Setelah mengobrol panjang lebar akhirnya Atasya bisa keluar dari kantor polisi dan membawa Hannan pulang, pria yang sebenarnya tidak berbeda jauh usianya dengan Atasya ini memang kerap membuat masalah.
Hari ini polisi menangkapnya karena Hannan terlibat tawuran yang terjadi tadi sore di belakang pabrik yang sudah lama tidak beroperasi, dia ketahuan membawa senjata tajam guna melawan musuh-musuhnya namun selang beberapa waktu tawuran berlangsung sirene yang terdengar membubarkan kericuhan yang ada secara paksa dan Hannan menjadi salah satu mahasiswa yang berhasil diamankan, untungnya tidak ada luka serius yang dialami Hannan.
Atasya berjalan lebih dulu di depan Hannan, dia tidak mengatakan apapun pada Hannan karena Atasya memang dikenal sebagai gadis yang dingin nan cuek, berbanding terbalik dengan Hannan yang memiliki kepribadian hangat dan ceria.
"Sya!" Seru Hannan.
Atasya tidak menoleh, dia terus berjalan tanpa menghiraukan Hannan. Ini bukan kali pertama dirinya harus turun tangan menyelesaikan masalah yang ditimbulkan Hannan.
"Atasya!"
Hannan menarik tangan Atasya hingga hampir tak ada jarak diantara keduanya, Atasya hanya menampilkan raut wajah rumit dan tidak bisa dibaca.
"Sorry, gua ngga akan terlibat masalah lagi. Ini yang terakhir"
Meski tidak ada suara yang keluar dari mulut Atasya tapi wajah datar yang ditampilkan Atasya mampu membuat nyali Hannan menciut, sebenarnya sudah beberapa kali Hannan mengumbar janji yang sama tapi hanya bertahan beberapa hari saja. Sepertinya dia memang tidak terbiasa menjalani kehidupan yang damai.
"Lakuin apapun yang lo mau" jawabnya dingin.
Atasya kembali melanjutkan langkahnya tapi tidak dengan Hannan, pria yang 3 tahun lebih muda dari Atasya ini terlihat sangat kecewa atas sikap acuh tak acuh Atasya.
Hannan berlari kecil kemudian untuk yang kedua kalinya dia menarik tangan Atasya tapi kali ini genggaman nya lebih erat dari yang pertama.
"Lo ngga marah? Sama sekali?" Tanya Hannan dengan pandangan menyelidik.
"Kenapa harus marah? Itu hidup lo, lo yang harusnya pegang kendali"
"Tapi—"
"Lo bisa lakuin apapun yang lo mau, lakuin semua yang belum pernah lo lakuin, jangan sampai menyesal di kemudian hari"
Hannan terpaku mendengar kalimat Atasya, sebelumnya tidak pernah ada orang yang mengatakan hal seperti ini padanya bahkan Aldrian yang berperan sebagai ayah di hidupnya saja bersikap begitu tidak peduli padanya.
...
...
Setelah berhasil membawa Hannan keluar dari kantor polisi, Atasya sekarang tengah bersiap akan pergi ke suatu tempat bersama teman-temannya tapi suara pria paruh baya menghentikan langkahnya.
"Saya mau pergi keluar dengan teman-teman"
"Ini sudah larut"
"Tapi mereka sudah tiba disini, saya harus pergi"
Tanpa mengindahkan perkataan Aldrian Atasya berlalu meninggalkan ayah angkatnya yang masih terpaku di tempatnya, Aldrian sendiri tidak bisa berbuat banyak dengan sikap Atasya yang dingin padanya.
Ya, Aldrian mengadopsi Atasya saat gadis itu masih berusia 9 tahun namun gadis kecil yang sekarang sudah tumbuh dewasa berkat asuhannya itu masih saja bersikap dingin padanya. Atasya masih bersikap seolah Aldrian hanyalah orang asing di matanya, selain sikapnya yang dingin, Atasya juga masih menggunakan bahasa formal setiap kali berbicara dengannya seperti menegaskan jarak hubungan diantaranya.
...
...
Di sebuah kasino paling terkenal di ibu kota, Atasya sedang bermain dengan teman-temannya disana ditemani beberapa botol minuman favoritnya.
Disaat teman-teman yang lain sedang asyik bermain biliar, Atasya justru sibuk dengan paket-paket yang baru saja datang.
Dia membongkar satu persatu kardus yang baru saja dibawa oleh anak buahnya dan tak lama kemudian sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.
Tangan Atasya meraih sebuah pistol dari salah satu boks, kemudian mencoba mengutak-atik nya dan setelah puas dengan benda yang sudah lama di nantinya itu, Atasya lekas memasukkan beberapa peluru ke dalamnya.
"Gokil!" Seru salah satu temannya yang beralih memperhatikan Atasya.
"Lo yakin, Sya?" Tanya seorang pria yang masih memegang stik biliar bernama Juan.
Atasya hanya mengangkat senjata di tangannya itu kemudian menutup sebelah matanya seolah telah siap melayangkan satu pelurunya pada salah satu target namun jari telunjuk yang masih menempel di pelatuk pistol tersebut masih menahan peluru tersebut agar tidak keluar sebelum waktunya.
"Keren!" Seru Atasya.
Beberapa temannya yang berdiri di depannya bergidik ngeri melihat tingkah gila Atasya. Wanita ini tidak hanya dingin namun juga kejam, siapapun yang tidak mengenalinya pasti akan berpikir bahwa Atasya hanyalah seorang gadis pendiam yang lemah namun pada kenyataannya jauh dari kata itu.
"Dari mana lo dapet uang sebanyak itu?" Tanya Juan.
Harga senjata api memang bukan main apa lagi jika kita membelinya dari pasar gelap, biasanya hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya. Jika tidak pejabat tinggi atau pengusaha terkenal, pilihan terakhir adalah mafia.
"Lo lupa? Sumber duit gua bejibun"
...
...
Disaat pagi tiba, Hannan berserta kedua orang tuanya sudah berada di tempat masing-masing untuk sarapan bersama, hanya Atasya yang masih belum keluar dari kamarnya.
"Dimana Atasya?" Tanya Aldrian pada salah satu pelayan.
"Nona masih ada di kamarnya, katanya kurang enak badan"
"Atasya sakit, bi?" Tanya Hannan panik.
"Sepertinya begitu"
Hannan beranjak dari duduknya dengan cepat sementara wanita paruh baya yang sejak tadi duduk di sebelahnya hanya memperhatikan tingkah kedua pria di hadapannya ini, sejujurnya dia tidak suka mereka berdua bersikap begitu peduli pada Atasya. Tapi apa daya? Untuk mengeluarkan sepatah kata saja dia tidak berani.
"Bawakan saja sarapannya ke kamar dan biarkan dia beristirahat"
"Baik, tuan"
Via, nama wanita yang duduk di hadapan Aldrian, dia hanya bisa diam menelan semuanya agar tidak ada keributan yang terjadi. Dia sudah lelah harus meributkan hal yang sama berulang kali maka dari itu sekarang Via hanya akan mengambil jalan tengah saja, mencoba mengabaikannya dan bersikap tidak peduli. Sebisa mungkin untuk tidak terlibat dengan anak angkatnya itu.
"Bawa dia ke dokter jika siang ini masih belum membaik" perintah Aldrian.
Tanpa menunggu respon dari Via, Aldrian meraih jas nya kemudian pergi.
Pernikahan Aldrian dan Via memang tidak didasari rasa cinta, keduanya terpaksa menikah karena pernikahan bisnis yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak keluarga maka dari itu Aldrian kerap kali bersikap dingin baik pada Via maupun pada Hannan. Jiwa keayahan nya hanya dia berikan dan perlihatkan pada Atasya seorang, Aldrian begitu menyayangi putri angkatnya itu karena dia sangat menginginkan seorang putri sejak dulu namun hubungannya dengan Atasya masih belum terjalin dengan baik hingga kini.
...
...
Atasya tidak menyadari kedatangan Hannan yang sejak tadi duduk di samping ranjang nya, Hannan terlihat sangat cemas melihat Atasya yang terus bergerak dalam tidurnya, dia sepertinya tidak nyaman dengan posisi tidurnya dan mulutnya tidak berhenti merintih.
"Lo menggigil?" Tanya Hannan.
Atasya mengangguk cepat, walaupun sudah memakai selimut tebal tapi tubuhnya masih merasa kedinginan.
Hannan mengambil selimut dari kamarnya lalu menyelimuti tubuh Atasya dengan selimut miliknya tapi sepertinya itu tidak cukup membantu.
"Setelah liat lo sakit kaya gini, gua baru bisa percaya ternyata lo juga beneran manusia" tuturnya.
Hannan naik ke atas ranjang kemudian memeluk Atasya erat dengan harapan tindakannya ini bisa membantu Atasya mengusir rasa dingin yang dirasakan tubuhnya, Hannan bisa merasakan berapa banyak keringat yang keluar dari tubuh Atasya saat ini.
"Kita ke rumah sakit, ya?" Tawar Hannan.
Atasya menggeleng, dia tidak suka rumah sakit. Satu-satunya yang tersisa dari rumah sakit hanyalah kenangan buruk yang selama ini membekas dalam ingatannya.
...
...
Saat tiba di perusahaan, Aldrian langsung disibukkan dengan beberapa masalah yang datang menyerang keuangannya. Sang asisten yang tiba lebih dulu darinya mengatakan bahwa dana yang akan mereka gunakan untuk memperebutkan proyek besar hilang tak bersisa, dia sudah mengerahkan para IT terbaiknya namun masih belum bisa menemukan petunjuk.
"Kita tidak punya waktu banyak, tuan. Jika lusa kita kalah tender maka kemungkinan besar saham kita akan turun dan perusahaan akan berada di ambang kebangkrutan"
Aldrian masih sibuk memandang layar komputernya tanpa memberikan respon berarti pada sang asisten yang menjelaskan tentang keadaan perusahaannya dengan panjang lebar.
"Minta Davin untuk menghadap saya"
"Baik, tuan"
Baru saja dirinya mengambil langkah pertama, Akshal memutar badan dan kembali menghadap bosnya.
"Apa sebaiknya kita meminta bantuan Nona Atasya saja, tuan?" Usulnya.
"Atasya sedang tidak sehat hari ini"
Usulan sang asisten kembali mengingatkan Aldrian saat pertama kali Atasya bergabung dengan perusahaan tepat saat gadis kecilnya itu menyelesaikan studinya, Atasya yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata mampu menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 2,5 tahun saja.
...
...
"Di mana Hannan?"
Via begitu heboh mencari Hannan di rumahnya, tadi pagi Hannan mengatakan tidak akan pergi kuliah hari ini karena ingin menjaga Atasya namun saat pergi ke kamar Atasya, kedua anak itu tidak ada disana.
"Nona dan tuan muda ada di halaman belakang, nyonya"
Via bergegas berlari ke halaman belakang tanpa berpikir panjang lagi, dengan raut cemas dibuntuti perasaan takut.
"Hannan!" Panggil nya.
Hannan yang sedang bersantai sambil memainkan gitarnya seketika menoleh pada sumber suara, ibunya terlihat panik dan tidak baik-baik saja.
"Ada apa, ma?"
"Ganti baju, kita ke rumah paman sekarang"
"Terus Atasya gimana?"
Via menatap Atasya yang masih pucat dan lemas, dia lupa bahwa dirinya mendapat perintah dari Aldrian untuk membawa anak angkatnya itu ke dokter.
"Kamu juga bersiap, setelah dari rumah paman kita pergi ke dokter"
"Tidak perlu, nyonya. Kalian pergi saja"
"Tapi—"
"Udah sana, pergi"
"Kalau ada apa-apa telepon gua, ya"
Hannan pergi setelah Atasya mengiyakan nya, walaupun dengan sedikit enggan Hannan akhirnya pergi bersama ibunya ke rumah pamannya.
Belum tahu pasti kejadian buruk apa yang telah terjadi disana, Via merasa cemas karena diiringi suara tangis kalimat yang dikatakan kakak iparnya itu tidak terdengar dengan jelas.
"Sebenarnya ada, ma?"
"Mama juga ngga tau, tadi bibi kamu cuma bilang paman pingsan"
"Cuma pingsan, kan?"
Hannan tidak mengerti kenapa ibunya itu bertindak begitu heboh padahal pingsan adalah hal yang lumrah, mungkin pamannya hanya merasa kelelahan setelah bekerja keras di kantor mengingat dia adalah seorang gila kerja.
Tak berapa lama akhirnya mobil yang mereka tumpangi pun berhenti, Via lekas menarik Hannan agar mengikutinya masuk ke dalam.
"Via, akhirnya kamu datang"
"Ada apa, kak?"
Matanya yang sembab jelas memberitahu Via bahwa dirinya telah menangis dalam waktu yang lama namun alih-alih menjawab pertanyaan yang diajukan Via, sang kakak ipar justru dengan cepat menarik tangan Via dan membawanya ke kamar.
Via sangat terkejut melihat betapa berantakan nya kamar tersebut, dia juga mendengar suara seorang pria dari sebuah ruangan lain yang terus berteriak tidak jelas.
Hannan pun tidak kalah terkejut dengan apa yang dilihatnya, dia benar-benar merasa tegang sekaligus takut. Teror tulisan memakai darah serta beberapa pesan yang dilempar memakai batu lewat jendela, hanya pernah dia lihat dalam adegan film saja. Tidak disangka bahwa dirinya akan melihat semua itu di dunia nyata.
"Biasanya ini sebuah pertanda seseorang ingin membalas dendam pada paman dan bibi" tutur Hannan.
"Kamu ngomong apa sih, Hannan? Orang tua lagi bingung gini juga malah bercanda"
"Hannan ngga bercanda, ma. Biasanya teror kaya gini tuh dilakuin sama orang yang merasa tersinggung atas sikap atau perkataan paman dan bibi" jelasnya.
...
...
Setelah rumah kosong, Atasya lekas mulai menjelajahi rumah besar tersebut meski dengan kepala yang masih terasa sedikit pusing. Atasya ingat di halaman belakang rumah ini ada sebuah bangunan kecil yang mungkin saja sengaja di bangun, dia belum pernah pergi kesana dan itu membuatnya kian penasaran saat Via melarangnya dengan keras untuk tidak datang kesana.
Untungnya Atasya telah mengambil kunci cadangan yang disimpan di kamar Via karena dia sudah menduga bahwa Via akan mengunci tempat ini agar tidak ada orang yang bisa masuk kesini dan saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Atasya dengan pemandangan yang ada di depannya saat ini.
Seorang wanita dengan rambut panjang dihiasi wajah pucat sedang duduk lemah di atas ranjang dengan tangan yang di rantai juga kakinya yang di pasung, Atasya berlari ke arahnya dengan air mata yang tumpah.
"Mama!" Teriaknya.
Rasa rindu itu akhirnya bisa ia salurkan dengan baik meski bukan di keadaan seperti yang diharapkan.
"Mama, Atasya sangat rindu"
Tidak ada respon apapun dari berbagai kalimat yang Atasya ucapkan padanya, Atasya baru menyadari tatapan ibunya yang kosong saat dia mengangkat kepalanya.
"Biadab!" Murka nya.
Atasya lekas meraih ponselnya kemudian menelepon seseorang untuk datang kemari membantunya, dia ingin menyelamatkan ibunya yang mungkin sudah terkurung disini dalam waktu yang lama.
"Bertahanlah, mama"
...
...
Sementara Aldrian yang masih sibuk mengurus perusahaan mendapatkan kabar buruk tentang kakaknya yang sampai sekarang masih belum bisa berhenti berteriak histeris, sekarang dirinya berada dalam dilema besar. Antara pergi melihat keadaan kakaknya atau berusaha mencari jalan keluar dari kebangkrutan yang siap menghampirinya kapan saja.
"Tinggallah disini, Akshal. Saya akan segera kembali"
Akhirnya Aldrian tidak punya pilihan lain selain meninggalkan perusahaan, rasa cemas nya ternyata lebih besar dibanding keinginannya bertahan disini.
"Baik, tuan"
Setelah Aldrian pergi, Akshal tiba-tiba saja berjalan cepat menuju ruang keamanan untuk memeriksa rekaman perusahaan.
"Coba di menit 35" tuturnya.
Di saat pihak keamanan sibuk, Akshal dengan cekatan menekan tombol yang membuat sirene perusahaan berbunyi. Sontak itu membuat seluruh karyawan yang ada di perusahaan panik dan berhamburan berlari keluar guna melarikan diri, kecuali Akshal. Pria yang diperkirakan berusia awal 30 tahunan itu masih berada di perusahaan.
Disaat seluruh pegawai kantor panik, ponsel Akshal bergetar dan nama Zayn tertera disana sebagai identitas penelepon.
"Sudah waktunya" ucap Akshal.
"Siap, meluncur!" Jawabnya singkat.
...
...
Dan Atasya disini masih dengan kesedihannya yang meluap, melihat bagaimana keadaan ibunya yang jauh dari kata baik. Atasya tiada hentinya mengumpat dengan tatapan yang membunuh, dia bersumpah akan membalas perbuatan orang yang berani mengusik orang-orang berharganya.
"Misinya berhasil" tutur Juan yang baru saja selesai menerima panggilan.
"Bagus!"
Kini giliran dirinya yang akan beraksi, Atasya menyelipkan pisau belati nya di kaki kanannya lalu mengambil beberapa kotak mesiu agar pistol nya bisa digunakan.
"Tolong jaga nyokap gua disini"
"Mending gua aja yang maju"
Juan benar-benar khawatir dengan Atasya, dia khawatir temannya ini akan bertindak gegabah meski dia sendiri tahu Atasya telah merancang semua rencananya dengan sangat baik tanpa cacat sedikit pun tapi tetap saja, rasa khawatir itu ada dan Juan takut kehilangan Atasya.
"Gua pastiin semuanya akan beres dalam waktu satu jam"
"Jangan sampai terluka, ya. Jaga diri baik-baik"
Dengan berat hati akhirnya Juan membiarkan Atasya pergi untuk menyelesaikan misi terakhirnya, pria itu mencium kening dan memeluknya dengan erat sebelum benar-benar melepaskan Atasya.
...
...
Hannan sudah tertidur di sofa karena dia terlalu lelah mendengar suara jeritan sang paman ditemani Via sementara istrinya Arya masih berada di kamar bersama Aldrian, mencoba membujuk Arya agar keluar dari kamar mandi.
"Arya!"
Entah sudah berapa kali Aldrian memanggil nama kakaknya, namun panggilan yang sekarang sama sekali tidak ada respon. Suara jeritan sang kakak sudah tidak terdengar lagi dan itu justru membuat Aldrian tambah panik, dia tidak melakukan hal konyol, kan?
"Arya, bukan pintunya!"
Aldrian akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu kamar mandi, dia sudah kehabisan akal sekaligus kesabaran. Umurnya yang sudah tidak muda lagi membuat dirinya mudah lelah bahkan hanya untuk berdiri selama 10 menit saja.
Saat pintu kamar mandi terbuka terlihat disana pria yang hanya 2 tahun lebih tua darinya terbaring tidak sadarkan diri, ketika Aldrian akan melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi, suara tembakan terdengar begitu keras dan kaca kamar tiba-tiba saja pecah.
"Apa itu?"
Aldrian memicingkan matanya dan dia dapat melihat seorang wanita masuk melalui jendela dengan senjata di tangannya, tawanya yang menggema membuat Evelyn yang masih berdiri disana sejak tadi siang ketakutan.
Dia berlari meninggalkan Aldrian disana sendirian, sementara gadis kecil yang baru tiba itu masuk melalui jendela dengan tenang mulai memangkas jaraknya dengan Aldrian.
"Atasya!"
"Ya, ini saya, tuan"
Atasya berjalan dengan menodongkan pistol nya ke arah kening Aldrian, jarak mereka tidak terlalu dekat namun tidak terlalu jauh juga hingga Aldrian bisa melihat bagaimana ekspresi yang ada di wajah di Atasya saat ini.
"Apa yang kamu lakukan, nak? Turunkan senjata mu, itu berbahaya"
Kalimat Aldrian malah membuat tawa Atasya semakin renyah saja, dia sangat puas menyaksikan wajah ketakutan milik Aldrian. Wajah yang didambakan oleh Atasya selama belasan tahun lamanya.
Awalnya Atasya hanya berniat menghancurkan perusahaannya saja dan membuat Aldrian hidup menderita sebagai bentuk balas dendam nya atas kematian sang ayah namun saat dirinya menemukan sosok ibu yang selama ini dia kira sudah meninggal, Atasya berubah pikiran.
DOR!
Atasya melepaskan satu peluru yang melayang tepat di samping telinga kanan Aldrian dan suara peluru itu mengundang Via yang sejak tadi di tahan oleh Evelyn agar tidak menghampiri situasi berbahaya tersebut.
"Atasya!" Teriaknya dengan tubuh bergetar.
"Berikan aku alasan kenapa kamu masih pantas hidup setelah membunuh ayahku dan menyekap ibuku selama belasan tahun"
Atasya mulai mengambil langkah demi langkah hingga jarak mereka kini hanya terpaut 2 meter saja sementara Aldrian yang sudah ketakutan setengah mati tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.
"Ucapkan selama tinggal pada dunia"
"Dia ayah mu, Atasya!" Teriak Via.
Namun sayangnya, teriakan Via tidak lebih cepat dari jari Atasya yang menekan pelatuk guna mengeluarkan peluru yang ada di dalam pistol tersebut.
Dengan air mata yang mengalir Atasya mengakhiri misinya, dia tersenyum getir mendengar pernyataan dari Via. Sulit dipercaya bahwa orang yang selama ini dibenci nya adalah ayah kandungnya.
"Maaf, Tasya. Ini semua karena aku..."
Akhirnya Via tidak bisa menutupi kenyataan yang sudah dia simpan selama beberapa dekade ke belakang.
Dia mengatakan semuanya pada Atasya tanpa ada yang dilebih-lebihkan sedikit pun, Via mengakui bahwa dirinya yang mencoba merebut Aldrian dari ibunya dengan berbagai cara namun Aldrian tidak mudah di goyahkan hingga akhirnya Via meminta bantuan pada ayahnya, dengan perjanjian bisnis yang mereka tawarkan akhirnya Aldrian berhasil dia miliki.
Meski Via sudah berhasil mendapatkan Aldrian tapi dia tetap gagal mendapatkan hatinya, Aldrian terus bersikap dingin dan menjaga jarak darinya walaupun Via berhasil memberikan dirinya seorang putra.
Sikap Aldrian semakin menjadi saja saat dirinya mendapati kabar bahwa kekasih yang selalu dicintainya itu akan segera menikahi pria lain setelah anak mereka lahir dan anak yang lahir itu adalah Atasya, benih yang sempat tertanam di rahim ibunya sebelum mereka berpisah.
Sebulan setelah pernikahan mereka, Samuel yang diketahui pria yang menikahi Sara itu, memutuskan untuk membawa mereka tinggal di kampung halamannya dan itu membuat Aldrian kehilangan jejak. Mereka lepas dari pengawasannya selama beberapa tahun dan setelah kembali mendapatkan petunjuk, Aldrian dengan dendam yang tumbuh didalam dirinya mencoba membangun kekuatan untuk melenyapkan pria yang telah mengambil kekasih hatinya lalu membawa pergi putri yang selama ini dirindukan nya.
"Maafkan aku, Atasya!"
Aldrian membunuh semua orang yang ada di rumah Atasya secara membabi buta termasuk ayahnya, dia kemudian kembali ke negaranya setelah berhasil membawa pulang Sara dan putrinya.
"Aku... aku yang mengurung ibumu di gudang karena dia terus berteriak seperti orang gila, dia juga terus mengamuk dan menyakiti orang-orang—"
DOR!
Tubuh Via bergetar sangat hebat akibat rasa takut yang begitu besar, ini adalah kali pertama baginya melihat sisi lain dari seorang Atasya.
"Mama!"
Hannan yang sejak tadi berdiri di belakang ibunya mendengarkan semua pengakuan itu, dia tidak percaya bahwa ibunya yang dikenal lemah lembut itu akan berani mengambil tindakan nekat.
"Maaf..." hanya itu yang bisa dia katakan saat ini.
"Ayah, bodoh! Kau bisa menghimpun banyak kekuatan untuk membunuh ayah Sam tapi tidak bisa mengambil rencana untuk melarikan diri dan hidup bersama kita? Kenapa ayah harus membuat hidupku menjadi begitu sulit?"
Tangis Atasya pecah mengetahui semua fakta setelah misi yang dilakukannya berhasil terealisasikan dengan baik, kenyataan yang tidak pernah dia bayangkan. Dirinya memang sangat mendambakan sosok ayah serta kasih sayang dan itu bisa dia dapatkan dari Aldrian hanya saja perasaan benci yang tumbuh di dalam dirinya menepis semua itu, menolak perlakuan baik dari Aldrian.
"Maafkan aku, ayah!"
...
...
Sebulan sudah sejak kejadian tersebut, Via yang merasa bersalah atas semua kejadian tersebut memutuskan untuk menyerahkan diri dan menggantikan posisi Atasya. Dia tidak bisa membiarkan Atasya tinggal didalam bui yang dingin setelah penderitaan panjang yang harus dia lalui sendirian dan Akshal juga harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
Didepan sepupunya Atasya menggertakkan deretan gigi putihnya, merasa menyesalkan semua perbuatannya.
"Ga apa-apa, Sya. Gua ngelakuin semua ini buat lo, gua senang akhirnya bibi bisa bertemu putrinya lagi" tutur Akshal.
Atasya tidak bisa menahan air matanya lagi, dulu dia memang sengaja meminta bantuan Akshal untuk memantau pergerakan Aldrian dan pria berusia 30 tahun ini akhirnya berhasil mendapatkan posisi sekretaris perusahaan ayahnya itu dengan waktu yang singkat.
"Tapi pria brengsek itu nyatanya bokap kandung gua"
"Dunia memang kecil, ya" tuturnya diiringi senyum getir.
Akshal sangat menyayangi Atasya layaknya adik kandungnya sendiri, dia rela melakukan apa saja demi Atasya karena dirinya sendiri harus rela tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ibu, itu sebabnya Akshal selalu memberikan yang terbaik untuk Atasya. Dia tidak ingin Atasya menderita seperti dirinya dulu.
...
...
Setelah selesai mengunjungi Akshal, Atasya berjanji akan menemui Hannan di sebuah taman hiburan, entah apa yang akan dia lakukan disana, Atasya juga tidak tahu.
"Ngapain sih kita kesini?" Tanya Atasya.
"Lo bilang gua boleh ngelakuin apapun yang belum pernah gua lakuin"
"Terus?"
Atasya memperhatikan taman hiburan yang ramai pengunjung lalu dalam seketika Atasya membuka mulutnya lebar.
"Lo mau kita masuk kesana?" Tanya Atasya tak percaya.
"Bukan cuma masuk tapi kita juga bakal main semua permainan yang ada disini"
Atasya terdiam sejenak, dia tahu betul bagaimana Hannan tumbuh. Meski dia memiliki keluarga yang lengkap tapi Hannan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah dan kedua orang tuanya kerap kali lebih sibuk dengan urusan masing-masing, walaupun Via selalu mencoba menyempatkan agar bisa menghabiskan waktu dengan Hannan tapi itu tidak banyak, hubungan Hannan dan ibunya juga tidak bisa dikatakan baik.
Sepanjang kegiatannya menaiki semua wahana permainan yang sama sekali belum pernah mereka coba, Atasya tidak bisa berhenti memperhatikan Hannan. Pria itu terlihat lebih bahagia dari sebelumnya, tawanya terlihat sangat lepas.
"Hahaha... gila, seru banget. Bisa-bisanya ada orang nangis naik ginian" tutur Hannan.
"Pulang, yuk! Udah sore"
"Tapi kita belum naik semuanya"
"Kita bisa datang lagi nanti" tutur Atasya.
"Mm... oke" jawabnya dengan sedikit enggan.
"Good boy!" Tuturnya seraya mengusap kepala Hannan lembut.
Hannan terpaku melihat tindakan Atasya yang begitu hangat padanya, akhir-akhir ini Atasya memang bersikap lebih seperti kakak pada adiknya. Dia tidak lagi dingin dan terus memberinya perhatian lebih namun...
"Sayang!"
Namun sikap hangat yang Atasya berikan tidak akan pernah lebih dari seorang kakak karena ada darah yang sama mengalir di tubuh mereka terlebih lagi saingan cintanya adalah Juan, Hannan merasa kalah jauh darinya.
"Seru ngga mainnya?" Tanya Juan.
"Kamu tahu? Dia benar-benar ngga mau pulang sebelum kita coba semua permainan yang ada disini"
"Oh, ya? Berapa banyak permainan lagi?"
"Ga banyak sih, tinggal beberapa lagi tapi aku udah capek"
"Masih mau lanjut?" Tanya Juan yang beralih pada Hannan.
Hannan yang masih bersemangat dengan cepat mengangguk, dia memang masih belum mau pulang.
"Biar gua yang temenin, ya"
Juan meraih tangan Hannan, dia merasa ada ketulusan dalam genggaman Juan hingga membuat dirinya merasa nyaman. Dia pikir Juan bukanlah saingan cintanya.
Di sisi Juan, Hannan menjelma menjadi seorang anak kecil yang manja. Dia melakukan semua yang belum pernah dia lakukan sebelumnya bersama Juan, dia benar-benar merasa menjadi dirinya sendiri saat ini. Untuk pertama kalinya.