Aira menatap langit yang tampak gelap dengan wajah memelas. "Please jangan hujan dulu," batinnya berharap. Dia harus menyetir sendirian ke bogor pagi hari ini.
Semenjak sahabat karibnya pergi ke luar negara. Ia acap kali harus merasakan peliknya suasana pagi yang tak pernah bersahabat dengannya. Hujan senantiasa mengguyur daerah itu.
Apa lagi saat pagi buta. Hujan akan turun dengan begitu derasnya. Akibatnya jalanan akan menjadi becek dengan jarak pandang yang terbatas. Meskipun begitu, Aira tetap pantang menyerah menjalani aktivitas paginya.
Deadline yang tengah melambai, ingin segera di rampungkan. Menjadi alasan utama baginya untuk tak bermalas-malasan. Baginya bertanggung jawab dan tepat waktu dalam bekerja adalah garis keras dalam kariernya.
Aira sedikit mendesah kesal untuk kesekian kalinya. Ia masuk kedalam mobil dengan perasaan yang sedikit dongkol. Jejak lumpur yang melekat di sepatunya membuatnya semakin kesal. Ia melepas dan menaruh sepatunya di bawah.
Gadis itu mulai melajukan kendaraannya. Tatapannya sedikit menyipit, menatap tajam jarak pandang yang mulai terbatas. Seolah-olah hujan lebih setia dari pada sahabat karibnya. Aira tak jarang juga merasa lebih nyaman jika hujan datang menyapanya.
Tiba saja ponselnya berdering, "Halo," gadis itu mengangkatnya.
"Iya. Kenapa, Za?"
"Meeting di undurin jam 12, sekalian makan siang kata Pak Gun!"
"Ohh, gitu. Ya ... syukur dehh, kalau gitu. Hujannya deres banget ini soalnya, kayanya kalau gak di undur aku bakalan telat."
"Perasaan ke jebak hujan muluu, loe Ra!"
"Gak tau, kayanya hujan seneng banget sama aku. Ya, udah kalau gitu. Aku mau fokus nyetir dulu, takut meleng nanti."
Gadis itu mematikan ponselnya. Sampai di sebuah persimpangan, hujan sedikit mereda. Seketika ia mendesah lega, dapat melajukan mobilnya lebih cepat. Garis senyumnya sedikit terurai jelas karena mendapat kabar barusan. Jika saja, meeting tidak di undur. Dapat di pastikan ia akan telat untuk pertama kalinya.
Kecuali, jika dia nekat melaju dengan gesit menorobos derasnya hujan namun dengan resiko berbahaya. Aira dapat sampai dengan tepat waktu. Jam telah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Aira telah sampai di tempat tujuan. Mobilnya ia parkir rapi di depan sebuah resto kecil namun terlihat ramai.
Sebelum turun dari mobil, ia terlebih dahulu membersihkan sepatunya yang sempat terkena lumpur beberapa saat lalu. Selesai dengan hal itu, gadis itu memper baiki riasannya dan turun dari mobil.
Langit mendung mulai tersisihkan. Berganti dengan awan cerah dengan bias matahari di baliknya. Ia duduk di salah satu kursi yang telah di pesan oleh timnya. Sorotnya tampak menelisik, melihat sekitar. Gadis itu duduk sendirian. Belum ada satupun, salah satu anggota timnya yang tiba.
Kapan kiranya mereka tiba? Sampai berapa lama ia harus menunggu? Seperti yang sudah-sudah. Ia selalu datang lebih awal dan berdiam diri menunggu semua anggota timnya, yang selalu lewat dari jam yang di tentukan.
Gadis itu sedikit manyun, merasa bosan sekaligus jengah dengan kebiasaan kawannya. Tiba saja, seseorang datang. Seorang lelaki berperawakan tinggi dengan wajah kharismatik.
"Udah, dari tadi?" tanyanya sembari duduk di sebelah gadis itu. Sementara Aira tak langsung menanggapi, ia terdiam beberapa saat memandang kagum akan pria di hadapannya. Wajah kharismatik dengan kaca mata kotak yang membingkai sorot tajamnya.
"Hhh ..., baru aja kok," jawabnya yang terkesan begitu gugup.
Pria itu tersenyum jenaka. Yang sontak membuat Aira semakin salah tingkah.
"Gak usah gugup gitu,"
"Ihh ..., enggak! Aku cuma laper aja kok," kilahnya seraya mendengus sebal. Sedangkan pria itu masih senantiasa tersenyum sembari menatap lekat dirinya.
Sesungguhnya memang benar adanya jika Aira sedang di landa gugup. Bagaimana tidak? Pria di sebelahnya adalah sosok yang telah ia kagumi sejak lama. Rekan satu kantor dan satu divisi yang beberapa bulan terakhir ini selalu menghantui pikirannya.
Akan tetapi, meskipun demikian. Aira tak pernah menyatakan perasaannya atau memperlihatkan dirinya yang tengah tertarik pada pria itu. Baginya, suatu kehancuran jika ia terus terang terhadap pria itu. Menurutnya tidak di benarkan jika seorang perempuan menyatakan perasaannya terhadap seorang pria. Karena perlu di ingat, baginya kasta perempuan adalah kasta yang harus di junjung tinggi dan di perlakukan khusus untuk kasta yang berlawanan.
Tanpa sepengetahuannya, pria tersebut nyatanya telah mengetahui ketertarikannya sejak lama. Alih-alih membalas perasaan gadis itu. Ia malah dengan sengaja, sering menggodanya yang tentu saja semakin menarik perhatian sang gadis.
Andai kata Aira tidak terlalu menjunjung tinggi rasa gensinya. Mungkin pria itu dengan senang hati akan merendahkan dirinya demi gadis itu.
Tanpa terasa waktu terus berjalan. Para rekan timnya telah hadir. Mereka terlihat berbincang sembari memesan minuman beserta makanan untuk menemani meeting mereka. Baik Aira maupun pria itu juga ikut bersenda gurau, berbincang seraya menunggu boss mereka tiba.
Langit terlihat begitu cerah. Awan mendung yang tadi terlihat memenuhi cakrawala kini hilang di telan biasnya cahaya sang surya. Aira menjalani hari-harinya dengan beragam rasa. Berbagai peliknya situasi ia lewati dengan caranya. Semangatnya terus menggebu demi kesuksesan kariernya.