Cerpen "NILAM AKU PERGI" [ part 1 ]
TOPI Sarjana yang beberapa saat lalu di smat dan di syahkan oleh seorang profesor dekan fakultas, kuturunkan dari kepalaku. Entah ada yang melihatku melakukan kebodohan ini diantara hadirin. Cita-citaku ingin menjadi insinyur pertanian, hari ini ijazahnya sudah ditangan. Mungkin aku masih kurang percaya dengan semua ini.
"Kepercayaan masyarakat terhadap kamu sangat besar ya Rob..? Tadi aku melihat sendiri ketika kamu sedang menjadi panitia tujuh belasan. Remaja dan orangtua tidak ada yang berani membagikan hadiah untuk pemenang lomba sebelum diperintah sama kamu"
Dulu aku benar-benar tesanjung mendengar pernyataan itu. Mungkin karena yang mengatakannya seorang gadis cantik, sedang ada di rumahnya dan dihadapi oleh mamanya.
"Harus sering main kemari ya nak Rob..Setelah bertemu dengan nak Robi ternyata Nilam jadi terlihat ceria. Yah..maklum kita orang baru disini..Mungkin selama ini Nilam agak kesusahan mencari teman baru"
"Bagaimana tidak akan kesusahan tante, disekeliling rumah tante dibenteng tinggi. Para tetangga pun pasti merasa segan. Apalagi pemuda-pemudanya, mereka pasti tidak akan ada yang berani mgedeketin putri tante yang dipingit " Aku langsung mendebat kalau atas pernyataan mamamya. Tapi untuk diri sendiri. Sedangkan yang ku ucapkan, pasti kata-kata yang menarik simpati pribumi.
"Mereka tahu diri rupanya tante " jawabku atas perkataan mamanya Nilam.
"Kalau kami sebenarnya terbuka kepada siapapun juga ? Buktinya sekarang nak Robi ada disini. Ya kan Nil ?" Mamanya Nilam mengedipi putrinya. Nilampun langsung manja.
"Mih,kalau aku dan kak Robi bukan sekedar berteman biasa, boleh kan?"
"Nilam, kami itu perempuan..Ya terserah nak Robi,lah ĺalau mengenai yang kamu minta?"
"Tapi tante,saya kan hanya seorang pemuda Desa. Masih pengangguran,lagi. Kalau tante membiarkan putrinya dekat dengan saya,apa itu tidak akan merendahkan derajat keluarga tante sendiri?"
"Kata-kata nak Robi,mengharukan sekali buat tante..Sementara selama ini kami sedang kebingungan mencari lelaki jujur dan setia untuk mendampingi hidup Nilam...Kalau nak Robi memang suka sama Nilam,resmikanlah sekarang. Lalu kalian jalani hidup sebagai sepadang kekasih yang penuh kedisiplinan serta cinta setia. Bagaimana ?"
Aku dan Nilam saling tatap.Nilam lalu tetsenyum. Aku juga ikut tersenyum. Mamanya Nilam melihat kami bahagia. Sejak saat itu aku pun jadi sering datang kerumahnya. Aku sering keluar masuk dari gerbang yang selama ini hanya dibuka ketika ada mobil mewah masuk saja. Dan itu mobil mewah milik papanya Nilam yang suka menemui anak istrinya satu minggu sekali.
Solusi apabila aku mau datang tapi gerbang masih digembok,seperti ini kutulis " Nil,aku ada didepan rumah kamu"
Kalau pesannya sudah ďikirim biasanya dari dalam ada yang keluar. Dan itu Nìlam. Kali ini pun aku seperti itu,tapi sudah larut karena setelah kuliah dan menjadi anak kos,waktuku sempit sekali. Sedangkan orang tuaku selama ini selalu mewanti-wanti agar aku hemat dan menghemat uang yang selalu dikitimnya tiap bulan. Maklum mata pencaharian ayahku selama ini hanya sebagai petani yang sawah serta ladangnya tidak terlalu luas. Selama ini akupun sudah berusaha mengedepankan pesan orangtua dan mengesampingkan urusan pribadiku.
"Ada yang mau bertamu malam-malam..? Siapa ya, aku yidak kenal?" Tapi sikap yang menyambutku, kali ini.
"Nil jangan gitu dong sama aku..? Masa kamu nggak ngerasain kerinduanku yang udah berat gini?"
Aku pun ketika itu lalu menggodanya sambil berulah lucu. Tapi orang yang diambang pintu masih termenung lebih lama. Akhirnya aku memutuskan mengalah. Kupikir kalau Nilam sedang marah karena aku sudah lama tidak menemuinya,kalau perlu langsung kupeluk supaya orangnya percaya lagi dengan cintau.
Ternyata setelah kulakukan itu Nilampun jadi mau bicara.
"Barusan kesini naik apa?" Sekarang kami sudah diruang tamu. "Mau kuambilkan minum ya? Kamu pasti haus?"
"Nggak usyah..Ada kamu disisiku buat aku sudah cukup..Mendingan sekarang kita menghabiskan malam sambil ngobrol..Mama udah tidur kan?"
Selama ini di rumah yang besar serta megah itu hanya Nilam dan mamanya yang menempati. Dan Nilam menggangguk.
"Kamu jangan nginap disini ya?"
"Kamu tidak ingin mamamu mengetahui ada aku kemari ya?"
Nilam mengangguk lagi. Dini hari setelah dia memberi miniman hangat,akhirnya aku pulang kerumah orang tuaku.
BERSAMBUNG...