"Ra! Cepetan bantuin Emak!" teriak Emak tidak sabar.
"Iya, iya Mak," sahut Ara sambil melangkah mendekati sang emak yang tampak sibuk menyusun kue-kue pesanan yang akan diantar ke rumah bu lurah.
"Emak mau pergi ke tempat Wak Siti. Wak Siti lagi sakit. Jadi kamu antar pesanan ibu lurah ke rumahnya ya. Sebentar lagi ada yang jemput. Pakai motor merah. Kamu yang tunggu ya, trus antar kuenya, pindahin ke wadah yang disediain Bu Lurah, sekalian kamu bantu dulu, setelahnya nanti kamu bakal diantar pulang lagi oleh orang Bu Lurah."
"Ya, Mak," ucap Ara sambil menutup dua box berisi kue yang sudah disusun emaknya barusan.
"Selesai. Mak pergi sekarang ya Ra," pamit Emak sambil menyeka tangannya dengan serbet. Ara hanya mengangguk. Ia mengangkat box di tangan kiri dan tangan kanan, lalu membawanya ke depan rumah.
Ara menatap emak yang pergi tergesa ke rumah Wak Siti, melihat-lihat kalau ada motor yang berwarna merah yang berhenti di depan rumah mereka. Dengan tidak sabar, Ara mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celananya, tinggal sepuluh menit lagi dari waktu yang dijanjikan pada Bu Lurah. Kenapa orang Bu Lurah belum juga datang mengambil pesanan? pikir Ara.
Beberapa menit kemudian sebuah motor gede warna merah stop di depan rumah. Ara berlari sambil mengangkat dua box kuenya. Ia sudah terlambat.
"Kok lama sih jemputnya! Udah telat nih. Ditungguin Bu Lurah! Cepetan!" perintah Ara sambil naik ke boncengan belakang motor tersebut.
Pengemudi di depan terdiam kaku, bengong dibalik kaca helmnya yang gelap. Ia menaikkan alis kebingungan, motornya baru saja berhenti, belum sempat dimatikan, lalu gadis cantik dengan dua box ini langsung naik ke boncengannya dengan memegang erat pegangan box yang ia letakkan di atas pahanya, satu di sisi kiri dan satu lagi di sisi kanan.
"Kok bengong! Ayo berangkat!" seru Ara pada si pengendara motor.
Akhirnya pengendara motor tersebut menurut saja meski kebingungan. Ia melaju menuju tempat yang tidak ia ketahui.
"Kemana ini Dek?" tanyanya.
"Kok kemana! Ke rumah Bu Lurah lah!" sungut Ara.
"Iya. Tunjukin jalannya ya."
"Lah! Situkan dari sana! Kok nanya jalan!"
"Abang mudah amnesia kalo abis liat gadis manis Dek," sahutnya kalem.
"Prettt! Garing! Noh, belok kiri!" perintah Ara.
"Tuh! Sampe rumah gede cat kuning brenti!" perintahnya lagi.
"Stop!" teriak Ara.
Motor berhenti dan Ara dengan cepat turun. "Jangan kemana-mana! Aku cuma nurunin isi box trus pulang. Tungguin! Awas kalo pergi, Ara tendang tahu rasa! Pake acara telat!" teriak Ara galak. Baru saja Ara sampai di teras Bu Lurah ketika dari dalam terdengar suara yang menyambutnya.
"Eh, Neng ayu udah dateng. Aduh, maaf ya Neng, jemputannya gak jadi datang. Jadi nganter sendiri kemari Nengnya, padahal udah janji mau dijemput ke rumah."
"Hah!? umm ... " Kebingungan Ara menoleh ke belakang, ke pengemudi motor yang masih duduk di motor gedenya dengan tangan bersedekap.
Kaca helmnya sudah dibuka, namun keseluruhan wajahnya tidak jelas karena masih memakai helm.
"Wah, Neng ayu, kok yang nganter gak disuruh ikutan masuk? Nunggu di dalem aja," ajak bu Lurah
"Umm ... saya Ara Bu Lurah, bukan ayu," ucap Ara mengklarifikasi.
"Iya. Tapi Ara kan wajahnya ayu, jadi ibu panggil Neng ayu."
Ara tersenyum malu, lalu melirik lagi ke pengendara motor yang masih duduk diam memandang ke arah teras rumah bu lurah.
"Jadi ... it-itu bukan orang yang Bu Lurah suruh untuk jemput kue ya Bu?" tanya Ara.
Bu Lurah menggeleng. "Motor Jukik ngadat. Jadi masih nunggu Tejo pulang, rencana mau jemput pakai motor Tejo aja," jelas Bu Lurah.
Mata Ara melebar, sontak ia menoleh lagi ke arah pengemudi motor yang sekarang dalam gerak lambat nan pasti mulai membuka pengikat helmnya, lalu mengangkat helm tersebut dari kepalanya.
Mata Ara makin melotot. Cowok berkaos putih dengan wajah manis dan senyum geli itu menatap ke arahnya, mengerti bahwa Ara baru saja tahu letak kesalahpahamannya.
"Ya ampun! Jadi yang aku perintah-perintah dari tadi tu siapa! Astaga!" seru Ara.
"Cepetan Dek! Mau diantar pulang lagi gak nih!? Abang tungguin! Takut kena tendang soalnya!" sindir si abang.
Ara yang malu setengah mati langsung lari menerobos masuk ke dalam rumah bu Lurah.
TAMAT
(Jan asal naik aja Ra, mentang-mentang warna motornya merah, haha)