SESUATU di BATIN KU
Sejak kecil aku sering mendengar kakak kakakku melihat mahluk astral Salah seorang kakak Perempuanku bahkan sering kesurupan. Aku tak pernah membuktikan hal tersebut dengan mata kepala ku sendiri. Namun aku sangat ingin mengetahui penampakan mereka. Beberapa kali pula aku berusaha melewati kuburan dimalam hari, namun yang kutemui hanyalah keheningan, suara serangga malam dan desir angin dingin yang menusuk tulang. Tak ada penampakan sama sekali. Kata orang kalau melamun dan pikiran kosong jiwanya bisa ditekan oleh mahluk astral dan tubuh dikuasai oleh nya. Kadang kadang aku melamun, tapi aku ga kesurupan seperti kakak kedua ku yang selalu ditempeli mahluk halus. Ibuku, kakak pertama,kakak kedua dan ketiga serta adik bungsuku juga bisa melihat mahluk mahluk tersebut. Itu sebabnya aku ga yakin adanya mahluk mahluk tersebut. Kata 'orang pintar' mata batinku ditutup oleh nenek moyang yang ikut ditubuhku. Pernyataan itu disampaikan oleh seorang paranormal dari Bali yang diminta oleh suami ku untuk menerawang istrinya dari jauh melalui cermin. Ia berusaha menerawang namun ia hanya melihat gambar aku yang sedang menggunakan kain sembahyang. Aku yang sedang berzikir, tak ada informasi yang ia dapatkan. Aku percaya namun juga tidak percaya akan pernyataannya. Aku tak ingin menjadi orang yang
menyimpang dari agama ku. Meski kami percaya adanya mahluk tak kasat mata.
"Percaya namun jangan terjerumus ke perbuatan musrik"nasehat nenek ku saat aku masih kecil. Nenekku juga bisa melihat mahluk halus, ia juga bisa mengobati penyakit kiriman, atau menyadarkan orang kesurupan. Nenek ku berpendidikan meski pernah hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Beliau seorang perempuan yang cerdas. Saat aku masih di Sekolah Dasar,aku berkewajiban menjaga nenek. Ia selalu meminta untuk dibacakan surat kabar dengan berita terkini
" Hani, membaca itu bisa menambah wawasan kita. Berbagai ilmu bisa kita dapat dari membaca. Jadilah orang yang melek hurup,melek angka dan dapat membaca suasana" katanya waktu itu. Banyak kosa kata bahasa Indonesia yang kukuasai dari kegiatan membacakan koran untuk nenek ku. Hasilnya adalah aku termasuk murid yang pandai, terbukti dari peringkat pertama yang selalu kutempati di kelas ku, bahkan aku selalu masuk 3 besar kelas paralel. Sebelum meninggal beliau memberiku kantong bahan berwarna hitam yang berisi tulang dan gigi geligi harimau, juga ada jisim bertuliskan huruf Arab gundul. Menerima pemberian itu aku sangat takut. Aku takut menduakan Allah bila memakai jimat jimat tersebut. Dalam ketakutanku kantong beserta isinya kutanam dibawah pohon bunga Bougenville di depan rumah. Berikut adalah pengalaman horor yang terjadi padaku.
.......
Penerimaan murid baru sedang berlangsung. Sebagai panitia penerimaan yang ditugaskan di salah satu SMP yang baru dibuka saat itu, aku dan seorang kawan guru menerima pendaftaran bertempat di salah satu SMA di kota ku. Saat itu kami ditempatkan di perpustakaan. Tak berapa lama ada beberapa orang tua murid yang mendaftarkan anak mereka. Disela pendaftaran kami disuguhi minuman. Kebetulan hari itu hari Jum'at, para pendaftar tak sebanyak hari kemarin. Karena banyak waktu senggang kami bercerita untuk melewatkan waktu.
" Bu, tahu ga, menurut cerita SMA ini terkenal angker, lo" Bu Siwi mengawali percakapan. Aku tersenyum mendengar perkataan itu.
" Bu Siwi dengar dari siapa? Ini sekolah bangunannya baru, masa sudah ada rumor tak sedap begitu" jawab ku. Bu Siwi tertawa pelan,ia tidak berkata apa apa. Ia terlihat sibuk menyusun berkas pendaftaran.
" Saya jadi malu dengan Bu Hani. Tiba tiba membicarakan sesuatu yang ga masuk akal. Tapi, terus terang, ya... Saya ini penakut, Bu." Pipi Bu Siwi memerah. Ia memutar pupil matanya kesekitar ruangan.
" Bu Hani merasa ga sih? Dari pertama kita datang ruangan ini suram. Bau udara lembab membuat merinding terlebih lagi ruangan ini jauh dari ruang guru dan staf administrasi. Gloomy, jadinya." Katanya dengan suara setengah berbisik. Aku mengikuti pandangan Bu Siwi. Ku rasa perkataannya benar. Ruangan nya lembab terlihat adanya lumut yang menempel di dinding, langit langit ruangan ini juga ada warna kehijauan, "padahal sekolah dengan bangunan baru" ucapku pelan. Aku memegang tangan Bu Siwi yang gemetar. " Bu the way, kayaknya pendaftar sudah ga ada bagaimana kalau kita bersiap untuk pulang" kataku untuk mencairkan suasana. Lalu aku mengambil gelas bermaksud meminum teh manis hangat karena tenggorokan ku terasa kering. Aku tak jadi meminumnya karena airnya tinggal seperempat gelas. Mungkin Bu Siwi telah meminumnya. Kuambil gelas satunya, Bu Siwi menahan tangan ku." Ini gelas saya Bu" katanya.
" Loh, bukannya gelas satunya sudah Bu Siwi minum?" tanyaku. Bu Siwi menggeleng. " Sejak tadi saya belum minum Bu" katanya dengan kening berkerut. Aku penasaran lalu kuamati bibir gelas. Ada lingkaran merah seperti lipstik tertinggal di sana, namun ukuran bibirnya hampir memenuhi lingkar gelas itu. Ada rasa dingin di tungkai kaki, kepala dan lenganku. Kami bertatapan, wajah bu Siwi seketika pucat. Bersamaan dengan suara tawa terkikik yang samar aku mengucapkan istighfar berbarengan dengannya.
" Bu,ayo cepat kita pulang" suara Bu Siwi bergetar. " Saya takut Bu kalau berlama lama di sini" lanjutnya. Aku terdiam "Ach...tampaknya pernyataan Bu Siwi tadi bukan rumor" kata ku, penasaran ingin melihat penampakan mahluk yang meminum teh manis jatah ku, sementara Bu Siwi menarik tangan ku. " Ayo, Bu...buruan!" Aku turuti permintaannya, kami bergegas merapihkan berkas, menutup pintu dan segera menuju ke parkiran. Cuaca mendung di luar ruangan, sayup sayup suara azan terdengar, panggilan untuk solat Jum'at berkumandang. Di pikiran ku tersirat pertanyaan " Siapa atau apa yang meminum teh manis ku?". Keesokan harinya kami tak mau lagi bertugas di ruang tersebut. Percaya tak percaya ternyata memang ada mahluk gaib disekitar kita.
Tahun tahun berlalu, saat ini aku menjadi pembina pramuka di pangkalan Gudep SMP ku. Beberapa peristiwa mewarnai kegiatan Pramuka yang kami lakukan seperti mengikuti perlombaan LT 1, LT 2 dan LT 3. Perlombaan itu mengharuskan kami berkemah. Perkemahan yang kami lakukan tak luput dari beberapa peristiwa menakutkan yang kami alami.
Tanggal 21 sampai 23 Oktober tahun 2022, setelah 2 tahun kegiatan ekstra kurikuler Pramuka dipending karena pandemi Covid 19 kami melaksanakan perjusami. Panitia terdiri dari Pramuka Inti dan para pembina serta pembantu pembina dari kakak-kakak Racana.
Acara inti malam pertama adalah ceramah dari guru agama, pengetahuan kepramukaan dari kakak kakak pembina kwarcab. Malam itu para peserta tertib dan tidur dengan nyaman
Keesokan hari setelah isoma dan olahraga peserta digiring untuk ' hiking'. Malam ke dua ada sosialisasi dari kepolisian terkait Narkoba dan perbuatan kriminal yang harus dihindari Pramuka. Hujan turun sangat lebat, kami berdesakkan di aula. Dingin tapi pengap. Kami kira kami tak bisa melakukan kegiatan api unggun. Ternyata tepat jam 11.30 malam hujan redah. Panitia menyiapkan perangkat dan cara Api unggun dilakukan. Suasana berlangsung sahdu saat Kamabigus memberi wejangan. Beberapa peserta bahkan menangis terisak isak. Selanjutnya acara Fensi, beberapa regu menampilkan kreasi seni masing masing. Saat team Hadroh tampil, Pratama mendekati ku
" Kak Hani... Nadira ada tiga." bisiknya. Aku merasa pendengaranku bermasalah, " maksudmu apa, Wira?" tanyaku ikut berbisik. " Dibawah tangga 1, kak ada Nadira, di sebelah Elya ada Nadira, di sudut Laboratorium IPA ada Nadira" jawabnya seminimal mungkin tidak meresahkan peserta. Aku berusaha menemukan Nadira, Ia ada di sisi kiri Elya namun di tempat lainnya aku tak melihatnya. Aku tertawa kecil karena aku memang tak bisa melihat ' merrka', aku percaya mereka ada. Pratama kuberi isyarat untuk berpura pura tidak melihatnya. Ketika acara berakhir dan para peserta diminta untuk tidur, tiba tiba Melia berlari menghambur ke arah ku. " Kak Hani...Melia takut...takut...jangan suruh Melia tidur di ruang panitia. Nadira ada 3 kak. Mata Nadira hitam semua...Melia takut. Jauhkan Melia dari Nadira,kak". Ujarnya sambil terisak isak. Aku menenangkan Melia setelah tangisnya reda ku minta ia beristirahat di ruang lain ditemani oleh dua orang kawannya. Kudatangi ruang Panitia, terlihat beberapa panitia putri bergerombol meninggalkan Nadira tergeletak dan tertawa tawa. Kuhampiri dia. Kupegang pergelangan tangannya, ia menyeringai. Matanya sepekat arang yang berkilat, tak menyisakan warna putih. Ia meronta saat lengannya kupegang lalu kubacakan doa doa, tubuhnya meregang. Berusaha mencakar ku. Beberapa panitia putri kuminta untuk memegang kedua kakinya yang menendangku sambil menggeram.Kubacakan ayat kursi di telinganya, tubuhnya menjadi lemas, kusertakan pula zikir danemintanya untuk istighfar. Tak lama Nadira berucap," Astaghfirulla Al adziim" berulang ulang sampai akhirnya tertidur. Kuminta panitia tidak berkeliaran dan bergegas tidur, baru saja aku selesai bicara terdengar suara Geraman. Ratih salah satu anggota inti yang bertubuh gempal tiba tiba melompat dan berlari keluar ruangan, sigap aku dan beberapa panitia putri mengikuti nya. Di gelapnya malam terlihat samar samar Ratih sedang memetik bunga dan dedaunan lalu dengan rakus mengunyahnya. Ia juga menyeringai dan menari nari. Kami agak kerepotan menenangkannya.
" Panggil Kak Amin" perintahku pada Pratami yang segera bergegas ke ruang pembina. Taklama kak Amin datang, penanganan segera dilakukan. Setelah Ratih sadar ia diberi minum air putih yang telah dibacakan ayat ayat suci. Ia pun tertidur. Pagi menjelang, pelantikan Penggalang Ramu dan Rakit berlangsung sukses. Meski tadi malam kami lelah karena gangguan mahluk gaib, beruntungnya peserta tak ada satupun yang diganggu. Tepat jam 11.30 siang kami kembali ke rumah masing masing.
Bulan November datang, agenda Pramuka adalah mengikuti lomba tingkat antar regu di Gudep kami. Pemenangnya akan mengikuti lomba tingkat ranting( LT 2 ). Di LT 2 kami harus bertanding melawan Gudep lainnya do Ranting. Alhamdulillah Gudep kami pemenangnya. Kami dikirim ke Lomba Tingkat Cabang (LT 3) di Bumi Perkemahan. Cuaca agak mendung dan suram saat pick up kami sampai di Bumi Perkemahan. Diiringi hujan rinai kami membangun tenda apung. Kami berbasah basah bekerja sambil bersenda gurau. Lokasi tenda putra agak jauh dari lokasi tenda putri. Lokasi tenda putra landai dan kering, sedangkan lokasi tenda putri menurun dan berada di tepi sungai. Aku sedikit menyesali nomor undian yang kami dapatkan. Sebisa mungkin kami menyiapkan tenda, jemuran, meja dan dapur menggunakan keterampilan' pioneering'. Mendekati Magrib seluruh kebutuhan berkemah telah selesai dibuat, karena selama kami bekerja team juri melakukan penilaian. Masing masing peserta melakukan kegiatan mandi dan solat Magrib. Lomba dimulai dan berakhir pada jam 11.30 malam. Saat keluar lokasi lomba aku melihat peserta dari Gudep lain membawa payung, iseng ku pinjam dan berkata untuk melucu," payung ini selain untuk berteduh juga...laaillahaillallah..." Aku berakting seolah sedang memayungi jenazah ke kuburan.Kami semua tertawa. Saat kembali ketenda pembina, ruangan terasa sangat panas. Aku sulit memejamkan mata, jelas kudengar suara kambing ramai mengembik. Suara orang berjalan di sekitar tenda dan desisan ular di sisi luar tenda. Semalaman aku berzikir dan melafalkan ayat kursi. Suara embik kambing hilang saat azan subuh mengumandang.Aku bersyukur bisa menghadapi hari selanjutnya di perkemahan. Aku bergegas keluar tenda dan melaksanakan solat subuh. Setelah solat Subuh salah satu kakak Racana mampir ke tenda ku, " Kak, Hani. Semalam kami melihat sebuah kepala keluar dari tenda kakak" katanya. Ia memiliki kemampuan melihat mahluk gaib. "kayaknya mau menyusup ke badan kakak" lanjutnya. " Alhamdulillah kakak ga apa apa" tiba tiba kak Wildan muncul. Aku kaget, pantas saja semalam tendaku terasa panas. " Suara kambing yang ramai sementara pemukiman penduduk berjarak lebih dari 2 kilometer, setahu kami suara kambing menunjukkan adanya mahluk mahluk astral di sekitar kita" Kak Wildan menerangkan. " Alhamdulillah, semoga kita selalu dijauhkan dari bencana" ujarku. " Aamiin" berbarengan keduanya mengamini ucapanku." Lain kali kak Hani ga usah ngomong nyeleneh" kata kak Septi. Aku tersenyum miris." Aah... Mulutku... Kenapa ga ada rem ya tadi malam?" Kataku dalam hati. Kegiatan lomba segera dilakukan. Sampai akhirnya kegiatan api unggun. Setelah acara inti dilakukan tiba-tiba saja beberapa peserta penggalang tumbang. Dua anggota regu putri kesurupan!. Aku berusaha sebisa ku menolong mereka dibantu kak Septi dari Racana. Lelah sekali mengatasi anggota yang kesurupan, karena mereka bergantian terkena. Aku yang selama ini tak pernah melihat mahluk gaib merasakan imbas dari kehadiran mereka melalui para siswa peserta lomba. " Kuatkanlah iman kami ya, Allah. Sehatkan tubuh dan jiwa kami ya, Robb." Doa ku untuk menenangkan anggota regu yang tak berani kutinggal. Malam itu aku dan beberapa pembantu pembina Gudep kami bermalam di tenda peserta putri, hingga pagi menjelang para peserta di tenda tidur dengan nyenyak. Sementara aku tak bisa tidur,membuka Al Qur'an digital di Android berharap malam panjang segera berlalu. Pagi menjelang. Kami solat Subuh berjamaah, peserta lomba putra dan putri masih melanjutkan beberapa lomba yang belum selesai. Peristiwa malam api unggun telah berlalu sementara keimanan ku pada Yang Kuasa menebal. Allahuakbar!.