Pada suatu hari, seorang murid bertanya pada gurunya. Dengan wajah malu - malu, sang murid memberanikan diri bertanya dengan sopan. Meski hati kecilnya menyimpan rasa takut yang berlebihan, sang murid nekat bertanya kepada gurunya.
" Bagaimana mencari cinta sejati pak ?" tanyanya dengan memendam rasa takut dan berharap sang guru tidak mengurangi nilainya.
" Berjalanlah lurus di taman bunga yang luas, petiklah 1 bunga yang terindah menurutmu, dan kamu jangan pernah berbalik ke belakang !" jawab pak guru itu.
Kemudian, murid itu melaksanakannya dan kembali dengan tangan hampa. Dia tidak membawa bunga yang terindah yang disarankan oleh gurunya itu. Guru itu pun heran dan tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran sang murid.
" Lhoo ? Mana bunganya ?" tanya sang guru dengan heran.
" Aku tidak bisa mendapatkannya, sebenarnya aku telah menemukannya. Tapi aku berpikir, di depan ada yang LEBIH bagus lagi. Ketika aku telah sampai di ujung taman, aku baru sadar bahwa yang aku temui pertama tadi itulah yang terbaik, tapi aku tidak bisa kembali lagi ke belakang..." jawab sang murid dengan wajah menyesal.
" Seperti itulah CINTA SEJATI, semakin kau mencari yang terbaik, maka kau tak akan pernah menemukannya.." jawab sang guru dengan tersenyum, untuk menghibur sang murid yang menyesali daya pikirnya yang lebih mementingkan keinginan hati yang serakah.
Jangan pernah sia - siakan cinta yang pernah tumbuh di hatimu. Karena waktu tak akan pernah kembali.
" Trimakasih pak guru, kata - kata pak guru akan saya ingat selalu.." ucap sang murid yang kembali tersenyum.
" Perjalanan hidupmu masih panjang, jangan menyerah pada keadaan. Hadapilah dengan ketulusan dan semangat. Bila waktunya telah tiba, CINTA SEJATI mu pasti akan datang padamu." kata demi kata yang diucapkan sang guru begitu mengena di hati sang murid.
" Pasti pak guru, aku akan memperjuangkan cinta itu jika dia datang padaku. Aku akan menggenggamnya erat supaya tidak hilang." balas sang murid.
" Cinta bukan anak kucing. Yang bisa kamu genggam erat ke dalam tanganmu. Cinta adalah persatuan perasaan 2 hati. Yang sulit dijabarkan oleh akal sehat. Yang rumit melebihi rumus matematika. Biarkan saja mengalir apa adanya. Seperti air yang mengalir di lautan. Seperti angin yang bertiup.." nasehat demi nasehat pun diucapkan oleh sang guru.
" Baiklah pak, saya mengerti." balas sang murid dengan singkat.
" Masa depan seperti kabut. Kita tidak bisa meramalkan masa depan seperti apa yang ada di depan sana. Ayo masuk kelas. Jalani dulu apa yang di takdirkan sekarang. Yaitu ulangan MATEMATIKA." ucap sang guru tegas.
" Kyaaaaaa.....aku takut matematikaaaa...." sang murid lari terbirit - birit.
MENCARI CINTA...TAMAT
Jangan lupa mampir ke novelku