Bisakah hanya mengandalkan kesetiaan dan penantian, sedangkan kata cinta tak pernah terucap ?
" Maafkan aku, Fira ! "
Aku terkejut, entah sejak kapan si pemilik suara itu berada tepat di belakangnya. Kemudian dia memutar badannya. Ya, dia orangnya. Laki - laki yang masih ditunggunya.
" Firman, apa yang kamu lakukan disini " tanyanya.
Firman mulai mendekat. Jantungku terasa berhenti. Aku harus kuat. Bukankah dulu aku sangat mendambakan bertemu dengannya ? Tapi kenapa saat benar - benar bertemu dengannya aku sedikit bimbang ?
" Perlukah kita berbicara ?. Aku rasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan " aku mulai menjauh.
" Kali ini saja, Fira " dia memaksa tanpa putus asa.
" Baiklah, kita cari tempat duduk" jawabku. Mungkin memang sudah saatnya kita bicara agar pertanyaan - pertanyaan yang selama ini aku simpan terjawab.
Firman, mungkin dia Cinta Pertamaku. Meski bukan pacar pertama bagiku. Dia teman sekolah kakakku. Entah apa yang kusukai darinya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Bukan siswa pintar. Bukan anak sultan. Lalu, apa yang menarik ?
Entahlah ....
" Maaf " katanya seraya memandangku dengan tatapan serius.
Aku mulai tersenyum getir. " Maaf untuk apa ? "
" Maaf karena pernah membuatmu sangat terluka. Maaf karena ketidakpastian ku selama ini. " Dia mencoba memungut kedua tanganku. Dengan cepat aku menepisnya. Aku tidak mau kehilangan kendali.
" Tidak ada yang perlu dimaafkan, Firman. Toh, kamu tidak pernah memintaku untuk menunggumu. Hanya saja waktu itu aku terlalu bodoh untuk berharap padamu ". Aku mencoba tetap tenang.
Fira dan Firman. Bukan pasangan populer karena kecantikan atau ketampanan yang mendominasi. Mereka sama - dari kalangan biasa saja. Hanya saja Firman dikelilingi teman - teman yang kurang baik dalam catatan sekolah. Tapi bagiku, kala itu dia yang terbaik. Tak pernah dia berani menyentuhku, bahkan mencoba menciumku. Aku menyukainya karena dia terlihat angkuh tapi melindungiku.
Setelah 9 tahun berlalu. kita dipertemukan lagi ...
" Firman, apa yang menyebabkanmu memutuskan aku bersalah waktu itu. Bahkan, kau tidak pernah memberikanku kesempatan untuk bicara. Aku sakit sekali waktu itu. "
Mataku mulai memanas, hatiku mulai bergejolak. Tapi aku berniat menuntaskannya hari ini juga.
"Oh, jadi kamu Fira. Pacarnya Firman yang sekarang" tiba - tiba salah satu cewek populer di sekolahku menghampiriku di kelas. Dia kakak kelasku. Sama seperti Firman, hanya saja kelasnya berbeda.
" Iya ..." aku berdiri tanpa rasa takut.
Dia memandangku dari atas sampai ke bawah. Bukan cewek yang luar biasa dimataku. Hanya saja tertolong dengan kulit putihnya.
"Akan kubuat kau putus dengannya. Bisa - bisanya kau merebut orang yang selama ini mengejarku" katanya dengan tatapan amarah dan pergi dari kelasku.
Aku terpaku. Ah, biarkan saja. Aku tidak punya urusan dengannya. Tapi hatiku mulai bertanya, apa aku telah mengambil Firman darinya ?
" Kita putus " katanya jelas tak melihatku.
" A-apa ? Putus ? Kenapa ? " jawabku kebingungan.
" Gak ada yang perlu dijelaskan. Aku cuma mau putus. Jadi diantara kita sudah selesai ".
Dia meninggalkan ku. Benar - benar pergi meninggalkan hatiku saat itu. Beberapa teman mencoba meyakinkanku, bahwa dia beruntung dicintaiku. Sungguh bagi teman - temanku, dia sangat beruntung menjadikannya pacarku. Kata mereka dia tidak istimewa sama sekali.
Namanya Diana. Setelah aku bertanya tentangnya, aku mulai mengerti satu hal. Sebelum dekat dan mengatakan cintanya padaku, Firman menyukainya. Dia melakukan pendekatan padanya. Sebelum menyatakan cintanya, dia berpalinh mendekatiku dan tak butuh waktu lama, aku putuskan untuk menerimanya jadi pacarku.
Kita memutuskan mencari cafe X. Aku memesan jus Alpukat, berharap otakku dingin menghadapinya hari ini. Dia memesan coklat panas.
" Aku bersalah padamu, Fira. Sebelum denganmu aku mendekati Diana. Sungguh aku menyukaimu dibanding Diana. Mungkin saja jika aku tidak penasaran dan menaklukan hati Diana, kita akan tetap bersama. Dia memintaku memutuskanmu lebih dulu. Aku menyesal. Aku tak sebahagia ketika bersamamu
Sebelum tiba di cafe X aku mengambil ponselku. Aku menulis WA pada tunanganku, Agung.
✓ Mas, gak sengaja aku ketemu mantanku di minimarket. Dia mengajakku bicara
✓ Akan kuselesaikan dengannya. Tolong jemput aku 1 jam lagi ya
✓ Percayalah, aku hanya ingin menyelesaikan masa lalu baik - baik dengannya.
"Ting" hapeku bunyi. Tanda pesan masuk dari mas Agung.
✓ Oke
✓ Tolong jagalah hati ini, sayang ♥️
Aku sudah bertunangan. Tunanganku adalah laki - laki pilihan mama. Aku bersyukur dia pria yang baik. Tentu aku pernah bercerita, laki - laki bernama Firman padanya. Cinta pertamaku. Dan aku tidak mau kesalahpahaman terjadi diantara aku dan dia.
" Lalu kau meninggalkanku begitu saja. Sungguh tega kamu. Apa kamu melihat, aku sakit sejak kau tinggalkan ?" suaraku mulai tak terkontrol. " Apa kurangnya aku dimatamu, aku bahkan tidak pernah benar - benar mencintai laki - laki lain setelahmu. Aku mungkin berpacaran dengan yang lain, tapi tidak dengan hatiku ". Air mataku lolos begitu saja. Hatiku sudah lega. Setidaknya aku sudah tau kenapa dia meninggalkanku waktu itu dan aku sudah mengeluarkan uneg - unegku selama ini.
" Maaf Fira, aku terlalu pengecut untuk mengejarmu lagi " katanya seraya menunduk. " Maaf...."
" Tidak ada yang perlu dimaafkan Firman " aku menghapus air mataku. Itu hanyalah sekedar masalalu bagi kita. Hanya saja waktu itu aku terlalu mencintaimu. Tidak ada manusia yang tidak memiliki masa lalu. Tak terkecuali denganku. "
" Bisakah kita kembali " lagi - lagi dia mencoba menjamah tanganku. Aku menarik tanganku. Aku tidak mau ada orang yang memperhatikan kami.
Aku mengambil ponsel dari tas selempangku. Aku mengusap layar kaca dan membuka aplikasi WA
✓ Mas tolong jemput aku ya
" Ting "
✓ Siap tuan putri ♥️
" Maaf Firman. Aku sudah menerima kenyataan hubungan kita dimasa lalu. Aku dan kamu memang belum berjodoh. Sampai hari ini kamu datang, sebulan yang lalu aku telah bertunangan. Aku memutuskan untuk melepaskanmu dari hatiku. Aku gak mau selalu hidup dengan bayang - bayangmu. Kamu pernah memiliki tempat dihatiku. Dan aku berterima kasih untuk itu. "
" Sayaaang .. " suara itu, suara lembut Agung. Rupanya dia sudah sampai. Aku harus segera mengakhiri pertemuan ini.
" Jadilah laki - laki yang lebih baik lagi, Firman. Aku sudah dijemput. Terima kasih buat semuanya. "
Aku berlalu meninggalkannya. Aku tidak ingin membuat Agung terlalu lama menunggu.
" Jadi, kau pilih aku atau dia sayang " suara lembut itu yang membuatku jatuh cinta. Tangannya menggandeng tanganku.
" Tentu saja, aku memilih masa depanku daripada masa laluku" senyumku lebar.
" Terima kasih, sayang "
Firman, mungkin memang Cinta Pertamaku. Tapi aku berniat menjadikan mas Agung adalah Cinta Terakhir ku.
~~~ TAMAT ~~~