Cafe's 10. Menunggumu tak sia-sia.
Baca sampai selesai aja dulu baru bisa bilang bagus atau tidak.
°°°
'gingin seosareul geochyeo
biroso cheot jullo jeokhyeo
na duryeoum ttawin eopseo
seororeul gama pogaeeojin salm
geudeureul gaman naeryeoboneun dal
yeojeonhi manha hago sipeun mal
uri jom bwa kkok hana gata.'
Lagu manis itu mengiringi badai 'manis' yang sedang mengguyur pusat kota. Tentu saja tidak! Mana ada yang namanya badai manis. Hanya saja lagu itu dinyanyikan sebelum terjadinya hujan.
Meskipun hujan lebat di luar sana, tak ada ketakutan dari para pengunjung tempat ini. Hujan kali ini sangat menyegarkan.
Seorang pria memasuki cafe itu. Bajunya tetap basah meskipun sudah memakai payung. Ia meruntuki kebodohan yang baru saja ia lakukan. Seharusnya ia tinggal dulu di tempat kerjanya sampai hujan reda. “uh, aku benci ini!” lirihnya mengibas-ngibaskan bajunya.
Ia berjalan menuju tempat kasir. “permisi, apa aku boleh menumpang disini sampai hujan reda? Pakaianku basah kuyup, maaf kalau aku mengotori lantai kalian.”
Perempuan itu tidak menjawab. Bengong karena sosok didepannya saat ini. Taeyong melambaikan tangannya didepan 'mbak-mbak' kasir tersebut. “hello? Noona!” ah, perempuan itu baru sadar.
“Ah, maaf. Iya tidak apa-apa. Anda mau pesan apa?” betapa malunya perempuan itu sekarang.
“Hot coffee satu.”
“Baiklah, tolong menunggu.”
Sambil menunggu, Taeyong mengedarkan pandangannya ke penjuru cafe. Pengunjung kali ini rata-rata pasangan kekasih. Ia menghela napas kasar nan panjang. Andai saja gadisnya masih ada disisinya, ia pasti akan mengajaknya pergi kencan saat akhir pekan. Jangankan akhir pekan, setiap hari pun ia lakoni.
“Permisi, kopimu sudah siap,” Taeyong mengambilnya dan membayarnya. Ia duduk di sudut kanan tepat di depan jendela kaca besar.
Taeyong mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang. “hoi adik jelek, buruan jemput aku! Aku kehujanan.”
“Kau pasti menerobos lagi, kan? Aih, mengganggu orang tidur saja!”
Taeyong berdecak kesal. Bagaimana bisa adiknya ini begitu pemalas. Kerjanya cuma tidur saja.
“Ini baru jam 7 dan kau sudah tidur? Bangun dan jemput aku sekarang. Aku kedinginan!”
“Iya iya! Kau dimana?”
“Di Cafe's 10. Yang ada di perempatan jalan menuju rumah Suho hyung.”
“Ooh, itu, oke.” panggilannya ia akhiri. Ia menggerutu tentang adiknya yang semakin lama semakin malas saja.
Dilihatnya rintikan demi rintikan air hujan yang menggenangi jalan. Hujan memang menyenangkan, tapi lebih menyenangkan lagi jika bersama pasangan.
Kenapa aku harus kehilanganmu disaat aku ingin memilikimu? Kenapa juga kau tidak mengingatku? Apakah aku harus melupakanmu? Baiklah. Aku akan mencoba.
Kalut dengan pikirannya, ia terkejut akan suara ringtone ponsel mliknya. “oi! Aku sudah didepan!” teriak dari seberang sana.
Taeyong bergegas keluar sambil membawa payungnya. Ia tak sengaja menabrak seorang pria yang hendak masuk ke cafe. “ah, maaf!” Taeyong membungkukkan badan kepada pria itu dan meminta maaf tanpa melihat siapa yang ia tabrak. Pria tadi hanya diam tak menjawab.
Taeyong segera berbalik dan ingin berlari menuju mobil adiknya. Tapi pandangannya terpaku oleh satu titik. Ia tak percaya tapi harus memercayai penglihatannya. Bayangan akan gadis yang ia tunggu akhirnya muncul. Walaupun hanya sekejap ia melihat gadis itu.
Waktu seolah berhenti. Penantiannya akan berakhir dan pengejaran akan dimulai. Terimakasih telah menunjukkan keajaiban-Mu.
Tinn! “WOI! BURUAN MASUK!!”
***
“Ice Americano satu,” pesan Taeyong pada Lea, pekerja paruh waktu yang dulu pernah terpesona dengannya. Sekarang pun masih.
Lea memberikan minuman tersebut pada Taeyong dengan wajah malu. Setelah Taeyong pergi ia baru bisa bernapas lega.
“Hei, kau ini kenapa?” tegur Seola, teman seangkatannya di sela-sela melayani pembeli.
“Huh, lama-lama aku bisa mati sesak napas setiap kali melihatnya.”
“Siapa? 'Anime berjalan'?” Lea mengangguk. Siapa lagi coba kalau bukan si 'anime berjalan' itu. Di antara beribu-ribu pengunjung, hanya 'anime berjalan' lah yang paling mencolok.
Seola menggeleng-gelengkan kepala heran pada Lea. Ia mengedarkan pandangan di sekitar meja. Pandangannya tertuju pada dompet berwarna coklat yang tergeletak di lantai. Ia mengambilnya dan menunjukkannya pada Lea.
“Dompet siapa, Seola?” sahut Jean, perempuan cantik yang menjabat sebagai bos mereka.
“Tidak tahu, mungkin pelanggan.” Seola memberikannya pada Jean. Jean menelisik dompet itu lalu membukanya. Untung saja ada tanda pengenal disana. Ia menunjukkannya pada Lea dan Seola.
“Anime berjalan!” kata Seola dan Lea serempak.
Jean mengernyit menatap mereka. “kalian kenal?”
Mereka meringis. “itu pembeli super tampan yang beberapa hari ini selalu kesini sambil celingak-celinguk.”
Jean langsung mengangguk malas meladeni mereka. “ya ya. Orang itu dimana? Biar aku kembaliin,” tanya Jean.
“Di lantai atas, bos. Eh bos, biar aku yang antar ya?” tawar Lea. Huh pasti ada sesuatu.
“No away! Ini akhir pekan, banyak pelanggan.” Jean langsung berbalik meninggalkan Lea dengan muka tertekuknya.
Ia mencari keberadaan orang tersebut. Ah! Ia melihatnya. Orang itu sedang mencari barangnya di kolong meja.
“Ini yang kau cari?” Jean menunjukkan dimpetnya didepan mata Taeyong. Taeyong langsung berdiri dan menatap perempuan itu.
Matanya terpaku pada Jean. Seseorang yang telah ia cari dan tunggu 3 tahun terakhir. Taeyong langsung mengubah mimik wajahnya. Ia kali ini tidak boleh kehilangan lagi.
“Ah, terima kasih. Kupikir hilang dimana,” kata Taeyong mengambil dompetnya. Jean tersenyum. Haish, senyum yang Taeyong rindukan.
“Boleh kau duduk menemaniku?” tanya Taeyong berharap.
“Apa tidak mengganggumu?”
“Tidak. Aku senang jika ada yang menemaniku.”
Jean pun bersedia. Ia duduk berhadapan dengan Taeyong. Taeyong mengulurkan tangannya. “aku Lee Taeyong.”
Jean menerimanya. “Wen Jean.”
Keduanya saling terdiam. Kalut dengan pertanyaan di kepala mereka masing-masing.
Karena canggung Jean pun membuka suara. “kata karyawanku, beberapa hari ini kau datang sambil mencari seseorang. Apa sudah ketemu?”
Taeyong mengangguk tersenyum. “ya, aku sudah menemukannya,” kata Taeyong terus menatapnya.
“Ooh. Kata karyawanku kau seperti anime berjalan. Ternyata benar.” Taeyong mengernyit bingung. “maksudnya?”
“Maksudnya, wajahmu itu mirip karakter anime.”
“Aku baru tau. Itu pandangan mereka. Kalau pandanganmu?”
“Aku melihatmu? Entah. Kau biasa saja seperti orang lain. Kau hanya seperti Lee Taeyong. ”
“'Hanya seperti Lee Taeyong', jadi seperti apa Lee Taeyong?”
“Entah. Aku tidak mengenalnya.”
Mereka saling tersenyum, saling bercanda, saling berbagi cerita, layaknya sepasang kekasih. Memang itu seharusnya.
Jean mengakhiri telepon dari rekan kerjanya dan bubu-buru untuk pergi. “maaf, aku harus pergi.”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Rekan kerjaku membutuhkanku sekarang.”
Raut muka Taeyong berubah sedih. Ia tetap menatap punggung perempuan itu yang kini kian menghilang dari pandangannya. Ah, perempuan itu berbalik menujunya. “apa ada yang tertinggal?” tanya Taeyong memastikan.
Jean malah mengulurkan tangannya. “teman?” tawarnya. Taeyong tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Hanya karena ini Jean berbalik?
“Tentu saja. Teman!”
***
Sesuai dengan janji, mereka kini bertemu di taman. “apa aku terlambat?” tanya Jean yang baru sampai di tempat dengan ngos-ngosan.
“Tidak. Tunggu, apa kau berlari?” selidik Taeyong ketika melihat penampilan Jean yang sedikit berantakan. Jean mengangguk lalu menggeleng.
“Tenang saja, aku berlari bukan karena buru-buru. Melainkan akan dikejar anjing milik Mingyu. Anjingnya itu sama seperti pemiliknya, sama-sama aneh.” Taeyong tertawa sambil merapikan surai panjang milik Jean.
“Sudah sudah, jangan membicarakan orang lain. Ayo kita jalan-jalan dulu.”
“Baiklah.” mereka bergandengan tangan.
Inilah mereka. Sejak insiden dompet itu, hubungan mereka semakin berkembang. Dan beberapa lama kemudian Taeyong mengencani Jean. Ia sudah sampai ke tahap ini, maka tinggal satu langkah lagi untuk Taeyong memiliki Jean seutuhnya. Jika saja, kejadian 3 tahun lalu tidak terjadi, mungkin mereka sudah bahagia bersama sekarang. Tapi, apalah daya kita hanya seorang manusia biasa tak mampu mengubah takdir.
“Tadi malam,” Jean menggantungkan kalimatnya karena menelan makanan, lalu melanjutkan. “tadi malam aku meminta izin kepada Kak Jun untuk hari ini.”
Taeyong serasa kmtercekik mendengar nama orang itu. Sudah lama ia lost contact dengan kakak Jean itu. “terus?” tanya Taeyong pelan sambil memakan menu pilihannya.
“Entah dia hanya tersenyum dan tidak menjawabku, sungguh aneh. Padahal biasanya dia akan mengomeliku ketika akan keluyuran.”
Taeyong mengubah raut wajahnya menjadi seperti biasa. “tak ada yang aneh menurutku, seorang kakak pasti seperti itu. Mungkin dia punya alasan lain.”
Jean mengangguk. “sudah selesai kan makannya? Ayo pulang, akanku antar.”
**
“Beberapa hari kedepan mungkin aku akan jarang atau tidak menghubungimu.” Taeyong mengernyit menatap Jean.
“Wae?”
“Aku akan ke China beberapa hari bersama Ibuku untuk mengunjungi pamanku. Di sana desa pelosok, kemungkinan sinyalnya tidak ada.” Jean menunduk tak berani menatap Taeyong.
Taeyong mengerutkan hidungnya. Ia menghela napas panjang. Menarik tubuh Jean lalu memeluknya erat.
“Kapan kau akan berangkat?”
“Besok pagi.”
“Huh, biarkan aku memelukmu lebih lama.”
Bukannya lebih lama, mereka terpaksa melepasnya karena teriakan Mingyu yang mengagetkan.
“Jean, masuklah ke dalam rumah sekarang!! Atau akan kuberitahu pada bibi?!” teriak Mingyu dari jendela kamarnya.
Jean mendengus sebal. Kenapa tetangganya ini sangat aneh.
“Ya sudah, sana masuk. Aku akan pulang. Hati-hati besok.”
Taeyong menunggu Jean masuk rumah terlebih dahulu, baru ia pulang ke rumahnya. Yaah, sepertinya ia harus menunggu lagi. Tak apalah, yang penting perjuangannya kembuahkan hasil. Satu langkah lagi.
Taeyong mengepalkan tangan. “FIGHTING!!”
“WOY! Mengganggu orang tidur saja!!”
***
“Permisi, apa bos kalian ada?”
“Maaf, sepertinya dia belum pulang.”
Seperti biasa, setiap malam Taeyong menunggu kedatangan Jean. Setelah membeli minuman, ia duduk di bangku dekat jendela depan. Menangkup wajah dengan sebelah tangan dan miring menatap jalanan yang dilewati banyak orang.
“Apa aku boleh duduk disini? Kursi lain penuh,” tanya seorang laki-laki. Taeyong menjawabnya hanya dengan berdehem tanpa melirik ataupun menatap laki-laki itu.
Jun duduk di samping Taeyong menghadap langsung ke arah jalan. “sedang menunggu seseorang?” lagi-lagi Taeyong menjawabnya dengan berdehem.
“Berapa lama?”
“Waah, lama sekali. Tetapi kau tidak karatan atau lumutan, pakai pengawet apa?”
Taeyong mendelik mendengarnya. Ia langsung melihat siapa orang tersebut. Betapa terkejutnya Ia melihatnya. “kak Jun?”
Jun mengangkat bahu dan meminum kopi milik Taeyong tanpa izin. “kau itu masih sama seperti dulu. Tidak memerhatikan orang lain.”
“O-oh, aku baru tahu.”
“Hmm.”
Suasana mendadak canggung. Taeyong sudah lama sekali tidak bertemu dengan Jun.
“K-kak, maaf tidak pernah menghubungimu selama ini. Dan masalah Jean...”
“Tak apa. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku yang memisahkan kalian waktu itu. Boleh aku bercerita?” Taeyong mengangguk dan Jun melanjutkan berbicara.
“Dulu aku marah padamu karena kau yang menjadi alasan kecelakaan Jean waktu itu. Saat itu aku tidak tahu tujuanmu apa mengajak kencan adikku secara tiba-tiba, apalagi sudah sore. Jadi, aku mengikutinya. Bukan berarti aku mencurigaimu sebagai penjahat atau bagaimana, hanya saja aku ada firasat aneh. Aku terus mengikutinya, sampai di perempatan jalan ia tertabrak mobil.”
Ia menjeda ceritanya, menatap Taeyong yang beraut cemas mendengar ceriyanya. Sudah dipastikan bahwa Taeyong tidak tahu kronologi peristiwa itu yang sebenarnya.
“Mobil itu dari arah kanan, dalam pengejaran polisi karena mabuk. Mobil itu menghantam Jean sampai jauh. Aku yang di sana hanya diam melihat kejadian itu. Shock karena kejadian begitu nyata di depan mataku. Lalu suara mobil polisi menyadarkanku. Aku langsung berlari menuju adikku yang tergelempar berlumuran darah,”
“Aku kira kontrak hidupnya sudah berakhir, tapi kata dokter ia kemungkinan masih bisa hidup setelah di operasi. Aku memberitahu ibu dan ayah, saat itu mereka masih di Korea. Ayah shock sampai terkena serangan jantung.”
“Jean dan ayah sama-sama di rawat selama 2 minggu. Bedanya, Jean kembali tapi ayah tidak. Kau sudah tahu kalau ayahku meninggal, bukan?”
Taeyong mengangguk dan Jun menundukkan kepala semakin dalam, tapi terus bercerita.
“Itulah kenapa aku marah padamu. Kalau saja kau tidak mengajak adikku malam itu, mungkin dia akan baik-baik saja, mungkin dia tidak akan mengalami amnesia, dan mungkin juga ayahku tidak tiada,”
“Aku langsung membawa Jean ke Korea setelah mendengar berita bahwa ayahku sudak meninggal. Aku sudah tidak memerdulikanmu. Lalu beberapa hari setelah berkabung, ibu memberitahuku tentang niatmu waktu itu. Memang niatmu itu baik ingin melamar adikku, tapi aku terlalu marah denganmu. Aku menyuruh ibu agar tidak memberitahumu kalau kami di Korea. Tidak peduli kau tahu keadaan kami atau tidak, yang penting bagiku saat itu keselamatan ibu dan adikku, dan menjauhkanmu dari mereka berdua,”
“Lalu 3 tahun setelahnya, aku baru sadar kalau aku salah. Aku tak mengira kalau kau masih berjuang. Maafkan aku.”
Mereka saling terdiam. Dirasa Jun sudah selesai, Taeyong angkat bicara.
“Selama 3 tahun ini aku selalu mencari Jean. Mungkin kau tidak tahu, tapi aku benar-benar mencarinya. Aku juga mencari di tempat pamanmu yang di desa. Aku meminta bantuan pada Chenle, Lucas, Kun, dan Winwin. Kami mencari di wilayah tempat tinggal masing-masing. Mereka selalu punya koneksi,”
“Tapi, mau bagaimanapun mencarinya di seluruh wilayah China juga tidak akan ketemu. Lalu Kun menyuruhku untuk pulang ke Korea dan menghapus Jean dari ingatanku. Aku awalnya tidak setuju, tapi setelah di nalar, benar juga adanya. Aku pun kembali ke Korea dengan putus asa, tapi tidak disangka aku malah mendapat titik terang. Malam itu,...”
“Aku tau! Malam itu kau melihat Jean walau sekelebat mata. Kau yang basah kuyup masuk ke dalam mobil hitam. Kau orang yang menabrakku. Ya, kan?” potong Jun cepat.
“Hehe, kak Jun bisa aja.” lalu Taeyong berubah serius.
“Kak aku rasa ini waktu yang tepat untukku ke langkah selanjutnya. Aku bersungguh-sungguh mencintai Jean. Kak, apa restu kalian masih sama seperti waktu itu?” Jun awalnya terkejut, namun mencoba biasa saja.
Ia tersenyum. “kau itu gercep sekali. Justru aku menemuimu karena itu. Aku mewakili keluargaku memberikan restu pada kalian. Jean hampir setiap hari membcarakanmu, ia juga tertawa seperti sebelumnya. Aku harap kau tidak mengecewakan kami.”
Senyum cerah tebit di wajah Taeyong. Jun tiba-tiba berdiri. “kenapa, kak? Mau pergi?”
“Hmm, ke Bandara jemput mereka.”
“Boleh aku ikut?”
“Tidak! Kau urus saja cincinnya.”
***
Ia melangkah memasuki area lantai 2 yang semula dari biasa menjadi luar biasa. Meskipun meja kursi masih sama, tapi hanya satu yang mencolok di antaara yang lain.
Meja itu dihiasi lilin dan bunga mawar. “duduklah,” pinta laki-laki di depannya. Makan malam romantis Jean tak pernah menduga akan mendapatkannya.
“Jean,” panggil Taeyong pelan. Jean mendongak menatap laki-laki itu dengan gugup.
“Jean, aku tidak pandai berbicara romantis. Aku tidak tahu konsep ini sudah tergolong romantis atau tidak. ku tidak tahu,, haish aku tidak tahu harus mengatakan apa.”
Jean terkikik mendengarnya. Dalam suasana seperti ini masih juga bergurau.
“Tapi Jean, aku bersungguh-sungguh padamu. Kita melewati semua bersama. Aku mengenalmu dan kamu mengenalku. Aku bahkan lebih dulu mengenalmu,”
“Jean, apakah kau ingin menjadi temanku? Bukan hanya teman biasa, tapi juga teman hidup. Aku ingin hanya kau yang menemaniku dalam sisa hidup ini. Aku ingin kau menjadi segalanya bagiku,”
Air mata Jean tak mampu di tahan lagi. Bulir-bulir air itu membasahi pipinya. Ia tak menyangka seserius ini Taeyong padanya.
Dari awal bertemu, Jean selalu tertarik pada pesona yang di miliki laki-laki itu. Bukan saat mengembalikan dompet, melainkan saat Jaehyun mengenalkan Taeyong padanya. Ya, kejadian itu 5 tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu kalau ingatannya kembali pulih setahun yang lalu. Ia hanya memendam itu sendiri.
“Jean, will you marry me? Aku sungguh mencintaimu dan menyayangimu. Aku sangat bersungguh-sungguh padamu. Jadi, Wen Jean, maukah kau menemaniku di sisa hidupku?”
Jean tersenyum dan mengangguk mantap. Untuk apalagi berpikir jika sesuatu yang kita tunggu sudah di depan mata. “ya, aku terima.” tak ada yang mampu menyembunyikan kebahagiaan mereka. Taeyong menyematkan cicin di jari manis Jean. Cincin 3 tahun lalu itu memiliki kenangan yang berarti.
Hasil dari perjuangan menunggu mereka tidak sia-sia.
5 tahun yang lalu kini akan menjadi 50 tahun yang akan.
EnD