Jangan beri racun di hubungan kita. Itu menyakitkan!
***
Hari ini, hari di mana Raka terbaring lemah di Rumah Sakit. Apa yang seharusnya aku lakukan? Hanya bisa menatap dan meratap setiap kali aku melihatnya. Mungkin saja aku mendengarkan kata-katanya kala itu. Semua ini tak kan terjadi.
***
Semua berawal dari kesalahanku di tanggal 05 November 2019. Kala itu aku bertengkar dengannya. Karena ia memergokiku sedang makan bersama Dheki di sebuah Restoran. Ia datang entah dari mana dan langsung memukuli wajah Dheki dengan buasnya.
"Rakaaa!! Rakaaa!!" teriakku. Beberapa orang pria pun ikut mengamankan mereka.
Dheki yang sudah dipukuli habis-habisan, terbaring di lantai dengan wajah penuh luka. Aku menghampirinya dan membantunya untuk berdiri.
Ya, aku tahu. Aku bodoh dan aku mau saja dibodoh-bodohi. Raka sudah memintaku untuk menjauhi Dheki, mantan pacarku. Dheki kerap kali berlaku kasar padaku. Dia juga sering memaksaku untuk memenuhi hasratnya.
Raka tahu semua itu. Hanya dia tempatku bercerita dan berbagi suka serta susah. Namun, semuanya berubah saat dia selalu membatasi jarak antara aku dan Dheki. Bagaimanapun, aku tak bisa menolak semua yang Dheki katakan padaku.
"Lo orang teridiot yang pernah gua kenal!" tegas Raka menunjukku.
"Berhenti ngurusin hubungan gua!" bentakku.
"Hubungan? Hubungan toxic yang lu jalanin sama dia?! Gimana caranya biar gua ga ngurusin lu, sedangkan elu dibodoh-bodohin depan mata kepala gua?!" teriak Raka.
"Pergi dari sini," perintahku pelan.
"Ah?" Raka mendesah kesal.
"Pergiii!!" teriakku. Raka menghempas tangan pria yang meneganginya lalu pergi begitu saja.
***
Aku tak pernah mengerti, mengapa dia melakukan semua ini kepadaku. Aku sudah pernah menanyakan perasaan apa yang ia rasakan setiap kali melihatku dibodohi Dheki. Namun, aku tetap tak bisa menebak apa alasannya.
Kala itu Raka datang ke rumahku dan bermain PS di ruang keluarga. Memang sudah biasa dia seperti itu. Meski sudah 18 tahun lamanya kami saling mengenal. Dia masih tetap suka bermain PS.
"Lu suka sama gua?" tanyaku tanpa memikirkan apapun sebab-akibat yang akan terjadi oleh kalimat itu. Raka terus bermain tanpa memperdulikanku.
"Raka!!" teriakku. Dia hanya berdehem seolah ia memang tak sempat mengobrol denganku. Mata dan tangannya bergerak dengan sangat cepat.
"Kenapa gua bisa suka sama Dheki?" gumamku, sengaja agar dia merespon ku.
"Karena lu bodoh!!" tegasnya.
"Kenapa lu benci sama Dheki?" tanyaku. Dia kembali berdiam diri dengan mata dan jarinya terus bergerak.
***
Dheki pun sama halnya dengan Raka. Ia membenci sosok Raka yang selalu menjadi pengacau di antara hubungan kami.
"Mulai sekarang, jangan deketin Raka!! Gua tau lu sama dia udah sahabatan lama. Tapi setidaknya hargain perasaan gua! Meskipun gua udah punya cewek lain dan kita udah putus. Perasaan gua masih terap sama elu!" tegas Dheki.
Ya, meskipun Dheki sudah memiliki pacar lain setelah putus denganku. Aku yakin dia masih menyayangiku seperti yang ia ucapkan. Jika tidak seperti itu, mana mungkin dia ingin selalu menemuiku.
***
Namun, semua perselisihan antara mereka meledak di saat Dheki hendak membawaku ke kosannya. Raka mati-matian untuk menghalangiku. Ia bahkan menelepon Ayah dan Ibuku agar aku tak menuruti ajakan Dheki tersebut.
"Dheki udah nungguin gua dari tadi, Raka!" bentakku.
"BUKA MATA LO LEBAR-LEBAR! LU BUTA ATAU GIMANA SIH?! JELAS-JELAS DIA CUMA MAU TIDUR SAMA LU DI KOSANNYA!!" teriak Raka di depan wajahku.
"Dia cuma minta gua datang ke sana. Ngobrol kayak dulu!" bantahku.
"Ngobrol? Bisa ya lu sekolah bertahun-tahun jadi idiot cuma gegara satu cowok?! Udah berapa kali lu ditipu kayak gini?! Ga ada cahaya atau gimana sih di otak lu?!" bentaknya terus menerus.
"Gua harus ke sana. Dia udah nungguin gua!" tegasku berjalan meninggalkan Raka begitu saja.
Aku yakin, Dheki sudah berubah. Dia sudah tak seperti dulu. Dia masih menyayangiku meski sudah ada seseorang di sebelahnya. Dia sudah bersumpah tidak akan melakukan hal apapun padaku.
Sesampainya di Kosan Dheki. Benar, kami hanya mengobrol dan membahas masa lalu. Hingga tiba saatnya ia mengatakan bahwa ia ingin seperti dulu.
"Mungkin, kalo kita kayak dulu lagi. Kira-kira lu mau ga?" tanya Dheki membuat dadaku tersentak. Tidak mungkin aku menolak. Perasaanku masih memihaknya dari sejak awal kami bertemu. Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Serius lu mau?!" tanyanya. Aku mengangguk dengan pastinya. Seketika, Dheki membuka bajunya dengan cepat. Aku salah. Seperti dulu yang di maksud oleh Dheki adalah bersetubuh. Bukan menjalin hubungan yang seperti dulu.
Raka benar. Aku memang bodoh. Aku terjebak ke perangkap yang sama untuk kesekian kalinya. Aku berdiri dan mencoba menghidar.
"Ga, Dhek! Gua ga makaud kayak gitu. Gua salah paham," ucapku hendak membuka pintu kosan tersebut. Namun, Dheki menarik kakiku terlebih dahulu. Hingga aku terjatuh dan dia menindih tubuhku.
"Dheeeek!! Gua ga mauuu!!" teriakku sekuat tenaga.
"Tolooooonggg!!!" Dheki mendesah geli mendengar teriakanku yang satu itu. Ya, memang bodoh jika berteriak meminta tolong. Dari ke sepuluh kamar kosan yang ada di sini, hanya Dheki lah yang mendiaminya.
"Dhekiii!! Jangaaaannn!!" teriakku.
Kembali aku terkejut karena Raka datang dan membuka pintu kosan itu. Segera Dheki memperbaiki posisinya. Raka menghajar habis-habisan wajah Dheki. Hingga Dheki jatuh pingsan. Dia menyeretku keluar dari sana.
Air mataku tak henti-hentinya mengalir dan menetes. Aku benar-benar seperti kelinci bodoh mendatangi singa yang lapar. Lebih bodohnya lagi, aku tahu mungkin saja singa itu akan memakanku dan aku tidak memperdulikannya.
"JANGAN TEMUIN DIA LAGI!!" teriak Raka menghempas tanganku sekuat tenaganya. Aku hanya bisa menangis.
"Please banget! Turutin gua sekali ini. Jangan temuin dia lagi!" pinta Raka sambil memohon dan aku mengangguk. Dia menjulurkan jari kelingkingnya sebagai bentuk janji agar aku benar-benar melakukannya.
Belum 24 jam kami berjanji. Siang harinya aku bertemu dengan Dheki. Sebuah pertemuan yang tak disengaja. Wajahnya babak-belur dengan luka sobekan dan memar di semua sudut wajahnya.
Raka datang menghampiriku. Pertanda bahwa ia selalu mengawasiku dan berusaha untuk menjauhkanku dari Dheki.
"Manusia kayak lo, mending mati aja!" tegas Raka. Dengan cepat Dheki mengeluarkan pisau dan menusuk perut Raka tiga kali dan berlari kabur.
"Aarghhh!! Ttoollloongggg!!" teriakku menopang tubuh Raka yang hampir jatuh. Dalam hitungan detik, semua orang mengerumuni kami.
[End]
***
Duh, Toxic Relationship. Emang benar yang disebut Raka. Sekolah bertahun-tahun jadi bodoh karena 1 orang. Duh, author juga pernah sih kayak gitu. Tapi ya ga sampe ditidurin juga dong.
Paling, dimintain duit.. atau ga udah jelas-jelas si onoh selingkuh.. marah-marah ke dia, eh pas denger penjelasannya ditambah bumbu kebohongan dan sedikit bumbu rayuan maut khas mulut buaya berjenis kelamin laki-laki.
"Itu sepupu aku, ibu aku, sodara aku, anaknya tante aku, anaknya sepupu tante aku, nenek dia sama kakek aku sepupuan."
Kasih gua peta silsilah keluarga lu dari buyut generasi pertama! Ga bisa kan lu? Dah lah jangan bullshit.
"Aku tuh ga mungkin selingkuh dari kamu."
Ga mungkin? Preeeettttt! Nenek lu suruh salto sini depan gua.
Fvck for Toxic Relationship 🤓 sekolah lebih dari 12 tahun. Eh jadi idiot dalam waktu 1 bulan.