Orang-orang pikir aku gila. Mereka pikir akulah yang berkata kasar pada guru dan polisi. Mereka pikir akulah yang mengayun pisau ke perutnya. Mereka pikir akulah yang membunuh Dera, si pelacur kelas. Padahal itu semua ulah kembaranku. Alibinya, karena ia terlalu kesal . Namun, sayangnya tak ada yang percaya padaku.
Selalu aku yang menanggung hukumannya. Orang-orang juga hanya menyebut namaku, Frawlene, dibanding Ammy, kembaranku. Termasuk ketika polisi menyeretku ke penjara mental. Dan sialnya, Ammy tak pernah mau membelaku.
Frawlene pembunuh.
Frawlene monster.
Hanya aku yang disalahkan. Selalu aku.
***
Genap tujuh bulan aku di sini. Tempat orang-orang sakit jiwa disisihkan. Tempat yang setiap harinya berulang begitu saja dengan cara yang sama dan membosankan.
“Tahanan 5027, ada yang ingin mengunjungimu.”
“Si Dokter Botak?” dengusku malas.
“Ya,” jawab petugas sipir itu sambil membuka sel dan memborgolku. Lantas membimbingku ke ruang serba putih yang sudah biasa kusambangi.
Membosankan. Dia pasti akan merecokiku tentang Dera lagi. Dan akan menertawaiku lagi.
Dibanding mengacuhkan dokter itu, aku malah lebih merindukan Ammy. Ammy memang menyebalkan dan temperamental. Meski begitu, dialah orang yang bisa menghibur. Lagipula, hanya Ammy yang mau mengunjungiku ke tempat ini. Omong-omong, hari ini adalah ulang tahunku dan Ammy. Dan satu-satunya hal yang kuinginkan hanyalah kembali ke rumah dan berkumpul bersama seluruh keluargaku.
“Bagaimana kabarmu, Fraws?”
Memutar mata, aku mendengus. Tanpa disuruh pantatku langsung mendarat di kursi di seberang meja. Matanya mengisyaratkan pada petugas untuk melepaskan borgolku.
“Kau mau tanya tentangnya lagi? Sudah kubilang, Ammy yang melakukannya. Bukan aku.”
“Mengapa kau tegang sekali? Hari ini ulang tahunmu, kan? Tanggal yang cantik, 11 bulan 11, hari kesukaanmu kan?” tanyanya sok ramah, “apa kau mau pulang ke rumah? Bertemu dengan saudara kembarmu, mungkin?”
Setengah mati aku benci senyum miringnya. Tanganku rasanya gatal dan aku mulai tak bisa mengontrol tanganku sendiri menggaruk pipi dan lenganku sendiri. Kuharap Ammy ada di sini dan membelaku.
“Ada apa, Frawlene? Apa kau baru ingat sesuatu tentang Dera? Atau Ammy lagi?” Satu alis Frans—si dokter botak—naik, “kau yakin Ammy benar-benar … ada?”
BRAKK!
Tanganku menggebrak meja. Mataku memicing tajam, penuh kebencian. Aku memang bukan orang yang mudah marah, tapi tetap saja aku tak bisa terus-menerus diremehkan.
“Apa ini?” Frans malah bertepuk tangan, “kau marah karena apa? Ammy yang tak pernah mengunjungimu? Atau Ammy yang memang tak ada?”
Kekesalanku sampai ke ubun-ubun. Dadaku kembang-kepis mengikuti napas yang menderu. Gigiku bergemeretak saking kuatnya eratanku. “Kau akan menyesal.”
“Apa Ammy akan kemari dan membunuhku? Dengan ini?” ejek Frans. Tangannya mengeluarkan sebilah pisau bedah yang disimpan kepolisian sebagai barang bukti kasus kematian Dera.
“Kau—”
“Ammy di sini,” potong seseorang. Suaranya dingin dan penuh tekanan. Sukses membuat kepala Frans mendongak kaget.
Dia datang, pikirku. Tersenyum miring, aku menyambutnya. Membiarkan saudari tercintaku mendekati Frans dan menggodanya. Lantas melumuri tangannya dengan noda merah dari pisau yang berhasil menikam paru-paru Frans.
Terbatuk hebat, Frans menarik pisaunya. Tersengal dalam napas terakhirnya, pria itu berkata, “Frawlene, hhh-kau-hh masih-hh-bisa … sembuh. Kau hanya perlu-hh—AARGH!”
Ammy menusuk jantungnya sekali. Dokter bodoh itu pantas mendapatkan ketenangannya. Seharusnya ia menyelesaikannya dari dulu sehingga aku takkan terganggu dengan celotehannya.
“Fraws, ayo pulang. Ayah, Ibu dan Ken pasti telah menunggu kita. Kita harus datang sebelum pukul 11.11 malan atau mereka akan kecewa. Kita sudah berjanji untuk merayakannya pada waktu kita lahir dulu. ”
Ammy berdiri. Tangannya mengoles jas putih Frans untuk membersihkan darah yang menempel. Membiarkan perutku mual sejenak setelah melihat genangan merah di lantai.
“Aku bisa ikut pulang?”
Ammy mengangguk. Bibirnya menyeringai pada kamera pengawas di sudut ruangan. “Asalkan kau percaya padaku.”
***
“Aku pulang!” teriakku senang sambil melepas sepatu dan jaket beludru yang berhasil kuambil dari loker perawat.
“Kakak?” Kepala Ken, adikku, menyembul. Matanya menatapku terkejut dan … takut?
“Kau takut padaku?”
Ken mengangguk. Jarinya menunjuk kemeja pasienku yang penuh dengan noda merah. Mungkin, hidungnya juga bisa mencium bau anyir dari tubuhku.
“Kenapa Kakak pulang?” tanyanya sungkan. Suaranya bergetar dan tenggorokannya tampak sulit menelan ludah.
“Ini hari ulang tahun kami.” Ammy mengambil alih pembicaraan, “apa Ayah dan Ibu sedang menyiapkan kue tart kami? Ini sweet seventeen kami. Mereka tidak lupa, kan?” sambungku sambil memicingkan mata, mengikuti gaya Ammy.
“Ibu … Ibu masih menjaga toko. Aku akan menyusul dan mengingatkan Ibu untuk membawa kue tart dan hadiahmu,” sahut Ken susah payah. Tanpa pamit ia langsung menerobos melewatiku dan berlari ke luar rumah.
Dasar Ken. Bocah itu sama sekali tak berubah. Tak ada takutnya dan selalu seenaknya sendiri. Ia bahkan tak peduli bila malam dan gerimis datang saat ia menyusul Ibu ke toko tempatnya bekerja.
“Ken …? Siapa yang datang? Uhuk-uhuk.”
Ayah!
Bibirku melengkung. Bergegas aku masuk dan mencari Ayah. Biasanya pada jam-jam ini Ayah hanya berbaring di kasurnya. Ayah memang sakit-sakitan sejak Ken lahir. Entah apa yang membuatnya jadi seperti itu.
“Ayah? Apa kau butuh sesuatu?” tanyaku riang. Kakiku memasuki kamarnya lantas memamerkan ekspresi paling bahagiaku.
Ayah menoleh dan tampak kaget. “Kenapa … kenapa kau bisa ada di sini?”
“Ini hari ulang tahunku dan Ammy. Apa aku tidak boleh pulang? Apa kau membenciku? Apa kau lupa hari bahagia ini?” sambarku cepat. Ayah membuang mukanya. Kentara sekali ia tak mau melihatku. Namun, dalam ingatku, mungkin saja ini satu dari seribu trik kejutan yang pernah Ayah berikan padaku saat ulang tahun. “Aku akan membawakan teh hangat untukmu,” putusku dengan kepala dingin.
Aku terkikik. Memberitahu Ammy kemungkinan rencana Ayah. Lantas berkutat dengan gula dan teh.
“Hei, Fraws,” bisik Ammy, “mengapa kita tidak ganti mengerjai Ayah? Kita main dokter-dokteran. Kita masukkan ini dan buat Ayah tenang.” Tangannya mengeluarkan sebungkus cairan yang tak kutahu apa. Setuju saja, kuaduk rata cairan bening bersama teh Ayah. Kusajikan dan kuminta Ayah untuk cepat-cepat meminumnya selagi hangat.
Separuh cangkir kosong. Tiba-tiba, mulut Ayah berbusa. Tubuhnya kejang-kejang. Aku dan Ammy menyelinap keluar dan tertawa keras-keras. Ayah benar-benar hebat menjalankan rencananya. Sekali lagi kuintip pintu kamar Ayah dan kudapati Ayah sudah tidur nyenyak.
“Frawlene, bagaimana kalau kita siapkan kejutan juga untuk Ibu dan Ken?”
“Boleh. Kejutan apa?”
***
Dua puluh menit kemudian, knop pintu didorong, menggerakkan tali yang menahan botol. Botol jatuh menimpa stop kontak dan memantapkan colokan blender. Di sisi lain, kelereng ukuran besar menggelinding dan menggulirkan tombol on. Blender berputar cepat dan pisau blender yang telah dilonggarkan skrupnya melompat keluar dan tepat memotong nadi di leher Ibu. Membuat darah segar Ibu seketika menciprat dan mengenai sebagian wajah Ken.
Ken memaku. Matanya membelalak melihat ibunya merenggang nyawa di hadapannya tepat saat akan melangkah masuk. Tangannya refleks menjatuhkan kue tart yang dibawanya dalam kardus.
“Kejutaaaannn!” teriakku riang. Segera kumatikan saklar listrik dan menyongsong ke arah adikku. Tanganku spontan mengambil kardus yang tak sengaja ia jatuhkan. Lantas mengajak adikku untuk masuk dan bersantai di sofa tempat Ayah duduk dengan mulut berbusa.
Memekik senang kubuka tutup kotak dan melihat kue tart yang tak terlalu utuh. Sedetik, dahiku mengernyit. Ini ulang tahunku dan Ammy, kan? Mengapa hanya ada namaku?
“Kau yang memesan kue ini?” tanyaku tajam pada Ken. Bocah manis itu hanya mengangguk takut. Ya ampun, ada apa dengan bocah ini? Apa karena aku lupa membawa ibunya masuk?
Kutepuk dahiku pelan. Mengisyaratkan Ken untuk tetap diam di tempat sementara aku memindah Ibu ke sofa kosong di sebelahnya.
“Kak … sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?” tanya Ken.
“Apa lagi? Aku hanya merayakan ulang tahun terbaikku bersamamu, Ayah, Ibu, dan Ammy. Tanggal 11 bulan 11. Seharusnya kita merayakannya pada pukul 11.11 malam. Coba kita lihat pukul berapa sekarang?” celotehku sambil melirik jam di pergelangan tanganku. Angka digitalnya tepat menunjukkan empat angka satu yang berjejer. “Ah! Ternyata pas sekali. By the way, nama Ammy lupa kau tulis di kue ini. Ken, bisa tolong aku colekkan darah Ibu dengan telunjukmu? Tak ada pewarna lain yang sewarna dengan namanya di sini.”
Ragu, jemari Ken yang bergetar menyentuh genangan di leher ibunya. Merasa jijik sekaligus penasaran dengan bau anyir darah.
“Kak Fraws, perutku mual.”
“Sst.” Ammy mengambil kendaliku. Memeluk Ken dan menuntun bocah laki-laki itu menuliskan namanya sembari berbisik, “It’s not only about Fraws, but also Ammy. It’s just about our birthday. So, you better join us or die."
Ken-ku sayang, pikirku kasihan. Aku hanya bisa menatap sayu pada bayanganku yang memeluk Ken di cermin sambil menyeringai. Juga sebuah kue tart yang berantakan dengan coretan krim dan darah: Happy Birthday Frawlene-Ammy.
Oh, by the way, yang dicermin itu Ammy.
_::TAMAT::_