Deru sepeda motor milik Anas memecah gelapnya malam yang membisu.
"Pelan-pelan, Bu. Naiknya," pesan pak Anas pada sang istri yang kini tengah meringis menahan kontraksi.
Jam di ruang tamu kontrakan Anas sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah Anas untuk mengantar Imah ke puskesmas terdekat. Anas dan Imah baru dua minggu pindah ke kota ini. Jadi mereka tshunyz tempat bersalin ya hanya puskesmas yang letaknya tak jauh dari kontrakan mereka.
Sebenarnya sudah sejak sore, Imah mengalami kontraksi. Namun baru malam ini, Imah meminta sang suami mengantar ke puskesmas.
Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, akhirnya motor Anas tiba di puskesmas. Suasana sepi dan sedikit mencekam karena gedung bagian depan puskesmas tersebut gelap gulita. Hanya gedung bagian IGD dan ruang bersalin yang diterangi cahaya lampu.
Bergegas Anas membimbing Imah untuk masuk ke ruang bersalin.
Seorang bidan jaga langsung menyambut kedatangan Anas dan Imah.
Setelah bertanya beberapa hal, bidan tersebut mulai memeriksa Imah.
"Sudah pembukaan tujuh ya, Bu," jelas bidan tersebut pada Imah dan Anas.
"Masih lama ya, Bu?" Tanya Anas.
"Tidak juga, Pak. Mudah-mudahan nambah cepat pembukaannya."
"Bu Imah miring ke kiri, ya! Biar cepat nambah bukaannya," instruksi bu bidan.
Imah menurut. Rasa sakit yang dirasakan bu Imah semakin bertambah. Hingga akhirnya tepat jam sebelas malam, pembukaan sudah lengkap dan Imah siap untuk mengejan.
Dan tepat pukul 11.11 malam, tangisan seorang bayi perempuan sudah terdengar nyaring di ruang bersalin tersebut.Imah dan Anas mengucap syukur.
Butuh waktu sekitar dua jam untuk bu bidan membersihkan darah-darah sisa melahirkan di rahim Imah. Dan selama dua jam tersebut, mata bu Imag benar-benar terasa berat. Bu Imah ingin segera memejamkan matanya, namun bu bidan terus mengingatkan bu Imah agar jangan tidur dulu sebelum bu bidan selesai membersihkan rahim Imah.
Tepat pukul satu pagi, akhirnya ritual pembersihan selesai juga. Imah juga asudah berganti baju dan sang bayi sudah dibersihkan serta sudah dibedong dengan rapi.
"Bu Imah sudah boleh tidur dan beristirahat. Kalau ada keluhan langsung pangggil saya saja ya, Bu! Saya berjaga di depan," pesan bu Bidan seraya meletakkan bayi Imah di samping Imah.
"Iya, Bu bidan. Terima kasih," ucap Imah yang benar-benar sudah mengantuk.
Tak butuh waktu lama, dan Imah sudah terlelap.
Glodak!
Gubrak!
Nguuuuung! Bim bim!
Glodak!
Imah baru saja terlelap, saat suara-suara berisik itu terdengar dengan sangat jelas di atas kepalanya. Imah seperti mendengar suara batu yang dilempar ke atas atap ruang bersalin. Tak hanya itu, suara deru kendaraan bermotor juga seperti sedang berlalu lalang di balik tembok ruang bersalin.
Ini sangat aneh.
Karena seingat Imah, ruang bersalin ini ada di sudut gedung puskesmas, dan bagian belakangnya adalah rawa serta lahan kosong yang jauh dari rumah warga.
Glodak!
Dor!
Suara berisik dari atas atap kembali terdengar.
Siapa yang melempari atap ruang bersalin dengan batu dinihari buta begini?
Mendadak bulu kuduk Imah berdiri. Buru-buru Imah memeluk sang bayi yang masih tertidur lelap.
Dan suara-suara tadi semakin jelas terdengar dan srmakin dekat saja.
Anas juga tidak menemani Imah malam ini, karena anak pertama mereka dirumah sendiri dan tidak ada yang menjaga. Jadilah Anas tadi pulang lagi setelah bayi Imah lahir.
"Bu bidan! Bu!" Imah memanggil-manggil bu bidan yang berjaga.
"Iya, Bu Imah. Ada apa?" Tanya bu bidan sigap.
"Itu yang lempar-lempar batu di atas genteng siapa, Bu?" Tanya Imah dengan raut wajah ketakutan.
Glodak!
Glodak!
Dor!
Suara-suara itu semakin jelas terdengar saja.
"Lempar batu? Tidak ada yang lempar-lempar batu, Bu. Ini sudah malam," ujar bu bidan yang kini berusaha menenangkan Imah.
"Tapi itu glodak-glodak di atas genteng suara apa?" Tanya Imah yang terlihat semakin ketakutan.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Ibu tidur dan istirahat saja!" Bujuk bu bidan pada Imah.
"Saya gak bisa tidur, Bu bidan. Itu suaranya keras sekali dari atas genteng. Dan ada suara truk juga yang lalu lalang di atas kepala saya," tutur Imah panjang lebar.
"Saya temani disini, Bu. Kalau bu Imah takut," tawar bu bidan sabar.
"Iya! Bu bidan disini saja. Jangan kemana-mana!" Pesan Imah yang berusaha memejamkan matanya kembali.
Glodak!
Duarr!
Nguuung!
Suara-suara itu terus saja terdengar sepanjang malam. Hingga membuat Imah tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Saat adzan subuh mulai berkumandang, barulah suara-suara itu lenyap dan tak terdengar lagi.
Tepat jam enam pagi, Anas sudah tiba di ruang bersalin puskesmas brsama Amir. Namu saat baru memasuki ruang bersalin, Amir sudah menangis kencang. Bocah itu begitu ketakutan dan terus menunjuk ke sudut ruangan bersalin seakan sedang melihat sesuati yang membuatnya takut.
Anas sampai kewalahan menenangkan Amir.
"Anaknya diajak nunggu di teras depan saja, Pak! Biar saya yang membantu bu Imah berkemas," ujar bu bidan cepat.
"Istri dan bayi saya sudah boleh pulang ya, Bu?" Tanya Anas yang masih berusaha menenangkan Amir yang menangis histeris.
"Iya sudah, Pak. Saya bantu berkemas dulu," jawab bu bidan cepat.
Bu bidan segera masuk kembali ke ruang bersalin untuk membantu Imah berkemas.
Dan Anas membawa Amir ke teras depan puskesmas yang masih lengang. Amir langsung diam saat Anas mengajaknya duduk di teras puskesmas.
Tak berselang lama, Imah dan bu bidan sudah keluar dari ruang bersalin dan menghampiri Anas yang tengah bermain bersama Amir.
"Mohon maaf sebelumnya, Pak, Bu. Saya kira, anaknya Bapak dan Ibu bisa melihat penunggu di ruang bersalin. Makanya dia tadi nangis kejer di dalam," ucap bu bidan yang langsung membuat Anas dan Imah terkejut bukan main.
"Penunggu apa, Bu bidan?" Tanya Imah tak mengerti.
"Iya, yang nunggu ruang bersalin itu, bu Imah. Yang semalam juga gangguin bu Imah dan manggil teman-teamnnya untuk datang," jelas bu Bidan lagi.
"Tapi teman-temannya tidak bisa masuk tadi malam. Makanya bu Imah dengar suara glodak-glodak dari atas genteng. Ya itu ulah mereka," imbuh bu bidan lagi seraya tersenyum.
"Bu bidan bisa melihat mereka?" Tanya Anas penasaran.
"Tidak saya hanya sering mendengar cerita dati beberapa pasien seperti bu Imah. Makanya saya tahu," jawab bu bidan cepat.
Anas dan Imah mengangguk bersamaan.
"Udah buruan pulang sana! Hari sudah terang," ujar bu bidan selanjutnya.
"Eh iya. Jadi berapa semuanya, Bu?" Tanya Anas berbasa-basi.
"Gratis, Pak. Sesuai program pemerintah. Uangnya untuk beli popok bayi saja," jawab bu bidan seraya mengembalikan uang yang diangsurkan oleh Anas.
"Terima kasih banyak, Bu bidan," ucap Imah dan Anas serempak.
Bu bidan tadi hanya mengangguk dan segera masuk kembali ke ruang bersalin.
Tak butuh waktu lama, Anas dan Imah juga segera pulang dari puskesmas tersebut.
****
Hari yang sama pukul 11.11 siang.
"Kita hancurkan sekarang, Pak. Bangunannya?" Tanya seorang pekerja konstruksi pada sang mandor.
Keduanya sedang berdiri di depan ruang bersalin puskesmas yang kini pintunya tertutup rapat.
"Iya. Semuanya sudah kosong sejak tiga bulan yang lalu. Semua pasien juga sudah dipindah ke gedung puskesmas yang baru. Jadi kita hancurkan semuanya dan kita selesaikan hari ini," ujar sang mandor memberi instruksi.
Alat berat itupun segera bekerja menghancurkan gedung puskesmas beserta gedung IGD dan ruang bersalin.
Gedung itu memang sudah kosong dan tak terpakai sejak tiga bulan yang lalu.
Anas yang baru pulang dari membeli makan siang, terkejut saat mendapati gedung puskesmas tempat istrinya bersalin tadi malam sudah rata dengan tanah. Anas berhenti sejenak dan bertanya pada beberapa pekerja yang tengah beristirahat.
"Mas, kenapa bangunannya dihancurkan? Bukannya puskesmas ini masih dipakai?" Tanya Anas kebingungan.
"Gedung ini sudah kosong dan tidak dipakai sejak tiga bulan yang lalu, Mas. Karena bangunannya sudah tua," jelas seorang pekerja.
"Apa? Tidak dipakai sejak tiga bulan yang lalu?"
"Lalu siapa yang membantu persalinan Imah tadi malam?"
Mendadak tubuh Anas terasa lemas. Sepertinya pria itu benar-benar shock.
***TAMAT***