"Siapa kau?" tanya seorang lelaki paruh baya yang sedang berendam di dalam bak mandi mewahnya. "Ba-ba-bagaimana bisa k-kau?" tanyanya terbata-bata ketakutan karena jika lelaki itu berhasil berdiri dihadapannya itu berarti seluruh pengawalnya telah dilumpuhkan. Ia masih tak percaya bahwa pasukannya begitu mudah dikalahkan oleh laki-laki yang terlihat begitu muda, ia percaya laki-laki itu belum genap berusia dua puluh tahun.
Rey menatap lelaki paruh baya itu dengan tatapan dinginnya, ada semburat kebencian di dalamnya. Tanpa membuat lelaki itu menunggu lebih lama lagi, Rey menotok bagian tubuh lelaki itu yang membuatnya tidak bisa bergerak kemudian menyuntikkan sebuah cairan ke dalam tubuhnya. Sebelum pergi Rey kembali menotok lelaki itu agar ia bisa kembali bergerak namun setelah lelaki itu bisa bergerak sesuatu terjadi pada tubuhnya. Ia kejang-kejang di dalam bak mandinya sedangkan Rey berlalu tanpa mempedulikannya.
"Target berhasil dibersihkan." ucapnya pada sebuah earphone tanpa kabel yang terpasang di telinganya. "Mission Complite."
***
Suara klakson mobil yang ditekan secara terus menerus membuat keramaian di pagi hari. Jika bukan karena merk dan jenisnya yang merupakan keluaran terbaru dengan harga selangit, orang-orang yang kini segan padanya sudah lebih dulu menghujaninya dengan kata makian pada bunyi pertama karena merasa terganggu. Tak ada yang cukup gila untuk membuat masalah dengan pemilik mobil merah berkilau tersebut.
"Ehhh Oooy!" teriak sekumpulan laki-laki muda dari dalam mobilnya kepada Rey yang sedang asik mendengarkan berita kematian seorang menteri sambil mengayuh sepeda hitam merahnya tanpa merasa terganggu dengan kebisingan yang mereka sebabkan. Dari seragam yang mereka kenakan terlihat bahwa mereka berasal dari sekolah yang sama namun tatapan mereka tidak menunjukkan keakraban di antara keduanya.
Mobil Ferari Merah itu sengaja melaju lambat agar bisa menyamai kecepatan sepeda, "Selamat pagi anak kampung." sapa mereka salah satu dari mereka melemparkan segelas kopi hangat ke arah lelaki itu. "Eh, itu orang ya? Kirain tempat sampah." katanya yang memicu gelak tawa dari teman-temannya.
Rey hanya diam membiarkan mereka mencemooh dirinya, rasa kesal tentu ada namun ia lebih memilih membiarkannya karena untuk menatap mereka sebagai musuh rasanya tak pantas.
"Bye-bye anak kampung." ucap mereka sambil berlalu meninggalkan Rey yang kini kepanasan karena rompi atau seragam putihnya tidak cukup tebal untuk membuat kopi panas itu tidak menyentuh kulitnya.
Rey berkali-kali berdecak kesal, ia menghubungi seseorang melalui earphone tanpa kabelnya. "Siapin obat luka bakar sama seragam baru, sepuluh menit."
"Yes, Capt." jawab seseorang di seberang telepon.
Di sebuah jalanan kecil dekat Avicena Senior High School Rey melihat seorang laki-laki dengan pakaian berandal sedang berdiri menunggu sambil menyesap sebatang rokok di antara jemarinya. Lelaki itu menunduk tanda hormat saat ia melihat Rey tiba di hadapannya tak ada percakapan di antara mereka, lelaki itu masih terus menundukkan kepalanya hingga Rey selesai dengan urusannya.
Rey memasuki Avicenna Senior High School dengan santainya. Ia memarkirkan sepedanya di salah satu kawasan parkir sepeda tanpa peduli tatapan cemooh temen-temannya yang lain. Sejak ia masuk ke sekolah Internasional itu melalui jalur beasiswa banyak anak-anak populer yang berusaha menjadikannya target, salah satunya adalah geng Martin sekelompok anak borjuis yang sempat ditemuinya pagi ini.
Ia datang dua menit sebelum bel berbunyi sehingga ia perlu berlari-lari kecil menuju kelasnya dengan harapan ia tiba lebih dulu daripada gurunya.
Dua pelajaran dilewatinya dengan lancar hari ini entah rencana jahat apa yang sedang disusun untuk membullynya hari ini, ia hanya berharap bahwa dirinya tak perlu mengganti seragam baru lagi. Karena menyebalkan baginya saat harus mendengar keluhan dari Lucky teman satu tim Assassin miliknya yang harus menyiapkan seragam baru setiap waktunya.
Saat ia tiba di kafeteria ia disambut dengan kelompok Martin yang sudah menyuruhnya untuk bernyanyi menggunakan hidung. Terkadang Rey merasa IQ mereka lebih rendah daripada kuda setiap kali menyuruhnya melakukan hal-hal di luar logika dan tentu saja Rey lebih memilih diam karena memang melakukan ataupun tidak mereka akan tetap memukulnya.
"Hey, ayolah bernyanyi lewat hidung. Tunjukkan karismamu." kata Martin sambil menarik-narik rambut Rey yang memang sengaja dibuat acak-acakkan olehnya. "Kenapa kau hanya diam? Kau tak punya mulut heh?"
Satu pukulan melayang telak mengenai perut Rey, ia sengaja membuat tubuhnya membungkuk setelah menerima pukulan itu. Seakan satu pukulan kurang Martin terus memukul di perut dan punggung Rey berkali-kali. Belum puas menyiksa Rey ia menarik rambut Rey kuat-kuat agar Rey menatap wajahnya dan di saat itulah Martin baru menyadari bahwa Rey mengenakan sebuah kalung dengan rantai hitam.
Tanpa aba-aba Martin menarik kalung itu kuat-kuat hingga ia terlepas dari leher Rey karena ia berpikir kalung yang Rey pakai begitu berharga baginya hingga disimpan begitu dalam dan ekspresi Rey membenarkan pendapatnya itu.
"Kembalikan." kata Rey dengan tatapan yang sempat membuat Martin gemetar karena intimidasinya.
Theo yang melihat kalung di tangan Martin merebutnya begith saja, ia penasaran dengan kalung yang dimiliki Rey. Awalnya ia berpikir kalung itu merupakan liontin namun saat dibuka ternyata merupakan sebuah kompas dengan ukiran nama Reiza Pramoedya di dalamnya.
"Kembalikan." kata Rey pada Theo yang membuat lelaki itu sedikit gentar, namun karena merasa Rey tak akan bisa melakukan apapun ia mencoba mengembalikan nyalinya yang sempat lenyap.
"Kalau begitu kau harus bermain-main dulu dengan kami." katanya lagi setelah bersusah payah menghilangkan gemetar di tubuhnya karena tatapan mematikan Rey. Ia melempar kalung itu ke sembarang arah hingga ditangkap oleh temannya yang lain.
Gaga menatap kompas di tangannya dengan senyum jahatnya ia membukanya dan dengan sengaja menghempaskannya ke lantai begitu saja. "Ups, jatuh." katanya memicu gelak tawa teman-temannya.
Rey menahan amarahnya sekuat tenaga, tinjunya sudah terkepal erat di sisinya. Ia menundukkan tubuhnya mencoba mengambil kalungnya di lantai namun saat tangan itu berhasil menyentuhnya sebuah kaki berusaha mengijak tangannya. Rey yang memiliki refleks yang bagus menghindarinya dengan sempurna.
"Ambil kalung itu." seru Martin memberi perintah.
Mendengar perintah Martin belasan orang berusaha mencoba mengambil kalung di tangan Rey namun Rey berhasil berkelit dari tiap usaha mereka. Tanpa Rey sadari ia menunjukkan bakatnya di depan teman-temannya hingga membuat mereka terkejut karena selama ini Rey dikenal dengan sosok yang begitu payah dan tidak bisa diandalkan.
Anak-anak yang melihat Rey berkelit secara terus menerus merasa tertantang untuk mengambil kalung miliknya. Yang awalnya hanya berkisar belasan orang kini mulai bertambah hingga puluhan orang. Rey yang memang sejak awal mahir dalam bela diri tak merasa kesulitan menghindari tangan-tangan yang berusaha mengambil kalungnya.
Sudah puluhan orang yang berusaha mengambil kalungnya namun mereka tidak berhasil sedikitpun, Rey begitu mahir berkelit menghindari mereka. Sejak awal hingga detik ini ritmenya masih sama hanya menghindar tanpa niat melawan serangan mereka.
Saat Rey sedang berusaha menghindari belasan tangan sebuah kayu mendarat tepat di siku tangan kirinya. Pukulan keras itu berhasil membuat kalung yang ia genggam begitu erat terlepas dari tangannya. Lelaki yang memegang tongkat baseball itu langsung menyambar kalung yang kini tergeletak di tanah. Ia yang begitu bahagia berhasil mengambil kalung Rey dengan senyum menyebalkannya ia menghantamkan kayu baseballnya ke arah kalung Rey.
"Brengsek!" maki Rey dengan suara yang tidak terlalu tinggi, "Kau mati!" katanya lagi sambil berlari ke arah laki-laki yang memegang tongkat baseball tersebut.