Keadilan hanyalah kata kata, tapi aku ternyata bisa mewujudkan keadilan itu, Gabriela nama ku, aku adalah ratu dari Kerajaan barat, sebelumnya aku hanya putri yang tidak memiliki ekspresi. Sebelum itu aku akan menjelaskan tentang Kerajaan barat. Kerajaan barat adalah Kerajaan yang memiliki dua rakyat, rakyat pertama adalah manusia, mereka semua diberikan keadilan oleh ayah ku, raja dari kerajaan barat. Rakyat kedua adalah para elf manusia setengah peri yang memiliki sihir, para elf tidak di beri keadilan, mereka selalu di tindas karena di kira penyihir jahat yang bisa menghancurkan Kerajaan. Para elf hidup tanpa rasa keadilan, mereka di asingkan ke hutan yang belantara, rumornya mereka biasanya muncul saat tengah malam. Beberapa bulan berlalu aku pun lahir kedunia, akan tetapi dokter bilang kalau aku tidak mempunyai emosi. Orang tua ku shock dan membuat mereka berdua tidak mengurus ku dengan baik, mereka pikir aku adalah pembawa sial.
"Dasar anak pembawa sial!" Teriak ayahku.
Saat itu umurku 5 tahun.
"Kau benar benar tidak berguna, kau sama seperti para elf itu" ucap Ibu ku.
Aku hanya diam di tempat ku padahal aku sedang berlumuran banyak darah karena lemparan gelas kaca yang di lempar oleh ayah ku.
Beberapa tahun berlalu, aku bertumbuh menjadi anak perempuan remaja, umur ku 15 tahun, saat itu ibu ku melahirkan adik laki laki ku beberapa tahun yang lalu, sekarang umur laki laki ku adalah 13 tahun. Saat itu aku sedang melamun di kamar ku sendiri, aku berpikir untuk pergi ke hutan para elf, akhirnya aku mencoba kabur dan berhasil, aku masuk ke dalam hutan itu, hutan itu sangat rimbun dan gelap. Tiba tiba ada suatu cahaya yang menarik perhatian ku, aku mendekati cahaya itu, ternyata itu desa para elf, para elf yang menyadari aku ada di situ segera menyiapkan senjata mereka.
"Bagaimana bisa ada manusia yang masuk ke hutan ini?!" Ucap salah satu elf.
"Aku tidak peduli, usir dia! Mereka benar benar makhluk yang tidak punya rasa adil!" Ucap salah satu elf lain.
"Tunggu sebentar!" Ucap ku
Para elf yang mendengar itu berhenti sejenak tapi senjata mereka masih mengacung ke arah ku, aku menghela nafas sedikit.
"Aku gabriela, aku sama seperti kalian, aku juga tidak mendapat kan keadilan untuk hidup, tapi aku bisa membantu kalian untuk mendapatkan keadilan" ucap ku.
Para elf berpikir sejenak, mereka memanggil pemimpin mereka yang baru, pemimpin mereka datang, ia adalah seorang lelaki elf yang ber umur 17 tahun. Ia mendekati ku, lalu berkata.
"Kami menyetujui ucapanmu, dengan satu syarat, kau harus tinggal di sini selama beberapa hari" ucap pemimpin elf itu.
"Tentu yang mulia" ucap ku.
Malam pun tiba, banyak elf yang bersiap untuk tidur, aku masih terjaga dan sedak duduk di dekat perapian yang di siapkan para elf setiap malam, tiba tiba ada yang menepuk pundak ku dari belakang.
"Siapa?" Tanya ku.
"Ini aku gabriela" ucap pemimpin para elf lalu duduk di samping ku.
"Ada apa yang mulia?" Tanya ku.
"Panggil aku reysa saja" ucap pemimpin elf itu yang bernama reysa.
"Oh, baiklah reysa" ucapku.
"Apa kau tidak punya emosi?" Tanya reysa.
"Ya.. Aku tidak memiliki emosi sejak aku lahir, karena itulah kedua orang tua ku tidak menganggap ku, mereka lebih menganggap adik laki laki ku" ucap ku.
Reysa mengangguk mengerti lalu memegang kedua tangan ku, ia seperti menyalurkan sedikit sihir di tanganku, terbentuk sebuah cincin di tangan ku tiba tiba saja emosi itu datang, perasaan bahagia, aku bisa merasakannya sekarang, aku benar benar kebingungan tapi aku juga merasa bahagia.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya ku.
"Aku menyalurkan sihir ku pada mu agar emosi mu kembali" ucap reysa.
"Terimakasih apa yang bisa aku lakukan untuk membalas jasamu?" Tanya ku dengan semangat.
"Menikahlah dengan ku" ucap reysa.
Aku sedikit kaget mendengar kata kata reysa, tapi aku juga senang akhirnya aku menerima nya, kami menikah malam itu juga, bertahun tahun berlalu kami lewati bersama sama.
Tahun ini adalah saat di mana adik laki laki ku akan di nobatkan menjadi raja, pesta sudah di gelar, banyak tamu berdatangan, saat hampir selesai penobatan tiba tiba saja.
"Tunggu dulu!" Teriakku memasuki ruangan penobatan
Beberapa elf juga ikut masuk ke dalam termasuk reysa, para penjaga mulai menyerang tapi kami berhasil menghalangi mereka, orang tua ku nampak terkejut dengan kedatangan ku yang tiba tiba.
"Yang berhak memimpin adalah aku!" Teriak ku.
"Apa maksud mu kak, kau dulu bahkan tidak punya emosi, serta kau meninggalkan istana karena menikah dengan pemimpin elf itu kan?" Ucap adik ku.
"Dengarkan ini! Apa kalian mau mendapat keadilan?!" Tanya ku.
"Ya kami mau!" Salah seorang rakyat berdiri diikuti oleh semua rakyat yang hadir
"Jadi bagaimana?" Tanya ku.
"Kurang ajar kau anak biadap!" Ucap ayah ku.
Tiba tiba sihir hitam muncul masuk ke dalam tubuh ke dua orang tua ku, aku segera menyuruh adik ku untuk pergi menyelamatkan rakyat serta para elf, adikku mengangguk lalu segera pergi dari situ, sihir hitam itu mengontrol ke dua orang tua ku yang membuat mereka berdua menyerangku, tiba tiba saja reysa berada di depan ku untuk melindungi ku dengan sihirnya.
"Pergi! Selamat kan para elf dan warga desa lainnya! Biar aku yang mengurus ini!" Ucap reysa.
Ia berhasil mematahkan sihir hitam itu, ke dua orang tua ku terbaring lemah, aku yang melihat itu merasa tidak tega. Reysa mendekati ke dua orang tua ku lalu menodongkan pedangnya bersiap membunuh ke dua orang tua ku, tapi aku menghalangi nya.
"Apa yang kau lakukan gabriela?" Tanya reysa.
"Ku mohon jangan bunuh mereka, meskipun mereka jahat tapi mereka tetap orang tua ku" ucap ku sambil sedikit mengeluarkan air mata
Kedua orang tua ku berdiri dan langsung memelukku, mereka mengusap kepala ku dan mengusap air mata ku dengan sangat lembut dan perhatian, reysa tersenyum dan menaruh pedangnya.
"Maafkan kami sayang, kami dulu melakukan perjanjian dengan iblis yang membuat kami begini" ucap ayah ku.
"Ibu benar benar minta maaf" ucap Ibu ku.
"Tak apa bu aku sudah memaafkan kalian berdua, oh ya perkenalkan ini reysa suami ku" ucap ku.
"Halo, yang mulia" ucap reysa
"Terimakasih sudah menjaga putri kami dengan baik" ucap ayahku.
"Tentu, ia sangat baik" ucap reysa.
Acara penobatan di lanjutkan dan bukan adikku yang akan di nobatkan melainkan aku, aku di nobatkan menjadi ratu sekaligus penerus kerajaan, aku menjadi ratu dan memberikan keadilan kepada seluruh rakyat serta para elf, sekarang manusia serta elf bisa hidup bersama tanpa rasa benci dan keadilan ini akan terus terjaga oleh ku.