Guru muda dan tampan? Entah mengapa memiliki guru seperti ini menjadi penyemangat bagi kami siswi SMA. Tenaga yang hampir habis seketika full kembali jika kelas diisi oleh guru tampan seperti itu.
Di sekolahku ada guru tampan, dia seperti titisan artis korea, menjadi idola di sekolah kami. Hari ini kelas kami akan diisi oleh guru yang diidolakan para siswi di sekolah ini, semua siswi sangat antusias menanti kelas tersebut.
"Selamat pagi anak-anak."
Sapaan sederhana itu seakan meluluh lantahkan bangunan hati para siswi yang mengidolakan sosok pemberi salam itu.
"Selamat pagi juga Pak ...." sahut sebagian murid yang masih sadar.
Sedang para siswi yang lain seperti hilang kesadaran karena mengagumi wajah tampan yang mereka kagumi itu.
"Kalau salamnya saya ganti boleh nggak?" tanya salah satu siswi.
"Di ganti apa?" guru balik bertanya.
"Selamat pagi pemimpin hatiku," ucap siswi itu.
Seketika seisi kelas heboh menyoraki siswi itu, kecuali aku, maaf bukan sombong tapi guru itu tetangaku.
Bukan tidak mengagumi indahnya karunia Tuhan yang nampak padanya, hanya saja aku suka memandanginya diam-diam saat di rumah.
"Avrilia Zahra!"
Panggilan yang menyebut namaku membuatku tersadar dari lamunan. "Saya!" Berdiri sambil mengangkat tangan ke udara.
"Sehabis jam pelajaran, kamu menghadap saya ke ruangan saya."
Heh? Kenapa aku dipanggil? apakah ada kesalahan? hanya bisa menggerutu dalam hati.
"Iya Pak."
Pelajaran dimulai seperti biasa, hanya saja aku tidak bisa fokus dengan mata pelajaran hari ini, kenapa Guru tampan itu memanggilku ke ruangannya.
Oh Tuhan ... semoga mata pelajaran hari ini lama. Munajat hati, berharap guru itu lupa kalau memanggilku.
Namun waktu tetap berlalu seperti biasa, setelah mata pelajaran selesai, aku terpaksa mengekori guru tampan itu menuju ruangannya. Di sana hanya ada kami berdua. Tiba-tiba Pak guru berlutut di depanku dengan bertumpu pada satu kaki.
"Avrilia, kamu adalah anugrah Tuhan yang tidak bisa berhenti aku kagumi, saat melihatmu, aku selalu memikirkanmu. Avrilia, mau kah kamu jadi kekasihku?"
Guru tampan itu meraih kedua tanganku, tatapannya begitu dalam, membuat hatiku meleleh seperti es batu yang diletakan di bawah terik matahari.
"Pak Zul jangan permainin perasaan aku begini, aku hanya murid Bapak."
"Memang ada larangan alam guru dan murid tidak boleh pacaran? Guru dan Murid menikah saja hal lumrah di dunia novel."
"Aku tidak pantas, banyak yang lebih cantik yang ngefans sama Bapak itu banyak, tidak hanya murid, bahkan beberapa guru muda juga mengagumi Bapak."
"Tapi yang mencuri hatiku hanya kamu Avrilia."
Oh ini tidak benar! Pak Guru memanggilku ke ruangannya untuk menembakku?
"Avrilia ...."
Panggilan yang sangat merdu, oh Tuhan bagaimana aku bisa menolak cinta Pak Guru yang telah menguasai kerajaan di hatiku.
"Avrilia!"
Eh, kok panggilannya nggak ada manis-manisnya lagi?
"Avrilia! Ini ruang kelas untuk belajar! Bukan unyuk tiduran!"
Perlahan aku membuka mataku. Guru tampan pemilik hatiku itu berdiri di dekatku dengan wajah kesalnya.
'Oh Tuhan, ternyata ini mimpi? Bisakah mimpi itu aku ulangi? aku belum mengiyakannya,' jerit hatiku.