Hari ini tepat awal bulan november, hari dimana diramalkan bahwa akan ada hujan yang tak bisa diprediksi kapan datangnya. Namaku Tania Atthaila, baru saja SMA kelas XII.
Katanya, saat kita diguyur hujan adalah hal dimana kita bisa menghayalkan sesuatu yang membuat kita bahagia. Walau pun setelah hujan berhenti semua itu mungkin menghilang secara tiba-tiba. Namun bagiku semua hanya mitos belaka yang tak ada di dunia nyata, mungkin orang yang mengalaminya hanya merindukan sosok orang yang pernah hilang dari hidupnya saja. Bahkan sampai saat ini masih tak adakan hal seperti itu.
"Tania!"
"Siapa?"
Seorang cowok tinggi dan tampan mengampiri Tania yang tengah menunggu hujan reda di halte bus dekat sekolahnya.
Teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu, jadinya ia tidak bisa nebeng ke rumah. Jika saja ia tidak diganggu Sania dan temannya mungkin ia sekarang berada dirumah.
"Kamu Tania kan! hai salam kenal aku Bima. Apa kamu butuh tumpangan?" ujar lelaki yang bernama Bima itu.
"Tidak, kita baru saja mengenal terlebih kita berbeda lawan jenis, tak baik jika langsung pergi begitu saja!" tolak Tania.
"Tapi jika aku bilang, aku mencintaimu bagaimana?" ujar Bima membuat Tania terkejut lalu menatap Bima.
Baru saja ia mengenalnya beberapa detik yang lalu, tetapi sudah langsung bilang cinta. Tapi kalau dia berbohong, kenapa senyumnya benar-benar seperti tidak berbohong.
"Itu hal yang gila! kamu pasti bercanda kan?" tanya Tania sedikit menjauhkan diri dari Bima karena ia masih belum mengerti maksud dari tujuan Bima kepadanya.
"Jika itu kegilaan....aku akan tetap melakukannya! dan kamu Tania, aku benar-benar tidak bercanda sama sekali denganmu!"
Kini Bima serius dan menatap lekat-lekat mata Tania, sebaliknya juga Tania mencari kebohongan dari mata Bima. Namun, nihil....! tak ada secuilpun kebohongan pada matanya.
"Begitu, lantas bagaimana kau mengenalku? bahkan bukankah kita tidak pernah bertemu!" ujar Tania memastikan sekali lagi.
"Tidak, kita pernah bertemu sebelumnya...."
Bima tiba-tiba tidak melanjutkan pembicaraannya, ia menatap Tania dengan tatapan lemah lembut seperti dia tidak ingin seseorang yang ia tatap ini pergi.
"Kenapa, maksudku....kapan dan....dimana kita pernah bertemu?" tanya Tania kepada Bima.
Hujan semakin deras, Bima mengalihkan pandangan ke arah jalanan depan halte. Tania dibuat penasaran dengan apa yang diucapkan Bima.
".....Dulu! di kehidupan sebelumnya. Bahkan kita menjadi pasangan suami isteri yang sangat bahagia dengan dikaruniai seorang anak yang masih kau kandung!" ujar Bima.
"Saat itu dengan bodohnya aku tidak bisa melindungi kamu dengan calon anak kita."
Air mata Bima menetes, ia bahkan meruntuki dirinya sendiri karena gagal menjadi suami dan ayah bagi isteri dan calon anaknya.
Dosa apa yang ia perbuat sehingga dengan mudahnya ia mempercayai sahabatnya yang hanya ingin dirinya hancur. Bima di kehidupan dulu mengusir isterinya keluar dari rumah malam-malam, bahkan tak mempedulikan anak yang masih di dalam kandungan isterinya sekarang. Hingga kecelakaan lalu lintas mengambil nyawa dua orang itu dengan tragis.
"Apa kamu masih bisa memaafkan orang bodoh ini, Tania? dia sudah gagal menjadi suami dan ayah yang baik. Bahkan dia saja membenci dirinya saat ini!" ujar Bima dengan suara yang serak karena menangis.
Biarlah dia menjadi orang yang cengeng karena isterinya, karena baginya saat ini adalah kembali bersama Tania seperti di kehidupan dulu. Namun mungkin ia hanya hayalannya saja! karena tak ada orang yang mau menerima kejahatan seperti itu.
"Hiks...Hikss...a-apa dengan menyalahkan diri kau bisa membahagiakan isterimu? bukan berarti baru mencoba sudah gagalkan? Karena aku menilaimu karena kamu mau jujur dan terbuka kepadaku. Meski kau tau aku tak mengingatnya!" ucap Tania sambil mengusap air matanya.
Ia memandang ke arah Bima, Tania mencoba memagang tangan besar milik Bima. Merasa ada yang memegang tangannya, Bima melihat tatapan Tania kepadanya.
Yang dia lihat bukan tatapan kesal maupun membenci, tetapi tatapan sendu dan rindu yang sangat mendalam. Bima mencoba menelan kembali kata-kata yang baru diucapkan Tania.
"Kamu memaafkan ku? tapi Kenapa, bukankah aku orang berengs*k yang harusnya dibenc...!"
"Sttttt!" Tania menempelkan jari telunjuknya ke mulut Bima.
"Tidak ada yang membencimu, Bima! aku memaafkan kamu, karena usahamu untuk mencariku. Meski aku sedikit sakit tentang apa yang kau ceritakan...tetapi kita bisa memulainya kembali!" ujar Tania tanpa ragu.
"Kita juga bisa memiliki seorang anak kembali nanti, mungkin dia juga mengerti bagaimana perasaanmu saat kau menyesali dia pernah menyakitinya! Semuanya pasti akan membaik...saat kita mau menjalaninya."
Tania tersenyum manis ke arah Bima, Cup!!
Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Tania, Bima benar-benar sudah gila jika dulu pernah meninggalkan wanita seperti Tania didalam hidupnya.
Tidak papa jika harus mengulang kebahagiaan, namun saat semua itu terjadi....kamu harus ada disampingku! batin Bima.
Mereka saling memeluk erat, kali ini hujan pada awal november menjadi saksi bisu mereka atas kisah cinta yang benar-benar sederhana, dimana mereka percaya satu sama lain, saling memaafkan, jujur, dan tetap setia menunggu apa yang seharusnya ditunggu. Percayalah pada pasangan kalian, bahwa sebuah cinta tulus didasari rasa percaya maka hubungan itu akan terjalin dengan indah disaat waktunya.
-Tamat-