Dalam keabu-abuan masa tua yang tak terhindarkan, aku hanyalah seorang pria paruh baya yang terperangkap dalam badai penderitaan.
Tubuhku terasa semakin rapuh, dan rasa sakit yang menggerogoti perutku semakin tak tertahankan.
Awalnya kuanggap sebagai maag biasa. Namun, hari demi hari berlalu perutku semakin membesar.
Apakah ini efek dari penuaan yang tak terelakkan?
Apakah tubuhku sedang mengalami kerusakan yang mematikan?
Merampasku dari kesehatan yang pernah kumiliki?
Setiap hariku diwarnai dengan ketidakpastian, perutku semakin membengkak tanpa alasan yang jelas.
Tidak ada penjelasan rasional yang bisa kugapai, hanya kehampaan yang melingkupi setiap hela napasku.
Aku merasakan diriku tenggelam dalam gelapnya takdir yang tak terkendali, terkoyak oleh rasa takut yang membelitku.
Ketika pagi tiba, aku merasakan dorongan untuk buang air kecil, kejanggalan itu semakin tak terbendung.
Ada sesuatu yang mengganjal dalam saluran kemihku, memuntahkan rasa sakit yang tak terlukiskan.
Dan dalam momen yang membeku, kengerian melanda diriku.
Mata memandang terbelalak, aku menyaksikan pemandangan yang tak terpikirkan.
"Ya tuhan!!!"
Bukannya urine yang membasahi kloset, melainkan seorang bayi berwarna merah yang jatuh ke dunia dalam keadaan mengerikan.
Tak ada untaian kalimat yang mampu menggambarkan rasa sakit yang menghantuiku.
Rasa sakit yang melanda tak hanya fisik, namun juga rohani.
Dalam kebingungan yang terpatri, aku bertanya-tanya apa artinya semua ini.
Apakah ini hukuman? Ataukah ini hanya kebetulan takdir yang sadis?
Aku tak tahu jawabannya.
***
Dalam dunia yang penuh dengan ironi, kita sering kali menghadapi paradoks yang tak terduga.
Kita mungkin terbiasa melihat perempuan yang memerankan peran seorang laki-laki, tetapi bagaimana jika segalanya berbalik?
Jika seorang lelaki harus menanggung beban dan pengalaman seorang perempuan, termasuk mengandung dan melahirkan anak? Apakah kehidupan akan tetap berjalan sebagaimana mestinya?
Tidak! Kehidupan tidak akan lagi sama. Ketidakadilan dalam peran gender akan membelenggu dunia ini.
Dalam kompleksitas takdir yang telah diatur oleh-Nya, kita harus mengingat bahwa Tuhan adalah Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Pintar dalam menyelaraskan keseimbangan dunia.
Kita perlu bersyukur akan kehidupan yang kita miliki, meskipun penuh dengan penderitaan dan kesulitan.
Janganlah kita mengeluh hanya ketika sakit datang melanda.
Janganlah bersyukur hanya ketika kebahagiaan datang menghampiri.
Kita harus selalu mengingat bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan.
Ia memiliki kekuatan untuk mengubah daratan menjadi lautan, mengubah nasib kita secara tak terduga.
Ia menata kehidupan ini dalam harmoni yang menakjubkan.