Darrel berhenti dan segera turun dari motor gedenya ketika melihat sebuah gerobak tukang cilok yang masuk ke lubang besar yang ada di jalanan aspal yang rusak.
"Kok bisa masuk sana, Kang," ucap Darrel sambil membantu akang cilok mendorong gerobak untuk mengeluarkannya dari lubang.
"Iya nih. Tadi gak kelihatan lubangnya," ucap Kang cilok sambil mengelap keringat di pipinya dengan handuk yang tersampir di bahu.
Sekuat tenaga Darrel dan Kang Cilok mengangkat gerobak bersama-sama agar rodanya bisa keluar dari lubang, setelah berkali-kali didorong saja tidak mempan.
"Kang! Kembaliannya lebih ini Kang!" seru seorang ibu-ibu dari sebuah warung yang ada di seberang jalan sambil melambai-lambaikan uang kertas dua ribuan.
"Saya ke sana bentar ya, Bang." Kang Cilok langsung ngoyor pergi, meninggalkan Darrel yang masih mengatur posisi gerobak ke pinggir jalan setelah berhasil dikeluarkan. Ia menyipit memandang Kang cilok yang lari mengejar uang kembaliannya.
"Bungkus dua," ucap seseorang dari belakang Darrel. Darrel langsung berbalik. Menaikkan alis menatap ke arah gadis cantik dengan alis tebal dan bulu mata lentik di hadapannya.
"Kok bengong, Kang. Saya beli dua ," ujar si gadis.
Darrel mengernyitkan keningnya, ia merasa pernah melihat gadis itu, tapi lupa dimana.
"Kang cilok budeg ya?" tanya gadis itu sambil meneliti penampilan Darrel. Kaos oblong abu-abunya yang sudah pudar, celana selulut yang terlihat butut, juga sandal jepit sepuluh ribuan. Rambutnya yang agak panjang diikat jadi satu di belakang.
"Ciloknya abis," ucap Darrel. Dengan sengaja berbohong.
"Yee ... ngomong kek dari tadi."
"Saya belum jadi Kakek-kakek," ucap Darrel dengan nada datar.
"Tauk! Ish! Gak jelas ni Tukang Cilok," ucap gadis itu, mengomel sambil pergi.
**********
Aldi menegur Ara yang duduk di kursi teras sambil membaca novel online.
"Ra! Pergi mandi sana! Udah naik matahari!"
"Nanti ah! Hari minggu juga! Libur!"
"Mentang-mentang libur, mandinya libur juga! Anak perawan kok jorok ih!" ejek Aldi.
Ara tidak menggubris ejekan kakaknya, lalu suara sepeda motor masuk ke halaman rumah. Ara menurunkan ponsel dan menatap ke arah tamu yang baru saja membuka helm.
Ara mengernyit, seperti pernah melihat sosok tersebut.
"Hei Rel. Nyampe juga Lu," sapa Aldi pada rekan kerja sekaligus temannya tersebut.
Setelah sosok tamu itu makin dekat, Ara langsung teringat dimana ia pernah melihat wajah tersebut.
"Eh, ini Tukang Cilok waktu itu kan ya!" seru Ara.
Aldi melotot pada adiknya. Darrel yang mendengar ucapan Ara langsung menaikkan kedua alis.
"Kamu ini! Ini teman Bang Aldi, Ra!"
"Hah! Waktu itu dia jualan Cilok, Bang. Ara mo beli tapi keburu abis," ucap Ara. Ia ingat, niat awalnya mau membeli ingin melihat wajah si tukang Cilok tampan itu dari dekat. Tapi setelah bertanya dan yang jualan kayak orang budeg, Ara langsung pergi.
"Oh ... jadi kamu adiknya Aldi ya. Yang manggil orang kakek, sama ngatain budeg."
Ara mengerucutkan bibirnya, tampak agak malu mendengar ucapan Darrel, sedang Aldi nampak kebingungan.
"Adik Lu jorok ya Di. Kelihatan blum mandi," ejek Darrel sambil tersenyum.
Sontak Ara langsung berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Darrel yang tertawa geli bersama Aldi yang bertanya-tanya kenapa adiknya memanggil temannya tukang cilok.
TAMAT
(Makanya Ra, jangan males mandi! Gagal deh, mo jaim depan cogan)