Aku dan temanku bergandengan tangan sangat erat. Kami hanya berdua yang menyelusuri hutan yang gelap dan rimbun. Hawa dingin dan desiran angin malam meniup dedaunan membuat mereka begoyang.
Namaku Etta, umurku baru menginjak 16 tahun dan aku baru duduk di bangku SMA. Sahabatku yang sedang bergandengan tangan dengan ku namanya Milly, semuanya sama denganku, mulai dari sekolah, umur, hobi dan lain lainnya.
Kami sedang mencari jejak di dalam hutan. Aku sangat ketakutan melihat pohon pohon yang bergoyang karena tertiup angin. Langkahku terhenti saat samar samar aku mendengar suara langkah kaki orang.
"Ly, lu denger nggak kalau ada suara langkah kaki? Kayak ada yang ngikutin kita deh."
Tanyaku seraya menatap sekeliling, semua sudah tersapu habis di lihatku, tapi tak ada yang mencurigakan.
"Ih, lu mah nakut nakutin aja. Lu liat sendiri kan kalau di sini tuh nggak ada siapa siapa. Gue aja nggak denger apa apa, mungkin lu salah denger kali."
Balasnya Milly ketus, sebenarnya dia juga takut tapi Milly mencoba menutup nutupi nya dari Etta.
Desiran angin mulai membuat sedikit bulu kuduk kami berdiri. Aku mencoba menenangkan diriku dan berfikir positif thinking. Tapi wajah Milly terlihat pucat pasi saat desiran angin itu berhembus.
"Ly, lu nggak apa apa kan? Wajah lu pucat banget."
Ucapnya Etta mulai khawatir. Tiba tiba Milly melirikku dengan tatapan kosong, itu mulai membuat ku takut setengah mati. Sungguh, siapa dia? Dia bukan Milly!
"Gue gak apa apa. Ayo kita lanjutkan perjalanan nya."
Milly langsung berlalu pergi dengan langkah cepat. Tangannya sudah dingin, aku hanya mengira mungkin karena Milly kedinginan jadi tangannya dingin dan wajahnya pucat.
Saat berada di tengah hujan, aku memeriksa peta karena jalan yang harus di lalui kami bercabang. Ketika melihat peta, petunjuknya mengatakan bahwa kami harus belok ke kanan, tapi kenapa papan arah ini menunjukkan arah kiri? Perasaan takut yang menghantuiku tadi mulai datang ke kembali.
Ku lirik Milly yang hanya berdiri dengan tatapan kosong di sebelah ku. Aku ragu ragu saat hendak bertanya padanya, tapi aku bisa bertanya kepada siapa lagi? Aku hanya bisa bertanya pada diri nya.
"Ly, peta petunjuk mengatakan kita harus belok kanan, tapi papan petunjuk menunjukkan kita harus ke arah kiri. Kita harus ambil yang mana?"
Tanyaku sembari berdiri. Milly terdiam sejenak dan beralih melirik papan yang sudah tua itu.
"Kita ke kiri saja. Papan petunjuknya tidak mungkin salah."
Entah mengapa suara Milly terdengar berbeda di telingaku, mungkin karena tenggorokan Milly kering atau karena alasan lain. Aku tetap berfikir positif dan tidak berfikir macam macam.
Milly langsung menarik tanganku dengan paksa dan menuju arah yang di tunjukkan oleh papan petunjuk itu. Kami menelusuri hutan semakin dalam dan dalam, penglihatan di sana juga tak terlalu jelas karena hujan gerimis yang mulai turun berserta dengan rimbunnya pepohonan hutan itu.
"Ly, lu yakin gak salah jalan? Kayaknya bener deh ke arah kanan, kita balik aja yuk. Kayaknya salah jalan."
Rengekku dengan perasaan yang sudah kacau balau. Milly menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arahku.
Tatapan kosongnya lagi lagi membuat bulu kudukku berdiri. Wajahnya yang pucat pasi semakin memperburuk keadaan.
"Kita tidak salah jalan. Kau lihat jika kita mau kembali, jalannya sudah tertutup semak belukar."
Ucapnya Milly.
Dia menarik paksa tanganku lagi, aku melihat ke bawah. Kami berjalan tak seiring. di mana kaki Milly? Tubuhnya mengambang!? Itu tidak mungkin! Apa ini mimpi? tentu bukan!
Aku memejamkan mataku dan mencoba membaca ayat ayat suci di dalam hati. Tangan Milly yang sudah dingin terasa lebih dingin lagi, aku hendak meliriknya tapi...
"Aaahhhhhh!!!"
Wajah menyeramkan berada tetap di wajahku. Wanita bertubuh Milly? Apa maksudnya? Milly sudah mati? Atau...
"Kau siluman jadi jadiaan!!"
Teriakku seraya kaget bukan main bertatap muka dengan hantu berwajah hancur.
"Ketahuan juga... Hihihi!!"
Tawa nya wanita itu melengking lengking, tawa keras itu terus bergema di gendang telinga Etta.
Etta berlari sekencang mungkin untuk mencari jalan keluar, saat sudah agak jauh dari tempat tadi, dia tak berani menoleh.
Jangan!! Jangan menoleh kebelakang! dia ada di belakang mu! Jangan menoleh kebelakang mu! Aku bilang jangan pernah menoleh kebelakang mu! Dia akan segera menerkam dirimu!
Suara itu terus bergema di telinga Etta, dia sungguh sudah tak tahan. Menutup kedua telinganya seraya berlari kencang hanya itu yang bisa di lakukan olehnya.
Etta hanya ingin mengetahui apakah makhluk itu sudah jauh tertinggal atau malah semakin dekat dengannya? Dia sungguh tak berani tapi tentunya memaksakan diri.
Saat Etta menoleh kebelakang, ternyata hantu itu tiba tiba datang dari kegelapan dan menerkam Etta. Dia ketakutan dan tersandung lalu terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam.
Etta mati dengan keadaan mengenaskan saat itu, tubuh nya terpisah pisah karena bertabrakan dengan benda luar.
*seminggu kemudian.
Tim SAR turun tangan mencari Etta yang hilang di malam Jum'at Kliwon itu. Para siswa dan siswi ikut mencari pencarian Etta.
"Ly, lu se-tim dengan Etta kan?"
Tanya Vita teman kelas musik dari Etta. Milly menoleh dan berkata...,
".., Aku tidak bersamanya, kami sedang bermusuhan. Tapi jika tahu dia akan seperti ini, aku akan menemaninya malam itu."
Buliran air mata mulai mengalir membasahi pipi Milly.
"Sudahlah, kita harusnya terus mencari. Jnagan sampai lengah. Ayo,, harus tetap semangat."
Vita memberikan support pada Milly yang sedang bersedih.
"Korban sudah di temukan!!!"
Teriak lantang salah satu tim SAR dari dalam jurang.
Mereka semua turun ke sana dengan menggunakan alat bantu. Tubuh Etta sudah tak berbentuk tubuh manusia lagi. Dia sudah seperti monster tak berorgan.
Banyak bagian tubuh yang terpisah dari tubuhnya. Milly yang melihat keadaan naas sahabatnya langsung pingsan tak sadarkan diri di tempat kejadian.