Pertemanan, sering dijadikan alasan untuk sebuah kunjungan. Pertemanan juga kerap dibahasakan “ikatan tanpa darah”. Bahkan terkadang ikatan tanpa darah terasa lebih kuat dari ikatan darah. Karena yang saling terikat bukan lagi darah, tapi ruh. Lebih-lebih bila ruh itu saling mengikat satu sama lain dalam sebuah perjuangan memperbarui “kerusakan” yang telah merajalela di mana mana. Ikatan yang terasa lebih dekat dan erat dari pada ikatan saudara kandung. Hiqro, Gilob, dan Zore.
Hiqro seorang guru psikologi SMPP Putra, yang mempunyai anak bernama “Jangila”, juga bersekolah di SMAP Putri. Meski bukan anak kandungnya, Jangila sudah terikat hubungan kekeluargaan dengan Pak Hiqro selama kurang lebih 9 tahun lamanya. Istrinya “Ifaw” adalah sosok istri idaman yang gemar baca dan nulis buku. Tapi tetap saja, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang benar-benar idealis dan sempurna. Semua ada, pasti ada kekurangannya, karena ini adalah “dunia” bukan “surga” maka sangat pantas, bahkan wajib tidak sempurna.
Gilob, seorang supir taksi Zogreen yang anaknya baru berumur 3 tahun, namanya Gulaib. Istrinya bernama Asriana. Pak Zore punya anak dua Hao dan Dosta, Hao kelas 1 SMPP Putra, dia muridnya Pak Hiqro. Dosta anak keduanya kelas 4 SD yang bersekolah di SDP. Istri Pak Zore Bu Saraq, dia pecinta hiburan, dari drakor dan semua film-film yang sedang beredar dengan gencar. Begitu juga dengan segala macam permusikan, terutama musik-musik korea yang paling diminatinya. Sebelum Pak Zore pergi ke alam baka palsunya, dia suka sekali membanding-bandingkan, bahkan merendahkan suaminya di depan Hao dan Dosta, orang yang sulit sekali bersyukur lebih suka menekan Pak Zore dengan macam-macam permintaan diluar kemampuan.
Siang ini di tempat Pak Gilob, Pak Zore dan Pak Hiqro berkumpul. Mereka berkumpul untuk mengenang masa-masa mudanya dahulu, bahkan membicarakan mimpi-mimpi mereka yang urung tercapai, seperti; membangun panti asuhan yang berpondasi pendidikan bela diri dan tahfidz-tahfidz club. Sebenarnya ide ini bersumber dari Pak Zore. Semua terasa mudah diucapkan, tapi tidak ketika dalam pelaksanaan, di sana tak sesederhana kata yang terucap begitu saja. Lagi-lagi yang menjadi beban mereka bertiga adalah …, Keluarga.
“Gil …, Gua datang!” Pak Gilob hanya tersenyum dengan mimik jijik melihat tampang Pak Zore yang acak kadut. “Ini nih yang jadi PR sekaligus beban kita.” Sambil mengarahkan wajahnya ke Pak Hiqro. Pak Zore merapatkan gigi serinya. “Iya, nih, Zore. Lu nekat banget bikin sensasi kayak gini.” Pak Zore memajukan bibir bawahnya, “Eh gua kayak gini kan terpaksa! Coba lu di posisi gua, pasti ikut gila juga kan!?” Pak Hiqro dan Pak Gilob terdiam, mereka merenungi kata-kata Pak Zore.
Datang istri Pak Gilob membawakan makanan ringan dengan teh hangat. “Re, Hiq, ini diminum dulu. Ntar kita bincang-bincang lagi.” Pak Hiq tetap masih dalam ekspresi perenungan. Pak Zore pun merasa canggung karena telah mengungkapkan keperihan hatinya dan memaksa Pak Gilob dan Hiqro untuk ikut merasakannya.
“Hiq, Gil, maafin gua ya, udah nyusahin elu berdua selama ini.” Dengan memegang kedua lututnya dengan tatapan penuh penyesalan dan rasa bersalah yang mendalam. Pak Gilob tersenyum dan mencoba mencairkan suasana, “Elah, sante Re, kita ini teman! Kita ini satu ikatan perjuangan dalam menghalau badai-badai setan yang sudah seperti bayangan bagi kebanyakan warga Archimrald ini, khususnya Palbatlas. “Iya, sudahlah kita semua pasti punya beban masing-masing, lu Re juga gua, kita satu tim, terlalu sulit untuk menyelesaikan ini jika tak satu haluan. Setelah kepergian Bu Roled, kita memang benar-benar kehilangan jejak. Butuh usaha keras tuk mengungkap kasus Aya dan Sarenomi.”
Mereka bertiga berembuk memikirkan tentang “Apa langkah yang tepat untuk segera direalisasikan” mereka bertiga saling mengerutkan kening, mereka saling berpikir keras, sekeras-kerasnya partikel yang pernah ada di bumi. Mereka benar-benar berjuang, seperti berjuangnya Bu Roled dan pahlawan-pahlawan yang lain. Yang mereka inginkan bukan lagi harta, tapi perbaikan para generasi yang mengarah ke ajaran leluhur Kota Palbatlas yang luhur dan berbudi pekerti.
Seketika Pak Zore masih dengan pakaian compang-campingnya itu angkat bicara, “Man! Gua ingin menanam pohon kelapa di tiap jiwa manusia!” Pak Hiqro dan Pak Gilob mendelik tajam ke arahnya. “Maksud lu!?” Pak Hiqro angkat bicara. “Kita bikin tulisan. Sebagai bentuk perlawanan dalam kesenyapan. Gua yakin langkah ini bisa bekerja di tengah masyarakat yang sedang dimabuk badai-badai setan yang berbentuk hiburan. Jadi kita ikuti ke mana arahnya mereka condong, gua yakin selagi matahari masih terbit dan terbenam, maka di situ pun tulisan pun akan tetap hidup dan membentuk karakter dari masing-masing pembacanya.”
Tersenyum bangga, Pak Gilob bahagia dengan ide briliannya Pak Zore, meski dia sudah cukup lama menghilang dari permukaan Kota Palbatlas, dengan memalsukan kematiannya, lantaran keras dan batunya tabiat istrinya. “Bravo! Lu meski baru bangkit dari kubur, otak lu masih hidup ya!?” Terkekeh Pak Gilob saking bangganya. Pak Hiq nampak sedikit kesal lantaran dia merasa dikalahkan oleh orang yang dianggap sebelah mata olehnya, terlebih dirinya pun seorang Guru psikologi SMPP Putra.
Dengan nada sinis, Pak Hiqro, dia coba mengukur sejauh mana kedalaman idenya, “Bagus Re, nah tapi sekarang, ‘apa yang akan kita tulis!?’ lalu, ‘punyakah kita kemampuan menulis!?’ kalau misalkan belum, ‘berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menjadi penulis yang tulisannya renyah dan bercandu di tiap otak dan jiwa pembaca!?’ gimana Re?” Pak Zore tercengang dengan pernyataan tajam yang sangat merusak suasana hati dan idenya, dia merasa sangat terguncang dengan pernyataan tajam dan sangat melukai hati dan tekadnya yang baru saja lahir dari kepalanya.
Pak Gilob menepuk pundaknya Pak Hiqro, “Hiq!” Pak Hiqro hanya mengabaikan tegurannya. Sedang Pak Zore masih diam dan mungkin sedang memikirkan “kelanjutan dari ide briliannya”. Pak Gilob coba menengahi, “Kita coba aja dulu Hiq, Re.” Pak melempar tatapannya yang tajam ke Pak Gilob, “Coba dengan apa Gil?!” Dengan nada meremehkan. Seketika Pak Zore mengangkat tangannya, “Hiq, Gil. Namanya ide baru lahir, pasti belum banyak hal-hal yang bisa dijangkaunya, di sinilah peran kita untuk membesarkannya, jika kalian setuju, jika tidak, silahkan kita cari ide baru yang tetap bisa realisasikan bersama.”
Pak Hiqro menarik napas dalam dan mengeluarkannya lagi, “Huft!” Dia membunyikan dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, hingga berbunyi, ‘krek, krek’ “Oke, kalian tulislah apa yang sekiranya bermanfaat bagi perbaikan dan perubahan masyarakat Palbatlas ini. Setiap hari! Tanpa tapi! Termasuk juga gua.” Pak Gilob mengisyaratkan setuju dengan penambahan dan pengembangan idenya Pak Zore. “Tapi, Re, lu ada hp enggak!?” Mulut Pak Zore menganga, terkejut dengan pertanyaan singkat itu.
Cerpen Karangan: halub Blog: huzuryakindir.blogspot.com Saya halub dari Pamulang. “Pencipta terima kasih atas segalanya.” Mampir-mampir ke Blog: huzuryakindir.blogspot.com dan juga Ig: halubz, motto: “kun haadan ma’a nafsak!” KMCO 58
Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 3 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com