Judul : Cara Pandang
Sedari kecil, keluarga menjadi tempat pertama seseorang belajar. Menjadi tumpuan pertama sebelum menghadapi kejamnya dunia luar. Rengkuhan hangat yang seharusnya menjadi penghilang beban. Dan lengkungan kurva sempurna mengajarkan makna dari harsa bahagia.
Begitulah keluarga membentuk kepribadian seseorang.
Dan dari situlah aku belajar. Tentang kosakata rumit bernama cinta dan tanda bacanya. Pun jua kisah yang terekam di kepala.
"Aku gak bisa Gi, maaf." Menundukan kepala. Aku tak berani menatap wajahnya karena rasa bersalah yang bersarang dalam dada.
Melukis kurva lengkung, ia menatap lembut seperti biasa. Jangankan marah atau kesal, pemuda itu seolah telah memastikan jawaban sedari awal.
"Aku gak akan munafik bilang gak papa. Tapi, kalo kamu udah siap bersentuhan sama cinta kamu bisa bilang ke aku kapan aja," Aku mendongak, bersitatap dengan jelaga hitamnya yang menyembunyikan luka dalam binar netranya.
Mengangguk mengiyakan, aku ikut melukis senyum untuknya.
"Mau aku antar? Ini udah sore, kalo naik bus takutnya sampe malem," Menimbang tawaran Gian, keningku terlipat.
"Gak ngrepotin?" tanyaku memastikan.
"Enggak dong," jawabnya yakin.
Kami berjalan beriringan menuju parkiran. Masuk ke dalam mobilnya, aku memandang jalanan dari balik kaca. Keheningan bersalam di antara kami berdua.
Berselang cukup lama, langit di luar sana telah beranjak muram. Kegelapan lantas berperang dengan ribuan pendar kala baskara terbenam di ufuk barat.
"Makasih tumpangannya Gi," Ia mengelus surai hitamku. Lantas mengacak-acaknya gemas.
"Kayak sama siapa aja Ri,"
Aku menatap kendaraan roda empat milik Giam yang perlahan menghilang. Berbalik, aku melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bisa gak sih kamu gak usah bahas soal dia!" Bentakan menyambut langkahku yang baru memasuki rumah.
"Kenapa hah?! Bukannya wajar aku bahas selingkuhan kamu itu,"
"Dia bukan selingkuhanku!"
"Kamu masih mengelak setelah semuanya terbongkar?"
PRANG
"DIAM!!"
Aku menatap pertengkaran yang selalu diakhiri dengan tangisan wanita paruh baya yang berstatus ibuku. Ia terduduk di lantai bersamaan dengan air mata yang luruh dari pelupuk matanya. Anakan rambutnya menjuntai ke bawah.
Ayah mengalihkan pandangannya dari Ibu. Ia mengusap wajahnya yang telah memerah padam. Mencoba menyingkirkan amarah pada sosok yang dulu pernah dicintainya.
Ya, dulu. Berbeda lagi dengan sekarang. Sosok wanita yang umurnya berselang cukup jauh darinya telah mengisi hatinya yang memadamkan perasaannya kepada istrinya sendiri.
"Aku akan tidur di kantor," pamitnya lalu meninggalkan ibu begitu saja. Ia sempat melirikku sejenak, sebelum kembali melangkah keluar rumah.
"Pergi! Pergi sana dan jangan pernah pulang!" Teriak ibuku yang telah kelewat geram. Ia bangkit dari duduknya. Melirikku dingin lantas pergi ke kamarnya dan mengunci pintu.
Beginilah aku belajar dari mereka. Dua sosok yang awalnya merajut asmaraloka bersama telah memisahkan hatinya. Tawa yang kerap mengudara berganti dengan teriakan dan makian yang keluar dari bibir keduanya.
Hancur lebur lantas terbawa angin malam. Kehangatan menghilang dalam ikatan pernikahan. Dan dari sinilah cara pandangku melihat ikatan cinta. Lebih mudah hancur ketimbang bertahan. Bukan hanya perkara kebal menghadari masalah yang bersisipan. Jauh dari kata mudah dan asal.
Aku mempelajarinya sedari kecil. Bagaimana ketakutan muncul tiap kesempatan. Akan cinta yang tidak terdengar masuk akal bagiku yang telah melihat kehancuran.