Pernah mendengar kasus sindikat tentang penculikan remaja di kota Seoul? Aku sudah mendengarnya berulang kali, berita tersebut telah tersiar selama hampir lima kali dalam seminggu. Tentu dengan korban yang berbeda-beda, aku muak mendengarnya.
Bukan menganggap lemah para korban tersebut, melainkan kinerja kepolisian yang pencariannya lengai dibandingkan kasus lainnya. Seakan-akan mengandalkan jumlah remaja di kota Seoul yang sering mengantul, mereka semakin memperpelik kasus itu secara lesak.
Sebagian korban ditemukan tidak bernyawa, mereka tergeletak di tempat terbuka. Tetapi sampai sekarang, tiada satu pun saksi atau rekaman yang sukses menangkap ciri khas pelaku. Namun, mereka memastikan bahwa dalang yang berada di balik semua ini berjumlah satu. Entah bagaimana mereka bisa mengonfirmasi.
Akhir-akhir ini, penculikan itu semakin beredar di Twilight School. Konon, sepuluh orang telah menghilang tanpa jejak dan belum ditemukan. Aku tidak bisa menjumpai sebuah peradaban, sampai kami bertemu di sebuah tempat secara stagnan.
Namanya Baekhyun, cowok yang delapan tahun lebih muda dariku. Dia berada di tingkat akhir, gaya rambutnya mullet dengan ciri khas melekatnya hoodie swan white. Lengkungan bibirnya terkesan manis, dilingkupi struktur wajah yang teksturnya lengas.
Semakin sering kami bertemu, semakin terbentuk rasaku padanya. Byun Baekhyun, cowok yang lebih tinggi dariku akhirnya menerima perasaan dari seorang aktor, Kim Tae-yeon. Yaitu aku, aku yang menyatakan perasaanku lebih dahulu padanya.
Sekarang, kami mendaki gunung bersama. Dia memimpin perjalanan, rasanya lucu mengingat panjangnya jarak usia yang kami punya. Tetapi selama dia tidak mempermasalahkan, sepertinya baik-baik saja.
Hubungan kami dalam status tersembunyi, berjalan selama tiga bulan dengan kabar dan pertemuan di tempat sunyi. Selain senang karena terbalasnya rasa, aku merasakan kehangatan yang berbeda dari biasanya. Seperti kehangatan adikku, Winter, padaku dahulu.
Kami menanjak naik bukhansan, gunung yang disebut paru-paru Seoul karena perannya membantu membersihkan CO2 di kota. Baekhyun dan aku tidak memilih tempat ini secara impulsif, melainkan konatif atas keinginan yang kami simpulkan.
Aku mengembangkan senyum, dia begitu lucu dengan telempap yang kerap kali menggulung. Baekhyun kedinginan, dia lupa membawa sarung tangan miliknya. Aku sudah menawarkan, tetapi dia menolaknya.
"Baekhyun, ingin berteduh?" tawarku melihatnya menggigil. "Kita bisa berhenti di sekitar sini, tidak apa-apa."
Baekhyun langsung mengangguk, akhirnya kami beranjak menepi di sekitar sini. Daerahnya memang curam, jadi kami terpaksa mengundurkan diri dari kediaman yang sudah diinjak.
"Maaf," katanya merunduk dalam. "Padahal kita baru saja mendaki, tetapi aku tidak tahan terhadap musim dingin."
"Seharusnya aku yang meminta maaf, aku memintamu mendaki bersama. Tetapi kamu juga bisa menolak, bukan? Apa kamu ingin mengakhiri perjalanan?"
"Tentu saja tidak!" balasnya cepat, menampilkan raut wajah masam yang membuatku tertegun. "Kita akan melanjutkannya sekarang."
"Baekhyun, tunggu!"
Setelahnya, langkah Baekhyun tersumbat sesuatu. Sepertinya ada yang mengganjal, aku lantas mendekat selepas melihatnya meringkuk sembari menyentuh sesuatu yang kelihatan usang.
"Ada apa, Baekhyun?"
"Aku menemukan pakaian ini," katanya menunjukkan padaku, Baekhyun dan aku terheran-heran-bagaimana bisa dua set pakaian terdampar di gunung ini?
"Kurasa kedua pakaian itu milik pendaki yang menghilang, taruh saja. Lebih baik kita pulang sebelum kamu sakit."
"Aku mendengar sesuatu," gumam Baekhyun mengabaikan perkataanku, pandangannya memindai daerah sekitar hingga berhenti di suatu titik. Kemudian, dia berlari mengarah haluan penglihatannya disusul aku yang membuntuti.
"Baekhyun, jangan lari di tempat yang–"
"Apa kalian baik-baik saja?"
Aku terkejut bukan main, Baekhyun menemukan keberadaan mereka. Karina dan Ningning, teman kecil Winter yang entah bagaimana berada di sini. Setelahnya, aku memperpendek jarak dan langsung menggenggam pergelangan Karina.
"Kenapa kalian di sini?" tanyaku terdengar cetus, lalu menyadari dia menggenggam sesuatu yang disembunyikan. "Lepas genggamanmu, cepat."
Karina tampak ketakutan, seakan-akan aku berperilaku kejam padanya. Tidak lama, Baekhyun menghampiri dan menyentuh punggung tangan Karina. Menyebalkan.
"Tolong, dengarkan aku. Aku tidak akan menyakitimu, kamu aman bersamaku. Percayalah," ujarnya berusaha menenangkan. Setelahnya, genggaman Karina terbuka yang berisi sebuah kacamata hitam. Baekhyun bingung dibuatnya.
"Apa kacamata itu punyamu?"
"Bukan!" bantahnya lekas, melirik Ningning yang sama takutnya.
Kupikir ada sesuatu yang cewek itu sembunyikan, jadi aku kontan menarik pergelangannya. Sesuai dugaanku, terlihat senjata api yang sedang digenggamnya ragu, seakan-akan dia belum terbiasa memegang benda tersebut hingga getarannya kelihatan jelas di bola mataku.
"Sebuah pistol," sahut Baekhyun.
"Berikan padaku," sergahku cepat yang terkesan membentak, buktinya Baekhyun langsung melirik dengan tatapan yang maknanya sukar diuraikan.
"Taeyeon, di mana kacamatamu?"
Aku menoleh padanya. "Aku meninggalkannya di mobil, ada apa? Apa kamu mengira kacamata itu milikku? Tidak mungkin," balasku merotasi pandangan, lalu merebut kacamata tersebut secara impulsif yang berakhir remukan kaca. "Jangan bodoh, Baekhyun."
Baekhyun mengembuskan napas, bangkit dari tempatnya dengan semburan pertanyaan. "Jawab aku dengan jujur, apa kalian korban dari penculikan itu? Kalau tidak, mengapa kalian di sini?"
"Kami ...." Mereka sempat melirikku dan mengapa mereka harus melihatku? Aku risi dibuatnya, seakan-akan aku menjadi penyebab dari keberadaan mereka di sini.
"Apa ada sesuatu yang berkaitan dengan Taeyeon pada kalian?"
Mendengar pertanyaan itu, kulirik cepat cowok di hadapanku yang auranya timbul lebih kuat. Dia tampak berani dengan berasumsi yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara aku, Karina, dan Ningning.
"Ada apa, Baekhyun? Mengapa kamu bertanya bertubi-tubi? Sudahlah, tinggalkan saja mereka. Biarkan Karina dan Ningning di sini."
"Taeyeon," panggilnya menghentikanku di tempat. "Katakan, apa yang kamu lakukan pagi tadi? Waktu sebelum kita berangkat kemari, apa kamu mengingatnya?"
"Aku berada di apartemen, menyiapkan barang-barang dan pergi membeli bahan makanan."
"Apa kamu yakin tidak mengunjungi seseorang?" Baekhyun tak menoleh, tetapi aku merasa diawasi. "Apa ada toko yang buka di pagi hari?"
"Apa maksudmu?" Amarahku meningkat.
"Apa kamu mengenal mereka?"
"Tentu saja tidak," jawabku enteng.
"Lalu, bagaimana kamu bisa menyebutkan nama mereka tanpa pemberitahuan?" Baekhyun berkonfrontasi denganku. "Kurasa, aku tahu penyebab kesibukanmu dan teriakan di sekitar rumahmu itu."
"Sudah kubilang, hanya suara hewan."
"Jangan membohongiku, Taeyeon. Tidak ada hewan yang hinggap begitu lama di tempat saat musim dingin." Baekhyun mendekat, menunjuk kepingan kacamata. "Kamu menghancurkan bukti."
"Apa kamu menuduhku?"
"Mengapa kamu tampak was-was saat Ningning memegang pistol? Sepertinya aku tahu apa yang kamu lakukan pagi tadi. Kamu mengunjungi tempat di mana mereka disembunyikan, melakukan sesuatu sehingga membuat keduanya kabur.
"Mereka mengganti pakaian dengan pakaian yang kini mereka pakai, membawa bukti kecil, dan tidak disangka bertemu dengan-"
"Baiklah, terserah padamu," potongku menatapnya. "Memang aku yang melakukannya."