Sinar terik matahari menyengat, sesak menambah rasa gerah orang-orang yang berebut sembako murah yang di gelar seminggu sekali. Halaman depan salah satu rumah di perkampungan kecil itu jadi pasar dadakan.
Seorang ibu rumah tangga menjambak rambut orang di depannya demi memotong antrean. Keributan segera terjadi. Seorang nenek berbaju lusuh dan wajah penuh keriput di belakang kerumunan jatuh karena terdorong.
Tak seorangpun peduli, bahkan beberapa berdecak diikuti kata hinaan.
"Siapa nenek ini, bau dan kumal"
"Sudah, masih saja belanja sendiri"
"Apa dia tak punya cucu, sampai harus beli sembako sendiri?"
Nenek itu menjauh dari kerumunan membersihkan lututnya yang terluka. Sikap semacam itu sering diterimanya kemanapun ia pergi.
Beberapa pemudi yang duduk di bangku pinggir halaman sama sekali tak peduli dengan kehadiran nenek itu, pura-pura tak melihat karena tak ingin merelakan tempat duduknya. Mereka juga sedang menunggu antrean sembako murah, entah karena disuruh orang tua mereka atau sekedar menemani teman.
Si nenek menghampiri para pemudi itu, berharap dipersilahkan duduk untuk sekedar meluruskan kaki yang masih sakit. Tapi sikap mereka malah sebaliknya.
"Ngapain sih nek ikutan beli sembako?"
Si nenek tersenyum, lesung pipi terlihat di wajah keriputnya, "Nenek sudah tua, tapi juga butuh makan!"
"Tapi kalo nenek kesini untuk duduk, kami gak bisa berbagi, lihat, penuh kan?"
Mereka saling menoleh serius, seolah setuju dengan perkataan temannya.
Si nenek tersenyum, kali ini gigi-giginya yang masih utuh terlihat, kecil dan putih. Keinginannya untuk duduk tak dipikirkan lagi.
"Aku tak sedang meminta kalian untuk berbagi tempat duduk, aku hanya ingin sedikit berbincang"
Para pemudi itu menahan tawa, merasa pikiran nenek itu lucu, mana mungkin mereka punya hal cocok untuk dibicarakan.
"Pernahkah kalian membayangkan punya teman cantik yang membuat kalian tak pernah dipandang saat bersamanya?"
"Hhm, kami tak akan pernah mau berteman"
"Ya, konyol sekali jika mau berteman dengan orang yang membuat kita terlupakan"
"Aku tak suka orang cantik"
Si nenek tersenyum mendengar jawaban para pemudi itu.
"Memang tak ada yang mau berteman dengan gadis cantik itu, tapi ada satu orang yang selalu menemaninya saat tak ada seorangpun yang mendekatinya"
"Ah, aku tebak nenek nih temennya si gadis cantik!"
"Bener tuh!" tambah yang lain.
Si nenek hanya tersenyum, "Sayangnya, teman si gadis cantik tak memiliki penampilan yang mengimbanginya. Setelah beberapa bulan berlalu muncul rumor yang merendahkannya. Dia dikira mendekati si gadis cantik untuk dianggap cantik seperti temannya"
"Waah, kejam sekali" seorang pemudi menutup mulutnya.
"Lalu, apa yang terjadi?"
Si nenek menghela nafas, seakan merasakan penderitaan teman si gadis cantik.
"Dia berhenti sekolah karena seluruh sekolah mengganggunya"
"Lalu, apa temannya sama sekali tak melakukan apapun?"
"Ini yang membuatku membenci orang cantik!"
Si nenek menggeleng, "Sayangnya si gadis cantik tak melakukan apapun karena banyak teman yang mendekatinya setelah teman satu-satunya itu berhenti sekolah. Dia berpikir keadaan itu cukup baik untuknya"
"Jahat sekali!" seorang pemudi menahan air matanya.
"Malang sekali nasib nenek, ditinggal teman yang tak tahu terimakasih!" seorang pemudi menepuk pundaknya setelah beberapa saat lalu mempersilahkan nenek itu duduk di tempatnya.
"Nenek harus tetap bersemangat, tak ada hukum mati untuk orang jelek seperti kita!"
"Yeah!" Mereka mengangkat tangan bersamaan lalu tertawa.
Senyum tersungging di bibir si nenek, kembali merindukan masa-masa itu. Seorang pemudi menunjuk penjual sembako, sudah tak ada kerumunan pembeli.
"Ayo, kita harus bergegas!"
Para pemudi itu segera berlari, memeriksa uang yang mereka bawa untuk membayar. Seorang pemudi menuntun si nenek.
"Mereka sangat bersemangat kan nek? Aku bersyukur bisa berteman dengan mereka!"
Si nenek tersenyum memandang gadis berwajah manis yang menggandengnya, entah kenapa teringat dengan masa lalunya.
Lapak penjual sembako sudah separuh dibereskan. Pemudi-pemudi itu masih sibuk membincangkan si nenek yang sudah pergi, merasa kasihan dengan nasibnya.
Seorang laki-laki berumur 30 tahunan mendekati lapak, membicarakan beberapa hal dengan pemiliknya.
Para pemudi yang tadinya asik berbincang terhenti, takjub dengan wajah tampan lelaki dewasa itu. Laki-laki itu menoleh, membuat mereka salah tingkah.
"Tenanglah, aku sering mendapat tatapan seperti itu!" Laki-laki itu tertawa, seakan menyadari apa yang mereka pikirkan.
"Maaf om, ganteng!" seorang pemudi mengacungkan dua jempol diikuti teman-temannya.
Laki-laki dan pemilik lapak menggeleng tertawa.
"Om ini lagi nyari nenek-nenek!" Penjual lapak menunjuk laki-laki tampan itu.
"Oh, jangan-jangan nenek yang tadi"
"Om putranya?"
Laki-laki itu menggaruk kepala, "Bukan, om diminta ibu om buat nyari temennya, katanya sih masih tinggal di daerah sini"
Para pemudi itu saling berbisik, menebak laki-laki itu anak si gadis cantik, teman yang diceritakan si nenek.
"Ngapain ibu om nyari temen yang udah ditelantarkan?"
"Masa gak tahu malu sih om"
"Kalo udah dilupain jangan dicari lagi!'
Laki-laki itu semakin salah tingkah, tak memahami maksud para pemudi itu.
"Sebenarnya dulu ibu om orang sini, lalu pindah ke kota pas SMA. Nah, om disuruh nyari temennya!"
Para pemudi itu menutup mulut, menyadari mereka salah faham pada lelaki itu juga pada cerita si nenek yang mereka bicarakan beberapa saat lalu.
Waktu mengubah banyak hal...
Rugi atau tidak? tergantung seberapa bijak memperlakukannya...