu kantor.
"Ayo kita bicara di dalam."
Aku segera menyusul Pak Wanto ke dalam kantor.
"Ava, jangan bicara sembarangan." Nada Pak Wanto terdengar lebih berat seolah aku membalas air susu dengan air tuba.
Detik ini, aku merasa seolah dicekik dan ditarik ke jurang yang lebih dalam.
Pada saat ini, ponsel Pak Wanto yang ada di atas meja tiba-tiba berdering, lalu layarnya menyala.
Walaupun dia segera mematikannya setelah meliriknya, aku tetap melihatnya.
Aurora: Terima kasih soal Ava, Pak Wanto."
Kemudian ada sebuah bukti transfer.
5
Aku tidak kembali ke kelas, melainkan pergi ke rooftop sekolah.
Ketika aku sakit semasa kecil, orang tuaku memberitahuku bahwa dunia ini sangat indah dan ada banyak hal menyenangkan. Aku harus segera sembuh.
Aku sudah sembuh, tapi aku tidak bisa merasakan sedikit pun keindahan dari dunia ini.
Tidak ada penyelamat di dunia ini. Tidak akan ada yang menyelamatkanku.
Selalu hanya aku sendiri.
Sebatang kara.
Aku memejamkan mata, lalu melompat.
Sampai jumpa, Ayah, Ibu.
Mungkin kalian bisa melahirkan seorang anak lagi, yang lebih pintar dan imut daripada aku.
6
Apa yang lebih menderita dari kematian?