Namaku Salisa Faradila, biasa dipanggil Sasa, aku memiliki seorang sahabat bernama Genta, sahabatku sejak SMA, sempat terpisah saat kuliah dan kini kembali bersatu di tempat kerja yang sama.
Kami melamar kerja berdua, di posisi berbeda tentunya, aku di bagian keuangan dan Genta di bagian pemasaran. Sesuai jurusan kami masing-masing.
Aku dan Genta tak pernah melewatkan seharipun tanpa satu sama lain setelah di terima kerja di tempat yang sama, dulu ketika kuliah, hanya seminggu sekali kami bertemu, sekarang 24/7 kulewati bersamanya.
Kami lebih mirip sepasang suami istri dibanding dua orang sahabat, aku terbiasa melihat Genta memakai kaos kaki bolong sebelah dan mencium aroma ketiaknya yang bau. Genta hafal jam aku bangun pagi sampai selesai mandi, dia paham betul bagaimana bentuk jempol kakiku yang besar sebelah. Dia adalah saksi ketika aku patah hati, aku yang menemaninya setiap dia terluka.
***
Hari ini, aku dan Genta berangkat kerja naik mobilnya, rumah kami satu komplek hanya berjarak tiga rumah, kami mengambil KPR bersamaan waktu itu.
Dengan terburu-buru aku mencari mascara milikku yang ada di dashboard mobil Genta, Barang-barangku berserakan di mobilnya. Pagi ini dia juga marah-marah ketika Hoodie kesukaanya tertinggal di rumahku dan belum ku cuci.
Genta fokus mengemudi, aku sibuk mengunyah roti. Beberapa kali dia minta di suapi seperti bayi. Kami tertawa disepanjang perjalanan, tertawa karena hal-hal receh yang kami anggap lucu. Tidak ada rasa canggung sama sekali, kami adalah dumb and dumber, saling melengkapi kegilaan satu sama lain. Beberapa kali aku memarahi Genta karena menginjak lubang di jalan, beberapa kali dia protes karena aku mengotori mobilnya dengan remah-remah cemilan.
Sampai di kantor kami pergi ke meja masing-masing, aku menyalakan laptop dan mengecek pasar saham, Genta duduk di mejanya mengutak-atik hapenya, Hari ini aku mendapat jatah lembut karena harus tutup buku akhir bulan, Genta menungguku dengan setia sambil minum kopi di pantry, kami terbiasa kemana-mana berdua.
***
Sabtu ini, aku dan Genta tidak kemana-mana hanya rebahan di kasur masing-masing, di rumah masing-masing juga tentunya. Tiba-tiba, dia mengirimiku pesan.
"sa, bikin rawon yuk". katanya.
"ayok, ke pasar, gue tunggu dirumah, gausah mandi". jawabku.
Kami memang selalu menghabiskan waktu bersama, terlebih saat ini kami berdua sama-sama jomblo.
Dengan modal resep di cookped aku dan Genta membuat rawon yang dia inginkan. Sepulang dari pasar kami langsung masuk dapur rumahku, Dia mengupas bawang, aku memotong daging. Kami persis seperti pengantin baru yang sedang memulai rumah tangga.
Setelah matang, kami duduk di meja makan dengan antusias, meskipun rawon buatan kami lebih mirip SOP yang di tambah kecap manis, tapi kami sangat bangga, dengan 'Rawon' buatan kami.
Aku dan Genta sering bertengkar, terkadang sampai saling mendiamkan, tapi tidak pernah bertahan lama, jika aku yang marah, Genta selalu datang membawa martabak red Velvet dengan exstra keju kesukaanku. Beda dengan caraku merayu Genta, dia paling tidak bisa kalau aku sudah memasang wajah sedih di depannya, pasti dia langsung luluh dan memaafkan ku.
***
Pagi ini Genta mengirimiku pesan. "ssa besok Lo berangkat sendiri ya, gue mau jemput Elena". dengan ditambah emoticon tertawa di akhir pesannya.
"ok". jawabku singkat.
Jam 6.30 aku mendengar suara mobil Genta melewati rumahku, aku masih bersiap dengan alat makeupku.
Aku memesan taxi untuk pulang pergi, karena hanya Genta yang bisa mengendarai mobilku, ada masalah pada bagian koplingnya, beberapa kali kami berniat pergi ke bengkel tapi selalu gagal di tengah jalan, seperti Minggu lalu, kami sudah sampai di tengah perjalanan hingga melihat sebuah gerobak gado-gado. setelah menyantap sepiring gado-gado kami pulang dengan perut kekenyangan. Tiba dirumah, barulah kami sadar tujuan awal kami, kami hanya tertawa dan menyalahkan satu sama lain.
***
Aku kesepian di kubikel ku, Melirik ke arah meja Genta, terlihat ujung kepalanya, dia sedang berkutat dengan laptopnya. Aku berganti melirik Elena, dia tidak ada di mejanya.
Rasanya sepi, baru sehari saja aku tanpa Genta, tapi aku sudah kehilangan dia sedalam ini. selama ini aku selalu terbiasa berangkat bersamanya, membawa sarapan untuk dimakan di dalam mobil, aku yang selalu membuat sarapan, tugas Genta adalah menyiapkan mobil.
Dengan malas aku berjalan ke pantry, aku butuh secangkir kopi, otakku seperti berhenti bekerja, hatiku terasa hampa. Biasanya aku selalu mengajak Genta, atau sekedar menawarinya, tapi kali ini aku enggan, entah kenapa.
Ketika aku menuruni tangga, aku bertemu dengan Elena, dia membawa dua cangkir kopi, "ehhh kak Sasa, mau kemana kak?". tanya Elena ramah.
"mau ke pantry El, kamu nih anak kecil minumnya dua-duaan". jawabku sambil menggoda.
"yang satu punya mas genta". jawabnya dengan wajah merah menahan malu.
"ahh..ciye udah jadian ya". tanyaku penasaran.
"belum sih kak, tapi kayaknya hampir jadian". katanya dengan bangga lalu pergi meninggalkanku.
Elena dan Genta memang dekat belakangan ini, tapi mendengar kata 'hampir jadian' dari mulut Elena adalah sebuah pukulan bagiku, seperti terpidana mati yang tinggal menunggu hari untuk eksekusi.
Secangkir Nescafe classic menemani ke galauanku, bayang-bayang Genta terus menghantuiku, aku takut kehilangan sahabat kesayanganku, dia adalah satu-satunya yang bisa ku andalkan dalam berbagai keadaan.
***
Semalaman aku tidak bisa tidur, aku sama sekali tidak bertukar pesan dengan Genta, tadi sepulang kerja aku melihat mereka menaiki mobil bersama, pasti mereka mampir ke sebuah cafe yang sedang hits, atau sekedar minum kopi di starbucks, Starbuck adalah tempat paling sempurna untuk PDKT, menurut aku dan Genta.
Aku membuka Instagram, melihat story mereka berdua, benar, di Starbuck batinku. Biasanya aku dan Genta mampir ke Barito sepulang kerja, memesan bubur Barito yang terkenal, dengan telur mentah di dasar mangkuk, di timbun dengan bubur lalu di tutup dengan irisan cakwe, Genta selalu meminta ekstra cakwe, kami membubuhkan begitu banyak lada merk kupu-kupu. kami sepakat, bahwa bubur ayam harus di aduk sebelum di santap.
Pagi harinya, aku bangun, merasakan early morning blue, perasaan gelisah, kehilangan, tertekan tanpa alasan, aku menangis, entah kenapa. Aku melirik jam dinding kamarku, pukul 7.30, Ini adalah hari Sabtu, aku libur kerja.
Setelah berganti pakaian dan cuci muka aku beranjak kerumah Genta, berniat mengajak dia lari pagi bersama digzy anjing Chihuahua miliknya. Sampai di rumah Genta aku melihat pintu rumahnya terbuka, aku masuk tanpa permisi seperti biasa.
Ada Elena yang sedang duduk di meja makan bersama Genta, mereka menyantap nasi goreng sepiring berdua. Elena mengenakan setelah training, dengan handuk di lehernya, mereka sudah pulang lari pagi, batinku.
Dengan canggung aku masuk dan menyapa mereka, berjalan ke arah kulkas mengambil kunci mobil Genta. Elena menawariku sarapan bersama "sini kak sarapan bareng, aku masak sendiri barusan". katanya sambil tersenyum. Elena sudah paham dengan aku dan Genta, jadi dia tidak heran jika aku muncul tiba-tiba dirumah Genta.
"wah iya El, aku udah tadi". jawabku sambil melirik Genta, ya kali aku mau merusak sarapan pagi mereka yang indah dengan kehadiranku.
"mau kemana Lo pagi-pagi". tanya Genta.
"kerumah mama, lo nanti pake mobil gue kalo mau pergi". jawabku sambil meletakkan kunci mobilku di meja makan Genta.
Aku pulang dengan perasaan kacau, tidak seperti biasanya, aku dan Genta saling terbuka soal pasangan, siapapun yang mendekatiku harus dengan persetujuan Genta, begitupun sebaliknya.
***
Aku sedang dalam perjalanan kerumah mama, sudah 2 minggu aku tidak pulang kesana, rindu. Dengan mengendarai Suzuki Baleno hitam milik Genta, aku menancap gas kuat-kuat, hatiku bimbang. Sampai pada sebuah pertigaan yang mengarah kerumah mama dan ibunya Genta, aku tanpa sadar membelokkan kemudi ke arah kiri, kerumah mami, ibunya Genta.
Mami sedang sibuk dengan bunga-bunganya, dia memang hobi menanam bunga, berbagai macam bunga ada di pekarangan rumahnya. Dengan sedikit menurunkan kacamatanya mami melihat ke arah mobil Genta yang aku kendarai, lalu berjalan ke arahku. Dia terkejut ketika melihat aku yang membuka pintu.
"lhoh, Sasa, sendiri?". tanya mami.
"i-iya mi". jawabku sambil mencium punggung tangannya.
"kebetulan, mami lagi pengen ke tokonya wan abud beli kain, buat acara nikahannya mas Galih". mami langsung menggandeng tanganku, Mas galih adalah kakak Genta satu-satunya, mami sangat ingin memiliki anak perempuan agar bisa di ajak shopping kemana-mana, maka dari itu dia menganggap aku sebagai anaknya.
"wahhh.. mas Galih jadi nikah mi, sama mbak Intan yang pramugari itu". tanyaku antusias.
"he'eh, sama Intan, mami sih pengennya sama Laily, yang bidan itu, tapi anaknya ngebet mau kawin sama Intan". mami terlihat merengut. "ayo masuk, mami belum sarapan, kamu udah sarapan belum". katanya sambil merangkul pundakku.
"eh lupa, aku bawain sesuatu buat mami". aku mengambil anggrek merah muda yang tadi ku beli di toko bunga dekat rumahku.
"apa?". tanya mami penasaran.
Aku mengulurkan bunga anggrek tadi, mami senang bukan main, dengan bangga mami memposting bunga anggrek pemberianku dengan caption 'dapet bunga dari calon mantu'. Aku tertawa melihat tingkah mami, dari dulu mami memang ingin aku dan Genta menikah, tapi aku dan Genta hanya tersenyum ketika di singgung masalah itu. Kami saling membutuhkan, tapi enggan memulai hubungan, kami saling menyayangi tapi takut terpisah jika nanti cinta telah pergi. Kami sudah terlalu nyaman dengan keadaan seperti ini.
"sa, sarapan yuk, mami masak gulai kepala kakap". Kata mami sambil mengambilkan aku sepiring nasi.
"wahhh...enak banget kayaknya mi". jawabku sambil mengambil sendok garpu.
"ehh ngomong-ngomong Genta kemana sa? sampe lupa nanyain anak sendiri". kata mami sambil tertawa.
"lagi pergi sama pacarnya". jawabku ketus.
"lhoh punya pacar? kok mami gak tau?". mami terlihat heran.
"iya, tadi pagi-pagi udah joging bareng, pas aku ngambil mobil Genta mereka lagi sarapan berdua". kataku sambil merengut.
"makanya kamu dateng kesini? mami tau sa, kamu sama Genta itu sama-sama sayang, tapi mami sebagai orangtua cuma bisa doain yang terbaik buat kalian". kata mami dengan pandangan lembut ke arahku. "dengan kamu dateng kesini, mami lebih yakin kalo kamu sekarang lagi patah hati sama Genta, mami juga pernah muda, mami ngerti yang kamu rasain". lanjutnya lagi.
Aku termenung, meresapi kata-kata mami, memang benar, aku patah hati, tapi apa boleh buat, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku dan Genta telah berjanji untuk menjadi sahabat sampai mati.
***
Di sisi lain, setelah mengantar Elena pulang, Genta pergi kerumah mamaku karena tadi aku bilang ingin pulang ke rumah mama. Pikirannya juga sama kacaunya denganku, Genta mengemudikan Suzuki Swift milikku dengan terburu-buru, Genta khawatir setelah melihat wajah muramku tadi pagi.
"assalamualaikum ..".
Sapa Genta kepada papa yang sedang main catur bersama mas Hendri kakak iparku.
"walaikumsalam".
jawab mas Hendri dan papa berbarengan.
"kebetulan .. sini Ta, lanjutin main sama papa, gue udah gak sanggup, kalah terus daditadi". kata mas Hendri sambil berdiri dari kursinya.
"ehh..baru dateng udah suruh main, duduk dulu Ta". kata mama. "Sasa mana? kok kamu sendirian". lanjut mama.
"lhoh, tadi pamitnya kesini, makanya Genta susulin". jawab Genta panik.
Karena tidak menemukanku di rumah mama, Genta meneleponku berulang kali, tapi Hpku mati, aku meninggalkannya di rumah Genta selama pergi dengan mami.
Papa yang melihat Genta kebingungan lalu berkata "ta, kamu sama Sasa sebenernya kenapa?".
"ngga kenapa-napa kok pa". jawab Genta sambil terus mencoba menghubungiku.
"kok kamu sampe nyusul dia kesini, biasanya barengan". Papa adalah orangtua moderen, dia selalu berpikiran terbuka. "kalian berantem??". tanya papa lagi.
"nggak sih pa, tadi pagi Sasa kerumah, pas aku lagi sarapan sama temen kantorku, cewek, trus dia bilang mau kesini".
Papa tersenyum, terlihat keriput di ujung matanya "kamu sama Sasa itu mau sampe kapan kaya gini? papa sama Mama aja yang ngga ngadepin kalian setiap hari ngerti kok kalo kalian ada rasa satu sama lain, cuma entah karena gengsi atau apa jadi kalian terus menahan diri".
"maksudnya gimana pa?". Genta pura-pura tidak mengerti.
"dengan kamu datang kesini khawatir sama Sasa aja udah bisa di tebak kalo Sasa itu ada di daftar atas prioritasmu, kamu rela jauh-jauh kesini cuma buat memastikan apa Sasa baik-baik saja". kata papa.
"iya pa, tapi Sasa selalu bilang kalo dia gak mau pacaran sama Genta, katanya takut kalo nanti berantem malah kehilangan sahabat, Genta sama Sasa kan kenal udah 10 tahun lebih pa". jawab Genta.
"langsung nikah aja, kan gak bakalan putus, gampang kan". kata papa enteng.
"ya masa langsung nikah, mana mau Sasa nikah sama Genta".
"papa yakin sasa mau, kalian nunggu apa lagi, kerjaan udah mapan, rumah ada, udah ga ada lagi alesan buat nunda nikah, semakin cepat semakin baik, itu Sunnah Rasul juga lho". kata papa sambil menjalankan kuda di papan caturnya.
"iya sih pa, secara finansial, secara batin kami memang sudah siap". jawab Genta mantap.
"papa serahin semuanya ke kamu, cuma kamu yang papa percaya bisa jaga Sasa". jawab papa.
"tapi sekarang Sasa ilang pa". Genta masih khawatir.
"Sasa udah gede, pasti dia lagi ke suatu tempat nenangin pikirannya, nanti juga pulang, dia selalu gitu kan, biasanta ada kamu yang jadi pelarian, kalo sekarang masalahnya sama kamu ya pasti dia pergi ke suatu tempat, biarin aja dulu ". kata papa sambil menepuk pundak Genta.
"iya pa".
***
Jam 5 sore aku pulang kerumah, mobil Genta masuk bengkel, pecah ban tadi belokan gang, aku pulang jalan kaki, masuk rumah tanpa menyalakan lampu ruang tamu. setelah mengunci pintu, aku langsung masuk ke kamar mandi, aku ingin mandi air panas di bawah shower, menangis sepuasnya, membiarkan ujung jariku keriput dan membiru. Hpku masih mati, Genta khawatir setengah mati.
Berkali kali dia melihat ke arah rumahku, tidak ada mobilnya, hanya ada kesepian. Lampu terasku memang selalu aku biarkan hidup, sehingga jika aku pulang malam tidak terlalu gelap.
Genta masih sibuk dengan Hpnya, hingga mami menelpon Genta
G : halo.. iya mi
M : halo, lagi apa ta?
G : ga lagi apa-apa kok mi, tumben telpon.
M : kamu tadi kemana aja? pacaran ya? kasian tauk Sasa kesepian sampe dateng kesini.
G : tadi Sasa kesitu?
M : iya, pulang jam 3an tadi.
G : tapi belum sampe rumah mi, hpnya juga mati.
M : lhoh.. kemana dia coba, kasian tuh lagi sedih dia.
G : yaudah mi, Genta cariin Sasa dulu ya. daaaaaa
Genta mematikan telepon maminya, dia bergegas kerumah Sasa, mobilnya masih belum ada.
Tiba-tiba datang mobil Genta yang di kendarai Joko, pegawai bengkel tempat Sasa meninggalkan mobil Genta, mereka kenal baik karena Joko juga merangkap sebagai satpam perumahan mereka.
"lhoh mas Joko, kok mobilku bisa sama mas?". tanya Genta penasaran.
"iya, tadi di bawa mbak Sasa trus pecah ban di depan, jadi ditinggal, untung mbak Sasa gak kenapa-kenapa". jawab Joko.
"lha terus Sasa kemana?". tanya Genta lagi.
"ya sudah pulang dari jam 5 tadi". jawab Joko.
"ini berapa mas?". tanya Genta sambil mengeluarkan dompet.
"udah di bayar mbak Sasa mas, katanya tadi suruh ngembaliin ke rumah mas Genta". kata Joko lagi.
"ohh...oke mas makasih ya, ini buat beli es". jawab Genta sambil memberikan uang pecahan 50ribu kepada Joko.
"makasih ya mas". kata Joko sambil berlalu pergi.
Genta segera pergi kerumahku, mengetuk pintu dengan tidak sabar. Aku membuka pintu mobil dengan malas, membiarkan Genta mematung di depan pintu, aku duduk di atas sofa ruang tamuku, lampunya masih mati, hanya sinar lampu dari teras yang menyusup lewat pintu yang menerangi kami.
Hening.
Genta duduk di bawah, menyandarkan kepalanya di lututku. Dia berkata "maafin gue sa".
"kenapa?". jawabku.
"gue gak tau, gue salah pokoknya". lalu hening, kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
"ta, elo pulang aja ya, gue capek banget hari ini". kataku mengusir Genta.
Tanpa berkata apa-apa Genta berdiri dan bersiap untuk pergi, aku seperti tidak rela dia pergi meskipun aku sendiri yang mengusirnya, aku memanggil Genta dengan suara lirih. Dia membalikkan badannya.
Aku memeluk Genta, dia terkejut dan masih membisu, satu tangannya memeluk pinggangku, dan tangan satunya membelai rambutku.
Hening..
Kami butuh waktu, aku menghela nafasku dalam-dalam, berkali-kali aku memeluk Genta, baru kali ini yang terasa berbeda. Dia enggan melepas pelukanku, aku nyaman di pelukannya. Kami terhanyut dalam arus deras yang membingungkan ini.
Aku mengusap air mataku, dia menatapku dalam-dalam, tanpa berkata apa-apa, karena memang itulah yang aku butuhkan.
Dengan sedih aku melepas Genta pulang, aku sudah merindukannya lagi, ku lihat punggung Genta hingga hilang masuk kedalam pagar rumahnya.
Di dalam kamar aku menyalakan Hpku, puluhan pesan masuk, hampir 100% dari Genta, dia menghubungiku dari segala penjuru, isinya kurang lebih sama, menanyakan keadaanku, dimana? , sama siapa?, kenapa?. aku tidak membukanya, karena kami telah bertemu. Lalu kulihat satu pesan dari mbak Citra, kakakku.
'dek, kamu lagi dimana? kok ga pulang, malah Genta yang kesini, kamu gak apa-apa kan? katanya Genta gabisa hubungin kamu, kasian dia khawatir daditadi, kalo udah nyalain HP langsung telepon mbak ya, papa mama khawatir, Genta juga'. aku membuat semua orang khawatir hanya karena egoku.
Kakiku lemas, ternyata Genta mencariku sampai kerumah mama, ternyata hari ini dia tidak pergi dengan Elena, lalu kemana Elena? aku mencoba untuk memejamkan mataku.
pukul 02.00 pagi aku terbangun karena haus, ku lihat Hpku, terdapat satu pesan dari Genta.
'besok gue jemput jam 5, kita ke puncak'. kata Genta.
Genta tau, puncak adalah tempat favoritku untuk melepas penat, sudah puluhan kali aku kesana bersama dia.
***
Alarm berbunyi jam 4.15 aku mandi lalu sholat subuh, selesai sholat aku berganti pakaian beberapa kali, mulai dari celanan hitam belel favoritku dipadukan dengan kaos putih polos, lalu berganti ke dress putih dengan gambar bunga matahari, lalu yang terakhir celana putih model highwaist dengan atasan kemeja lengan pendek berwarna hitam, semua terasa tidak cocok bagiku, hingg aku berganti lagi ke sebuah dress hitam selutut tanpa lengan dan sepatu gladiator warna olive kesukaanku, berkali-kali aku melihat diriku di depan cermin, rambut panjangku ku biarkan tergerai, sentuhan blush on tipis dan lipstik warna nude membuatku semakin percaya diri.
Ku dengar suara klakson mobil Genta di depan rumah, saat aku keluar dia sudah di depan pintu penumpang, membukakan pintunya untukku, tidak seperti biasanya, aku masuk tanpa berkata apa-apa. Hanya seulas senyum yang kami lempar satu sama lain. Janggal, ada yang berubah antara aku dan Genta, tapi aku belum mampu mendeskripsikannya.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam, hening, suasana canggung menyelimuti kami. Tidak ada satu katapun yang kami ucapkan, aku tenggelam dalam pusaran badai pikiranku sendiri, entah bagaimana dengan Genta, dia hanya fokus mengemudi dan sesekali bernyanyi mengikuti lagu yang di putar di dalam mobil.
Hampir 2 jam kami berkendara, Genta membelokkan mobilnya ke sebuah warung makan, warung yang menjual soto ayam kampung favoritku, dengan nuansa pedesaan, tempat duduk lesehan dan ada jendela besar yang mengarah langsung ke Hamparan sawah. Aku memilih tempat duduk di pojok dekat jendela, angin dingin menyapu lembut kulit lenganku yang tidak tertutupi, kabut tipis masih menggelayut meski sinar matahari telah menembus celah-celah daun kelapa, aku menyimpangkan tanganku di dada sambil bergidik, dingin.
Genta duduk disampingku, biasanya dia duduk di depanku, berhadapan tertawa lepas tanpa canggung, dia yang melihatku kedinginan lalu melepas kemeja flanel kotak-kotak yang dipakainya untuk menyelimutiku. Aku semakin tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa diam memandang keluar jendela, melihat beberapa burung bangau mencari ikan di sawah. Datanglah seorang wanita paruh baya mengantarkan pesanan kami, dua mangkuk soto lengkap dengan pendampingnya. Kami makan tanpa bersuara, suasana aneh menyelimuti kami berdua.
Selesai makan, aku dan Genta melanjutkan perjalanan. Hingga tiba di salah satu tempat karoke, sudah buka. Genta segera membelokkan mobilnya, begitu kebiasaan kami. Bernyanyi sepuasnya baru ke puncak untuk sekedar memesan secangkir kopi, lalu pulang dengan perasaan seperti telah di perbarui.
Di dalam room karaoke, aku tidak memilih lagu, biasanya kami akan rebutan memilih lagu mana yang akan kami nyanyikan terlebih dahulu, tapi sekarang tidak, Genta juga enggan menyentuh keyboard, dia hanya diam sambil menghisap rokok elektriknya, aku mengeluarkan Vape milikku yang kami beli sepasang ketika ada diskon khusus valentine di toko Vape langganan kami. Aku menghisapnya beberapa kali, aku dan Genta memang penikmat rokok elektrik dengan liquid berbagai rasa,favoritku adalah Badbunny yang banana custard, sedangkan Genta memilih Naked Lava sebagai favoritnya.
Aku mengambil mic, bersiap menyanyikan lagu Jason Mraz-i won't give up. Terdengar intronya, Genta menoleh ke arahku, dengan suara fals tidak pas dengan nadanya aku terus bernyanyi dengan percaya diri hingga tiba pada kalimat yang membuatku ingin menangis.
🎼
And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find..
Tangisku pecah, air mata mengalir begitu saja, aku menghentikan nyanyianku, meraih satu botol Vodka yang ada di atas meja, mencoba membukanya, tapi tangan Genta menahan ku, dia mengambil botol itu dan menaruhnya jauh dariku. Genta memelukku, aku menangis sesegukan di pelukannya, dengan lembut dia membelai rambutku. Tanpa kata. Dia terus mendekap ku dalam pelukannya.
Bermenit-menit berlalu, aku terus terisak dalam pelukan Genta, hingga dia melepaskan pelukannya, mengusap air mataku dengan lembut, aku menutup mataku yang pedih karena air mata yang tak ada hentinya mengalir. Tiba-tiba, sesuatu yang lembut menyentuh bibirku, aku membuka mata, gelap, yang kulihat hanya Genta yang kini tak berjarak denganku, Genta menarik tangan kananku ke pinggangnya, tangannya memegang pipi kiriku, aku hampir mati di buatnya, jantungku berdebar begitu cepat, sekujur tubuhku terasa panas, Genta menciumku dengan lembut, aku masih tidak membalas. Lalu dia melepaskan ciumannya dan berkata, "kita nikah aja yuk". membuat jantungku semakin tidak kuat menahan semua ini, aku lemas seketika.
"Sa, kenapa baru sekarang kita sadar sama perasaan kita masing-masing, kenapa ngga dari dulu, walaupun ini terdengar gila, tapi apa yang terjadi di hari kemarin adalah sebuah pembuktian bahwa kita berdua secara ngga sadar udah terikat satu sama lain". lanjutnya, aku masih tak bersuara.
"kemarin aku udah ngobrol sama papa, papa nyaranin kita buat nikah aja biar ngga ada drama putus-putus nantinya". Genta masih melanjutkan kalimatnya.
"Ta, maafin gue, seharusnya lo bahagia sama pilihan Lo, Lo gausah mikirin gue Ta, gue bisa jalanin hidup gue sendiri, nanti lama-lama juga biasa". jawabku.
"Gue nyaman sama kehidupan kita selama ini Sa, gue gak mau kehilangan Lo, gue sadar, kemaren waktu gue jalan trus makan sama Elena, yang ada di pikiran gue cuma Lo, gue mikirin Lo pulang sama siapa, udan makan belom, Lo baik-baik aja ato nggak, bahkan kemaren pagi gue buru-buru nganter Elena pulang biar gue bisa nyusulin Lo kerumah mama, walaupun akhirnya gak ketemu juga". Genta menggenggam tanganku lembut.
"maafin gue Ta, gue gak tau kenapa bisa kaya gini, kita udah janji bakal jadi sahabat sampe mati, tapi jatuh cinta sama Lo itu di luar kendali gue Ta". jawabku.
"Kita bakalan tetep jadi sahabat sampe mati Sa, ngga akan ada yang bisa misahin kita selain Allah, gue janji sama Lo". jawab Genta.
"terus gimana sama Elena?". tanyaku.
"ya gak gimana-gimana, 2 hari lagi magangnya selesai, dia musti balik ke Pekanbaru, gue juga belum ada hubungan sama dia". jawab Genta tenang. Aku mengangguk paham.
Genta memelukku sekali lagi. "kita nikah aja ya sa". katanya sambil memelukku.
"Lo yakin?". tanyaku.
"siapa lagi yang mau Nerima bau kaki sama bau ketek gue kalo bukan Lo". kata Genta sambil memelukku semakin erat.
Hari ini, terbukti lagi, dari sekian banyak orang yang mengaku bersahabat dengan lawan jenis akhirnya akan jatuh cinta juga, seperti aku dan Genta saat ini, cinta bukan sebuah dosa besar, ungkapkan cintamu sebelum terlambat, karena cinta yang terlambat di akui hanya akan menjadi penyakit hati, terlebih jika orang yang kamu cintai telah berlabuh di lain hati.
🖤Sasa & Genta