Misteri di Sekolah
Lapangan upacara diguyur rintikan air dari langit, begitu deras sampai seperti banjir. Di tiap-tiap kaca jendela gedung A, pantulan cahaya kilat terpampang jelas. Hawa disekitar membuat tubuhnya menggigil. Ketukan sepatu pantofel hitam terdengar di koridor sepanjang kawasan kelas sepuluh. Remaja lelaki itu berjalan sendirian. Bibirnya pucat pasi dan sorot matanya tidak menunjukkan vitalitas kehidupan. Dia terus berjalan hingga sampai di kelas terujung. Dia pun memasuki kelas.
Seluruh seragamnya sekolahnya dilumuri cairan kental berwarna merah. Bau anyir menyeruak. Lelaki itu pun duduk di kursi guru, tatapannya tertuju pada seekor makhluk berkulit hitam kurus yang bahkan tulang-belulangnya tampak menonjol. Giginya seperti gergaji. Sepasang matanya merah pekat dan lidahnya terjulur keluar. Beberapa menit kemudian, jejak makhluk tersebut menghilang.
"Kapan aku bisa pulang ke rumah? Mengapa makhluk sialan itu masih ada? Aku lapar sekali tahu!" ucapnya sambil menatap kosong ke depan.
Baru mengerjapkan kedua mata, sebuah kapak tajam memotong lehernya. Semburan darah pun membasahi meja serta lantai. Di belakang, makhluk hijau itu tertawa puas. Dia pun memakan daging siswa terakhir di sekolah ini. Lantas, semuanya kembali normal. Tidak ada jejak darah. Tidak ada hawa mencekam dan suram. Sekolah ini seperti sekolah pada umumnya.
***
SMA Wijaya adalah sekolah yang punya nama di desa ini. Sekolah ini sangat luas, desainnya klasik modern dan letaknya strategis. Meskipun, di belakang sekolah ada pemakaman. Pada pagi hari, biasanya para guru dan anggota pengurus OSIS akan piket di depan sambil memeriksa kelengkapan atribut sekolah. Deretan kendaraan motor akan memasuki gerbang lalu melaju ke tempat parkir.
Tepat pukul 06.50 WIB, gerbang sekolah akan ditutup oleh satpam. Beruntung, lelaki ini tiba di sekolah pada pukul 06.46 WIB. Dia pun bergegas ke kelasnya. Semalam, entah mengapa dia mimpi buruk dan memiliki firasat kuat bahwa hari ini terjadi sesuatu yang mengerikan. Namun, dia tidak memedulikannya dan tetap berangkat meski lehernya sakit sekali.
Saat berada di pintu kelas, tatapannya tertuju pada dua mayat temannya. Organ dalam menguar. Darahnya merembes ke lantai. Seragam mereka sobek dan kepalanya menggelinding ke kakinya. Kini, lelaki itu seakan mau muntah.
"Apa-apaan ini semua?! Mengapa ada mayat di sini tetapi sekolah begitu tenang? Tidak, ini pasti mimpi! Ini pasti hanya khayalanku saja!" batin Alex mundur perlahan.
Tubuhnya menabrak seseorang, kemudian Alex berbalik dan hendak meminta maaf kepadanya. Dia adalah Kare, preman sekolah yang terkenal kasar dan pemarah. Namun, saat ini dia hanya diam saja lalu menerobos masuk kelas. Dia bahkan menginjak mayat Dino dan Farel. Apa yang sebenarnya terjadi?!
***
Hari ketiga, di mana kesehariannya dibumbui keanehan. Alex belum menyadari apa yang terjadi. Dia mulai terbiasa dengan pemandangan mayat yang bergelimpangan. Bau anyir serta hal-hal mengerikan lainnya. Sampai pada suatu hari, dia tanpa sadar ke gudang sekolah. Dari dalam pintu gerbang, terdapat cahaya aneh dan seolah menariknya kuat-kuat.
Alex pun tersedot dan terlempar ke pemakaman di belakang sekolahnya. Ternyata, di sana teman-teman yang Alex kenal tengah diikat dan disekap. Mereka menjerit minta tolong. Bahkan Pak Kepala sekolah dan para guru ada di sini. Lalu, siapa yang ada di sekolah dua hari ini?
Tanpa pikir panjang, Alex langsung melepaskan ikatan tali dan membuka lakban di bibir mereka. Satu demi satu, mereka semua sudah bebas. Lantas, seorang guru bahasa Jerman, menerangkan bahwa yang ada di sekolah saat ini adalah para monster. Mereka dapat menjelma menjadi manusia lalu berperilaku seperti seseorang yang mereka tiru.
"Mereka adalah monster yang muncul dari kuburan. Monster-monster tersebut membunuh semua warga sekolah, memakannya kemudian membuat ilusi."
Akhirnya, mereka keluar dari gudang. Mirisnya, di depan gudang, para monster telah bersiap dengan berbagai senjata tajam seperti kapak, pistol dan pisau. Mereka pun menerjang dan membunuh kami semua. Akhirnya, sekolah ini pun hilang dari peredaran dan menjadi batas antara dunia monster serta manusia.
Tamat