“DOONG.. DOONG..DOONG..”
Waktu menunjukkan jam 12 malam. Setiap jam besar di ruang tengah itu berbunyi, itu menjadi ketakutan tersendiri bagi Kunthi. Pada waktu itu seakan telah terbuka sekat antara dua dunia yaitu dunia tempatnya kini dengan sebuah dunia kasat mata.
Terkadang ia melihat sosok bayangan anak kecil memainkan boneka usangnya.
“Aaaa...”
Suara teriakan anak kecil itu memekik sesaat setelah Kunthi melempar bonekanya ke dinding. Sebab Kunthi merasa ngeri, mungkin boneka itu adalah tempat hantu anak kecil itu bersarang.
Lantas Kunthi membuka kunci pintu kamarnya dan hendak berlari menyusuri lorong gelap menuju kamar ibunya. Semasih di lorong dekat kamarnya, tiba-tiba ia mendengarkan derap langkah beberapa orang seakan berlari kencang ke arahnya.
Lantas ia berbalik arah dan berlari. Itu adalah toilet. Ia membanting pintu toilet keras-keras karena tidak bisa menguasai tangan mungilnya yang gemetaran hebat dan lemas.
Ia pun menangis lirih sambil memeluk lututnya di tempat yang basah dan lembap itu.
“Mamaa.. hiks-hiks.. Papaa.. Kapan kalian pulang? Kunthi sudah tidak kuat, Maa.. Paa.. Kunthi takut. Hiks-hiks.”
Dia, seorang gadis cantik berkulit putih, berusia 19 tahun. Namanya adalah Kunthi. Ia tinggal di sebuah rumah besar milik keluarga Tuan Agro Sasono. Seorang konglomerat di daerah Kulon Progo.
Kulitnya yang putih tampak tidak pernah sedikitpun terbakar cahaya matahari. Ya, kenyataannya memang demikian, namun tidak seperti gadis kota lainnya yang melindungi kulit mereka dengan tabir surya lalu dengan bebas berkeliaran di luaran sana.
Kunthi memang tidak pernah terpapar matahari. Sebab ia mengidap penyakit kanker kulit langka. Karena itu tirai jendela kamarnya tidak pernah terbuka kecuali pada malam hari, itupun hanya sewaktu-waktu, saat bulan sedang purnama saja, ketika ia ingin menikmati keindahannya.
Kedua orang tuanya sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah. Ia hanya sendirian di sana. Mbok Iyem, pembantunya, dan Pakde Karwo, tukang kebunnya, akan datang setiap pagi saja. Setelah menyelesaikan pekerjaannya maka mereka kembali pulang, sekitar satu atau dua jam sebelum jam 12 siang.
“TIING.. NUUNG.. TIING.. NUUNG..”
Mbok Iyem membuka pintu, rupanya itu adalah kedua orang tua Kunthi yang baru pulang. Mereka pun masuk dan menemui Kunthi di kamarnya.
Melihat kedua orang tuanya membuka pintu kamar, Kunthi yang sedang berbaring sambil berselimut itu seketika bangun dan berlari memeluk mereka.
Kedua orang tuanya itu diajaknya makan bersama dan mereka pun mengobrol di ruang makan. Ada yang aneh dari keduanya menurut Kunthi.
Kedua orang tuanya terlihat pucat dan tatapan mereka seperti orang yang sedang melamun. Namun mereka tetap bisa berkata-kata walaupun hanya singkat-singkat saja.
“Nak, masa karantinamu sudah berakhir sayang. Kamu sudah sembuh,” ucap mama Kunthi.
“Pergilah ke luar, tinggalkan rumah ini,” sambung papanya.
“Meninggalkan rumah? Ada apa, Ma? Pa?” tanya Kunthi heran.
“Di luar adalah tempatmu bermain, bukan di sini,” jawab mamanya.
Mama dan Papa Kunthi pun tinggal. Pada malam hari, mamanya duduk di depan kaca kamar Kunthi dan Kunthi menyisir rambut mamanya sambil memperhatikan wajah mamanya itu. Sedangkan papanya ada di ruangan lain.
“Ma? Mama sakit? Papa juga. Aku lihat ada yang berbeda dengan Mama dan Papa,” tanyanya lirih kepada mamanya.
Tatapan mamanya tetap sama, seperti orang melamun. Gerak dan bicaranya juga masih sama, bertempo lambat dan melirih.
Mamanya pun memandang Kunthi. Ia tersenyum kemudian berjalan ke luar kamar.
“Ma? mau kemana, Ma?” ucap Kunthi. Karena tidak ada jawaban, maka Kunthi mengikutinya sambil kembali memanggil-manggilnya.
Mamanya tetap berjalan dan di ujung lorong, papanya menyambut tangan mamanya itu. Mereka bergandengan dan berjalan pergi.
Malam hari itu, pukul 8, mama dan papanya pergi keluar rumah dan menghilang di kejauhan, di ujung jalan setelah pintu gerbang halaman.
Untuk pertama kali Kunthi keluar rumah. Ia membawa lampu lampion menyusuri jalan untuk mengejar mama dan papanya itu. Di kiri dan kanannya merupakan hutan dan semak belukar, dan Kunthi tidak bisa menemukan kemana mama dan papanya pergi.
Ranting-ranting pohon tinggi bergesekan karena tertiup angin. Suara derak-derak itu begitu menyeramkan seperti hantu yang mencakar-cakar sesuatu. Ditambah lagi ada lolongan anjing dari kejauhan. Kunthi pun takut, ia lantas berlari kembali pulang.
Di halaman rumahnya yang luas, tanpa sengaja ia melihat dua buah gundukan daun kering yang mencurigakan di bawah lampu gudang yang redup.
“Kenapa daun-daun kering itu tidak dibakar Pakde Karwo? Khan nanti kalau angin berhembus kencang, mereka bisa berserakan lagi,” gumam Kunthi.
Kunthi lalu mendekati dua buah gundukan itu. Setelah dekat, rupanya terlihat seperti ada seonggok semen yang ditutupinya. Ia pun menyapu daun-daun kering itu dengan tangannya, maka terlihatlah bahwa itu adalah sebuah nisan. Gundukan kedua ia sapu juga, dan itu juga adalah nisan.
Ia dekatkan lampu lampion dan dibacanya nama di nisan itu. Kunthipun terkejut sampai terjerembap ke belakang. Ia terduduk dan menangis tersedu-sedu. Ternyata itu adalah kedua makam orang tuanya.
Lelah menangis, Kunthi pun kembali ke dalam rumah. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya benar-benar lemas sekarang.
Lalu ia melihat ke jam beker di nakas, ia pun menghela napas. Rupanya tengah malam masih beberapa jam lagi.
Karena lemas, ia begitu ingin tidur. Tapi untuk berjaga-jaga kalau ada teror hantu lagi, maka ia bersembunyi di kolong ranjang dan tidur di sana.
“DOONG.. DOONG..DOONG..”
Waktu kembali menunjukkan jam 12 malam. Kunthi terbangun. Terdengar gumaman-gumaman beberapa orang dewasa yang seakan sedang membacakan mantra bersama-sama. Kunthi ketakutan dan tetap bersembunyi di kolong ranjang.
Ia lalu melihat kaki seorang wanita tua sedang mondar-mandir di kamarnya. Jelas itu bukan Mbok Iyem, sebab jam segini pasti dia sudah tidur di rumahnya di luar sana.
Wanita tua itu lalu mendekat ke ranjang, berhenti tepat di depan wajah Kunthi. Kunthi gemetar hebat sampai-sampai air matanya menetes. Ia membekap mulutnya kuat-kuat dengan tanganya, berusaha tidak mengeluarkan suara.
Tiba-tiba, wajah wanita tua itu mendongak ke bawah. Ia sudah mendapati Kunthi di sana. Kunthi berputar arah dan hendak berlari, namun kakinya tertangkap wanita tua itu dan ia diseret ke luar.
Wanita tua itu membuat Kunthi tersudut, ia lalu duduk bersandar di dinding sambil ketakutan. Wanita tua itu marah-marah dan bicara dengan bahasa yang tidak Kunthi mengerti.
Wanita tua itu lalu memegang kepala Kunthi, Kunthi sempat menolak tapi wanita tua itu begitu kuat. Jadi, Kunthi pasrah, telapak tangan wanita tua itu ia tempelkan di atas ubun-ubunnya.
Kunthi lalu seakan tersetrum sesuatu. Matanya merem-melek seperti orang kerasukan. Sekelibat ingatan pun tampak oleh Kunthi.
Ia mengingat bahwa dulu kedua orangtuanya berpamitan pergi ke luar kota. Mamanya begitu terlihat sedih, lalu keduanya pergi. Belum lama mereka pergi, papanya pun kembali. Kunthi lantas memeluk papanya yang dikira tidak jadi pergi itu.
“Mama dan papa sudah berusaha, Sayang. Tapi, kata dokter, penyakitmu ini tidak bisa disembuhkan,” ujar papanya.
Mendengar itu, Kunthi sedikit heran. Lalu tiba-tiba tangan papa Kunthi membekap mulut dan hidung Kunthi dengan sapu tangan beraroma aneh. Itu membuat Kunthi merasa sesak napas. Kunthi lalu terjatuh lemas, dan papanya melepaskan pelukannya, mengangkat dan membaringkan tubuh Kunthi pelan-pelan di ranjang.
Ia menangis tersedu-sedu sesaat, lalu pergi dan menutup kembali kamar Kunthi dan meninggalkannya.
Ya, benar. Kunthi adalah orang yang sudah mati.
Anak kecil yang selama ini menghantui Kunthi itu adalah anak dari keluarga penghuni baru rumah itu. Merekalah manusia yang sebenarnya.
Begitu anak kecil itu teriak ketakutan, maka keluarganya berdatangan dengan berlarian. Langkah mereka yang Kunthi dengar sebagai langkah para hantu itu.
Penghuni baru rumah itu sering mendengar suara tangisan di toilet, di sudut-sudut tersembunyi dalam rumah, itu adalah suara tangisan Kunthi yang ketakutan. Bagi Kunthi para manusia itu adalah hantu-hantu yang mengganggunya.
Karena begitu terganggu dengan kehadiran Kunthi, penghuni rumah pun memanggil seorang cenayang. Wanita tua yang sedang bersama Kunthi itu adalah seorang cenayang.
Setelah sekelibat kenangan dan pesan itu sampai kepada Kunthi, ia pun tidak ketakutan lagi. Ia pun sadar kembali dengan keadaan yang lebih tenang.
Ia melihat kedua tangannya dengan seksama. Perlahan jemari Kunthi menyerpih menjadi cahaya yang berterbangan seperti debu. Perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Beginikah rasanya menjadi orang yang sudah mati?” tanyanya.
“Damailah,” ucap wanita tua itu. Untuk pertama kalinya Kunthi bisa mengerti perkataan wanita tua itu.
Kunthi pun terbang sebagai sebuah gumpalan asap, lalu melesat ke langit seakan ada yang menariknya.
Perlahan suara kokok ayam jantan terdengar sayup dari kejauhan. Padahal ini baru jam 1 dini hari.
Setelah ini, setiap jam 12 malam semua akan sunyi. Tidak ada lagi kengerian yang mencekam lagi. Semua orang pun bisa beristirahat dengan lelap.
***