"La, ini coklat untuk kamu." Cowok memakai seragam sekolah itu tanpa basa-basi menyerahkan coklat ke arahku.
Aku menatap dengan dahi mengerut. "Maaf, aku nggak suka coklat. Aku juga nggak suka bunga." Terangku.
Cowok itu tampak terdiam. Memperhatikanku lekat. Jujur, aku salah tingkah dibuatnya. Bagaimana pun Cowok di depanku ini adalah crush yang selama ini ku sukai. Kami tidak cukup dekat, hanya saja — setelah kejadian ponselku tertukar dengannya membuatnya penasaran denganku.
"Wajahku ada yang aneh, ya?" tanyaku sembari meletakkan sendok makan begitu saja. Tentu saja, membuat dentingan kedua benda itu tercipta.
"Kamu cantik." Dua kata tapi mampu membuatku mengulum senyum.
"Kamu suka es krim?" tanyanya sekali lagi.
"Suka. Kenapa?" Balasku sekenanya.
"Sebagai gantinya, aku beliin kamu es krim. Hari ini kan, hari valentine. Aku mau memberikan mu hadiah." Dari ucapannya terdengar sangat tulus, membuatku berpikir apa dia menyukaiku?
"Kenapa? Kamu sudah punya pacar. Jangan bersikap berlebihan begini Hari! Jaga perasaan cewekmu itu," hardikku.
"Pacar? Aku sudah putus kali, La."
"Ha?" Aku menganga heran. Putus? Padahal mereka dijuluki pasangan serasi di sekolah ini. "Kok, bisa?"
"Selingkuh." Cowok itu tersenyum getir. "Dia yang duluan selingkuh. Aku pikir dia benar-benar menyukaiku. Aku memang cowok payah."
"Kamu nggak payah. Dia saja yang bodoh menyia-nyiakan kamu." Aku menatap kesal. Udara di paru-paruku rasanya meledak-ledak karena amarah tertahan.
Dia tersenyum. "Aku tak apa. Aku juga bersyukur bisa putus sama dia."
"Heh?"
"Aku sudah mengharapkan dari awal untuk putus dengannya. Walau semua orang mendukung, hatiku gak sepenuhnya buat dia. Tapi, tanpa diduga situasinya begini, dan itu bentuk keberuntungan emas untukku."
***
"La!" Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku itu. Itu Hari. Dengan senyuman dia mendekatiku.
"Makan, yuk! Aku lapar." Dia langsung menarikku, aku hanya pasrah.
Ternyata dia membawaku ke warung pinggir jalan. Walaupun dia dari golongan orang kaya. Hari masih mau makan di tempat seperti ini. Aku semakin kagum dibuatnya.
"Kenapa kamu mau makan di tempat ini?" tanyaku sembari menopang dagu.
"Memangnya salah?" Bukannya menjawab, dia malah melempar pertanyaan.
"Nggak sih, cuma jarang aja gitu. Orang kaya makan di tempat begini. Kan gak berkelas banget, kalo aku sih wajar. Aku nggak kayak kamu."
"Selagi tempat makannya enak. Aku oke oke saja," ucapnya simple.
Aku tersenyum. Inilah yang ku suka dari dia, dia tidak pernah sombong dengan kekuasaan.
"La." Panggilnya. Kali ini suaranya terkesan merendah.
Aku tak menjawab, tapi tetap menatapnya.
"Aku akan pindah ke Singapura."
Deg
"Ke-kenapa? Ada masalah apa?" tanyaku sedih.
"Aku nggak bisa jawab. Tapi aku harap kamu baik-baik saja, kalau aku nggak ada di dekat kamu."
Aku bangkit dari duduk. "Kamu mudah bilang begitu. Asal kamu tau, a-aku suka sama kamu!"
Hari menatapku terkejut.
"Kalau memang kamu bakal pergi. Kenapa kita bertemu? Kamu tidak akan tau, beratnya jadi aku selama ini. Saat kamu pacaran dengan Asla, aku mencoba buat baik-baik saja. Aku selalu sadar diri, kamu terlalu sempurna buat aku." Aku berlari keluar dari warung itu. Aku tak kuat lagi harus menahan segala luka diberikan Hari.
"La!" Hari mengejarku dari arah belakang. Namun, sayangnya lariku mudah untuk dikejarnya.
"La!" Hari menarik lenganku. Aku kehilangan keseimbangan dan menubruk tubuhnya. "La, a-aku juga. Aku nggak bohong saat bilang kamu cantik. Itu semua murni dari perasaanku. Maafkan aku, aku benar-benar payah."
Aku menangis semakin keras. Hatiku terasa remuk, tetap saja Hari akan meninggalkanku. Walau kami saling mengatakan perasaan.
***
Aku termenung di kamar. Bayangan kembali muncul, saat sosok Hari menatapku dengan wajah sedih. Aku benar-benar tak percaya dengan semua ini. Kenapa begitu cepat? Padahal, ini kesempatan aku untuk terbuka padanya.
Aku menatap foto frovil milik Hari. Ada gambar punggung cowok sedang memotret seorang gadis. Aku tersenyum hambar, itu Hari dan gadis di fotonya adalah aku. Aku menutup mata dengan kedua tangan. Air mataku jatuh begitu saja.
'Apa ini akhir kisah kita, Hari?'
Ting
Aku menoleh dan melihat pesan dari Hari.
"La, sehat-sehat, ya. Harus cepat dapat pacar. Aku pengen lihat kamu punya cowok baik seperti aku, hehe. Ngomong-ngomong, kamu itu suka apa sih La? Aku sampai bingung beliin apa buat kamu saat Valentine waktu itu. Saking gilanya, aku cari di google barang cewek terkesan romantis, haha. Tapi ketemunya cuma coklat, bunga sama perhiasan."
"Maaf, I love you, Drealla."
Aku menutup mulut. Lagi-lagi, aku menangis. Aku terlalu mengharapkan Hari, hingga sulit mengontrol perasaan sendiri.
***
Seminggu berlalu, Hari tak ada kabar. Aku tidak tau apakah cowok itu sudah pergi ke Singapura atau belum? Yang jelas, cowok itu tak muncul lagi di sekolah. Aku semakin galau brutal. Aku ingin bertemu dengannya, sangat ingin.
"La, sudah dapat kabar Hari?" tanya Killa ingin tau.
"Belum. Pengen ketemu, tapi entah sedang apa dia di sana. Aku saja nggak tau. Apa aku nggak sepenting itu lagi buat dia? Apa dia sudah dapat cewek baru di sana?"
Killa menggeleng heran. "Dari pada galau gitu, kita makan nasi goreng di tempat biasa. Gimana? Aku traktir deh!"
Aku tersenyum seketika. "Beneran, ya!"
Killa mengangguk. Kami berjalan dengan tangan bertautan. Aku bersyukur masih punya teman sebaik Killa. Setidaknya, saat aku terluka, ada teman baik menemaniku.
Aku mengaduh sakit saat sebuah motor dari arah berbeda datang dan menubruk betisku. Aku terduduk di tanah, sembari meringis.
"Woi! Sini lo! Kaki teman gue sakit ini!" Bukannya menolong, Killa justru mendekat ke arah orang menabrakku. Tas selempangnya, telah dia putar-putar ke atas. Siap memukul siapa pun yang ada di sekitarnya.
"Iya, maaf mbak. Saya bakal bertanggung jawab."
***
Di sinilah aku berada. Rumah serba putih, dengan aroma khas obat-obatan. Aku melirik ke arah Killa juga cowok asing baru ku temui ini.
"La, gimana kaki kamu? Sakit nggak?" tanya Killa dengan wajah prihatin.
"Ya, sakitlah. Pake di tanya lagi." Aku menatap Killa kesal.
"Lagian ngapain sih lo, bawa motor cepat kayak gitu?"
Cowok asing itu tampak merasa bersalah, buktinya sekarang cowok itu ingin bertanggung jawab sekali lagi.
"Nggak apa-apa, aku sudah maafin."
Cowok itu tersenyum mendengar itu. Membuatku teringat dengan sosok Hari, senyuman dia sangat persis dengan Hari. "Nama aku, Garen. Sebagai gantinya aku akan menjagamu."