(1)
*Happy Reading*
Langkah kaki nampak semakin mendekat ke arah kumpulan orang yg berdesakan di depan sana, sayub-sayub terdengar rengekan orang yg ia tarik di belakangnya meminta nya berhenti namun tak sekalipun ia hiraukan.
"Lan! Jangan ke situ ahh! Itu tempat senior lo mau kena semprot?!" Gadis berkepang itu terus menarik lengannya, mencoba melepaskan nya dari cekalan temannya.
"Diem dulu Tan" Akhirnya dengan wajah memelas gadis yg di tarik hanya menurut dan diam, melangkah perlahan mengikuti temannya.
"Anak kelas berapa sih? Berani banget duduk di depan"
"Nggak tau sopan santun banget jadi adkel"
"Pasti cuma mau caper ke cowok-cowok, gatel banget"
Dan masih banyak lagi cibiran yg Lani dengar dari sekelilingnya, tak heran ia mengambil tempat duduk di bangku depan yg sebenarnya sudah di klaim khusus untuk kelas 12.
Namun gadis bernama Lanina Anastasya itu hanya acuh terhadap sekitar, ia kemari untuk menyaksikan pertandingan basket yg sudah ia tunggu-tunggu bukan untuk beradu mulut dengan kakak kelas.
Berbeda dengan Lani yg acuh sang teman justru nampak tak tenang di duduknya, Tania Amorta atau yg akrab di panggil Tania itu ingin sekali memukul wajah sok berani sang teman yg sayangnya memang benar berani, ia paling anti berurusan dengan kakak kelas dan sekarang dengan enteng nya Lani menyeretnya ikut terlibat.
"Lan ke belakang aja yukk" cicit Tania pelan, ia risih di tatap nyalang oleh orang-orang di sekelilingnya.
"Diem aja Tan, udah PW gue" Netra nya sudah ia fokus kan ke depan, fokus pada sosok pria ber kaos seragam khas tim basket sekolahnya, dengan nomor punggung 7 sebagai andalannya.
Sudah lama Lani mengagumi sosok itu, dan kebetulan ia cukup dekat dengan sosok yg ia kagumi, seperti sekarang bahkan orang yg di maksud dengan santai melempar senyum ke arahnya, langsung kegirangan lah Lani di buatnya.
Prittt...
Peluit di bunyikan tanda pertandingan di mulai, belum lama bertanding saja tubuh pemain sudah di basahi keringat, namun itu malah membuat penonton khususnya kaum perempuan menjerit jerit karna disuguhi sosok yg wow.
"SEMANGATT KAK NATAAA!" Teriak Lani serasa dunia ini hanya ada dirinya dan Nata, yg lain ngontrak aja ya Lan?
Dan gotca sosok itu membalas dengan acungan jempol yg membuat para kaum hawa menjerit bagaikan mendapan sekarung uang, padahal itu balasan untuk Lani.
Kurang lebih 20 menit pertandingan berlangsung dan hebatnya di menangkan oleh tim dari sekolah kebanggan Lani, SMA Karya Utama tempatnya menimba ilmu selama kurang lebih 2 tahun, dan tempatnya merasakan apa itu rasa suka yg ia rasakan saat ini.
Dengan dumelan Tania, Lani menunggu orang-orang yg nampak berdesakan untuk keluar, sedari tadi temannya itu hanya bergumam tentang apa yg ia lakukan tadi, tapi apa salahnya duduk di sini? Ini tempat umum kan?
"Gimana kalo mereka labrak lo, kan gue juga ikut kenaaa" Ekspresi Tania sukses membuat ia inggin menapol wajah temannya itu, gemes Lani tu kalo liat orang manyun.
"Santai aja kali, mereka juga nggak akan berani" Tania membrengut mendengar kata-kata yg terdengar santai dan tanpa beban itu.
"Awas aja kalo di lambrak beneran! gue bakal salahin lo!" Lani terkekeh pelan saat melihat temannya itu betjalan keluar dengan kaki yg di hentak hentakkan kesal.
"Awas nyium pohon lo, bibir di manyun manyunin" Canda Lani yg membuat Tania semakin jengkel dan langsung keluar dari lapangan indor yg mereka masuki tadi.
Lani sendiri masih berdiri di tempatnya menertawakan Tania yg nampak lucu, ya meski orangnya sudah tidak terlihat bagai termakan pintu utama yg terbuka lebar di depan sana.
"Ekhemm" Deheman itu seketika membuat tawa Lani terhenti, ia menegakkan tubuhnya menghadap empunya suara.
Senyum manis menyambutnya, bahkan lihatlah keringat yg masih tampak menetes di sana "Udah puas ketawanya?" Lani hanya menyengir dan menggaruk tengkuknya.
"Hehehe kak Nata, Oh iya selamat yaa!"
"Thanks, lo berani banget tadi duduk di depan" Ucap Nata sembari menunjuk tempat Lani duduk tadi dengan botol minumnya.
Lani hanya tersenyum canggung "Emm biar bisa liat kakak lah! Kalo di belakang kan ketutup!" Ujarnya yg membuat Nata terkekeh, ia menepuk kepala Lani pelan di sela-sela kekehannya.
Hal itu mampu membuat seorang Lani yg dikenal tak bisa diam mematung di tempat, tak lupa semburat merah muda yg nampak kontras di pipi putihnya.
"TANGGUNG JAWAB GUE BAPER KAKKK!!" Ia hanya bisa berteriak dalam batinnya.
Nata di buat terkekeh kembali melihat itu sedangkan Lani hanya dapat menahan senyumnya, kalau di rumah sudah di pastikan ia akan berteriak histeris seperti orang yg berjalan tak tentu arah di luaran sana.
"Kamu sakit?" Tanya Nata dengan suara yg nampak sekali bila ia sedang bercanda, dan itu semakin membuat Lani semakin tersipu malu, dan hanya satu cara yg ia pikirkan sekarang.
"Emm kak aku pergi dulu ya, emm ada janji tadi sama Tania" Ucapnya berbohong dan Nata hanya mengangguk percaya pada ucapan gadis di hadapannya.
"Silahkan"
"Bay kak" Lani segera melesat pergi namun entah hari apa ini kesialan menimpanya, ia menabrak seseorang hingga menumpahkan minumannya ke pemiliknya sendiri, jelas Lani panik di buatnya.
"Aduh sorry gue nggak liat" Dengan panik ia mengambil tisu di dalam tasnya dan mencoba membersihkan jaket yg kotor akibat ulahnya itu, huaaa Lani kan jadi malu.
"Nggak papa" ucap korban tabrak Lani tadi, ia mengambil tisu itu dan membersihkan jaketnya sementara Lani masih berdiam di depannya, ia merasa bersalah sungguh.
"Maafin gue ya, beneran, gue nggak sengaja" Kata-kata itu terdengar memelas yg hampir membuat sang korban tertawa tapi ya namanya gengsi mending di pending aja ketawanya.
"Gue maafin tapi ada syaratnya" Ucapan itu membuat Lani mengeriyit namun tetap mengangguk.
Padahal dalam batinnya ia sudah menggerutu "Segala pakai syarat kaya mau buat KTP aja" Namun lagi dan lagi ia hanya bisa membatin.
"Apa syaratnya?"
"Lo harus jadi pacar gue"
Deg... what? Pacar? Cuma gara-gara numpahin minum harus jadi pacar dia? Padahal Lani sendiri tak tau dia siapa.
"What...what? Pa.." Ucapan itu terhenti tak kala seseorang itu memotong ucapannya, di sertai senyuman yg terpajang di sana.
"Oke diterima, mulai saat ini lo pacar gue" Ucapnya enteng membuat Lani makin terbelalak tak percaya, dan lagi sekarang terdengar seruan dari orang-orang yg masih berada di situ, bahkan dapat Lani lihat Nata yg menatapnya tak percaya dari belakang sana.
Dan saat Lani kembali menghadap depan orang tadi sudah tidak ada, meninggalkan seruan orang-orang yg berkata "Cieeeee" Huaaaaa rasanya Lani ingin terjun sekarang, dan lagi statusnya sekarang sudah berubah?