"A...apa? Formulir beasiswaku di terima?"
"Ya, silahkan besok anda mengambil kelasnya. Urusan lainnya akan di urus oleh panitia penyelenggara. "
Tuut Tuut
Aku pun segera mengguling-gulingkan diriku di kasur. Untuk satu hal.
Bagaimana bisa aku diterima?
Aku ingat sekali di beberapa bagian draft formulir beasiswa masih ada yang tidak jelas. Dikarenakan waktuku yang sudah mepet. Apalagi dosenku juga masih menuntut tentang skripsi tambahan. Membuatku terpaksa mengerjakannya semalam suntuk. Seharusnya aku sudah mengerjakannya beberapa hari yang lalu. Tapi sayangnya penyakitku selalu kambuh yang akhirnya membuatku bolak-balik masuk rumah sakit.
Sehingga untuk saat itu aku sempat berpikir mana mungkin aku akan diterima. Sehingga aku mulai fokus untuk langsung magang tanpa harus melanjutkannya ke s2. Lagipula keluargaku juga belum tentu bisa membiayainya. Dikarenakan hanya berkerja sebagai pemilik cafe dekat stasiun kota Seoul.
Aku pun mulai mengingat kembali tentang ingatan kejadian tadi pagi.
Astaga aku baru ingat jika aku akan sekelas dan seuniversitas lagi dengan Yoo Jung.
Ini buruk. Aku pun memulai operasi mengobrak-abrik seluruh lemari pakaianku. Lebih baik aku menerima pernyataan beasiswa dari universitas lain daripada yang satu ini. Apalagi jika mengetahui bahwa aku akan sekelas dengan Yoo Jong lagi setelah ingatan buruk yang terjadi satu tahun lalu. Tidak. Aku tidak ingin mengalaminya lagi.
"Hong Seol!! Apa yang kau perbuat di atas sana. " Teriak ibuku yang berjalan menuju kamarku di lantai atas.
Astaga aku lupa bahwa aku masih tinggal dengan keluargaku. Betapa pahitnya kenyataan ini.
"Tidak apa-apa bu. " Jawabku sambil tetap memasukkan pakaianku ke dalam tas. Pokoknya hari ini aku harus pindah. Aku yakin sekali Yoo Jung pasti akan membuatku mati kutu di sana. Meskipun aku termasuk kalangan anak-anak cerdas di universitasku.
Brakk
"Hong Seol!! Haah?" Ibuku pun menatap segudang pakaian yang sengaja kemasukkan secara paksa. Sehingga tanpa sadar aku pun segera tersenyum kikuk.
Situasi canggung ini aku sudah pernah mengalaminya.
"Kau ini sudah berapa kali aku nasehati!! Hong Seol janganlah kau membangkang dari orang tuamu." Teriak ibuku mendakwa kesalahanku untuk kabur tanpa bilang-bilang.
"I..iya bu. " Jawabku sambil menundukkan wajahku dengan senyum kikuk yang masih terpasang.
Ini buruk.
🧀🧀🧀
"Seol, kau liburan ini selalu mengurus beasiswamu ya?" Tanya Jang Bora - sahabatku dengan menggandeng erat tanganku.
"Tentu saja, kan Seol termasuk kalangan anak cerdas di kampus." Tambah Kwon Euntaek membenarkan ucapan Bora. Padahal sebenarnya selama ini aku tersiksa dengan tugas-tugas yang masih diberikan dosen padaku meskipun aku tau sebenarnya sudah naik tingkat.
"Ini adalah beberapa proposal yang akan kuberikan pada dosen fakultas seni itu. Bora kau nanti akan menemaniku kan?" Tanyaku padanya dengan menunjukkan setumpuk kertas berisi tulisan tentang globalisasi seni di dunia yang jarang diperhatikan.
"Tentu saja! Tapi ingat setelah itu mari kita minun-minum! Euntaek kau ikutkan. " Teriak Bora histeris memeluk kami berdua.
"Oke, lagipula minggu ini masih terlalu cepat juga untuk fokus kuliah. " Balas Euntaek tersenyum.
Bukk
"Ma..maaf." Ucapku yang meminta pada seseorang. Dan seseorang itu adalah. Yoo Jung?
Kenapa bisa bertemu secepat ini?
"Tidak apa-apa kok. Lain kali berhati-hatilah ya, Hong Seol. Semoga kau berhasil ya di fakultas seni. "
"I..iyaa." Aku pun segera menundukkan diri untuk menghindari tatapan Yoo Jung.
Ada apa ini bukankah seharusnya ia hanya diam saja seperti tahun lalu ketika aku menabraknya. Tapi kenapa sekarang ia malah tersenyum. Apa itu benar Yoo Jung yang dulu?
🧀🧀🧀
"Bora tolong tunggulah di sini. Aku akan masuk memberikan skripsi untuk dosenku lebih dahulu." Kataku pada Bora yang malah sepertinya sedang asik memainkan handphonenya. "Bawakan tasku ini sampai aku keluar nanti bisakan. "
"Oke, percayakan saja padaku, Seol. " Jawab Bora sambil menerima tasku.
Betapa luar biasanya temanku ini menerima tas tanpa melihat tasnya
Pikirku terpesona melihat apa yang sedang terjadi di hadapanku ini. Tapi setelah itu aku pun segera terpikir untuk segera menarik nafasku sebelum masuk dan.
Brakk
"Kau sudah datang?" Tanya dosenku dengan ramah.
"Iya, pak. Silahkan ini tugas terakhir skripsi saya. " Ucap menunduk hormat pada guru yang selama ini telah mengajariku dengan baik di universitas seni Seoul. Meskipun sebenarnya dia telah terlalu baik padaku. Hanya karena aku adalah anak cerdas.
"Wahh, memang kau ini anak cerdas ya Seol. Bapak bangga telah memberikan beasiswa padamu daripada kontestan lainnya." Ucap dosenku menepuk-nepuk punggungku.
Kontestan? Kenapa bukan kontestan-kontestan saja? Apa mungkin kebetulan pada saat itu sainganku hanya satu orang?
"Iya, pak saya juga beruntung telah diajari oleh bapak daripada dosen-dosen lainnya. " Pujiku pada dosenku untuk mempersingkat percakapan.
Aku pokoknya harus segera keluar dari sini secepatnya sebelum di ajak ke dalam perdebatan tentang seni lagi.
"Kau mau minum teh dengan bapak tidak." Tawar dosenku memberikan teh hijau kesukaanku.
"Ummm, sepertinya setelah ini saya masih ada kelas pak. Saya mohon undur diri sekarang saja. "
"Hahaha, baiklah kalau begitu. Semoga lain kali kita bisa berbincang dengan bebas di luar. Bapak akan menawarkan beberapa proyek dari perusahaan seni multinasional agar bakatmu bisa lebih berkembang, Hong Seol. "
"Terimakasih pak, saya mohon undur diri dulu. " Ucapku lalu menundukkan diri dan segera berjalan keluar.
Hufftt, akhirnya satu urusan telah selesai.
"Kau sudah selesai?" Tanya seorang dengan suara yang familiar sekali.
Yoo Jung?
"Ke..kenapa kau ada di sini?!" Tanyaku yang meloncat tiba-tiba karena kaget. "Bo..bora ada dimana?"
"Katanya dia sedang pergi ke kamar mandi. " Jawab Yoo Jung dengan tersenyum padaku.
Entah kenapa rasanya senyuman ini masih terasa seperti pedang bermata dua bagiku seperti tahun lalu. Laki-laki ini apakah ingin membuatku mengalami masa-masa seperti itu lagi kah. Ketika aku harus menerima fakta bahwa seseorang yang sama sekali belum pernah berbicara denganku malah langsung membenciku begitu saja yang membuatku harus terlihat berbeda dimatanya. Apa aku sekarang langsung pergi saja ya.
"Kau kenapa?" Tanya Yoo Jung yang menyentuh dahiku. "Padahal tidak panas tapi kenapa kau terlihat pucat sekali sekarang?"
"Y...ya aku sekarang sedang terkena penyakit tiba-tiba!" Jawabku lalu segera mengambil paksa tasku yang berada di tangan Yoo Jung dan berlari pergi ke arah kamar mandi. "Terimakasih karena telah menjagakan tasku hari ini!" Ucapku sambil berlari.
Uhh, betapa berantakannya aku ini.
🧀🧀🧀
"Kau sudah datang?" Tanya Bora berteriak padaku. "Di sini!"
Aku pun berjalan mendekati Bora yang ternyata telah bersama Euntaek.
"Hey, kenapa kalian tidak mengajakku bersama sekalian juga." Ucapku sambil menuangkan gelas bir untuk diriku sendiri.
"Seol sudah datang ya?" Tanya Yoo Jung yang berusaha duduk di dekatku. Dan ternyata ia tidak datang sendirian melainkan juga membawa seluruh komplotan gengnya.
Bagaimana ia bisa berada dimana-mana.
"Yoo Jung! Kenapa kau malah ada disini? Bukankah kita seharusnya akan ke mall." Teriak seseorang dengan perawakan tubuh yang tinggi sehingga aku terpaksa menundukkan diri untuk mengurangi rasa intimidasinya.
"Inho kalian pergilah berdua saja bersama Inha." Jawab Yoo Jung dengan tenang.
Oh tidak... Kau saja semua yang sekalian pergi!
"Aku hari ini sedang ada acara dengan nona-nona ini ya, kan. " Yoo Jung pun terlihat tersenyum pada kami.
"IYA, Yoo jung hari ini ada acara bersama kami semua. " Jawab Bora dengan sedikit berteriak.
Sepertinya euntaek akan cemburu karena reaksi berlebihan bora. Andai saja aku hari ini tidak bertemu dengan Yoo Jung pasti semuanya tidak akan seberantakan ini.
"Oh baiklah kalau begitu. Tapi jika Inha akan menanyaimu tentang aku katakan aku juga sedang pergi. Karena aku yang tidak suka ketika harus menemaninya setiap kali harus belanja ke mall. " Ucap Inho lalu segera berjalan pergi keluar.
"Baiklah." Jawab Yoo Jung lalu segera mengalihkan perhatiannya pada kami. "Apa kalian menyukai parfait. Aku bisa pesankan untuk kalian."
"Tentu saja! Tapi aku tidak mau jika harus mengantri sendirian saja. Kau mau kan menemaniku. " Ucap Bora memberikan kode pada Yoo Jung.
"Tidak! Biar aku saja yang menemani Bora mengantri!! " Jawab Euntaek lalu menggandeng paksa Bora untuk mengantri.
"Pfftt." Aku pun berusaha menahan rasa tertawaku ketika melihat euntaek yang cemburu karena bora. "Hwahahaha!"
"Menyedihkan."
Seketika itulah rasa ingin tertawaku memudar. Apa benar jika Yoo Jung ingin membuatku mengalami masa-masa itu lagi?
🧀🧀🧀
"Hong Seo, bangun!!!" Teriak ibuku yang tiba-tiba mengejutkanku.
Astaga sudah jam 7.
Aku pun segera mempersiapkan keperluanku.
"Kau tidak mau makan dulu?" Tanya ayahku menawarkan roti sandwich.
"Tidak, mungkin nanti di universitas saja." Jawabku lalu segera pergi.
Aku pun segera mengambil handphoneku dari dalam tas. Seharusnya jadwal hari ini adalah kelas sejarah. Tapi kenapa orang-orang tidak ada yang sedang mengatakan sesuatu di ruang chat. Apa karena mereka sudah tau sejarah tentang guru sejarah itu ya.
Hong Seol 'Hey hari ini apa kelasnya sudah mulai?'
Jang Bora 'Belum tapi seol aku ada kabar baik sekaligus buruk. Kau dengarkan ya. Ternyata Nam Joo Yeon dan Yoo Jung telah berpacaran ihoo!!'
Jang Bora 'KYAKKK'
Jang Bora 'Bagaimana bisa si jalang itu berpacaran dengan dia'
Hong Seol 'Tentu saja bisa apalagi wajah Yeon sebenarnya juga cantik'
Jang Bora 'Tapi menurutku kenapa Yoo Jung mau dengan gadis seperti itu ya'
Hong Seol 'Entahlah, Bora tapi itu bukan urusan kita. Tunggu aku akan masuk ke ruang kelas beberapa menit lagi kita lanjutkan'
Aku pun segera menutup ponselku.
Uhhh, karena kemarin terlalu mabuk jadinya beginikan.
Tapi kenapa pada saat itu Yoo Jung berkata menyedihkan padaku. Apa karena aku yang terlalu berisik ketika didekatnya. Atau karena aku hanya salah dengar. Semoga saja benar hanya karena aku yang salah dengar.
🧀🧀🧀
Aku pun segera berjalan menuju perpustakaan bersama beberapa buku di tanganku. Dikarenakan bora dan euntaek yang sepertinya akan berkencan bersama. Jadi aku terpaksa mengerjakan setengah dari tugas kelompok kami. Toh, akhir-akhir euntaek juga sudah telah menyelesaikan ujian akhir kursusnya. Sehingga mereka di sana mungkin akan mulai bersenang-senang.
Aku pun baru teringat jika besok akan ada presentasi yang membuatku harus berkerja dua kali untuk malam ini. Sisanya untuk pengeditan biar aku serahkan pada bora dan euntaek. Meskipun sebenarnya aku juga lebih suka mengerjakan di perpustakaan yang sepertinya akan lebih menyenangkan jika aku lebih bisa berada di tempat sepi.
Selama datang ke perpustakaan, teriakku dalam hatiku dengan senang.
Aku pun segera memilih tempat duduk yang berada di pojok agar bisa dekat dengan jendela perpustakaan yang lumayan besar. Sehingga aku akan bisa melihat pemandangan universitasku yang asri dari tempat ini.
"Permisi, bisakah kakak memberikan kami tempat duduk. Dikarenakan kami berempat yang akan duduk di sini. Lagipula kakak kan juga hanya seorang diri. Boleh kah kak? " Tanya seorang laki-laki berambut kemerahan yang sepertinya adalah salah satu adik tingkatanku.
Betapa menggangunya.
"Baiklah, silahkan saja. " Jawabku lalu melangkahkan kakiku untuk pergi.
Toh tidak akan ada gunanya jika aku memperebutkan tempat duduk di perpustakaan sebesar ini.
Aku pun segera pergi berjalan menyusuri lorong-lorong kecil perpustakaan untuk pergi ke lantai atas. Yang lebih hening. Dan tempatnya yang membuatku bisa melihat segala penjuru perpustakaan daripada yang berada di bagian bawah yang sebenarnya cukup berisik.
"Hei.. Kau itu... Hong Seol.... Apa... Bukan... ." Tanya seorang nenek tua yang membawa botol bir setengah pecah. Yang ujungnya agak lancip. Apa dia habis mabuk ya.
"I..iya, ada urusan apa?" Tanyaku dengan hati-hati.
"Kau itu cewek jalang yang terkenal itu kan!!!?" Balas nenek itu lalu segera melayangkan botol bir nya ke mukaku.
Aku pun segera menahan gerakannya untuk melayangkan botol bir nya yang membuat salah satu tanganku menjadi berdarah. Tapi untungnya mukaku menjadi tidak terkena hantaman botol bir nya. Meskipun sebenarnya aku sudah bertahan dari nenek ini tapi jika aku bertahan pada posisi ini dengan tanganku yang terluka aku akan bisa menyakiti nenek ini dan juga akan membuatku bisa terbunuh jika aku harus melukainya balik.
Akhirnya aku pun terpaksa mendorong tubuh nenek itu menjauh dariku lalu berlari menuju satpam perpustakaan yang berada di belakangku. Tapi heranku kenapa tidak ada satupun orang yang ingin membantuku saat ini meskipun mereka telah melihat luka di tanganku. Dan juga adik-adik kelas yang tadi apakah mereka juga sama seperti orang lain meskipun sudah kutolong. Jadi inikah yang namanya dampak dari individualistis nya manusia sekarang.
"Pak, sa..ya tadi hampir terbunuh oleh nenek-nenek di sana pak!" Kataku lalu menunjuk pada nenek yang sekarang berada di ujung lorong tempatku berjalan tadi.
"Apa?! Bagaimana bisa nenek itu kembali datang ke sini lagi. Padahal beberapa hari yang lalu aku telah mengusirnya pergi dari sini. Jika seperti ini terus bisa-bisa aku dipecat. Nona tolong segera ke uks saja ya. Saya akan urus nenek itu bagaimanapun caranya." Jawab satpam itu lalu segera mendekati nenek gila tersebut.
Uhhh, betapa sakitnya luka ini, aku ingin segera pulang sajalah.
🧀🧀🧀
"Kau sudah dengar beritanya? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?!" Tanya Bora dengan histeris melihat luka di tanganku.
"Itu hanya kecelakaan kecil kok." Jawabku sambil menggaruk-garuk kepalaku.
"Tapi jika memang kecelakaan kecil. Kenapa kau tidak membiarkan kami membantumu saja. Malah seperti terlihat kalau kamilah penyebab kecelakaanmu." Ucap Euntaek dengan tertunduk.
Jan....jangan bilang aku sekarang telah melukai perasaanya.
"Tidak sama sekali. Mungkin nenek itu sedang ada masalah mental. Apalagi dia juga membawa botol bir. Sebenarnya aku cukup curiga jika dia tidak mungkin bisa masuk sendirian ke perpustakaan kecuali seseorang menyelundupkannya di sana. Apalagi perpustakaan hanya memiliki pintu depan dan belakang yang hanya bisa dimasuki oleh anggota staf perpustakaan dan juga dewan. Sedangkan untuk siswa biasa tidak diperbolehkan."
"Tapi bukannya si yeon itu anggota dewan ya?" Tanya bora yang membuatku ingat akan sesuatu.
"Ah, ya! Aku sekarang ingat. Sepertinya aku tau siapa yang dimaksud oleh Jung sebagai 'menyedihkan'. " Kataku dengan euforia tinggi.
"Hei, memang apa yang kau ingat sekarang. " Tanya bora dengan rasa penasaran.
"Sesuatu, mungkin tak bisa ku jelaskan sekarang." Jawabku lalu segera pergi berlari mencari Jung yang biasanya berada di mesin minum otomatis kantin universitas.
🧀🧀🧀
"I..ini bukan salahku. Bagaimana mungkin kau bisa menyalahkan ku tanpa melihat siapa yang sebenarnya ada dibalik semua ini! Bisa saja Hong Seol mengatur semua rencana ini demi menfitnahku. " Teriak Nam Joo Yeon menatap Jung dengan amarah.
Apakah aku datang di saat yang tidak tepat. Bukankah mereka sedang berpacaran.
"Aku tau kalau kau adalah seseorang yang diam-diam mengikuti Seol. Bahkan saat di cafe aku tau kau sebenarnya akan memukul dia jika aku tidak menunggunya hingga kau benar-benar pergi." Balas Yoo Jung yang membuatku terkejut dan mulai berpikir ulang.
Jadi yang waktu itu sebenarnya bukan untuk aku. Melainkan itu untuk Nam Yeon yang mengikutiku. Jelas akhir-akhir ini rasanya aneh sekali. Ternyata benar-benar ada yang salah ya.
"Hey!" Ucapku lalu segera mendorong Nam Yeon. "Apa kau tau jika saja nenek gila tersebut tiba-tiba memukul kepalaku atau menusuk dadaku. Tidakkah kau pernah memikirkan akibatnya untuk orang lain! Aku bahkan tak ingat pernah memiliki konflik denganmu kecuali kau yang memulai lebih dulu ketika kau masih satu kelas denganku. "
"Kau bermasalah kah??! Aku itu hanya tak menyukai sikapmu yang seolah-olah seperti orang baik yang padahal sikapmu seperti seorang jalang!" Jawab Nam Yeon lalu berusaha menarik rambutku.
"Kau hentikanlah drama ini. Aku sudah mempunyai rekaman suaramu. Dan juga saksinya Hong Seol jika aku ingin melaporkannya ke kantor polisi sekarang." Gumam Yoo Jung dengan nada risih dan sarkastis pada Nam Yeon.
"Jadi kau benar-benar akan memilih jalang ini daripada aku?!" Teriak Nam Yeon menatap tajam Yoo Jung. "Padahal aku pikir kita sudah berpacaran?!!"
"Aku tidak pernah berpacaran dengan seorang berhati buruk seperti dirimu. Pergilah sebelum aku berubah pikiran untuk melaporkan kasus ini ke kantor polisi. " Ucap Jung dengan nada mengerikan yang belum pernah kudengar.
Aku benci ikut campur, kataku dalam hati. Tapi melihat suasananya yang sudah mulai tenang aku pun memilih untuk segera pergi diam-diam saja. Toh, semuanya juga sudah selesai.
"Kau mau kemana, Seol?" Tanya Yoo Jung dengan ramah padaku sambil memberikan kaleng cokelat hangat yang aku pikir ia beli untuk dirinya sendiri.
"Umm, aku harus segera kembali ke kelas. " Jawabku lalu segera berlari tapi aku baru sadar jika tangan Jung telah menggengam erat pergelanganku.
Uhhh, bagaimana ini.
"A..aku harus pergi Jung. " Ucapku berusaha menatap ke depan agar bisa menghindari tatapan Jung.
"Seol, aku mencintaimu." Ucap Jung lalu mulai memeluk diriku dari belakang. " Jadilah pacarku, aku tidak ingin membuatmu tersakiti lagi untuk kali ini. "
"Aa...apa?!" Jawabku dengan terkejut. Mana mungkin Jung yang terkenal dan sepopuler ini bisa menyukai diriku yang hanya kentang.
"Kau tidak mau ya. " Tanya Jung lalu segera melepaskan pelukannya.
"Ehh, ti...tidak. Aku menerimanya kok. " Jawabku dengan gugup.
"Hahaha, baguslah. Aku akan berusaha membuatmu lebih bahagia mulai saat ini, kan" Tanya Yoo Jung lalu segera menggandeng tanganku pergi ke kelasnya.
Harusnya aku tidak se terkejut itu. Kan jadinya canggung sekarang.
"I..iya." Jawabku dalam rasa malu level +999.