Maaf, karena aku mencintaimu. Rasa ini tidak salah. Ku mohon izinkan aku untuk tetap merasakan ini. Kau tak perlu membalasnya, dan kau tak perlu tahu. Aku sadar betul bahwa kau mencintainya bukan mencintaiku.
🍁🍁🍁
Pagi itu, seperti biasa ku menyiapkan sarapan untukku dan sahabatku Sella. Kami tinggal bersama di sebuah apartemen yang cukup untuk kami berdua.
Namaku Sekar, aku bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di jasa desain interior di Jakarta. Sedangkan sahabatku Sella berkecimpung di dunia modelling.
Dia cantik dan sungguh beruntung. Seorang pria bernama Sena selalu setia mencintainya. Dalam diam, aku mulai jatuh cinta pada Sena. Pacar sahabatku sendiri. Tak ada yang tahu akan hal ini. Hanya diriku, dan cukup menjadi rahasiaku.
Semua berawal dari sebuah sarapan yang kubuat, tak sengaja untuknya. Aku dan Sena bekerja di tempat yang sama. Kami sering bertemu dan berbincang bersama. Awalnya tak ada rasa apapun terhadapnya, hanya perasaan seorang teman.
"Kau bisa buatkan sarapan lagi untuk Sena, Sekar? Aku terburu - terburu hari ini. Tapi aku sudah terlanjur berjanji untuk membuatkannya. Terakhir kali kau membuatnya dia memuji masakan itu. Dia memuji diriku, katanya masakannya enak." Ucap Sella sambil merapikan make up pada wajahnya.
"Oh.. iya, ternyata dia tidak suka makan pedas. Masakan waktu itu pas sekali rasanya. Ah.. Aku baru tahu seleranya padahal kami sudah lama berpacaran." Ucapnya lagi.
Aku tersenyum senang mendengar cerita Sella tentang Sena. Sejujurnya aku sudah lebih dahulu tahu, bahwa Sena bukan penyuka makanan pedas. Saat acara perayaan kantor sebulan yang lalu, Sena sama sekali tidak menyentuh makan pedas. Mulai saat itu aku tahu seleranya.
"Nanti pas kalian bertemu, tolong berikan sarapan itu ya." Pinta Sella kembali sambil merapikan tatanan rambut miliknya.
"Loh, kamu tidak ingin menyerahkannya sendiri? Bukannya Sena akan menjemputmu pagi ini?" Tanyaku.
"Tidak bisa, barusan Pak Dion menelepon, kalau dia sudah dalam perjalanan menjemputku untuk pemotretan pagi ini."
"Sebaiknya, kamu bilang ke Sena dulu. Aku mesti menjelaskan apa nanti padanya?" Tanyaku bingung.
"Aku sudah tidak ada waktu, aku pergi sekarang ya." Ucapnya sambil menyemprotkan parfum pada dirinya.
"Tolong ya bantu aku." Pintanya kembali dan berlalu pergi dengan meninggalkan senyum cantiknya memohon padaku.
Aku mendesah, satu jam lagi Sena akan datang menjemput Sella seperti biasa. Tapi pagi ini pasti dia akan kecewa. Sella pergi tanpa memberi kabar terlebih dahulu padanya.
"Selesai." Ucapku akhirnya sambil merapikan bekal sarapan untuk Sena nanti.
🍁🍁🍁
Pukul 7.30 Sena benar datang. Bel apartemen berbunyi. Akupun membukanya dan melihat wajahnya terseyum menatapku. Oh tidak, bagaimana aku harus menjelaskan kepergian Sella tanpa mengabari dirinya. Tak rela jika senyum miliknya lenyap dalam sekejap.
"Hei Sekar, Sellanya di mana?"
"Oh.. itu, Sella sudah.. sudah pergi sejak tadi."
"Apa?" Teriaknya.
"Kenapa dia selalu seperti ini." Lanjutnya kesal.
"Ada pemotretan pagi ini, dia tak sempat mengabarimu." Ucapku perlahan.
"Ohya.. Sella titip sarapan buat kamu, ini sebagai tanda permintaan maafnya." Ucapku kembali.
Akupun menyerahkan sebuah tempat makan untuknya. Sarapan yang kubuat sendiri, namunku mengatas namankan Sella. Dia meraihnya dan tersenyum akhirnya melihat sarapan yang telah ku buat untuknya itu.
"Bagaimana kalau kita berangkat bersama ke kantor?"
"Oh.. tidak, aku masih harus melakukan sesuatu."
"Aku bisa menunggu, lagian aku juga sudah terlajur sampai sini. Kau temannya Sella, dan kita satu kantor." Penjelasannya.
Apakah aku harus menyetujui tawarannya. Aku sungguh ingin sekali bilang iya padanya. Tapi.. aku takut rasa cintaku terlihat olehnya jika aku terlalu dekat dengan dirinya.
"Aku tunggu di sini, kamu bersiaplah."
Sena melangkah masuk ke dalam apartemenku dan Sella. Duduk bersandar pada sofa dan memainkan handphonenya. Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menyimpulkan bahwa aku setuju dengan tawarannya.
Hari - hari berikutnya hal seperti ini sering terjadi. Setiap hari aku selalu menyiapkan sarapan untuknya. Saat Sella bercerita bahwa ibunya Sena akan berulang tahun, akupun mengirimkan kue untuk diberikan kepada ibunnya. Saat Sena berhasil dalam kariernya akupun memberikan hadiah kecil sebuah kemeja. Semua kulakukan dengan mengatas namakan Sella. Aku tidak pernah menyesal atas apa yang ku lakukan. Aku sudah cukup bahagia saat melihat dia tersenyum, walaupun bukan untukku.
🍁🍁🍁
Sore itu, saatku sedang merapikan meja kerjaku. Ada suara seseorang mengetuk pintu ruangan kerjaku.
Ku melihat sosok Sena berdiri dan menatapku lalu tersenyum.
"Kau sudah mau pulang?" Tanyanya.
"Ya, kenapa?"
"Kita bisa pulang bersama, aku ada janji dengan sella malam ini bertemu di apartemen kalian.
"Oh.. Oke." Jawabku sambil membalas senyumnya.
Malam itu mereka bertemu, saling melepas kerinduan satu sama lain. Sella bergelayut manja pada Sena. Mereka tersenyum bersama, Sena mengelus lembut kepala Sella.
dan.. aku melihat sesuatu yang tak seharusnya ku lihat. Sella akan mencium bibir Sena. Apa yang harus ku lakukan sekarang. Aku tak sanggup melihat ini semua. Aku harus pergi, seharusnya aku tidak ada diantara mereka. Hatiku sakit, kenapa sesakit ini.
"Ehm.., Sorry.. Aku pamit keluar dulu, ada yang mau ku beli." Ucapku pada mereka.
Hatiku terluka.. terluka melihat mereka bersama. Sampai kapan aku akan bertahan. Aku melangkah terus menuju keluar apartemen ini mencari ketenangan dan jawaban.
Termenung dalam malam. Hanya bulan yang menemaniku dengan setia, aku menangis. Apakah aku harus menyerah sekarang. Apakah aku harus melepaskan rasa ini sekarang.
Beberapa menit kemudian hujanpun turun, bersamaan dengan air mata ini. Ku berlari menuju tempat untuk berteduh. Di depan sebuah minimarket aku berdiri. Menyilangkan tangan sambil meratapi kesedihan.
Apa yang ada di hadapanku sekarang, kenapa aku melihat sosok Sena dari kejauhan. Dia makin mendekat, senyumnya makin terlihat jelas. Apa yang terjadi, kenapa dia menghampiriku.
"Gadis bodoh, kau keluar tanpa membawa dompet dan handphone." Ucapnya menyadarkanku.
"Kenapa kau di sini?"
"Menjemutmu, bagaimana kau bisa pulang, jika ku tak di sini."
"Aku akan pulang, jika hujan sudah reda."
"Ayo kita kembali." Ajaknya.
"Kau hanya membawa satu payung?"Tanyaku bingung.
"Ya." Ucapnya dan langsung menarik tanganku untuk satu payung bersamanya.
Hatiku bergetar. Tak pernah ku membayangkan bahwa akan sedekat ini dengan dirinya. Dia menggenggam tanganku saat ini. Sesaat ku menatap wajahnya, mencoba meyakini diriku bahwa ini bukan mimpi.
"Kemana Sella?" Tanyaku pada Sena saat kami tiba di apartemen dan tampak sepi.
"Dia sudah pergi."
"Saat hujan, dia pergi?" Tanyaku memastikan.
"Ya." Jawabnya datar.
Apa yang terjadi di saat ku tak ada. Aku ingin membahasnya tapi Sena terlihat enggan untuk membahas ini.
"Hatchii..." Teriakku.
"Kau terkena flu." Ucapnya.
"Ya, semoga hanya sesaat."
"Kau sering ke toko kue Happy Cake?" Tanyanya tiba - tiba.
"Ya, toko kue favorite ku itu. Kue di sana enak - enak. Kenapa kau bertanya?"
"Saat kau di luar, handphonemu berbunyi. Maaf aku mengangkatnya. Dia terus berbunyi, aku fikir itu penting."
Sena terdiam, ku menatapnya menunggu cerita selanjutnya.
"Panggilan itu dari toko Happy Cake, bukumu tertinggal di sana."
"Oh.. oke." Jawabku.
Kenapa aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dari ucapnya, tapi aku tak paham.
"Sarapan yang kau buat enak." Ucapnya kembali.
Aku tercengang, mendengar perkataannya. Apa aku sudah ketahuan sekarang.
"Sara.. pan apa?" Ulangku memastikan.
"Kau yang selalu membuat sarapan untukku kan."
Sena sekarang menatapku. Aku tak berani menatapnya sekarang. Apa yang harus ku katakan.
"Bagaimana kau tahu?" Tanyaku akhirnya sambil menundukkan wajahku.
"Terima kasih." Ucapnya.
Apakah sekarang adalah saat dimana semua kebohonganku akan terbongkar.
"Ibuku juga mengucapkan terima kasih untuk kue yang kau kirim."
Kenapa semua rahasiaku diucapkan olehnya. Aku belum siap sekarang. Aku takut.. aku takut dia akan membenciku.
"Terima kasih, kemeja darimu pas dan sesuai denganku."
Aku masih menundukkan wajahku, aku takut untuk menatapnya. Aku hanya bisa meneteskan air mata sekarang.
"Maaf.."
"Maaaaff.. " Teriakku lebih keras.
"Kenapa kamu tak mengatakan sebenarnya. Kenapa kau mesti berbohong." Ucapnya sambil memegang ke dua pundakku dan menggerakkannya.
"Aku hanya tak ingin menyakiti kalian."
"Tapi kau tersakiti."
"Aku bisa berbuat apa, kau mencintainya dan sellapun mencintaimu. Aku hanya orang yang tak sengaja mencintaimu."
"Aku tak mau jadi perusak hubungan kalian. Aku cukup bahagia melihatmu bahagia." Ucapku terisak dan Senapun terdiam mendengar penjelasanku.
"Kamu tenang saja, tak usah mempedulikan perasaanku. Aku akan pergi.. aku janji.. aku tak akan mengganggu kalian lagi."
"Maafkan aku... bisakah kau pergi sekarang, aku perlu sendiri."
Sena menatapku, aku mengalihkan pandanganku kembali. Aku diam dan dia diam, sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Aku sendiri sekarang. Menangis.. di mana Sella, apa dia juga sudah tahu akan hal ini.
🍁🍁🍁
Ku membuka laptopku. Membaca beberapa email yang masuk dan aku terkejut. Apakah ini sebuah jawaban dari sepanjang tangisku semalam. Beasiswaku diterima. Aku akan benar - benar pergi meninggalkan mereka. Pergi jauh meninggalkan negara ini. Entah ini suatu kebahagian atau kesedihan.
Perlahan ku mempersiapkan semuanya, akupun telah mengundurkan diri dari perusahaan tempatku bekerja sekarang. Perpisahanku tanpa ada Sena. Dia sedang melakukan perjalanan dinas ke daerah. Akupun tak menghubunginya. Sudah beberapa hari ini Sellapun tak kembali. Aku tak dapat menghubunginya. Aku hanya ingin meminta maaf padanya. Tapi dia menghindariku dengan sempurna.
Tepatnya hari ini adalah hari dimana aku akhirnya meninggalkan ini semua. Meninggalkan kenanganku tentangnya. Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada tatap muka. Aku pergi, ku harap aku bisa melupakan rasa cintaku padanya.
Ku harap Sella memaafkanku.
🍁🍁🍁
Menjalani hari - hariku di negeri orang. Selalu tersenyum dan semangat mejalani hidup. Setahun sudah, tapi kisahmu masih terekam sempurna di hatiku. Aku tak berharap kau mengingatku.
"Hallo Sekar."
"Hallo bu." Sapaku.
"Terima kasih untuk kuenya, sangat enak sekali."
"Maaf, Sekar cuman bisa kirim kue untuk ibu."
"Kau mengingat hari ulang tahun ibu, itu sudah cukup Sekar. Terima kasih ya."
"Sama - sama ibu."
"Kapan kamu kembali?"
"Belum tahu, setelah urusan di sini selesai, Sekar berencana untuk berlibur dulu bu."
"Jaga kesehatanmu, kabari ibu jika kau kembali."
"Iya bu, pasti."
"Sekar.., Sena merindukanmu.." Ucapnya tiba - tiba.
Ku mencoba memahami pertanyaan ini. Jawaban apa yang harus ku berikan padanya. Seseorang yang ku panggil ibu saat ini, adalahnya ibunya Sena. Entah kenapa aku memutuskan untuk tetap berhubungan dengannya. Beliau sudah kuanggap seperti ibuku. Beliau satu - satunya yang setia mendengar ceritaku di sini. Beliau satu - satunya orang yang selalu peduli dengan kabarku.
Beliau tahu betul masalahku dengan Sena, dan selalu menjaga perasaanku ketika kami sedang berbicara. Entah sesuatu yang disengaja olehnya atau hanya kebetulan, kadang dalam ceritanya selalu terselip cerita Sena. Aku tak sengaja tahu tentang kabarnya dari ceritanya itu. Tapi aku tak pernah membahasnya lebih lanjut.
"Bu, Maaf.. Sekar engga berhak merindukannya."
"Kenapa?" Tanya seseorang yang datang tiba - tiba dan aku tercengang menatap orang itu sekarang. Seorang pria, pria yang sangat ku rindukan. Berdiri di hadapanku. Aku menurunkan handphoneku ke dadaku. Masih menatap tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku sekarang.
"Sena." Ucapku memanggil namanya.
"Kenapa kau di sini?"
"Menjemputmu pulang."
Mataku berkaca - kaca, aku ingin menangis mendengar ucapannya.
"Aku merindukanmu." Ucapnya sambil meraih pundakku dan memeluknya.
"Cukup.., kau seharusnya tak berkata seperti itu." Ucapku dan akupun terisak sambil melepaskan pelukkannya.
"Kenapa?, aku merindukanmu, aku mencintaimu Sekar."
Air mataku turun tiada henti saat ini. Aku menatapnya dan mencoba memahami perkataannya.
"Aku sungguh merindukanmu, saat itu aku mengejarmu ke bandara. Tapi kau sudah terlajur pergi. Kenapa kau pergi tanpa mengabariku?"
"Kau selalu menghubungi ibuku, tapi kau tak pernah menghubungiku."
"Aku sudah berjanji untuk meninggalkan kalian. Kalian berhak bahagia." Ku mencoba menjelaskan.
"Lalu bagaimana denganmu?, kau juga berhak untuk bahagia. Sella juga sudah bahagia bersama yang lain. Aku sudah tak bersama Sella lagi. Sejak malam itu kami memutuskan untuk berpisah."
Aku menatap dirinya sekarang. Fakta yang sungguh mengejutkan. Aku benar - benar telah menghancurkan hubungan mereka.
"Maaf.." Ucapku.
"Kau masih saja menjadi gadis bodoh yang ku kenal. Ini sudah setahun berlalu, kenapa masih harus menyembunyikan perasaanmu." Ucapnya.
"Sekar, aku sadar aku telah jatuh cinta sama kamu. Maaf aku telat menyadarinya. Kamu masih mencintaikukan?" Tanyanya.
"Aku.. aku.. aku mencintaimu, aku merindukanmu, aku tak pernah bisa melupakannya." Ucapku akhirnya.
Sena tersenyum saat itu, menyentuh lembut wajahku. Mencium bibirku perlahan. Aku larut dalam dekapannya. Hidup bahagia bersama dirinya hingga nanti.
-Selesai-
Semoga menikmati ceritanya😊, tinggalkan jejaknya.
terima kasih