Semua kru kaget saat Lee Min Ho tiba tiba menghilang dari lokasi syuting.
Beberapa jam lalu, semua kamera dan perlengkapan sudah di siap kan, semua kru sudah siap sedia di tempat, Jun Ji-hyun dan Lee MinHo saling berhadapan, Kiss scene akan di ambil.
Semua bersiap, dan "Action!"
Ji-hyun berdiri diam, memasang wajah malu malu saat Lee Min Ho berjalan kearah nya, dan menarik tengkuk nya. Mata mereka saling bertatapan, pandangan Min Ho turun ke arah bibir Ji-hyun, lalu..
"Haatchiii"
"CUT!!"
Lee Min Ho mengusap hidungnya yang terasa begitu gatal.
Adegan diulang lagi, tapi saat hampir selesai, Lee Min Ho kembali bersin bersin. Asisten nya menyodorkan sapu tangan, Min Ho menerima sapu tangan itu dan langsung ngusapi hidung nya yang semakin gatal.
"Kita break sebentar", ucap Sutradara.
Sambil menunggu break, Ji-hyun memutuskan untuk pergi ke toilet, menenangkan diri. pasti akan sangat canggung jika bertemu dengan Lee Min Ho setelah adegan yang nanggung tadi.
Sambil menatap diri nya di cermin, Ji-hyun menghela napas. "Padahal baru mulai", gumam nya. akhir akhir ini dia semakin dekat dengan Lee Min Ho, dan Ji-hyun yakin perasaan suka ini bukan hanya dia yang merasakan.
Min Ho selalu perhatian pada Ji-hyun, sebagai aktris, Ji-hyun juga sadar kalau tatapan Min Ho padanya bukan sekedar akting, tapi nyata.
Memikirkan semua itu, Ji-hyun jadi berdebar. Tiba tiba terdengar suara riuh, Ji-hyun bergegas keluar dan langsung mendatangi lokasi.
Tanpa di disangka, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Lee Min Ho hilang!
Semua orang mencari cari Lee Min Ho, Ji-hyun panik dan langsung mendatangi sutradara yang sedang berbicara dengan beberapa orang.
"sutradara Jin hyuk, apa yang terjadi?", tanya Ji-hyun.
" Lee Min Ho tiba-tiba menghilang entah kemana beberapa menit yang lalu. dan hanya meninggalkan surat ini", sutradara Jin hyuk menyodorkan surat itu pada Ji-hyun.
Ji-hyun tersentak
'Saat Mentari bersinar terlalu terik, dibawah payung yang tersenyum'
Payung yang tersenyum itu sudah menjadi bahan ejekan dari Min Ho pada Ji-hyun sejak lama. karena pada awal pertemuan mereka, Ji-hyun memakai payung bergambar wajah tersenyum untuk menghindari matahari saat akan memasuki gedung Ini.
Benar juga. lokasi syuting kali ini memang tempat Ji-hyun bertemu dengan Lee Min Ho untuk yang pertama kalinya.
"Dimana dia? padahal waktu kita tidak banyak", gumam sutradara.
"Pak sutradara, mungkin aku tau dimana Min Ho",
ucap Ji-hyun pelan, supaya tidak terdengar oleh orang-orang di tempat itu.
" kalau begitu panggil lah dia", setelah mengucapkan itu sutradara pergi kearah para kru.
Ji-hyun melangkahkan kakinya cepat, menuju depan gedung yang menjadi lokasi syuting nya itu.
Ia berjalan kebawah pohon, dan melihat secarik kertas disana. 'Segelas air pembawa bencana yang selalu terkenang'
Ji-hyun mengerutkan keningnya. sebuah ingatan muncul dalam kepala Ji-hyun. ingatan memalukan yang tidak akan pernah dia lupakan, saat ia tidak sengaja mengambil minuman Lee Min Ho, dan meminumnya. saat sadar kalau itu bukan milik nya. Ji-hyun langsung menyemburkan air itu ke wajah Lee Min Ho.
Ji-hyun menutupi wajahnya sendiri, dan segera berjalan ke tempat yang menjadi ruang makan mereka saat itu.
Dia menatap sekeliling, "Lee..", tidak ada jawaban. Ji-hyun memutuskan untuk mendatangi tempat duduk nya saat insiden air putih itu terjadi. Dan disitu ia mendapat secarik kertas lagi.
'lagi?', batin Ji-hyun.
Surat itu berbunyi, 'aku selalu berharap menjadi angin yang menerbangkan rasa sedih mu'.
Ji-hyun berfikir keras. Angin? Sedih? maksudnya apa? Ji-hyun berjongkok, dia sama sekali tidak bisa menemukan maksud dari tulisan itu.
Ji-hyun membuka jendela, membiarkan angin masuk supaya dia bisa berfikir lebih jernih. Dia berusaha memikirkan segala hal yang berhubungan dengan angin.
Pohon yang tadi dia datang tampak bergoyang goyang karena di terpa angin, awan di langit juga bergerak cepat karena di terpa angin. Ji-hyun menghela napas panjang, semakin tinggi sesuatu maka semakin kencang pula angin yang menerpa.
Tinggi?
Ji-hyun membelalakkan mata dan bergegas menaiki lift menuju Rooftop. Ia mengingat sesuatu yang berhubungan antara angin dan rasa sedih.
Beberapa bulan lalu, saat ia dipergoki oleh Min Ho saat sedang menangis di atap, Lee Min Ho mengatakan, 'masuk lah, terlalu banyak angin disini' sambil menarik tangan Ji-hyun dia bergumam, 'sama seperti Manusia semakin tinggi kedudukannya semakin kencang pula angin yang menerpa nya'.
lift terbuka, masih ada beberapa tangga yang harus dia lewati sebelum sampai ke atap gedung.
begitu sampai di atap, Ji-hyun menatap sekeliling. Kosong. tidak ada siapapun.
'mungkin surat itu tidak ditujukan untuk ku', batin Ji-hyun kecewa. saat ia berbalik, ia melihat lilin lilin berjejeran menuju ke arah sebaliknya.
Ji-hyun mengikutinya. satu lilin, dua lilin dan seterusnya menuntut kearah jejeran lilin yang membentuk hati dengan kelopak kelopak mawar yang membentuk tulisan..
I Love U Ji-hyun
Mata Ji-hyun berkaca kaca. Ji-hyun merasakan seseorang memeluknya dari belakang, Lee Min Ho berbisik di telinga nya. "I love you Jun Ji-hyun"