"Rontokan saja langit !" tiba - tiba saja lelaki itu berteriak demikian. Keras, tegas, menggetarkan. Teriakan yang bukan hanya dari kerongkongan atau suara yang menyapu laring - laring.
Itu teriakan hati, sebuah pemberontakan jati diri.
" Jika dia menjadi penyekat antara aku dan Tuhan, lebih baik langit itu runtuh," katanya dengan wajah menangis.
" Mengapa kau menghujat langit wahai lelaki ?" tersigap aku menepuk pundaknya. Lelaki itu berpaling, pandangannya tetap menuju atas langit.
Aku tahu, dia tidak memandang awan yang menggumpal putih di sana. Lelaki itu menatap jauh melewati awan, melewati atmosfir bumi, melewati ribuan bintang dan planet, melewati galaxi.
Dia menatap ke atas, langsung menatap mata Tuhan.
" Mungkin jika Tuhan itu langit, dia akan turun jika rontok sudah langitnya. Tuhanku bukan Tuhan pengecut, Tuhan yang cuma mampu melihat mengawasi. Tetapi Tuhanku adalah Tuhan yang selalu dekat denganku. Malah lebih dekat daripada urat nadi," telunjuknya mengacung ke atas, seolah menunjukan dirinya di hadapan Tuhan.
Dia ingin Tuhan menghilangkan semua pengawasannya kepada semua makhluk, dia ingin agar hanya dia yang diperhatikan. Mungkin khusus untuk saat ini.
" Biarkan semua orang tahu, Tuhanku bukanlah Tuhan langit. Maka jika rontok langit itu, sirnalah Tuhanku. Tuhanku juga bukan Tuhan bumi, maka jika bumi telah luluh - lantak, binasalah Tuhanku. Tuhanku adalah Tuhan langit dan bumi, Tuhan yang tetap ada walau ketika langit rontok dan bumi telah sirna," kata lelaki itu dengan suara membahana.
" Mengapa engkau berani berbicara keras terhadap Tuhanmu ? Tidakkah engkau takut ?" hardikku dengan serius.
" Aku takut," suara lelaki itu melemah. " Tidakkah engkau melihat bagaimana lututku bergetar karena takut, namun aku tidak punya pilihan. Aku harus bertemu Tuhanku, aku harus mempertanyakan atas dasar apa Adam tercipta dan bumi di gelar. Hingga aku harus hidup dalam dunia penuh kemunafikan," katanya dengan wajah sedih.
" Apakah harus dengan cara demikian ?" tanyaku.
" Aku tak punya pilihan," jawabnya singkat.
Rintik mulai menderas, padahal hari begitu terik. Bagaimana hujan tercipta sedangkan mendung tak ada ? Apakah mungkin ini jawaban Tuhan ? Lantas bumi pun bergetar, gedung - gedung mulai runtuh dan tanah terpecah. Langit menjadi merah, sebenar - benarnya merah dan bukan jingga. Bergetar bumi sedemikian hebat hingga semua orang berteriak, memaki - maki lelaki itu yang baru saja mencaci Tuhan.
" Ini semua salahmu wahai lelaki, Tuhan menurunkan bala karena engkau telah berani menghardiknya," ucap salah seorang yang berjongkok ketakutan.
" Tuhan, musnahkan saja lelaki itu. Jangan hukum kami karena kesalahannya, kami tidak bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya." ucap lelaki yang lain.
Suara auman terdengar begitu keras berasal dari langit. Langit yang merah terpecah, seperti retakan pada atap - atap rumah. Aku mampu melihat bermilyar bintang dari langit yang terpecah. Apakah ini kiamat ?
Sungguh pada hari itu, semua orang menjadi panik. Anak - anak menangis tak karuhan, wanita - wanita menjerit dan para lelaki berteriak. Bergetarlah langit dan semua ikut bergetar. Retaklah langit dan semua pun retak.
Tanah merekah pecah. Dari langit yang terpecah, kulihat api menyambar dengan cepat. Api itu berwarna putih, tak seperti api bumi. Api itu menyambar lelaki itu. Lelaki itu menghilang, lenyap bersamaan dengan lenyapnya api dari langit. Bumi kembali menutup, dan langit kembali bersih. Merah telah hilang diganti biru, dan redalah semua teriakan - teriakan manusia.
Aku ingat, sekejap sebelom api itu menyambar lelaki tersebut, lelaki itu berpaling ke arahku dengan wajah tersenyum. " Aku akan bertemu Tuhan," ucapnya lirih.
Rontokkan saja langit...Tidak ! Belom saatnya. Aku masih menunggu seribu lelaki yang akan berucap sama dan kejadian ini akan terus terulang, mungkin untuk seribu kehidupan yang akan datang. Langitku memang sudah tua, namun belom waktunya ia runtuh dan manusia di hakimi. Pasti hanya Tuhan yang tahu, kapan ajalnya langit ini.
Manusia hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan. Dengan Kebesaran Tuhanlah kita semua berada di dalam perlindunganNya. Beribadahlah kamu, seolah - olah esok ajalmu datang. Bekerjalah kamu, seolah - olah kamu hidup untuk selamanya. Karena kita hidup di dunia ini hanya sementara. Tanamkan kasih sayang, persaudaraan dan silaturohmi. Kisah Lelaki Misterius TAMAT
Mampir juga ya kecerpen ku Semburat Bayang Sakura
Lalu jangan lupa juga mampir ke novelku ..