Aku Rangga seorang Freelancer yang bekerja sebagai penerjemah bahasa jepang ke indonesia, kehidupanku sangatlah monoton, yang aku lakukan dipagi hari hanyalah mentranslete sebuah komik ataupun novel yang bayaran nya cukup untuk aku makan, walau begitu jika aku membutuhkan sesuatu aku cukup mengambil uang dari warisan ayah dan ibuku yang telah meninggal 5 tahun yang lalu, mereka mengalami kecelakaan ketika mengendarai mobil Corolla Altis di persimpan jalan raya, aku tak tahu kejadian nya seperti apa aku hanya diberikan kabar oleh rumah sakit yang menangani jasad kedua orang tuaku, aku tersentak mendengar kabar kematian mereka, yang pasti mereka mengalami sebuah tabrakan beruntun yang mengakibatkan 3 pengendara mobil tewas di tempat, saat itu aku masih duduk dibangku SMA kelas 10, karena hal itulah aku menjadi anak pendiam, tak ada orang yang mendekatiku untuk berteman apalagi perempuan, itu sangat mustahil dengan mukaku yang pas-pasan.
Sekarang ini aku duduk ditepi pantai yang cukup dekat dengan rumah, suasana nya sangat nyaman ditambah ombak yang saling kejar membuat percikan air yang menenangkan ditengah itu matahari mulai tenggelam dengan cahaya nya yang kemerahan membuat pantai itu sangat eksotis untuk dipandang.
aku disana cukup lama terdiam tanpa sepatah kata, namun hari itu berbeda dengan hari-hari yang lain, seorang wanita remaja SMA terlihat sedang asik berlarian di tepi pantai tanpa memakai alas kaki.
Di tersenyum gembira sambil merentangkan tangan nya seperti burung merpati, saat kulihat dia... kedua mata kami saling bertemu dia berhenti sejenak dari langkah nya sambil mengucapkan sesuatu kepadaku dengan wajah kemerahan.
"A-apa lihat-lihat," ujar wanita itu gagap.
"Maaf, lanjutkan saja dan terus berlarilah, anggap saja aku tidak ada."
Aku memalingkan pandanganku dan kembali melihat sunset, dia melanjutkan langkah nya sambil tersenyum manis kearahku.
"Sedang melihat apa kak?"
"matahari itu cantik sekali ya."
Ia pun mulai duduk didekatku tanpa ijin, lalu berkata kepadaku.
"Kalau boleh tahu siapa nama kakak?"
Aku terkejut sambil melihat wajah nya, sambil menjawab nya, "aku Rangga."
Dia masih menggunakan seragam SMA rambut hitam nya terurai namun halus seperti sutra, aku tak tahu kenapa dia dengan mudah nya bergaul dengan seseorang.
Wanita tersenyum lalu menoleh kearah mataharu, "Aku wulan, salam kenal."
Banyak pertanyaan dalam benakku tentang wulan, lantas aku bertanya.
"Wulan, apa kamu sedang sedih?"
"Hah? bagaimana kamu tahu kak Rangga?" kaget wulan.
"Aku hanya menebak," jawabku singkat kepada nya.
"Yaa... mungkin kak Rangga benar, aku hanya ingin disini lebih lama lagi," ucap wulan memandangi matahari yang sudah hampir tenggelam termakan pergantian malam.
"Apa maksud nya? lebih lama lagi?'
selepas itu aku berdiri untuk beranjak pergi tanpa memikirkan ucapan wulan tadi, aku menoleh kearah nya, "sudah malam, nanti mamahmu cariin loh."
"Ih apaan sih kak Rangga"
"Oh iya kak, besok kak Rangga kesini lagi tidak?" tanya wulan penasaran.
"aku hanya datang dikala sore," jawabku sambil berjalan menjauhi nya karena hari sudah petang.
Dia hanya tersenyum lebar dan menantikan pertemuan kami, walau aku tak tahu kenapa dia mau bergaul dengan orang asing seperti aku.
Setiap sore kami saling bertemu dan berbincang bincang dan pulang dikala petang, yang semula aku masih ragu untuk berteman namun entah kenapa aku menjadi nyaman ketika dekat dengan nya, setelah aku bekerja sebagai translator dengan riang aku menantikan waktu sore untuk bertemu dengan wulan.
Sudah 2 bulan aku menemani Wulan, kami semakin akrab, lalu sering berbagi pesan setiap hari nya, aku juga tahu alamat rumah dan tempat dia sekolah.
"Kak rangga..." tanya wulan menggoda.
"Em... apa?" jawabku bingung.
"Main air yukk, hehe."
Wulan menarikku dengan paksa namun tersenyum manis seperti tak bersalah, aku hanya menurut dan mengikuti nya.
Kami bermain main disana, kata wulan sambil mencipratiku dengan air laut, "Kak Rangga punya kekasih gak?"
"Tidak memang kenapa?"
"Eh Wulan awas ada ombak," Kataku kepada gelombong itu cukup besar dan dapat menjatuhkan seseorang.
"Hah apa kak?" ucap Wulan yang masih tak mengerti dengan situasi nya.
bwushh...(suara ombak menghantam nya)
"A-aduh, basah."
"Ka-Ka-kak Rangga ngapain lihat-lihat ihhh, kak Rangga mesum," ujar Wulan terbata-bata sambil menahan malu.
Aku tahu hal itu, aku memalingkan wajahku yang merah masam, "Jangan lihat bodoh, tuhan bisa marah," batinku kesal, padahal sebagai pria juga ingin melihat nya, namun aku tahu itu dosa, karena tak mau membuat situasi nya menjadi runyam, aku meminjami hoddie ku kepada nya.
"Nih pakai, gapapa basah yang penting gak terlihat."
Wulan mengambil Hoddie itu dengan malu-malu, "Terimakasih."
"Anu, pulang nya aku antar mau?"
Entah kenapa perkataan itu terlontarkan, sungguh apa mungkin ini aku sedang jatuh cinta? saat aku ingin membatalkan nya sayang sekali Wulan menjawab nya lebih dulu.
"Yaudah yukk rumahku gak jauh kok dari sini," ucap Wulan menarik tanganku yang menbuat wajahku semerah tomat.
"I-iya."
Benar kata nya rumah nya cukup dekat dengan pantai, aku di sambut oleh kedua orang tua Wulan, namun aku menolak dengan alasan sudah petang, mereka mengerti dan menbiarkan, Wulan melambai kearahku ketika aku sudah cukup jauh, aku menbalas nya juga dengan gerakan yang sama, entah kenapa baru kali ini, hatiku berdetak-detak tak karuan bahkan rasa nya seperti mau meledak.
Sesampai nya dirumah aku tidur di rancangku yang lembut dan berharap waktu berjalan cepat.
------------------------£------------------------
Pagi hari aku sambut dengan senyuman pekerjaan aku kerjakan dengan semangat, sambil menterjemahkan bahasa jepang, aku melihat kearah jam, hari itu jobku cukup padat dan selesai pada pukul 15:40 aku bergegas kepantai untuk menemui Wulan.
Biasa nya dia akan menunggu di ayunan, tepat dibawah pohon yang rindang namun saat aku berjalan kearah nya dia tak ada, aku menoleh kesana kemari tak juga menemukan nya.
"Mungkin tugas sekolah nya cukup padat, wajar sih diakan anak kelas 3."
Aku menikmati waktu sendiri itu seperti dulu, dihari berikut nya wulan juga tak dapat namun aku beralasan sama dan menganggap wulan pasti sibuk dengan tugas sekolah nya.
Kini sudah 1 minggu terlewat, aku rindu sekali ingin bercerita dengan nya, dipagi itu aku berhenti sejenak dan tidak mengambil job karena ingin menjenguk Wulan, lagi pula rumah nya juga dekat dan tak terlalu jauh dari rumahku.
Aku mengetok pintu rumah Wulan, Ibu nya membukakan pintu.
"Siapa ya? oh teman nya Wulan mari masuk nak" ajak ibu Wulan kepadaku.
"Ah baik tante."
Rumah nya begitu rapi, Ibu Wulan berkata kepadaku, "Wulan sering banget loh menceritakanmu nak."
"Benarkah tante?" tanyaku kepada ibu Wulan.
"Iya, hahaha dia anak yang periang dan mudah bersosialiasi pasti seru main dengan anak tante." ujar ibu Wulan seakan akan, dia mengerti perasaanku.
"eh tunggu sebentar nak Rangga."
"Bawa ini, suruh dia makan hari ini dia ngambek kepada ibu gara-gara tidak boleh main." ucap ibu wulan sembari memberikan semangkuk makanan.
aku bertanya tanya makanan apa yang akan dimakan Wulan nanti namun saat aku menengok kearah mangkok itu membuatku semakin bingung.
"Bubur?"
"Iya, tugas Wulan banyak banget dia jadi marathon mengerjakan semua tugas nya, akibat nya dia jadi Demam selama 3 hari ini hahaha dasar anak itu.."
"Owh, baik tante, akan ku pastikan dia akan memakan nya dengan lahap." jawabku tersenyum kepada ibu Wulan.
"Yasudah ibu tinggal yaa..." berjalan meninggalkanku
"Baik tante."
Aku pun mengetok pintu kamar Wulan, pintu nya tak terkunci daripada menunggu lama, aku masuk ke kamar nya tanpa seijin Wulan, disana dia berselimut tebal dan mengenakan kompres didahi nya.
Aku pun berjalan lalu duduk dipinggir Wulan yang masih tertidur lelap, dengan santai aku mengecek dahi nya yang ternyata sangat panas seperti tungku api yang baru saja digunakan.
"Lekaslah sembuh dan bermain lagi bersamaku," ucapku pelan walau aku cukup sedih melihat nya kesakitan menahan demam.
Dia membuka mata nya secara perlahan terkejut melihatku berada disamping nya.
"Ka-ka-kak Rangga ngapain disini?"
"Oh sudah bangun?"
"Emm, gak tau, aku bergerak dengan sendiri nya."
"Maksud kakak?" tanya Wulan menutup setengah wajah nya menggunakan selimut.
"Bawel banget tanya ini itu, nih makan bubur."
Dia menuruti atas perkataanku, aku menyuapi nya perlahan dia senang atas kehadiranku disamping nya ketika dia sakit, kami bercanda tawa selepas itu tanpa memikirkan waktu yang sudah berjalan dengan cepat.
Setelah 4 tahun berlalu aku melamarnya, ibu dan ayah nya mendukungku, aku bersyukur karena tuhan mempertemukan aku dengan nya yang menbuatku terlepas dari julukan, "Anti sosial."
aku memulai karirku untuk menjadi seorang guru bahasa jepang di SMA harapan 1
Aku bahagia dan hidup menua bersama nya, saling berbagi suka dan duka tanpa mempersalahkan jika ada suatu kesalahan dalam hubungan rumah tangga.
END